MasukAku masih terpaku di tempatku berdiri, menatap tautan tangan Ibuku dan Sebastian dengan rasa tidak percaya yang menghimpit dada.
Ayah baru? Kata itu terasa asing, seperti racun yang baru saja dipaksakan masuk ke tenggorokanku. Nama Moretti bukan sekadar nama keluarga biasa. Nama itu sering berbisik di balik bayang-bayang kekuasaan kota ini—di pelabuhan, di bisnis gelap, di meja-meja rapat yang tak pernah disentuh hukum. Dan sekarang, tanpa persetujuanku, aku berdiri tepat di tengah-tengahnya. “Nadine.” Suara Sebastian memanggilku, lembut namun tegas. Ia melambaikan tangan, senyumnya hangat seolah aku adalah anak yang telah lama dinantikan, bukan seorang gadis miskin yang baru saja diseret keluar dari hidup lamanya. “Jangan hanya berdiri di sana, Nak. Kemarilah.” Aku menarik napas dalam-dalam. Kakiku terasa berat saat hendak melangkah mendekat. Namun sebelum sempat bergerak, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga marmer. Berat. Teratur. Penuh kuasa. Aku refleks menoleh. Bukan satu, tapi dua pria muncul dari lantai dua, berjalan menuruni tangga megah itu dengan aura yang membuat udara di sekitarku terasa lebih dingin. Napas seolah berhenti di tenggorokanku. Mereka berdua tinggi menjulang, bertubuh tegap dengan bahu lebar yang jelas terbentuk bahkan di balik pakaian mahal yang mereka kenakan. Postur mereka bukan sekadar atletis, melainkan postur pria-pria yang terbiasa memerintah, bukan diperintah. Pria pertama berjalan lebih dulu. Ia mengenakan kemeja biru navy dengan kancing atas terbuka, memperlihatkan leher kuat dan tulang selangka yang tegas. Wajahnya tampan, dengan garis rahang tajam dan ekspresi yang… kosong. Dingin. Seolah keberadaanku di rumah ini bahkan tidak cukup penting untuk diakui. "Nadine, perkenalkan. Ini putra pertamaku, Dominic Moretti," ucap Sebastian memperkenalkan pria yang tampak acuh itu. Dominic hanya melirikku sekilas. Hanya sekilas. Matanya sedingin es kutub, tidak ada keramahan, tidak ada kebencian, hanya kekosongan yang mengintimidasi. Ia hanya mengangguk singkat pada ayahnya. "Aku harus pergi, ada urusan di pelabuhan yang tidak bisa menunggu," ucapnya dengan suara bariton yang berat. Tanpa menoleh padaku lagi, ia melangkah pergi melewati foyer dengan langkah lebar yang penuh kuasa. "Hah... anak itu selalu sibuk dengan bisnisnya," Sebastian menghela napas maklum, lalu beralih pada pria kedua yang masih berdiri di anak tangga terakhir. “Dan ini putra keduaku,” lanjutnya. “Matteo Moretti.” Jantungku berdegup lebih cepat. Bukan karena ketampanan. Melainkan karena cara pria itu menatapku. Matteo tidak seperti Dominic yang acuh. Matteo… menatap. Bukan sekadar melihat, melainkan mengulitiku dengan sepasang mata gelapnya yang tajam dan dalam. Ia menuruni tangga dengan langkah perlahan. Setiap pijakan terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang buruk. Kemeja hitam legam membalut tubuhnya yang tinggi dan kokoh. Rambutnya sedikit berantakan, namun justru menambah kesan liar yang berbahaya. Kulitnya pucat namun sehat, hidung mancung, dan bibir yang terkatup rapat seolah menyimpan rahasia kelam. Saat ia berdiri tepat di hadapanku, aku baru menyadari satu hal. Pria ini… sangat tinggi. Aku harus mendongak hanya untuk menatap wajahnya. Leherku terasa tegang, bukan hanya karena posisi, tapi karena tekanan tak kasatmata yang ia pancarkan. "Selamat malam, 'Adik' kecil," ucap Matteo. Suaranya serak, rendah, dan entah kenapa, terdengar sangat familiar di telingaku. Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. "S-selamat malam... Kak Matteo." ucapku pelan. Ia tidak tersenyum. Namun seringai tipis muncul sesaat di sudut bibirnya sebelum ia berpaling, seolah sapaan itu memberinya hiburan tersendiri. "Ayo, kita ke ruang makan. Dominic sudah pergi, jadi hanya kita berempat yang akan makan malam," ajak Sebastian sembari membimbing Ibuku. Aku baru saja hendak melangkah mengikuti mereka ketika tiba-tiba... Sebuah tangan besar meraih pinggangku dari samping. Aku tersentak. Dalam satu tarikan kasar, tubuhku ditarik ke belakang hingga punggungku menabrak dada bidang yang keras seperti baja. Napasku tercekat. Tubuhku seolah tenggelam dalam dekapan yang sama sekali tidak memberikan ruang untuk melawan. Sebelum aku sempat berteriak, Matteo sudah menarikku ke sudut ruangan yang remang, tersembunyi dari pandangan ibuku dan Sebastian. Jantungku berdentam liar. “Apa yang...”Suara Dominic tidak keras. Namun getarannya cukup untuk membuat bulu kudukku berdiri tegak. Aku membeku di tempat. Tidak mungkin. Jarakku dengannya hampir lima meter. Aku berbicara dengan suara yang sangat pelan, nyaris hanya bisikan yang seharusnya tenggelam di udara perpustakaan yang luas dan berat oleh aroma kayu tua. Tidak mungkin ia mendengarnya… kecuali ia memang selalu mendengar segalanya. Perlahan... sangat perlahan, aku menoleh ke belakang. Dominic sudah mendongak. Ia meletakkan penanya di atas meja kayu ek antik itu dengan gerakan yang tenang dan terukur. Bunyi denting kecil ketika logam pena menyentuh permukaan meja terdengar terlalu nyaring di telingaku. Seperti lonceng kematian yang baru saja dibunyikan. Kacamata emasnya dilepas, lalu diletakkan di samping gelas berisi cairan amber yang kini tinggal sisa di dasar kaca. Ia tidak lagi terlihat sebagai pria dingin yang sibuk membaca laporan.Ia tidak lagi terlihat acuh tak acuh. Tatapan mata abu-abu peraknya kini t
“Duduk.” ucapnya singkat tanpa mengalihkan pandangan. Aku duduk di kursi di hadapannya, punggungku menegang, jemariku meremas satu sama lain di pangkuan untuk menahan getaran halus yang merambat naik dari perut ke dada. Keheningan kembali turun, lebih berat dari sebelumnya. Detak jam dinding tua terdengar jelas. Tik. Tok. Tik. Tok. Gesekan kertas terdengar seperti desahan yang disengaja. Aura Dominic memenuhi ruangan itu, menekan udara, membuat setiap tarikan napas terasa seperti usaha. Beberapa menit berlalu. Atau mungkin hanya detik, aku tidak yakin. Waktu di ruangan ini selalu terasa bengkok. Akhirnya, Dominic meletakkan penanya dengan bunyi pelan. Ia melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit besar itu. Barulah ia menatapku. Mata abu-abunya tajam, dingin, dan kosong dari emosi yang bisa kubaca. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Tidak ada simpati. Hanya penilaian murni, seolah aku adalah angka dalam lapor
Matahari telah lama tenggelam di balik gedung-gedung tinggi Kota Nasan, meninggalkan langit ungu gelap yang tampak seperti luka lebam yang belum sembuh. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di aspal basah sisa hujan sore. Aku melangkah memasuki Saint-Noire dengan tubuh yang terasa lebih berat dari biasanya, seolah setiap langkah menarik beban yang tak kasatmata dari bahuku. Hari kedua. Hanya hari kedua menjadi pemilik restoran, namun rasanya seperti sudah berbulan-bulan aku hidup di bawah tekanan yang sama—tatapan menghakimi, bisik-bisik beracun, dan senyum sosialita yang lebih tajam daripada pisau dapur. Hari ini aku sengaja tidak datang ke Bar. Aku lelah dengan kejadian di restoran. Bukan hanya fisik, tapi mental. Kepalaku masih berdengung oleh suara-suara siang tadi: tuduhan, hinaan, nada sok berkuasa Nyonya Clarissa, dan wajah Julian yang pucat saat hampir kehilangan nyawanya karena sabotase keji. Semua itu berputar tanpa henti di ben
Aku menarik napas panjang sebelum melangkah meninggalkan dapur. Bau logam darah masih terasa samar di udara, bercampur dengan aroma minyak panas dan rempah-rempah. Tanganku gemetar, bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang kutahan mati-matian sejak melihat Julian tergeletak di lantai seperti sampah yang bisa dipukul sesuka hati. Namun aku tahu satu hal dengan pasti. Aku tidak boleh meledak di sini. Aku harus berpikir jernih. Jika aku terlalu terang-terangan membela Julian, staf lain akan menganggapku pilih kasih. Mereka akan melihatku bukan sebagai pemimpin, melainkan sebagai perempuan lemah yang bertindak karena emosi. Dan di dunia ini—di dunia Moretti—emosi adalah celah yang bisa dimanfaatkan untuk menghancurkanku. Aku harus menyelesaikannya dengan cara Moretti. Dingin. Terukur. Dan tak terbantahkan. Langkah kakiku terdengar mantap saat aku berjalan menuju ruang VIP. Setiap langkah terasa seperti melepaskan satu bagian dari diriku yang lama, Nadine yang m
Pagi itu, udara di Kota Nasan terasa lebih dingin dari biasanya.Bukan karena cuaca matahari tetap bersinar pucat di balik gedung-gedung batu tua, melainkan karena sesuatu yang menetap di dadaku sejak aku melangkah keluar dari mansion Moretti. Setelah sarapan yang berubah menjadi sandiwara kejam, setelah senyum palsu dan ancaman Matteo yang masih berdengung di telingaku, tubuhku bergerak seolah membawa beban ribuan ton.Mobil sedan hitam yang sama sudah menungguku di depan.Pintunya terbuka dengan gerakan mekanis, tanpa suara. Aku masuk dan duduk kaku, punggungku menempel pada jok kulit yang dingin. Begitu pintu tertutup, dunia luar seolah teredam. Hanya ada aku, napasku yang masih belum stabil, dan bayangan lubang peluru yang terus menyelinap ke pikiranku.Aku menarik napas panjang. Ancaman Matteo masih terasa begitu nyata, seolah ia duduk di hadapanku, mengulang kalimat itu dengan suara datar: Sekali saja ada rahasia yang keluar dari bibirmu…Aku mengepalkan tangan di pangkuan.Aku
Dominic akhirnya mengangkat wajahnya dari tablet. Gerakan itu lambat, nyaris malas, namun efeknya seketika membuat udara di ruang makan berubah. Seolah suhu turun beberapa derajat hanya karena ia memutuskan untuk ikut campur.Tatapannya mengarah lurus ke Matteo tajam, dingin, dan penuh otoritas yang tidak perlu diteriakkan. “Kau terlalu ceroboh, Matteo.” Suaranya rendah. Tidak keras. Tidak marah. Tapi setiap kata meluncur seperti bilah es yang menyusup ke pori-pori kulit, lalu membeku di tulang."Jika musuh mulai mencium aromamu di dermaga utara, itu berarti kau meninggalkan jejak yang kotor semalam." Matteo mendongak. Sudut bibirnya terangkat sedikit, bukan senyum—lebih seperti ejekan yang malas. “Ceroboh?” ia terkekeh pelan, suara tawanya kering, tanpa humor. “Aku tidak meninggalkan jejak apa pun, Kak. Aku hanya memberikan… sedikit pelajaran.” Ia memutar bahunya, santai. “Masalah penyusup itu,” lanjutnya, “mereka hanya kecoak. Kecoak tidak perlu dipikirkan terlalu serius.” D







