Beranda / Mafia / Dua Kakak Tiriku Yang Posesif / Bab 101 — Telpon dari Christian Miller.

Share

Bab 101 — Telpon dari Christian Miller.

Penulis: Za_dibah
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-23 21:54:04

Langkah kakiku bergema pelan di atas aspal basah ketika aku meninggalkan mansion Saint Noir. Sisa embun pagi masih menggantung di udara, membentuk lapisan tipis yang membuat halaman depan terlihat seperti kaca kusam.

Udara Nasan yang lembap menyapu wajahku tanpa ampun, membawa aroma rumput yang baru dipangkas dan wangi tanah yang disiram sprinkler otomatis sejak subuh.

Di belakangku, suara sepatu hak rendah yang teratur terdengar, ritmis, konsisten, tak pernah terlalu dekat tapi juga tak pe
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 102 — Hanya ingin menyapa kekasihku.

    Otakku langsung bekerja, jauh lebih cepat daripada detak jantungku sendiri. Mengapa dia menghubungiku? Apakah ini tentang bisnis? Atau tentang sesuatu yang jauh lebih pribadi? Apakah Dominic tahu? Jika ia tahu… apakah ini jebakan? Nama itu masih menyala di layar ponselku seperti bara api yang menunggu angin. Christian Miller. Ia selalu datang tanpa pola, tanpa peringatan. Klaim gilanya di depan publik, menyebutku sebagai kekasihnya, alih-alih pengakuan cinta. Itu adalah manuver. Langkah catur untuk menghancurkan pertunangannya dengan aktris papan atas, Alexa Amoure. Tapi dampaknya menghantamku seperti peluru nyasar. Dominic dan Matteo. Mata mereka berubah sejak hari itu. Bagi mereka, aku bukan perempuan. Aku adalah properti Moretti. Dan properti tidak boleh disentuh oleh Miller. Tanganku terasa dingin saat menatap layar itu sekali lagi. Christian Miller. Sarah berdiri tak jauh dariku. Tubuhnya tegap. Tatapannya menajam, seperti silet yang siap menyayat. Ren menghentika

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 101 — Telpon dari Christian Miller.

    Langkah kakiku bergema pelan di atas aspal basah ketika aku meninggalkan mansion Saint Noir. Sisa embun pagi masih menggantung di udara, membentuk lapisan tipis yang membuat halaman depan terlihat seperti kaca kusam. Udara Nasan yang lembap menyapu wajahku tanpa ampun, membawa aroma rumput yang baru dipangkas dan wangi tanah yang disiram sprinkler otomatis sejak subuh. Di belakangku, suara sepatu hak rendah yang teratur terdengar, ritmis, konsisten, tak pernah terlalu dekat tapi juga tak pernah tertinggal. Sarah. Ia berjalan satu langkah di belakangku. Tidak pernah lebih. Tidak pernah kurang. Wajahnya datar, matanya dingin dan waspada seperti senjata yang selalu siap ditembakkan. Ia bukan sekadar pengawal. Ia adalah bayangan yang ditanam Dominic untuk memastikan aku tidak pernah melenceng dari jalur yang telah ia gambar untukku. Jalur yang sempit. Jalur yang terkontrol. Ren sudah berdiri di samping sedan hitam mengilap di depan foyer. Setelan abu-abu gelapnya

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 100 — Bagaimana kalau dia hamil?

    Ia segera kembali ke hotel dengan napas yang tercekat, berlari menyusuri lorong yang kini terasa seperti koridor neraka. Namun... Kamar itu sudah kosong. Ranjang yang berantakan menceritakan kisah kebrutalannya semalam. Dan di sana, di atas nakas, cek itu masih tergeletak dengan angkuh di tempat yang sama. ​Tak tersentuh. Tak bergeser. ​Gadis itu bukan wanita panggilan. Gadis itu bukan barang yang bisa dibayar. Ia adalah korban yang tidak menginginkan uang dari pelakunya. ​Rasa bersalah sejak fajar itu menjadi bayangan permanen yang mengikuti ke mana pun Dominic melangkah. Selama berhari-hari, tepatnya kurang dari dua minggu sejak kejadian itu, ia mengerahkan seluruh jaringannya. Ia memerintahkan pencarian tanpa henti. Namun, nasib buruk seolah melindunginya sekaligus menyiksanya: CCTV hotel sedang rusak karena perbaikan sistem, dan identitas tamu di kamar itu tercatat secara samar di bawah nama lain. Jejaknya hilang, seperti ditelan bumi. ​“Aku sudah seles

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 99 — Salah kamar.

    Dominic membeku. Untuk pertama kalinya sejak perdebatan sengit di ruang makan itu dimulai, wajahnya yang biasanya kaku seperti pahatan granit, retak. Sorot matanya yang selama bertahun-tahun ia latih untuk tetap dingin dan terkendali, kini bergetar hebat. Ada badai yang mengamuk di balik iris abunya, sebuah kekacauan yang selama ini ia kunci rapat di ruang paling gelap dalam batinnya. “Malam di mana kau kehilangan kendali,” lanjut Matteo, suaranya kini lebih pelan, lebih tajam. “Malam di mana kau tidak sebersih yang kau pura-purakan sekarang.” Ruangan terasa menyempit. Oksigen seolah tersedot keluar, menyisakan udara pengap yang dipenuhi aroma pengkhianatan. Dinding-dinding marmer yang megah seolah bergerak mendekat, hendak menghimpit Dominic dengan dosa-dosanya sendiri. “Aku tak mengira,” Matteo melanjutkan dengan nada manis yang menyakitkan, “kalau wanita yang kau gunakan saat itu sampai sekarang tak tahu siapa pelakunya. Bayangkan… bagaimana kalau Nadine tahu bahw

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 98 — Kau lupa tentang malam itu?

    Begitu bayangan Nadine lenyap di balik pintu ruang makan, keheningan yang tertinggal bukan lagi sunyi biasa, ia menjelma menjadi sesuatu yang tajam, tipis, dan berbahaya. Seperti bilah pisau yang diletakkan mendatar di atas meja kayu, menunggu siapa yang cukup ceroboh untuk menyentuhnya. Atmosfer ruangan itu berubah seketika, dari sandiwara keluarga yang hangat menjadi arena gladiator yang dingin. Matteo menyandarkan punggungnya dengan santai, tetapi sorot matanya tidak pernah santai. Ia melipat tangan di dada, rahangnya tegang hingga urat-urat di lehernya terlihat jelas. Sudut bibirnya melengkung tipis, senyum yang lebih menyerupai ejekan daripada hiburan. Para pelayan, yang sudah terlalu lama hidup di bawah atap keluarga ini, segera mengosongkan ruangan tanpa perlu diperintah. Mereka tahu tanda-tandanya. Mereka tahu kapan badai akan pecah dan kapan lantai marmer ini mungkin akan kembali berlumuran darah. “Jadi,” Matteo memulai, suaranya kini tidak lagi dibalut tawa ringan

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 97 — Harapan adalah candu yang berbahaya.

    Matahari pagi Nasan tidak pernah benar-benar hangat. Cahayanya pucat dan tipis, seperti enggan menyentuh dinding batu mansion Saint Noir yang berdiri megah. Sinar yang menembus jendela-jendela tinggi ruang makan membentuk garis-garis panjang di atas meja marmer putih sepanjang tiga meter. Meja itu selalu tersaji sempurna, seolah setiap pagi adalah adegan dalam drama keluarga yang dirancang dengan presisi yang mematikan. Aroma kopi Arabika yang pahit, roti panggang mentega yang baru keluar dari oven, dan potongan buah segar memenuhi udara. Wangi yang bagi keluarga normal mungkin membangkitkan selera. Bagiku? Itu adalah aroma sandiwara. Seperti biasa, Pak Hans memasang kamera kecil di sudut ruangan yang strategis. Tidak ada yang perlu dijelaskan atau diperdebatkan mengenai keberadaan lensa itu. Rekaman sarapan ini akan dikirimkan langsung ke Maladewa melalui jalur pribadi. Tujuannya hanya satu: Sebastian Moretti, sang kepala keluarga sekaligus investor utama dalam "proyek k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status