เข้าสู่ระบบPerjalanan malam itu terasa begitu sunyi.
Di dalam kabin sedan hitam milik Lukas, hanya terdengar dengungan mesin yang halus dan sesekali suara komunikasi samar dari radio pengawal di mobil pengawalan. Lima SUV antipeluru membentuk formasi ketat di depan dan belakang kendaraan mereka, lampu-lampu putih dari mobil kawalan memantul di kaca jendela seperti iring-iringan pejabat negara. Aku memandangi jalanan kota Nasan dari balik kaca jendela. Lampu-lampu metropolitan perlahan ter"Koma...?" Bisikan lirih itu meluncur sangat pelan dari bibir Nadine yang pucat. Dunia di sekitarnya terasa berputar hebat. Rasa bising di koridor mendadak senyap, menyisakan gema kata mematikan itu di dalam kepalanya. "Pendarahan berhasil dikendalikan," lanjut dokter bedah dengan nada berhati-hati, menatap lurus pada Sebastian. "Namun, benturan trauma pada organ vital serta kehilangan banyak darah membuat tubuhnya masuk ke fase kritis. Duapuluh empat jam ke depan adalah masa paling krusial. Kami harus memindahkannya ke ruang ICU terisolasi." Sebastian memejamkan mata rapat-rapat. Bahunya yang tegap tampak sedikit merosot, sebuah pertanda langka dari sesosok pria berhati besi yang kini hancur melihat putranya di ambang kematian. "Lakukan apa saja," desis Sebastian dengan suara serak yang bergetar. "Gunakan seluruh fasilitas dan ahli medis terbaik yang kita miliki. Jangan biarkan dia kehilangan nyawanya." "Kami akan berusaha semaksim
Aroma antiseptik yang tajam menyengat hidung, menggantikan wangi mawar putih dan parfum mewah yang beberapa jam lalu memenuhi ballroom. Lampu indikator berwarna merah menyala terang di atas pintu ganda berlapis baja bertuliskan Operating Theater 01 di St. Jude Private Hospital, rumah sakit milik konsorsium Moretti. Suara ritmis dari peralatan medis di dalam ruangan samar-samar terdengar, beradu dengan suara derap langkah gelisah di sepanjang koridor VIP yang steril. Nadine duduk bersandar kaku di kursi tunggu. Gaun krem mewahnya kini dipenuhi noda darah mengering yang berubah warna menjadi cokelat pekat, darah milik Dominic. Jemari mungilnya saling bertaut erat di atas pangkuan, bergetar tanpa henti.Wajahnya pucat pasi, matanya sembap dan merah akibat air mata yang tak kunjung berhenti menetes. "Nadine... minumlah sedikit air," bisik Sarah Maheswari penuh kelembutan. Ibu kandungnya itu berlutut di hadapan Nadine, menyodorkan segelas air mineral dengan raut wa
"KAK DOMINIC! BUKA MATAMU! KAKAK... TOLONG BUKA MATAMU!" Jeritan histeris Nadine pecah tak terbendung. Tubuh ringkihnya berguncang hebat di atas panggung marmer. Tangannya yang berlumuran darah terus menekan luka tembak di dada Dominic, berusaha menahan cairan merah pekat yang kian membasahi lantai dan gaun mewahnya. Namun, mata abu-abu yang biasanya menatap penuh dominasi itu kini terpejam rapat. Wajah tampan Dominic kian pucat bagai pualam, dan dada tegapnya tak lagi menghembuskan napas secara beraturan."TOLONG SIAPAPUN PANGGIL DOKTER SEGERA...!" jerit Nadine menoleh kearah Matteo dan Lukas bergantian. "KUMOHON...!" "Hiks... jangan tinggalkan aku kak... kumohon bertahanlah!" tangis Nadine meratap pilu, memeluk kepala Dominic erat-erat ke dadanya, tak peduli lagi pada gaun yang kini hancur bernoda darah. Matteo menyapu kasar air mata yang mendadak menetes di pipinya. Pria itu menepuk bahu Nadine dengan tangan gemetar, lalu berteriak murka ke arah korid
Moncong pistol berperedam suara itu telah terkunci lurus pada dada Nadine. Maximillian Miller menyunggingkan senyum gila. Ibu jarinya menekan pelatuk tanpa ragu. Senjata itu hanya melepaskan sekelebat angin tumpul, bersamaan dengan sebutir selongsong kuningan yang jatuh berdenting di lantai ballroom. Sedetik kemudian, timah panas sudah meluncur cepat membelah udara, mengincar tepat jantung wanita yang dianggapnya sebagai biang kehancuran keluarga Miller. Lukas yang berada paling dekat dengan Nadine baru saja hendak menarik tangan wanita itu. Namun, refleks seorang Dominic Moretti melampaui batas kecepatan manusia biasa. Melihat kilatan senjata dari balik kerumunan, Dominic tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan sisa tenaga dari tubuhnya yang sebenarnya belum pulih, Dominic menerjang maju, memasang tubuh tegapnya tepat di depan Nadine seraya memeluk erat kepala dan tubuh gadis itu ke dalam dadanya. BAMM! Hantaman telak merobek daging. Peluru tajam itu melesat tepat di
Tak berhenti di situ, layar berpindah menampilkan dokumen dan rekayasa jebakan buatan Arthur Miller dan Christian Miller. Dokumen yang membongkar bagaimana keluarga Miller sengaja memanipulasi, menjebak Nadine disebuah kamar hingga Dominic ikut dijebak juga oleh Christian, akibatnya obat sialan itu membuat mereka tidur bersama di kamar 404. "Keluarga Miller memanfaatkan kepolosan Nadine untuk menghancurkan Moretti dari dalam," ujar Dominic datar, suaranya tenang tanpa emosi namun menusuk tulang. "Mereka merekayasa bukti dan membuat Nadine menderita sejak kecil hingga sekarang. Dan hari ini, jam empat subuh tadi... Arthur Miller sudah dinyatakan tewas. Keluarga Miller runtuh total. Tidak ada lagi manipulasi." Seluruh ruangan bungkam rapat. Bukti video dari seberang kamar 404 dan dokumen itu terlalu otentik untuk dibantah. Sarah Maheswari yang berdiri di barisan depan terduduk kaku di kursinya, tatapannya kosong dan napasnya tersengal. Wanita itu kehilangan seluruh kata-kata, tak
Seruan dominan Dominic merobek keheningan ballroom. Jemari Lukas yang memegang cincin berlian terhenti tepat beberapa sentimeter dari jari manis Nadine. Seluruh pasang mata tamu undangan, termasuk pejabat tinggi dan jajaran elite aliansi, seketika tertuju lurus pada sosok Dominic yang melangkah tenang namun penuh aura ancaman menuju panggung utama. Di barisan terdepan tamu VIP, pasangan suami istri berpenampilan sangat anggun dan berwibawa, William Kaiser Vance dan Elena Vance saling lempar pandang dengan kening berkerut dalam. Sebagai pemimpin keluarga Vance yang bijaksana dan dihormati, William tetap bersikap tenang meski sorot matanya menajam. Di sampingnya, Elena yang ramah dan penuh kasih menatap calon menantunya dengan raut cemas. "Dominic... apa-apaan ini?!" bentak Sebastian Moretti. Wajah pria paruh baya itu merah padam. Aura kepemimpinan Sebastian meledak oleh rasa geram yang tak tertahankan. "Ini acara pertunangan adikmu! Kurang ajar sekali kau menyela!" Dominic tida







