MasukPagi di kota Nasan selalu datang tanpa kehangatan.
Kabut tipis merayap masuk melalui jendela-jendela tinggi mansion Moretti, menempel di kaca seperti embun yang enggan pergi. Cahaya matahari pagi memantul pucat di lantai marmer Italia, dingin dan berkilau, seolah rumah ini sejak awal menolak kehadiran rasa nyaman. Aku berdiri di depan cermin besar di kamar baruku, kamar yang luasnya mungkin tiga kali lipat dari rumah lamaku. Tempat tidur berukuran king, sofa empuk di sudut ruangan, dan lemari pakaian penuh busana mahal yang tersusun rapi seperti etalase butik. Ironisnya, semua kemewahan ini terasa seperti peti mati yang dilapisi beludru. Aku mengenakan dress selutut berwarna nude yang sudah disiapkan di lemari. Bahannya lembut, potongannya anggun, membuatku terlihat rapi dan pantas. Terlalu pantas. Seperti boneka pajangan, persis seperti yang diinginkan Ibuku. Aku menatap bayanganku sendiri di cermin. Wajah pucat. Mata yang menyimpan kelelahan dan ketakutan. Tanda samar di leher yang kututupi dengan kerah tinggi. “Nona Nadine, Tuan Besar sudah menunggu di ruang makan.” Suara pelayan di balik pintu membuat tubuhku menegang. “Ya,” jawabku lirih. Aku menarik napas panjang, menelan rasa sesak di dada, lalu melangkah keluar. Aku duduk di sisi kanan, atau lebih tepatnya disebelah ibuku, meja makan panjang dari kayu mahoni, punggungku tegak bukan karena disiplin, melainkan karena takut. Kursi berukir tinggi yang kududuki terasa terlalu besar untuk tubuhku, membuatku tampak kecil, seperti anak yang tersesat di dunia orang dewasa. Atau lebih tepatnya, dunia para predator. Sarapan di keluarga Moretti bukan sekadar makan pagi. Ini adalah ritual. Simulasi. Kebohongan yang harus dipentaskan dengan sempurna. Di hadapanku, piring porselen putih berhiaskan emas tersaji rapi. Telur setengah matang dengan saus hollandaise, roti sourdough hangat, sosis sapi impor, dan secangkir teh chamomile yang uapnya mengepul pelan. Semua tampak sempurna. Terlalu sempurna. Sebastian Moretti duduk di kepala meja. Setelan mewah berwarna abu mudanya jatuh sempurna di tubuhnya yang masih gagah. Rambut peraknya tersisir rapi, kacamata emas bertengger anggun di batang hidungnya. Dari luar, ia tampak seperti ayah ideal dalam brosur keluarga kaya raya, tenang, bijaksana, penuh perhatian. Ibuku, Sarah Maheswari atau kini, Sarah Moretti, duduk di sebelah kanannya. Ia mengenakan gaun pagi sutra berwarna krem, rambutnya disanggul anggun, wajahnya segar tanpa bekas tangisan semalam. Seolah-olah tamparan dan teriakan itu tidak pernah terjadi. Di sisi kiri meja, Dominic duduk dengan postur tegap dan sikap tenang. Jas kasual berwarna gelap membungkus tubuhnya dengan aura profesional. Ia memegang cangkir kopi hitamnya dengan satu tangan, membaca sesuatu di tablet, matanya fokus, ekspresinya tak terbaca. Dan di sebelah kirinya... Matteo. Ia bersandar malas di kursinya, kemeja hitamnya terbuka satu kancing, memperlihatkan kulit lehernya yang pucat dan keras. Rambutnya sedikit berantakan, seperti baru bangun tidur namun tetap tampak berbahaya. Tatapannya sesekali melirikku, lambat, tajam, seperti seseorang yang sedang menilai barang miliknya sendiri. Aku menelan ludah. Setiap detik di meja ini terasa seperti duduk di atas ranjau. Hans berdiri di sudut ruangan, nyaris tak bergerak. Setelan hitamnya rapi, tangan terlipat di depan tubuh. Wajahnya datar, kosong, seperti dinding beton. Namun aku tahu, di balik tatapan itu, ada kamera kecil tersembunyi. Ada rekaman. Ada laporan. Sebastian mengangkat serbetnya dan meletakkannya di pangkuan dengan gerakan santai namun berwibawa. “Baik,” ucapnya, suaranya berat dan tenang. “Sebelum Ayah dan Ibu berangkat ke Maladewa, ada beberapa hal yang perlu ditegaskan.” Aku meremas jemariku di bawah meja. Ibuku tersenyum kecil, mengangguk setuju, lalu menyesap jus jeruknya dengan elegan. “Selama sebulan ke depan,” lanjut Sebastian, “Ayah ingin rumah ini tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada masalah. Tidak ada drama. Tidak ada… kesalahpahaman.” Matanya beralih pada Dominic terlebih dahulu lalu ke Matteo. "Dominic, Matteo. Selama Ayah pergi, kalian bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan kenyamanan Nadine. Dia adalah bagian dari keluarga Moretti sekarang." Matteo terkekeh pelan. Tawa itu terdengar mengejek. “Tentu saja, Ayah,” katanya santai. “Aku akan memastikan dia mendapatkan semua kenyamanan yang dia butuhkan.” Pada saat yang sama, aku merasakan sesuatu menyentuh kakiku di bawah meja. Kaki Matteo. Dengan sengaja. Ia merayap pelan, menyusuri betisku, naik ke pahaku di balik kain rok yang tipis. Tubuhku menegang. Nafasku tercekat. Garpu di tanganku hampir terlepas. Aku menoleh tajam padanya. Matteo hanya mengangkat alis dengan wajah tanpa dosa, sementara tekanannya semakin jelas, semakin posesif. "Dan satu hal lagi," lanjut Sebastian, seolah tidak menyadari ketegangan di bawah meja. "Hans akan tetap tinggal di sini sebagai pengawas. Dia akan mengirimkan video harian kepadaku tentang aktivitas kalian di rumah ini. Aku ingin melihat bagaimana kalian menerima adik baru kalian. Aku ingin melihat keharmonisan, mengerti?" Dominic akhirnya mengangkat wajahnya dari tablet. Matanya yang dingin menatap Sebastian, lalu beralih padaku sekejap, tatapan yang begitu tajam hingga aku merasa jiwaku teriris. "Video harian?" tanyanya datar. "Ayah tidak percaya pada kami?" "Bukan soal percaya, Dominic. Ini soal memastikan bahwa Moretti tetap bersatu," jawab Sebastian tenang. "Hans akan jadi mata dan telingaku. Jadi, jangan berbuat aneh-aneh," ia melirik Matteo sekilas. "Terutama kau, Matteo. Jangan menakuti adikmu." Matteo menarik kakinya seolah tidak terjadi apa-apa, lalu mengangkat kedua tangannya diudara. "Aku? Menakuti dia? Ayah, aku bahkan sangat menyukainya." Kata-kata itu membuat perutku melilit. Ibuku tersenyum, seolah itu lelucon ringan. Aku menunduk, berpura-pura memotong roti, padahal tanganku gemetar. Sebastian lalu menoleh padaku. Tatapannya lembut, penuh kehangatan. “Nadine,” panggilnya. “Ya, Ayah,” jawabku refleks. “Kau tidak perlu merasa tertekan. Anggap rumah ini sebagai rumahmu sendiri.” Ia tersenyum tipis. “Hans akan mengirimkan video harian padaku. Aku ingin melihat kalian rukun. Harmonis.” Kata video membuat napasku tertahan. Hans sedikit menggeser posisi, seolah menegaskan keberadaannya. Dominic menyesap kopinya sekali lagi, lalu akhirnya bersuara, suaranya rendah dan dingin seperti es. “Jangan khawatir, Ayah,” ucapnya tanpa menatap siapa pun. “Dia akan tetap pada tempatnya.” Itu bukan janji. Itu pernyataan, bahwa aku harus patuh tanpa membuat ulah. Sarapan berlanjut dalam keheningan yang mencekik. Suara peralatan makan terdengar terlalu keras di telingaku. Aku memaksa diriku menghabiskan makanan, meski rasanya seperti menelan pasir. Tak lama kemudian, Sebastian berdiri. “Kita berangkat dalam tiga puluh menit.” Ibuku segera bangkit, pelayan-pelayan bergerak cepat. Segalanya berjalan dengan presisi militer. “Nadine,” panggil Ibuku tanpa menoleh. “Bersikaplah baik. Jangan mempermalukan keluarga ini. Jaga dirimu baik-baik ya.” Aku menggertakkan gigi, tapi mengangguk juga. Tiga puluh menit kemudian, halaman depan mansion dipenuhi mobil-mobil hitam mengilap. Beberapa pengawal berdiri siaga. Koper-koper mahal dimasukkan ke bagasi. Sebastian memeluk Ibuku singkat, lalu menoleh padaku. “Jaga diri baik-baik, Nak,” katanya lembut. “Ingat, kau aman di sini.” Aman? Kata yang terasa seperti jeruji besi. Mobil limusin itu melaju keluar gerbang, diikuti beberapa mobil pengawal. Gerbang besi raksasa menutup perlahan dengan suara dentuman berat. Dan saat suara itu menghilang... Udara di mansion berubah. Seolah semua oksigen ditarik paksa. Aku berdiri di foyer, menatap pintu yang tertutup, dadaku terasa sesak. Matteo menyalakan rokoknya tanpa peduli larangan di dalam rumah. Asap putih menguar, menusuk hidungku. “Hans mungkin merekam video,” katanya santai, melangkah mendekat. “Tapi dia tidak akan merekam apa yang terjadi di balik pintu tertutup, Little Sister." "Minggir, Matteo," desisku, mencoba memberanikan diri. “Aku akan berangkat kerja.” Matteo tertawa, tawa yang kering dan berbahaya. Ia mendekatkan wajahnya, hidung kami hampir bersentuhan. "Kau pikir kau aman karena Ayahku membelikanmu restoran dan bar itu? Itu bukan hadiah, sayang. Itu adalah rantai. Dan aku yang memegang kendalinya." Aku membeku. Tangannya naik, jari-jarinya yang kasar mencengkeram rahangku, memaksaku menatap mata gelapnya. "Jangan coba-coba lari atau mencari bantuan dari luar. Di rumah ini, kau hanya punya dua pilihan: mematuhiku, atau dihancurkan oleh Dominic." Dominic berjalan melewati kami tanpa sepatah kata, jasnya sudah rapi, aura dinginnya menyapu ruangan. Saat ia berhenti di tangga, ia menoleh sedikit ke arahku. Tatapannya singkat. Peringatan tanpa suara. Aku menelan ludah. "Lepaskan!" aku menyentak tangannya. "Pergilah ke kamarmu dan bersiap. Sopir akan mengantarmu bekerja. Tapi ingat satu hal..." Matteo berbisik tepat di telingaku, hembusan napasnya yang berbau rokok membuat bulu kudukku berdiri. "Setiap pria yang menyentuhmu, akan pulang dengan tangan yang tidak utuh lagi. Kau milik Moretti sekarang. Dan Moretti tidak pernah berbagi mainan." Matteo melepaskanku dan berjalan pergi sambil bersiul santai. Aku berdiri mematung, tubuhku gemetar hebat. Saat aku mendongak ke lantai dua, aku melihat Dominic sudah berdiri di sana, mengawasi segalanya dari balik pagar balkon dengan tatapan dingin yang tak terbaca. Lalu ia berbalik. Pergi. Tanpa sepatah kata. 'Mereka bukan hanya berbahaya,' gumamku dalam hati. 'Mereka adalah penjara yang hidup. Dan aku baru saja dikunci di dalamnya. Hah... sepertinya jalanku akan sulit."Suara Dominic tidak keras. Namun getarannya cukup untuk membuat bulu kudukku berdiri tegak. Aku membeku di tempat. Tidak mungkin. Jarakku dengannya hampir lima meter. Aku berbicara dengan suara yang sangat pelan, nyaris hanya bisikan yang seharusnya tenggelam di udara perpustakaan yang luas dan berat oleh aroma kayu tua. Tidak mungkin ia mendengarnya… kecuali ia memang selalu mendengar segalanya. Perlahan... sangat perlahan, aku menoleh ke belakang. Dominic sudah mendongak. Ia meletakkan penanya di atas meja kayu ek antik itu dengan gerakan yang tenang dan terukur. Bunyi denting kecil ketika logam pena menyentuh permukaan meja terdengar terlalu nyaring di telingaku. Seperti lonceng kematian yang baru saja dibunyikan. Kacamata emasnya dilepas, lalu diletakkan di samping gelas berisi cairan amber yang kini tinggal sisa di dasar kaca. Ia tidak lagi terlihat sebagai pria dingin yang sibuk membaca laporan.Ia tidak lagi terlihat acuh tak acuh. Tatapan mata abu-abu peraknya kini t
“Duduk.” ucapnya singkat tanpa mengalihkan pandangan. Aku duduk di kursi di hadapannya, punggungku menegang, jemariku meremas satu sama lain di pangkuan untuk menahan getaran halus yang merambat naik dari perut ke dada. Keheningan kembali turun, lebih berat dari sebelumnya. Detak jam dinding tua terdengar jelas. Tik. Tok. Tik. Tok. Gesekan kertas terdengar seperti desahan yang disengaja. Aura Dominic memenuhi ruangan itu, menekan udara, membuat setiap tarikan napas terasa seperti usaha. Beberapa menit berlalu. Atau mungkin hanya detik, aku tidak yakin. Waktu di ruangan ini selalu terasa bengkok. Akhirnya, Dominic meletakkan penanya dengan bunyi pelan. Ia melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit besar itu. Barulah ia menatapku. Mata abu-abunya tajam, dingin, dan kosong dari emosi yang bisa kubaca. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Tidak ada simpati. Hanya penilaian murni, seolah aku adalah angka dalam lapor
Matahari telah lama tenggelam di balik gedung-gedung tinggi Kota Nasan, meninggalkan langit ungu gelap yang tampak seperti luka lebam yang belum sembuh. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di aspal basah sisa hujan sore. Aku melangkah memasuki Saint-Noire dengan tubuh yang terasa lebih berat dari biasanya, seolah setiap langkah menarik beban yang tak kasatmata dari bahuku. Hari kedua. Hanya hari kedua menjadi pemilik restoran, namun rasanya seperti sudah berbulan-bulan aku hidup di bawah tekanan yang sama—tatapan menghakimi, bisik-bisik beracun, dan senyum sosialita yang lebih tajam daripada pisau dapur. Hari ini aku sengaja tidak datang ke Bar. Aku lelah dengan kejadian di restoran. Bukan hanya fisik, tapi mental. Kepalaku masih berdengung oleh suara-suara siang tadi: tuduhan, hinaan, nada sok berkuasa Nyonya Clarissa, dan wajah Julian yang pucat saat hampir kehilangan nyawanya karena sabotase keji. Semua itu berputar tanpa henti di ben
Aku menarik napas panjang sebelum melangkah meninggalkan dapur. Bau logam darah masih terasa samar di udara, bercampur dengan aroma minyak panas dan rempah-rempah. Tanganku gemetar, bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang kutahan mati-matian sejak melihat Julian tergeletak di lantai seperti sampah yang bisa dipukul sesuka hati. Namun aku tahu satu hal dengan pasti. Aku tidak boleh meledak di sini. Aku harus berpikir jernih. Jika aku terlalu terang-terangan membela Julian, staf lain akan menganggapku pilih kasih. Mereka akan melihatku bukan sebagai pemimpin, melainkan sebagai perempuan lemah yang bertindak karena emosi. Dan di dunia ini—di dunia Moretti—emosi adalah celah yang bisa dimanfaatkan untuk menghancurkanku. Aku harus menyelesaikannya dengan cara Moretti. Dingin. Terukur. Dan tak terbantahkan. Langkah kakiku terdengar mantap saat aku berjalan menuju ruang VIP. Setiap langkah terasa seperti melepaskan satu bagian dari diriku yang lama, Nadine yang m
Pagi itu, udara di Kota Nasan terasa lebih dingin dari biasanya.Bukan karena cuaca matahari tetap bersinar pucat di balik gedung-gedung batu tua, melainkan karena sesuatu yang menetap di dadaku sejak aku melangkah keluar dari mansion Moretti. Setelah sarapan yang berubah menjadi sandiwara kejam, setelah senyum palsu dan ancaman Matteo yang masih berdengung di telingaku, tubuhku bergerak seolah membawa beban ribuan ton.Mobil sedan hitam yang sama sudah menungguku di depan.Pintunya terbuka dengan gerakan mekanis, tanpa suara. Aku masuk dan duduk kaku, punggungku menempel pada jok kulit yang dingin. Begitu pintu tertutup, dunia luar seolah teredam. Hanya ada aku, napasku yang masih belum stabil, dan bayangan lubang peluru yang terus menyelinap ke pikiranku.Aku menarik napas panjang. Ancaman Matteo masih terasa begitu nyata, seolah ia duduk di hadapanku, mengulang kalimat itu dengan suara datar: Sekali saja ada rahasia yang keluar dari bibirmu…Aku mengepalkan tangan di pangkuan.Aku
Dominic akhirnya mengangkat wajahnya dari tablet. Gerakan itu lambat, nyaris malas, namun efeknya seketika membuat udara di ruang makan berubah. Seolah suhu turun beberapa derajat hanya karena ia memutuskan untuk ikut campur.Tatapannya mengarah lurus ke Matteo tajam, dingin, dan penuh otoritas yang tidak perlu diteriakkan. “Kau terlalu ceroboh, Matteo.” Suaranya rendah. Tidak keras. Tidak marah. Tapi setiap kata meluncur seperti bilah es yang menyusup ke pori-pori kulit, lalu membeku di tulang."Jika musuh mulai mencium aromamu di dermaga utara, itu berarti kau meninggalkan jejak yang kotor semalam." Matteo mendongak. Sudut bibirnya terangkat sedikit, bukan senyum—lebih seperti ejekan yang malas. “Ceroboh?” ia terkekeh pelan, suara tawanya kering, tanpa humor. “Aku tidak meninggalkan jejak apa pun, Kak. Aku hanya memberikan… sedikit pelajaran.” Ia memutar bahunya, santai. “Masalah penyusup itu,” lanjutnya, “mereka hanya kecoak. Kecoak tidak perlu dipikirkan terlalu serius.” D







