로그인BYUR!Dingin yang merajam tulang langsung menghantam seluruh kesadarannya. Air laut yang pekat dan bergelombang tinggi menggulung tubuh Dominic tanpa ampun.Sensasi itu terasa begitu nyata. Pria itu terombang-ambing di tengah lautan lepas yang kelam. Pasokan udara di dadanya terkuras habis, paru-parunya serasa terbakar, dan napasnya tersengal-sengal menahan asinnya air yang terhitung masuk ke tenggorokannya. Dari kejauhan, di atas geladak kapal yang bergerak menjauh, Arthur Miller berdiri bersama Christian dan Maximillian Miller, menyunggingkan senyum miring penuh cemoohan. 'Apakah aku harus menyerah di sini...?' Rasa lelah yang luar biasa perlahan menenggelamkan jiwanya. Kegelapan merayap cepat, menarik tubuh tegapnya kian dalam ke dasar samudra yang dingin. Namun tepat di saat kesadarannya nyaris padam total, sebuah kehangatan nan lembut menyentuh bibirnya. Sebuah sentuhan singkat yang menyalurkan hembusan napas kehidupan yang amat berharga. "Terny
Fajar menyingsing di atas langit Kota Nasan, memancarkan sinar keemasan yang dingin melintasi tirai tipis kamar VIP St. Jude Private Hospital. Suara desir angin pagi beradu halus dengan denting ritmis pendingin udara.Di koridor khusus ICU, suasana tenang yang tegang masih menggantung pekat.Nadine duduk bersandar di kursi panjang yang terpasang tepat di samping dinding kaca steril. Selama sisa malam yang mencekam usai krisis jantung Dominic, wanita itu menolak mentah-mentah untuk kembali ke kamar perawatannya. Ia memilih bertahan di sana, mendekap kedua lututnya seraya terus memandangi sosok Dominic yang terbaring kaku di bawah pantauan monitor.Matanya yang bengkak kini menyipit layu, memancarkan keletihan fisik dan mental yang teramat sangat."Kau tidak mendengarkan perkataan ibumu sama sekali, ya?"Suara berat khas Sebastian memecah keheningan koridor. Pria paruh baya itu melangkah mendekat dengan setelan jas baru yang rapi, meski raut di wajahnya yang tegas
BEEP! BEEP! BEEP!Suara sirene bahaya di dalam ruang ICU terisolasi melengking tajam, memotong keheningan malam yang sunyi.Pintu ganda berlapis baja seketika terbuka kasar. Tim medis darurat bersama dua dokter spesialis jantung berhamburan masuk dengan langkah tergesa-gesa. Mereka bergerak cepat mengelilingi ranjang Dominic yang terbaring kaku."Tekanan darah merosot drastis! Cardiac arrest!" teriak dokter utama seraya menarik alat defibrillator mesin kejut jantung mendekati ranjang. "Siapkan 200 Joules! Cepat!"Di luar ruang ICU, panik melanda tanpa ampun."KAK DOMINIC! KAKAK!"Nadine menjerit histeris. Wajahnya yang pucat bertambah hilang darah. Kedua tangannya menghantam dinding kaca tebal yang memisahkan mereka, matanya menyaksikan dengan jelas bagaimana tubuh tegap Dominic tersentak keras ke atas setiap kali sengatan listrik menghantam dadanya yang terbalut perban."Tenang, Nadine! Jangan maju!" seru Matteo serak. Pria itu merangkul dan menah
Aroma sabun pembersih menggantikan bau amis darah yang menyengat.Nadine berdiri mematung di depan cermin kamar mandi VIP. Pakaian gaun pengantin krem yang penuh noda darah telah tergantikan oleh pakaian piyama katun longgar berwarna biru muda. Wajahnya yang polos tampak begitu kuyu, dengan lingkaran hitam memayungi matanya yang bengkak.Di atas meja rias, jemari Sarah Maheswari mengusap lembut punggung putri tunggalnya. "Nadine... makanlah sedikit sup hangat ini. Kau belum menyentuh makanan sejak pagi."Nadine menggeleng pelan, suaranya terdengar begitu tipis dan serak. "Tidak lapar, Bu...""Ingat anak di dalam rahimmu, Nak," pangkas Sarah lembut namun menyiratkan ketegasan seorang ibu. "Kalau kau sakit dan tubuhmu drop, bayimu yang akan menanggung akibatnya. Kau mau anak ini kenapa-kenapa?"Mendengar penekanan ibunya, Nadine menunduk kaku. Pandangannya jatuh ke arah perutnya yang masih datar. Ada gejolak rasa bersalah yang teramat dalam. Demi melindungi anak i
"Koma...?" Bisikan lirih itu meluncur sangat pelan dari bibir Nadine yang pucat. Dunia di sekitarnya terasa berputar hebat. Rasa bising di koridor mendadak senyap, menyisakan gema kata mematikan itu di dalam kepalanya. "Pendarahan berhasil dikendalikan," lanjut dokter bedah dengan nada berhati-hati, menatap lurus pada Sebastian. "Namun, benturan trauma pada organ vital serta kehilangan banyak darah membuat tubuhnya masuk ke fase kritis. Duapuluh empat jam ke depan adalah masa paling krusial. Kami harus memindahkannya ke ruang ICU terisolasi." Sebastian memejamkan mata rapat-rapat. Bahunya yang tegap tampak sedikit merosot, sebuah pertanda langka dari sesosok pria berhati besi yang kini hancur melihat putranya di ambang kematian. "Lakukan apa saja," desis Sebastian dengan suara serak yang bergetar. "Gunakan seluruh fasilitas dan ahli medis terbaik yang kita miliki. Jangan biarkan dia kehilangan nyawanya." "Kami akan berusaha semaksim
Aroma antiseptik yang tajam menyengat hidung, menggantikan wangi mawar putih dan parfum mewah yang beberapa jam lalu memenuhi ballroom. Lampu indikator berwarna merah menyala terang di atas pintu ganda berlapis baja bertuliskan Operating Theater 01 di St. Jude Private Hospital, rumah sakit milik konsorsium Moretti. Suara ritmis dari peralatan medis di dalam ruangan samar-samar terdengar, beradu dengan suara derap langkah gelisah di sepanjang koridor VIP yang steril. Nadine duduk bersandar kaku di kursi tunggu. Gaun krem mewahnya kini dipenuhi noda darah mengering yang berubah warna menjadi cokelat pekat, darah milik Dominic. Jemari mungilnya saling bertaut erat di atas pangkuan, bergetar tanpa henti.Wajahnya pucat pasi, matanya sembap dan merah akibat air mata yang tak kunjung berhenti menetes. "Nadine... minumlah sedikit air," bisik Sarah Maheswari penuh kelembutan. Ibu kandungnya itu berlutut di hadapan Nadine, menyodorkan segelas air mineral dengan raut wa







