เข้าสู่ระบบMobil sedan hitam itu melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang. Deru mesinnya terdengar halus, kontras dengan pikiranku yang berisik dan kacau.
Aku menyandarkan kening ke kaca jendela yang dingin, menatap deretan lampu jalan yang memanjang seperti garis cahaya buram. Pandanganku mengabur, bukan karena kaca, melainkan air mata yang masih menggenang di pelupuk mataku, air mata yang kupaksa untuk tidak jatuh. Di sampingku, ibuku duduk tegak dengan kaki disilangkan anggun. Ia sibuk memoles lipstik merah menyala di bibirnya, memperhatikan pantulan wajahnya di cermin kecil seolah tamparan yang ia layangkan padaku satu jam lalu hanyalah interaksi remeh yang tak berarti. "Hapus air matamu, Nadine. Jangan terlihat menyedihkan," tegurnya tanpa menoleh. Aku tidak menjawab. Lidahku terlalu pahit untuk sekadar mengeluarkan suara. Mobil ini melaju menuju kawasan yang sangat kukenal sebagai area terlarang bagi orang-orang seperti kami. Sebuah kawasan di mana setiap gerbang rumahnya adalah pembatas antara kekuasaan dan kemelaratan. Mobil itu akhirnya melambat. Lalu berhenti. Aku menegakkan tubuh perlahan, napasku tertahan saat mataku menangkap pemandangan di hadapanku. Sebuah mansion berdiri megah di balik gerbang besi tinggi. Bangunan itu memadukan gaya klasik Eropa yang kokoh dengan sentuhan modern minimalis yang dingin dan elegan. Pilar-pilar besar menopang teras tinggi, sementara jendela-jendela besar memantulkan cahaya keemasan dari lampu kristal di dalam. "Turun, Nadine. Jangan hanya melamun di sana," tegur ibuku sembari membuka pintu mobil. Aku turun dengan langkah gontai. Kepalaku mendongak, menatap kemegahan yang terasa mencekik. 'Rumah siapa ini?' Belum sempat aku bertanya, dua orang pelayan berseragam rapi sudah mendekat, menunduk hormat, dan mulai menurunkan koper-koper kami dari bagasi. Di depan pintu utama yang terbuat dari kayu jati berukir, seorang wanita paruh baya dengan sanggul rapi menyambut kami. Senyumnya tampak hangat dan terlihat tulus. "Selamat malam, Nyonya Sarah. Selamat malam, Nona Nadine. Silakan masuk, Tuan Besar sudah menunggu di dalam," ucap wanita itu dengan nada yang sangat sopan. Aku terpaku. Nyonya? Nona? Seringai kecil nampak dibibirku, sebuah tawa getir tertahan di tenggorokanku. Otakku mulai bekerja cepat memikirkan kemungkinan terburuk. Drama apalagi yang sedang dimainkan ibuku? Apakah kali ini ibuku benar-benar menjualku kepada pria tua kaya raya, agar bisa melunasi hutang dan hidup dalam kemewahan ini? "Ayo, Nadine!" ibuku segera menyambar lenganku, menyeretnya masuk ke dalam. "Ibu, pelan-pelan! Sakit!" desisku berusaha melepaskan cengkeraman ibuku. "Berjalanlah yang benar, Nadine! Jaga sikapmu. Jangan buat Ibu malu di depan mereka," bisiknya tajam, matanya memberikan peringatan keras. Aku hanya bisa memutar bola mataku 'muak'. Kami melintasi foyer luas yang lantainya terbuat dari marmer Italia. Di tengah ruangan, sebuah tangga besar melengkung indah menghubungkan lantai satu dengan lantai dua, berdiri megah bak tangga di istana dalam dongeng-dongeng klasik. Namun, fokusku segera teralihkan pada sosok itu. Seorang pria paruh baya berdiri di tengah ruang tamu utama. Tangannya bertaut rapi di depan tubuhnya. Setelan jas mahal berwarna charcoal membalut tubuhnya yang masih tegap meski usianya jelas melewati kepala lima. Aura ketegasan terpancar kuat dari wajahnya, garis rahang tegas, hidung mancung, dan mata abu-abu tajam yang terasa mampu menembus pikiran siapa pun yang ditatapnya. Kacamata berbingkai emas menghiasi wajah itu, menambah kesan berkuasa. Saat matanya menangkap keberadaan ibuku, ekspresinya berubah. Tegas menjadi lembut. "Selamat datang di rumah kami, Sayang," ucap pria itu dengan suara berat yang terdengar begitu tulus. Duniaku seakan runtuh. 'Apa katanya tadi. Sayang?' Aku melihat ibuku berjalan mendekat ke arah pria itu, lalu dengan luwes melingkarkan tangannya di lengan sang pria. Ibuku tersenyum begitu cantik, lalu menyandarkan kepalanya di bahu pria itu dengan senyum manja, terlalu alami untuk sebuah sandiwara. "Nadine, perkenalkan ini ayah barumu, Sebastian Moretti," ucap ibuku dengan nada bangga. Aku terbangun jauh sebelum matahari benar-benar memutuskan untuk muncul. Bukan karena mimpi buruk, karena semalam aku bahkan tidak yakin sempat bermimpi, melainkan karena tubuhku menolak untuk terus berbaring. Ada sesuatu yang berdenyut di dadaku sejak aku membuka mata. Naluriku yang berbisik bahwa di rumah ini, tidur terlalu lama sama dengan membuka celah. Langit-langit kamar terlihat dingin dan asing. Terlalu tinggi. Terlalu bersih. Terlalu sunyi. Dan sunyi di mansion Moretti bukan ketenangan—melainkan jeda sebelum bahaya. Aku duduk perlahan di tepi ranjang. Kaki telanjangku menyentuh lantai marmer yang dinginnya langsung merayap ke tulang. Rasa dingin itu seperti pengingat kasar bahwa aku sepenuhnya terjaga. Tidak ada ruang untuk lengah. Malam kemarin masih melekat di kulitku.Nada rendah Dominic yang mengancam tanpa perlu berteriak masih menggema di kepalaku. Gigitan kecil Dominic yang lebih menyerupai cap kematian.Ancaman itu dingin, terukur, dan mematikan—ia berjanji akan
Koridor lantai dua terasa lebih sempit dari biasanya. Lampu-lampu dinding redup, memantulkan bayangan panjang yang bergerak mengikuti langkah kakiku. Detak jantungku masih belum kembali normal sejak aku keluar dari perpustakaan, sejak suara Dominic menempel di telingaku seperti bisikan maut yang tak mau pergi. Dan sekarang… Matteo berdiri di depanku. Ia tidak bergerak saat aku mendekat. Tidak menyingkir. Tidak memberi jalan. Tubuhnya bersandar santai pada pilar marmer, satu kaki ditekuk, seolah ini hanyalah pertemuan biasa, bukan momen di mana napasku masih gemetar dan pikiranku porak-poranda. Rokok di jemarinya menyala redup. Bara apinya berpendar lembut, kontras dengan tatapan matanya yang gelap dan penuh perhitungan. Aku berhenti dua langkah darinya. Jarak itu terasa terlalu dekat. Terlalu intim. Terlalu berbahaya. Matteo mengangkat alisnya sedikit, senyum miring tersungging di bibirnya. Senyum yang tidak pernah benar-benar ramah, selalu ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yan
Suara Dominic tidak keras. Namun getarannya cukup untuk membuat bulu kudukku berdiri tegak. Aku membeku di tempat. Tidak mungkin. Jarakku dengannya hampir lima meter. Aku berbicara dengan suara yang sangat pelan, nyaris hanya bisikan yang seharusnya tenggelam di udara perpustakaan yang luas dan berat oleh aroma kayu tua. Tidak mungkin ia mendengarnya… kecuali ia memang selalu mendengar segalanya. Perlahan... sangat perlahan, aku menoleh ke belakang. Dominic sudah mendongak. Ia meletakkan penanya di atas meja kayu ek antik itu dengan gerakan yang tenang dan terukur. Bunyi denting kecil ketika logam pena menyentuh permukaan meja terdengar terlalu nyaring di telingaku. Seperti lonceng kematian yang baru saja dibunyikan. Kacamata emasnya dilepas, lalu diletakkan di samping gelas berisi cairan amber yang kini tinggal sisa di dasar kaca. Ia tidak lagi terlihat sebagai pria dingin yang sibuk membaca laporan.Ia tidak lagi terlihat acuh tak acuh. Tatapan mata abu-abu peraknya kini t
“Duduk.” ucapnya singkat tanpa mengalihkan pandangan. Aku duduk di kursi di hadapannya, punggungku menegang, jemariku meremas satu sama lain di pangkuan untuk menahan getaran halus yang merambat naik dari perut ke dada. Keheningan kembali turun, lebih berat dari sebelumnya. Detak jam dinding tua terdengar jelas. Tik. Tok. Tik. Tok. Gesekan kertas terdengar seperti desahan yang disengaja. Aura Dominic memenuhi ruangan itu, menekan udara, membuat setiap tarikan napas terasa seperti usaha. Beberapa menit berlalu. Atau mungkin hanya detik, aku tidak yakin. Waktu di ruangan ini selalu terasa bengkok. Akhirnya, Dominic meletakkan penanya dengan bunyi pelan. Ia melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit besar itu. Barulah ia menatapku. Mata abu-abunya tajam, dingin, dan kosong dari emosi yang bisa kubaca. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Tidak ada simpati. Hanya penilaian murni, seolah aku adalah angka dalam lapor
Matahari telah lama tenggelam di balik gedung-gedung tinggi Kota Nasan, meninggalkan langit ungu gelap yang tampak seperti luka lebam yang belum sembuh. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di aspal basah sisa hujan sore. Aku melangkah memasuki Saint-Noire dengan tubuh yang terasa lebih berat dari biasanya, seolah setiap langkah menarik beban yang tak kasatmata dari bahuku. Hari kedua. Hanya hari kedua menjadi pemilik restoran, namun rasanya seperti sudah berbulan-bulan aku hidup di bawah tekanan yang sama—tatapan menghakimi, bisik-bisik beracun, dan senyum sosialita yang lebih tajam daripada pisau dapur. Hari ini aku sengaja tidak datang ke Bar. Aku lelah dengan kejadian di restoran. Bukan hanya fisik, tapi mental. Kepalaku masih berdengung oleh suara-suara siang tadi: tuduhan, hinaan, nada sok berkuasa Nyonya Clarissa, dan wajah Julian yang pucat saat hampir kehilangan nyawanya karena sabotase keji. Semua itu berputar tanpa henti di ben
Aku menarik napas panjang sebelum melangkah meninggalkan dapur. Bau logam darah masih terasa samar di udara, bercampur dengan aroma minyak panas dan rempah-rempah. Tanganku gemetar, bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang kutahan mati-matian sejak melihat Julian tergeletak di lantai seperti sampah yang bisa dipukul sesuka hati. Namun aku tahu satu hal dengan pasti. Aku tidak boleh meledak di sini. Aku harus berpikir jernih. Jika aku terlalu terang-terangan membela Julian, staf lain akan menganggapku pilih kasih. Mereka akan melihatku bukan sebagai pemimpin, melainkan sebagai perempuan lemah yang bertindak karena emosi. Dan di dunia ini—di dunia Moretti—emosi adalah celah yang bisa dimanfaatkan untuk menghancurkanku. Aku harus menyelesaikannya dengan cara Moretti. Dingin. Terukur. Dan tak terbantahkan. Langkah kakiku terdengar mantap saat aku berjalan menuju ruang VIP. Setiap langkah terasa seperti melepaskan satu bagian dari diriku yang lama, Nadine yang m