مشاركة

Frustasi

مؤلف: NisfiDA
last update تاريخ النشر: 2026-05-02 08:09:34

“Makasih udah diantar.”

Ucapan Naresa terdengar datar tanpa menoleh sedikit pun.

Ia langsung membuka pintu mobil.

“Naresa, tungg—”

Blam!

Pintu mobil tertutup keras sebelum Zavian sempat menyelesaikan ucapannya.

Suasana langsung hening beberapa detik.

Zavian hanya menghela napas panjang sambil melihat ke arah gerbang sekolah tempat Naresa berjalan masuk tanpa menoleh lagi.

Jelas sekali gadis itu masih marah.

Sementara dari kursi samping—

Reyhan malah terkekeh geli.

Hal itu membuat Zav
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Bab 23-Sikap Yang Berbeda

    “Bu… kapan Naresa pulang?” keluh Naresa sambil memanyunkan bibirnya. “Naresa benar-benar bosan berada di rumah sakit…” Liana yang sedang mengupas buah hanya tersenyum kecil melihat tingkah putrinya. “Kamu masih belum sembuh, Sayang,” jawabnya lembut. “Jadi harus dirawat beberapa hari lagi.” “Tapi kan Naresa sudah dua hari di sini, Bu…” Nada suaranya terdengar benar-benar pasrah. Liana baru saja ingin menjawab, namun suara pintu terbuka lebih dulu terdengar. Dan sosok yang masuk membuat Naresa langsung terdiam. Zavian. Pria itu masuk sambil membawa beberapa kantong belanja di tangannya. “Kau belum sembuh total,” ucapnya datar begitu masuk. Naresa langsung menghela napas pelan. “Lihat kan, Bu…” gerutunya kecil. “Kak Zavian pasti ngomong begitu lagi.” Namun berbeda dari biasanya, kali ini Zavian tidak membalas. Ia justru berjalan mendekat lalu menaruh kantong belanja itu di atas meja. “Apa itu?” tanya Naresa penasaran. “Makanan.” “Makanan rumah sakit aja Naresa sudah bosan

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Maaf

    “Dokter, tolong!” Suara Zavian menggema begitu ia memasuki ruang gawat darurat. Para perawat dan dokter yang berjaga langsung berlari menghampiri. “Ada apa?” tanya salah satu dokter dengan cepat. “Dia pingsan!” jawab Zavian tegas namun panik. “Penyakit lambung… kambuh.” Tanpa menunggu lagi, Naresa segera dipindahkan ke ranjang dorong. Beberapa perawat langsung memeriksa kondisi vitalnya. “Tekanan darah menurun, Dok!” “Segera pasang infus!” “Siapkan obatnya!” Instruksi terdengar bertubi-tubi. Zavian hanya bisa berdiri di samping, menatap semua itu dengan napas tidak teratur. Tangannya masih sedikit gemetar. Saat ranjang mulai didorong masuk ke dalam ruang penanganan— Zavian refleks ingin ikut. Namun— seorang perawat menahannya. “Maaf, Anda tidak bisa masuk.” Kalimat itu membuat langkah Zavian terhenti. Pintu langsung tertutup di hadapannya. Seketika— dunia terasa sunyi. Beberapa detik kemudian, Rayhan dan Sonia datang dengan tergesa. “Kak!” panggil Rayhan. Zavia

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Takut

    “Loh, Sonia sedang apa di sini?” Suara itu membuat Sonia langsung menoleh cepat. “Ibu Rina!” ucapnya lega sekaligus panik. Tanpa menunggu, ia langsung menarik tangan guru kesehatan itu. “Ibu, ayo cepat masuk. Tolong periksa Naresa!” “Naresa?” ulang Ibu Rina heran. Namun saat matanya tertuju ke dalam UKS— ia langsung mengerti situasinya. Tanpa banyak bicara, Ibu Rina segera masuk dan menghampiri ranjang tempat Naresa terbaring. “Apa yang terjadi?” tanyanya serius. “Penyakit lambungnya kambuh, Bu,” jawab Sonia dengan suara gemetar. Ibu Rina langsung mulai memeriksa. Tangannya dengan hati-hati menekan bagian perut Naresa. Dan saat itu juga— wajah Naresa langsung mengernyit kuat. “Akh…” lirihnya menahan sakit. Ibu Rina langsung menarik napas kecil. “Sudah berapa lama dia tidak makan?” Sonia menggigit bibirnya. “Sepertinya dari pagi, Bu…” Ibu Rina menggeleng pelan. “Pantas saja.” Ia segera mengambil obat dari lemari. “Ini harus segera diminum.” Sonia langsung memban

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Panik

    “Sa, kamu nggak bawa obatmu?” tanya Sonia panik. Naresa hanya menggeleng pelan. Tangannya masih menekan perutnya yang semakin nyeri. “Aduh…” lirihnya. Sonia langsung semakin khawatir. “Ya ampun, Naresa! Kamu ini kenapa sih nggak sarapan tadi?!” Naresa memejamkan matanya. Bukan karena tidak mau— tapi karena hatinya masih terlalu penuh sejak semalam. “Aku nggak lapar…” jawabnya lemah. “Ini bukan soal lapar atau nggak!” ujar Sonia setengah panik. “Ini soal kesehatan kamu!” Naresa mulai berkeringat dingin. Tubuhnya terasa semakin lemas. Melihat itu, Sonia langsung berdiri. “Nggak bisa. Kita ke UKS sekarang.” “Nggak usah…” ucap Naresa pelan. “Nanti juga hilang…” Namun tiba-tiba— rasa nyeri itu datang lebih kuat. “Akh…” Naresa meringis kesakitan. Sonia langsung membelalak. “Oke, nggak bisa ditunda!” Ia langsung memapah tubuh Naresa. “Ayo berdiri pelan-pelan.” Dengan susah payah, Naresa mencoba bangkit dari kursinya. Namun kakinya terasa lemah. Hampir saja ia terjatu

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Rasa Salah Menghantui

    “Aku hanya ingin menjaganya…” Suara Zavian terdengar lebih pelan dari sebelumnya. Tatapannya menunduk sebentar sebelum kembali berkata, “Karena Naresa terlihat sangat polos.” Suasana ruang tengah langsung hening. Liana dan Rendra saling berpandangan. Sedangkan Reyhan menatap kakaknya beberapa detik. Ia tahu— Zavian memang bukan tipe pria yang pandai menunjukkan perhatian dengan cara lembut. Cara pria itu menjaga seseorang selalu berlebihan dan terlalu keras. Namun kali ini— orang yang dijaga justru terluka karena sikapnya sendiri. “Tapi dia bukan anak kecil lagi, Kak,” ucap Reyhan pelan. Zavian terdiam. Rendra akhirnya menghela napas kecil. “Kamu takut sesuatu terjadi padanya, Ayah mengerti.” Tatapan pria paruh baya itu melembut. “Tapi rasa takutmu jangan sampai membuat Naresa merasa dikekang.” Zavian mengepalkan tangannya perlahan. Bayangan mata Naresa yang berkaca-kaca tadi terus terlintas di pikirannya. Aku capek selalu dianggap tidak bisa apa-apa. Kalimat itu

  • Dua Kakak Tiri Yang Posesif   Bertengkar

    “Ayah, Ibu…” Panggilan Naresa membuat Liana dan Rendra yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh kepadanya. “Iya sayang, ada apa hm?” jawab Liana lembut. Naresa menggenggam jemarinya sendiri kecil. “Naresa mau ngomong sesuatu sama Ibu dan Ayah.” Hal itu membuat Rendra dan Liana saling bertatapan penasaran. “Memangnya apa yang ingin kamu omongkan?” tanya Rendra. Naresa menarik napas pelan sebelum akhirnya berkata, “Itu… besok sepertinya Naresa pulang terlambat.” “Loh kenapa?” tanya Liana heran. “Naresa sama Sonia mau mampir ke toko aksesoris, Yah,” jelasnya hati-hati. “Ada tugas dari sekolah, jadi kami harus cari beberapa barang.” Rendra mengangguk pelan mendengarnya. “Makanya Naresa ngomong dari malam ini.” “Oh…” Rendra tersenyum kecil. “Jadi ceritanya kamu sedang minta izin?” “I-iya Ayah.” Liana langsung tersenyum lembut. “Tentu saja boleh.” Wajah Naresa langsung sedikit cerah. “Benarkah?” “Hmm,” jawab Liana. “Asal jangan terlalu malam.” Namun tiba-tiba—

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status