Share

Bab 4 - Dasar iblis

Author: Za_dibah
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-30 15:19:58

Apa yang..."

​"Sshhh..." desisnya tepat di telingaku.

Tangannya yang posesif mencengkeram pinggangku dengan kekuatan brutal, seolah ingin meremukkan tulangku dan memastikan aku tak ke mana-mana. Tangan satunya naik perlahan, jari-jarinya yang kasar namun hangat mengelus pipiku dengan gerakan lambat, mematikan. Sentuhannya turun ke leherku, tepat di atas dua tanda kissmark yang masih terasa nyeri.

​ Ia menekannya sedikit dengan ibu jari, membuatku merintih pelan antara sakit dan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku.

​Jempolnya kemudian merambah ke bibir bawahku yang pecah, membelainya dengan gerakan yang sangat intim sekaligus merendahkan.

​"Tak kukira kita akan bertemu lagi secepat ini, little sister," bisiknya dengan suara yang begitu dalam, membuat bulu kudukku meremang hebat.

​Aku mengerutkan kening, mencoba mencari celah di ingatanku yang kabur.

'Bertemu lagi? Kapan?'

Aku yakin ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di mansion ini. Namun, aroma parfumnya, aroma maskulin yang dingin dan tajam ini...

​"Apa maksudmu? Aku tidak mengenalmu," bisikku bergetar, berusaha melepaskan tangannya yang seperti borgol besi di pinggangku.

​Matteo tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat berbahaya. "Oh, kau sangat pandai berakting. Harusnya kau jadi aktris, bukan pelayan bar murahan."

Ia mendekatkan wajahnya, napasnya menerpa kulitku.

"Katakan padaku, rayuan apa yang digunakan ibumu untuk merangkak naik keranjang ayahku? Harta, tahkta?"

Matanya mengeras.

"Dengar, Ibumu mungkin menguasai ayahku dengan rayuan murahannya, tapi di rumah ini, di bawah kekuasaanku, kau adalah mainanku."

"Lepaskan! Kau gila!" Aku meronta, tapi cengkeramannya semakin erat.

"Kau ingin tahu seberapa gila aku?" Matteo mendekatkan wajahnya. Aku bisa merasakan napas hangat pria itu di bibirnya. "Aku benci barang asing di rumahku. Dan cara terbaik untuk merusak barang asing... adalah dengan menandainya."

​Tanpa peringatan, Matteo membungkam bibirku dengan ciuman yang kasar dan penuh tuntutan. Itu bukan ciuman cinta; itu adalah klaim kepemilikan. Itu adalah deklarasi perang.

Aku membelalak, tanganku memukul dada bidangnya, namun pria itu justru menarik pinggangku lebih erat, seolah ingin meremukkan tulang-tulangku.

​Rasa pahit alkohol dan dominasi yang menyesakkan membuatku hampir pingsan. Saat Matteo akhirnya melepaskannya, Aku terengah-engah dengan bibir yang sedikit bengkak.

​PLAK!

​Tamparan itu mendarat tepat diwajah Matteo. Napasku memburu. "Jangan pernah menyentuhku lagi, brengsek!"

​Matteo memalingkan wajahnya yang terkena tamparan. Alih-alih marah, dia perlahan menoleh kembali ke arahku dan tertawa. Suara tawanya rendah dan kering, mengirimkan rasa dingin ke tulang belakangku.

​"Tamparan yang bagus," Matteo mengusap sudut bibirnya yang berdarah, lalu menjilat darah itu dengan ekspresi haus. "Tapi itu peringatan, Nadine. Selamat datang di neraka. Aku akan memastikan setiap detik yang kau habiskan di sini adalah penyesalan," bisik Matteo lagi, kali ini nadanya lebih menyerupai janji daripada ancaman.

​Ia melepaskan genggamannya di pinggangku secara tiba-tiba, membuatku nyaris terjatuh jika tidak segera berpegangan pada dinding. Matteo merapikan kemeja hitamnya yang sedikit berantakan, kembali ke sosoknya yang dingin dan tak tersentuh.

​"Masuklah. Ayah dan 'ibu baruku' sudah menunggu. Jangan buat mereka curiga, atau aku akan memastikan malam pertamamu di rumah ini menjadi mimpi buruk yang tak akan pernah kau lupakan," ucapnya dingin.

​Ia berbalik dan melangkah pergi menuju ruang makan tanpa menoleh lagi.

"Dasar iblis," desisku.

Aku menghapus air mataku dengan kasar, merapikan rambutku, dan melangkah dengan kaki gemetar mengikuti arah punggung tegap itu menghilang.

Saat sampai, ruangan itu tampak seperti galeri seni yang dingin; meja kayu ek panjang yang dipoles mengkilap, kursi-kursi berukir tinggi, dan lampu gantung kristal yang menjuntai rendah, membiaskan cahaya keemasan pada deretan piring porselen putih.

​Ibu dan Ayah baruku sudah duduk berdampingan, tampak sangat serasi dalam kepalsuan mereka. Sementara Matteo, pria itu sudah duduk di kursinya dengan ekspresi datar yang tak terbaca, seolah interaksi kasar kami di sudut ruangan tadi tidak pernah terjadi.

​"Duduklah, Nadine. Kau harus mencoba Wagyu Rossini ini, koki kami menyiapkannya khusus untuk menyambutmu," Sebastian menyambutku dengan lambaian tangan hangat.

​Aku duduk di kursi yang berseberangan langsung dengan Matteo. Jarak meja ini cukup lebar, namun tatapannya yang menusuk membuatku merasa seolah ia sedang berada tepat di depanku, mencekik leherku.

​Banyak orang mungkin akan takjub melihat deretan menu mewah di atas meja ini, steak daging premium dengan aroma truffle, salmon panggang, hingga kaviar. Tapi bagiku, ini semua hambar.

Bekerja di restoran bintang lima selama ini telah membuatku kebal terhadap kemewahan visual seperti ini. Aku tahu persis berapa harga setiap piring di depan kami, dan aku juga tahu berapa banyak keringat yang harus dikeluarkan pelayan untuk menyajikannya.

​"Bagaimana, Nadine? Kau suka hidangannya?" tanya Sebastian.

​"Sangat lezat, Ayah. Terima kasih," jawabku singkat, berusaha menjaga suaraku agar tidak gemetar.

​"Ayah senang mendengarnya." Sebastian menyesap wine merahnya, lalu menoleh pada Matteo.

​"Besok, Ayah dan ibu akan berangkat ke Maladewa untuk bulan madu selama sebulan," Sebastian membuka percakapan sembari memotong dagingnya. "Matteo, selama Ayah pergi, jaga adikmu. Jangan biarkan dia merasa kesepian."

Tanganku yang memegang garpu seketika membeku.

'Satu bulan? Bertiga, termasuk dengan pria gila ini?'

​Matteo menyesap anggur merahnya, matanya tetap tertuju padaku dari balik gelas kristal itu. "Tentu, Ayah. Aku akan menjaganya dengan... sangat baik."

Perutku melilit mendengar penekanannya pada kata itu. Aku tahu itu bukan janji perlindungan, melainkan ancaman penjara.

​"Bagus," Sebastian tersenyum puas. "Dan soal pekerjaan Nadine," lanjut Sebastian. "Kau tidak perlu lagi bekerja di bar atau restoran itu. Kau bebas memilih jabatan apa pun di perusahaan cabangku, di bawah pengawasan Matteo."

'Dari mana dia tahu aku bekerja di dua tempat? Hah... aku lupa siapa ayah baruku ini.'

​Aku menggeleng cepat. "Maaf, Ayah. Tapi aku punya pekerjaanku sendiri. Aku tidak bisa berhenti begitu saja."

​Mendengar jawabanku, Matteo mengeluarkan suara decih kecil yang sangat meremehkan. "Cih... Tentu saja dia tidak mau berhenti, Ayah. Di sana dia punya banyak 'pelanggan' yang menunggunya, bukan?"

​Wajahku memerah padam karena hinaan itu. Aku menatapnya tajam, namun Matteo justru membalas dengan seringai yang membuatku merinding.

​"Matteo, jaga bicaramu," tegur Sebastian, meski nadanya tidak terlalu keras. "Baiklah Nadine, kalau kau begitu mencintai pekerjaanmu, aku akan memberikan solusi. Hans!"

​"Ya, Tuan Besar?" asisten pribadi itu muncul seperti bayangan.

​"Beli bar dan restoran tempat Nadine bekerja malam ini juga. Pastikan kepemilikannya berpindah atas nama Nadine. Besok, biarkan dia datang ke sana sebagai pemilik tunggal."

​Mataku membelalak. "Apa? Tidak! Ayah, itu terlalu berlebihan. Maksudku..."

​PRANGG!

​Suara dentingan keras sendok yang dibanting Matteo ke atas piring porselen menghentikan kalimatku. Ia berdiri dengan wajah yang luar biasa dingin, auranya meledak-ledak hingga membuat pelayan di sudut ruangan menunduk takut.

​"Aku sudah selesai," ucap Matteo singkat. Ia melirikku sekali lagi, sebuah tatapan yang menusuk tajam, lalu ia melangkah pergi dengan aura gelap yang menyelimutinya.

​"Ck, anak itu... selalu saja begitu jika merasa privasinya terganggu," Sebastian menghela napas, seolah sudah terbiasa dengan tabiat putranya.

​Aku terdiam, jantungku berdegup kencang. Aku tahu Matteo terlihat marah, karena ia merasa 'mainan' barunya yaitu aku, sedang diberi perlindungan berlebih oleh ayahnya.

​"Sudahlah, abaikan dia. Ayo Nadine, habiskan salmon panggangmu," Sebastian mengambil sepotong daging dan meletakkannya di piringku. "Makanlah yang banyak, Nak. Kau terlihat sangat kurus."

​"Terima kasih, Ayah," lirihku, menunduk dalam-dalam agar mereka tidak melihat ketakutan di mataku.

"Nadine, selesaikan makannya dan segera masuk ke kamarmu untuk istirahat. Besok kau harus bangun pagi untuk memulai aktivitasmu," perintah Ibu dengan nada datarnya yang khas.

​Aku hanya mengangguk tanpa suara. Aku makan dengan gerakan tertata, tak lagi memedulikan tawa kecil Sebastian atau senyum manipulatif Ibuku.

Pikiranku hanya tertuju pada satu hal: sebulan ke depan.

​Satu bulan tanpa Sebastian dan Ibu di rumah ini. Hanya aku dan dua predator yang menyebut dirinya kakakku, tapi sosok Matteo menatapku seolah ingin membelah jiwaku.

Namun, bagaimana dengan Dominic? Apakah dia juga sama dengan Matteo?

Entahlah...

Kemewahan yang diberikan Sebastian hari ini bukanlah sebuah hadiah, melainkan rantai emas yang akan menyeretku masuk lebih dalam ke dunia gelap keluarga Moretti.

​Aku melirik ke arah pintu keluar, berharap bisa melarikan diri, namun aku tahu itu sia-sia. Di rumah ini, di bawah bayang-bayang keluarga Moretti, tidak ada jalan keluar.

​

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 351 — Happy ending

    Lima Tahun Kemudian... Sinar matahari pagi yang hangat menyinari taman bunga yang luas di pelataran belakang Mansion Saint Noire. Di atas rumput hijau yang terawat rapi, seorang anak laki-laki berusia empat tahun lebih berwajah amat tampan, dengan garis rahang tegas dan manik mata abu-abu yang persis seperti Dominic sedang memegang sebuah pistol mainan berbahan logam ringan. Matteo Moretti duduk berlutut di samping keponakannya, membimbing jemari mungil bocah itu memegang gagang senjata mainan tersebut dengan posisi menembak sempurna. "Pegang yang kokoh, Lucian. Tarik napas, kunci sasaranmu di batang pohon itu, lalu tekan pelatuknya," ajaran Matteo dengan senyum santai di wajahnya. TAK! Peluru plastik meluncur tepat menabrak batang pohon. Matteo tertawa kecil seraya menepuk bahu kecil bocah itu. Nadine yang melangkah keluar ke teras taman dengan gaun longgar berwarna cream langsung menghentikan langkahnya. Matanya membelalak tipis melihat pemandangan ekstrem di pagi hari

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 350 — Malam penuh gairah

    ​Pesta resepsi yang megah di ballroom utama akhirnya usai saat malam kian melarut. Pintu ganda kamar pengantin di sayap utama Mansion Saint Noire menutup rapat, mengunci seluruh hiruk-pikuk dunia luar. Di dalam kamar bernuansa keemasan yang dihiasi ribuan kelopak mawar merah dan aroma lilin aromaterapi vanila yang manis, Nadine berdiri canggung di tepi ranjang berukuran king size. Gaun pengantin off-white berhiaskan kristal Swarovski miliknya terasa begitu berat, membalut lekuk tubuhnya yang makin anggun dengan perut yang membuncit tipis di usia kehamilan empat bulan. Dominic menutup pintu dengan satu dorongan mantap, menguncinya rapat-rapat, lalu berbalik perlahan. Pria itu melepas jas tuxedo hitamnya, membuangnya begitu saja ke lantai, lalu melonggarkan ikatan dasi kupu-kupunya dengan gerakan lambat yang sarat akan dominasi berbahaya. Binar mata abu-abunya yang biasanya dingin kini membara oleh gelora gairah yang telah lama ia bendung mati-matian—menunggu momen di mana w

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 349 — Menikah

    Katedral Utama di kota Nasan berdiri megah di bawah naungan langit biru yang jernih. Karpet merah beludru terbentang sepanjang lorong tengah gereja, diapit oleh deretan kursi ukir kayu jati yang dihiasi rangkaian bunga white calla lily dan rose quartz yang merebakkan aroma harum nan menenangkan.​Pernikahan ini menjadi puncak sejarah baru bagi dunia bawah tanah. Seluruh petinggi aliansi kelas atas, penguasa wilayah utara, jajaran diplomat internasional, hingga keluarga-keluarga berpengaruh hadir memenuhi ruangan. Di barisan paling depan sebelah kanan, William Kaiser Vance dan istrinya, Elena Vance, duduk anggun menunjukkan dukungan diplomasi penuh, disusul oleh Lukas yang tampil memukau dalam balutan setelan tuxedo klasik berwarna abu-abu gelap.​Suara dentang lonceng gereja bergema lima kali, menyambut dimulainya alunan instrumen piano dan gesekan biola bernada Pachelbel's Canon in D.​Pintu utama yang menjulang tinggi perlahan terbuka lebar.​Seluruh tamu unda

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 348 — Merestui

    Suara dehem berwibawa yang disengaja memecah keintiman di antara mereka.Nadine tersentak kaget dan refleks terlonjak mundur memisahkan diri dari Dominic dengan wajah yang mendadak merona merah padam hingga ke pangkal leher. Ketakutan kecil seketika merayap di dadanya saat mendongak dan melihat siapa yang baru saja melangkah masuk dari koridor utama.Sebastian Moretti berdiri tegap bersama ibu kandung Nadine, Sarah Maheswari. Pria tua berwibawa itu menatap putra dan calon menantunya dengan senyum tipis yang sarat makna, sementara Sarah melangkah perlahan mendekati Nadine dengan pandangan mata yang dipenuhi kehangatan dan keharuan mendalam.Nadine menahan napasnya. Jemarinya meremas kain dress yang ia kenakan. Ada rasa cemas yang menghimpit batinnya, ia sangat takut jika sang ibu akan menolak, marah, atau menentang keputusannya untuk bersanding dengan Dominic setelah segala penderitaan dan takdir rumit yang melingkupi mereka.Namun, dugaan ketakutan itu sirna dalam se

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 347 — Telah kalah

    ​Atmosfer di ruang tamu utama Mansion Saint Noire seketika membeku menjadi es.Dua pria dengan pengaruh terbesar di dunia bawah tanah itu berdiri saling berhadapan, memancarkan aura dominasi yang saling meremukkan. Di satu sisi, Lukas berdiri tegak dengan sisa-sisa ketenangan seorang ningrat yang baru saja kehilangan segalanya. Di sisi lain, Dominic merangkul erat pinggang Nadine, menatap sang rival dengan tatapan membunuh seorang penguasa yang tak akan pernah sudi berbagi wilayah kekuasaan atau wanitanya.Lukas tidak gentar. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sarat akan kepahitan sekaligus tantangan."Kau bicara seolah kau adalah dewa yang bisa mengendalikan takdir, Dominic," ucap Lukas dingin, suaranya mengalun rendah tanpa rasa takut. "Tapi ingat, peluru keluarga Miller tempo hari membuktikan bahwa singa terkuat sekalipun bisa jatuh berdarah-darah jika ia lengah."Dominic menyipitkan mata abu-abunya. Rahangnya mengetat keras hingga urat di pelipi

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 346 — Menolak Lukas

    Nadine menunduk sejenak. Jemarinya meremas lembut kain dress di atas pangkuannya. Rasa bersalah yang teramat besar menghimpit dadanya.​"Lukas..." cicit Nadine lirih, suaranya bergetar halus. Ia mendongak, menatap Lukas dengan mata berkaca-kaca. "Kumohon... maafkan aku. Maafkan aku atas kekacauan tempo hari, dan maaf karena aku tidak bisa menerima niat baikmu."​Lukas menggeleng pelan, senyuman tipis yang pahit terukir di bibirnya. "Kenapa kau meminta maaf, Nadine? Kau tidak bersalah sama sekali. Aku sudah bilang, aku tidak peduli siapa ayah biologis dari bayi di rahimmu. Aku tidak peduli pada noda atau masa lalu. Bagiku, kau adalah prioritas utama. Aku ingin merawatmu, melindungimu, dan menjadi sandaran hidupmu."​Nadine menarik napas panjang, menahan sesak yang mendadak mampet di tenggorokannya. Ia menggeleng perlahan, menolak tawaran itu dengan kelembutan yang sama tulusnya.​"Bukannya kau tidak berharga, Lukas... Justru sebaliknya," ucap Nadine tulus, air matanya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status