LOGINKatedral Utama di kota Nasan berdiri megah di bawah naungan langit biru yang jernih. Karpet merah beludru terbentang sepanjang lorong tengah gereja, diapit oleh deretan kursi ukir kayu jati yang dihiasi rangkaian bunga white calla lily dan rose quartz yang merebakkan aroma harum nan menenangkan.Pernikahan ini menjadi puncak sejarah baru bagi dunia bawah tanah. Seluruh petinggi aliansi kelas atas, penguasa wilayah utara, jajaran diplomat internasional, hingga keluarga-keluarga berpengaruh hadir memenuhi ruangan. Di barisan paling depan sebelah kanan, William Kaiser Vance dan istrinya, Elena Vance, duduk anggun menunjukkan dukungan diplomasi penuh, disusul oleh Lukas yang tampil memukau dalam balutan setelan tuxedo klasik berwarna abu-abu gelap.Suara dentang lonceng gereja bergema lima kali, menyambut dimulainya alunan instrumen piano dan gesekan biola bernada Pachelbel's Canon in D.Pintu utama yang menjulang tinggi perlahan terbuka lebar.Seluruh tamu unda
Suara dehem berwibawa yang disengaja memecah keintiman di antara mereka.Nadine tersentak kaget dan refleks terlonjak mundur memisahkan diri dari Dominic dengan wajah yang mendadak merona merah padam hingga ke pangkal leher. Ketakutan kecil seketika merayap di dadanya saat mendongak dan melihat siapa yang baru saja melangkah masuk dari koridor utama.Sebastian Moretti berdiri tegap bersama ibu kandung Nadine, Sarah Maheswari. Pria tua berwibawa itu menatap putra dan calon menantunya dengan senyum tipis yang sarat makna, sementara Sarah melangkah perlahan mendekati Nadine dengan pandangan mata yang dipenuhi kehangatan dan keharuan mendalam.Nadine menahan napasnya. Jemarinya meremas kain dress yang ia kenakan. Ada rasa cemas yang menghimpit batinnya, ia sangat takut jika sang ibu akan menolak, marah, atau menentang keputusannya untuk bersanding dengan Dominic setelah segala penderitaan dan takdir rumit yang melingkupi mereka.Namun, dugaan ketakutan itu sirna dalam se
Atmosfer di ruang tamu utama Mansion Saint Noire seketika membeku menjadi es.Dua pria dengan pengaruh terbesar di dunia bawah tanah itu berdiri saling berhadapan, memancarkan aura dominasi yang saling meremukkan. Di satu sisi, Lukas berdiri tegak dengan sisa-sisa ketenangan seorang ningrat yang baru saja kehilangan segalanya. Di sisi lain, Dominic merangkul erat pinggang Nadine, menatap sang rival dengan tatapan membunuh seorang penguasa yang tak akan pernah sudi berbagi wilayah kekuasaan atau wanitanya.Lukas tidak gentar. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sarat akan kepahitan sekaligus tantangan."Kau bicara seolah kau adalah dewa yang bisa mengendalikan takdir, Dominic," ucap Lukas dingin, suaranya mengalun rendah tanpa rasa takut. "Tapi ingat, peluru keluarga Miller tempo hari membuktikan bahwa singa terkuat sekalipun bisa jatuh berdarah-darah jika ia lengah."Dominic menyipitkan mata abu-abunya. Rahangnya mengetat keras hingga urat di pelipi
Nadine menunduk sejenak. Jemarinya meremas lembut kain dress di atas pangkuannya. Rasa bersalah yang teramat besar menghimpit dadanya."Lukas..." cicit Nadine lirih, suaranya bergetar halus. Ia mendongak, menatap Lukas dengan mata berkaca-kaca. "Kumohon... maafkan aku. Maafkan aku atas kekacauan tempo hari, dan maaf karena aku tidak bisa menerima niat baikmu."Lukas menggeleng pelan, senyuman tipis yang pahit terukir di bibirnya. "Kenapa kau meminta maaf, Nadine? Kau tidak bersalah sama sekali. Aku sudah bilang, aku tidak peduli siapa ayah biologis dari bayi di rahimmu. Aku tidak peduli pada noda atau masa lalu. Bagiku, kau adalah prioritas utama. Aku ingin merawatmu, melindungimu, dan menjadi sandaran hidupmu."Nadine menarik napas panjang, menahan sesak yang mendadak mampet di tenggorokannya. Ia menggeleng perlahan, menolak tawaran itu dengan kelembutan yang sama tulusnya."Bukannya kau tidak berharga, Lukas... Justru sebaliknya," ucap Nadine tulus, air matanya
Lima hari berlalu di ruang Suite Room VIP St. Jude Private Hospital dalam ritme yang konstan. Hari-hari tersebut diisi dengan rutinitas medis yang ketat: pergantian perban antiseptik oleh perawat senior, pemantauan grafik electrocardiogram oleh dokter bedah utama, serta dosis antibiotik berkala yang memastikan tidak ada infeksi sekunder pada jahitan di dada kiri Dominic. Di tengah pengawasan medis itu, Dominic mengubah kamar rumah sakit menjadi panggung sandiwara pribadinya. Setiap kali Nadine hendak beranjak duduk di sofa atau sekadar mengambil air minum, pria itu selalu mengeluh nyeri di rusuknya atau mendadak menarik pergelangan tangan Nadine dengan alasan detak jantungnya tidak stabil. Mau tidak mau, Nadine menghabiskan seluruh waktunya di sisi ranjang, menyuapi makanan, merapikan bantal, dan membiarkan Dominic memonopoli perhatiannya secara mutlak tanpa celah. Tepat pada hari kelima, setelah hasil observasi menunjukkan kestabilan fungsi respirasi dan jarin
"Masuk!" bentak Dominic dingin, suaranya menggelegar penuh amarah yang berusaha ditekan.Pintu terbuka secara perlahan. Dokter spesialis bedah utama St. Jude Hospital melangkah masuk, didampingi dua perawat senior yang membawa troli peralatan medis lengkap.Melihat raut wajah sang penguasa Moretti yang membeku kaku dengan binar mata membunuh, dokter bedah paruh baya itu sempat tersentak kecil di ambang pintu. Dokter itu menelan ludah canggung, merasakan atmosfer kamar yang mendadak terasa begitu panas, tegang, dan sarat akan dominasi berbahaya."M-maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Tuan Muda Dominic," ucap sang dokter bedah dengan nada teramat sopan dan membungkuk hormat. "Ini sudah jadwal pemeriksaan rutin pagi untuk meninjau perkembangan bekas operasi dada dan pembersihan luka di rusuk Anda."Nadine yang berdiri di samping ranjang dengan canggung buru-buru memundurkan langkahnya. Ia menyeka sisa benang liur di sudut bibirnya yang agak bengkak, lalu membelakangi







