LOGINKabar yang disampaikan Timur kepada kedua orang tuanya sontak membuat Diana dan Yoga terkejut luar biasa. Bagaimana tidak? Anak mereka tiba-tiba mengabarkan bahwa dirinya akan menikah lagi. Kabar itu terasa seperti petir yang menyambar di siang bolong. Selama ini, Timur tidak pernah sekalipun membicarakan rencana pernikahan. Lelaki itu lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengurus kesembuhan Sera. Namun, entah dari mana datangnya sekarang ia justru membawa kabar bahwa dirinya akan segera menikah. "Nikah sama siapa kamu, Timur? Kok bisa-bisanya kamu mikirin nikah sementara kondisi Sera aja masih kayak gini? Emang gak bisa kamu tahan dulu dan fokus sama kesembuhan anakmu?" Diana langsung sewot. Perempuan paruh baya itu sudah sangat lelah dengan segala ujian yang harus dihadapi keluarganya. Di satu sisi, ia begitu kasihan kepada cucunya. Di sisi lain, ia juga pusing memikirkan bagaimana kelanjutan nasib Sera. Bayi itu bahkan belum pernah merasakan kehidupan di luar rumah sakit. Ha
Mendengar pengakuan Philia, Timur tentu saja merasa sangat bahagia. Ada kelegaan yang sulit digambarkan karena akhirnya kehamilan yang selama ini mereka bicarakan benar-benar terjadi. Namun, kebahagiaan itu rupanya tidak dirasakan oleh Philia. Setelah mengakui kehamilannya, gadis itu justru semakin menjaga jarak. Bahkan, membujuknya untuk sekadar berbicara baik-baik saja sudah menjadi pekerjaan yang sulit bagi Timur. Lelaki itu mulai kehabisan cara untuk meluluhkan hati perempuan yang dicintainya. Seperti hari ini, Philia kembali mengalami muntah-muntah. Tubuhnya terlihat lemah, wajahnya pucat, bahkan untuk beraktivitas seperti biasa saja gadis itu tampak kesulitan. Timur yang melihat keadaan tersebut tentu tidak bisa tinggal diam. "Kita periksa ke dokter ya, Phi?" ajaknya. "Biar nanti kamu diperiksa dan dikasih vitamin. Aku gak mau kamu lemas begini terus." Philia mendengus. Tentu saja Timur akan memprioritaskan kehamilan ini. Lelaki itu menginginkan janin yang dikandungnya tumbu
"Hoek!!!!" Suara muntahan itu menggema di toilet apartemen milik Timur. Philia berpegangan pada tepian wastafel, sementara tangan satunya menekan perut yang terasa tidak nyaman. Rasa mual itu kembali menyerangnya, padahal sejak pagi ia sudah beberapa kali mengeluarkan isi perutnya. Tiga bulan berlalu sejak pertengkaran hebat mereka di belakang kampus. Namun, hubungan Philia dan Timur masih jauh dari kata membaik. Keduanya memang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi komunikasi di antara mereka nyaris tidak ada. Philia enggan mengajak lelaki itu bicara, bahkan sebisa mungkin menghindari pertemuan yang tidak perlu. Awalnya, Philia berniat mengakhiri kontrak konyol tersebut dan menerima segala risiko yang mungkin muncul setelahnya. Ia sudah lelah terikat dalam hubungan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Sayangnya, keadaan justru semakin rumit karena dirinya telanjur hamil. Ya, Philia sudah mengetahui kehamilannya. Ia bahkan sudah memeriksakan diri dan memastikan bahwa a
"TIMUR!!!" Philia membentak, seraya melayangkan tatapan tajam penuh protes pada Timur. Namun, pemuda itu tidak peduli. Ia malah sengaja merangkul Philia, membawanya ke dekapan dengan penuh kebanggaan. Lugi, pemuda itu mematung tak percaya. Matanya tak berkedip, bahkan sampai memerah. "Phi... omongan Timur, gak bener kan?" "Gak mungkin kan, Phi?" Alih-alih bertanya pada Timur, Lugi memilih meminta penjelasan dari Philia. Ia yakin, sahabat yang ia suka dari lama itu tidak bisa berbohong. Ia pasti tak akan masuk perangkap dusta Timur. Hamil? Oleh Timur? Konyol! "Phi? Coba jelasin ke dia.. gimana kondisi kita sekarang, apa hubungan kita, sejauh mana keseharian kita, dan apa yang aku kasih ke kamu, apa yang kamu kasih ke aku." Timur menatap Philia dalam, mencoba membawa gadis itu ke dalam permainannya. Baginya, now or never. Sekarang atau tidak, ia tidak akan menyesalinya. "Diem Timur, gue ngomong sama Philia. Lo, gak usah ikut campur," desis Lugi, mencoba menahan em
Suasana pagi hari itu cerah, matahari menyinarkan cahayanya malu-malu lewat celah tirai di kamar apartemen Timur yang sudah dibuka lebar-lebar. "Hari ini ada kuliah?" tanya Timur, pemuda itu tengah mengancing kemejanya di depan cermin, sementara matanya menatap Philia yang duduk di tepian tempat tidur. Gadis itu mengangguk. "Iya, aku ada kuliah tapi siang," jawabnya. Pemuda itu mengangguk, lantas beralih mengambil dasi dari laci lemarinya. "Jam berapa kuliahnya?" "Jam sebelas." Philia melirik jam di dinding, baru jam tujuh pagi itu berarti masih banyak sekali waktu untuknya pergi ke kampus. Ia bisa rehat sejenak, karena tubuhnya sangat lelah setelah pergumulan semalam. "Nanti aku jemput, aku ke kampus bentar ada kelas." Ucapan Timur itu sontak membuat Philia bingung. Untuk apa Timur menjemputnya? Ataukah ia akan membawanya ke suatu tempat, misal rumah sakit? "Emangnya kita mau kemana? Kok kamu jemput aku?" bingung gadis itu. Kakinya yang menggantung di kasur diayun
"Phi, makan dulu. Masih suka bebek kan?" Timur menata makanan yang ia beli di atas meja, sementara Philia baru saja keluar dari kamar mandi sehabis mencuci tangan dan kaki. "Aku gak makan boleh gak? Perut aku kenyang," dustanya. Timur menggantung tangannya di udara, bungkusan terahir yang ia keluarkan bahkan belum sempat diturunkan. "Lho, kenapa? Ga suka sama menunya? Mau yang lain? Atau mau aku masakin aja? Tapi tunggu bentar ya, aku masih ada kerjaan." Timur menawarkan beberapa opsi, namun Philia tetap menggeleng. Perutnya benar-benar tidak mau menerima makanan apapun, bahkan minum saja ia enggan. "Aku gak bias makan banyak, Timur. Aku tau kok harus makan bergizi dan banyak biar berat badan aku naik. Tapi aku beneran kenyang, perut aku udah penuh." Gadis itu langsung menuju kamar untuk istirahat, namun Timur menghentikan langkahnya. "Mau kemana?" tanyanya. Philia menunjuk pintu kamar. "Tidur," jawabnya singkat. Setelah bertemu Lugi, entah mengapa hati Philia menjadi g
Perkuliahan berjalan seperti biasanya, mahasiswa fokus menyimak dan dosen fokus menjelaskan. Meskipun ada beberapa perbedaan cara pandang terhadap materi, dan ada sekali dua kali debat kecil antara dosen dan mahasiswa itu namun semuanya masih berjalan mulus. Suara gesekan spidol di papan tulis, t
Gemercik air hangat yang menetes lewat shower kamar mandi terdengar merdu, memecah keheningan malam yang semakin larut. Di atas kloset duduk yang tertutup, seorang pria tengah menengadah sembari terengah-engah. Matanya terpejam, menikmati hangatnya kamar mandi yang sunyi.Tetesan air terdengar mer
"Kamu... masih perawan?" Philia mengangguk pelan. Jemarinya mencengkram ujung kaus yang ia pakai dengan gemetaran. Tubuhnya menggigil karena rintik hujan sepanjang malam yang menghajar tubuhnya sejak tadi, membuatnya yang sudah rapuh semakin runtuh. Julian, mucikari kelas kakap di Amore Bar di
Tes...tes...tes... Hujan di malam itu belum reda, justru rintiknya semakin deras menghantam aspal jalanan. Dari atas jembatan, seorang gadis pecundang memandang nanar kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana. Entah akan kemana tujuan mereka semua, yang jelas sama seperti dirinya yang juga p







