MasukAlice menggigit bibir bawahnya yang gemetar, berusaha menampik nyeri yang ditimbulkan oleh kata-kata tajam bocah itu.
Xander berlari keluar dari ruangan, diikuti oleh Luciana yang mengikutinya, meninggalkan Alice yang terpaku di tempat. Alice memutuskan untuk mengejar Xander dan meminta maaf. “Xander, Sayang…” Langkah Alice terhenti saat seorang pelayan menghampirinya. “Nyonya hari sudah menjelang sore, saya diminta oleh kepala pelayan untuk membantu Nyonya bersiap ke pesta,” ujar pelayan itu. Pesta? Alice teringat malam ini ia mendapat undangan pesta kerajaan. Ia akan datang bersama Allard dan Xander. Alice ingat, Xander akan bersemangat tiap pergi ke pesta bersamanya. Semoga kali ini ia bisa meluluhkan hati Xander lagi. “Tunggu sebentar, aku akan membantu putraku lebih dulu.” Alice meninggalkan pelayan dan bergegas ke arah ke kamar sang putra. Ia membuka pintu kamar Xander yang baru saja ditutup. Kedatangannya membuat Xander dan Luciana menoleh. Dahi bocah itu mengerut tajam, wajahnya yang tadinya begitu gemas, kini berubah geram. "Mau apa lagi?" tanyanya ketus. Alice tersenyum hangat pada Xander, masih berharap anak itu bisa kembali hangat padanya. "Ibu ingin membantu memilihkan baju untuk Xander," jawab Alice. "Tidak perlu sok perhatian padaku!" seru Xander, ia membalikkan badannya memunggi Alice. "Setelah merebut posisi Ibuku, mau merebut Ayahku juga, kan? Seharusnya aku tidak usah punya Ibu baru! Aku hanya ingin bersama Ayah dan Bibi Luciana!" Nada bicara Xander yang meninggi membuat Alice terkejut, begitu juga dengan para pelayan. Alice berjalan satu langkah mendekati Xander. "Xander dengarkan Ibu ... Ibu sama sekali tidak bermaksud menggantikan posisi Duchess Rhiana, Sayang. Ibu hanya—" "Pergilah! Aku tidak mau dibantu!" pekik anak itu. Alice mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi anak itu, tapi Xander langsung menepis tangannya. "Aku bilang pergi!" Xander membentak geram, matanya memerah dan berair. "Kau bukan ibuku!" Xander mendorong Alice untuk keluar dari dalam kamarnya. "Aku mau bersama Bibi Luciana!" Luciana yang berada di antara mereka langsung menarik lengan Xander dan memeluknya. “Xander tidak boleh berkata seperti itu pada Duchess. Bagaimanapun juga, Duchess Alice adalah ibu Xander saat ini.” Xander menulikan pendengarannya. Anak itu menangis memeluk Luciana dengan erat, menyembunyikan wajahnya di pundak sang Bibi. "Xander, ibu akan pergi. Tolong jangan menangis," pinta Alice, memohon pada anak itu. Teriakan keras Xander menggelegar di seluruh penjuru kediaman megah Keluarga Stein. Alice mundur beberapa langkah menjauh. "Bibi, aku tidak mau dengannya. Aku hanya mau bersiap dengan Bibi sebelum ke pesta." Xander mendongak menatap Luciana sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Luciana tersenyum hangat menangkup kedua pipi anak itu. "Iya, Sayang. Xander bersiap dengan Bibi saja, ya?" "Tutup pintunya, cepat!" pekik Xander lagi. Tanpa berkomentar, Luciana berjalan mendekati pintu. Gadis itu tampak serba salah menatap Alice yang masih berdiri di sana. "Maaf, sepertinya, suasana hati Xander sedang buruk, Nyonya. Karena itu, biarkan saya yang mengurusnya." Luciana berkata dengan lembut, menatapnya sungkan. Alice yang tidak bisa berbuat apa-apa, ia pun mengangguk pasrah. Pintu kamar itu akhirnya ditutup rapat oleh Luciana dari dalam. Keheningan kembali menyapa Alice. Ia berjalan gontai ke arah kamarnya di lorong yang sama di dalam kediaman Stein yang megah seperti istana di tanah Raszberg. Tiap derap langkah mengguncang ingatan Alice dengan teriakan Xander yang menggema. Padahal saat Alice datang pertama kali ke rumah ini sebagai seorang ibu sambung untuknya, bayi kecil yang malang itu begitu nyaman dalam gendongannya. Xander kemudian tumbuh menjadi anak yang tampan, pintar, patuh, juga hangat. Sebelum lima bulan terakhir Luciana datang. Entah apa terjadi hingga membuat Xander tiba-tiba berubah drastis, dari yang menyayanginya menjadi sangat membencinya. Alice memejamkan kedua matanya dan berjalan masuk ke dalam kamarnya. Pandangannya tertuju pada lukisan wajah Xander yang dipajang di dalam kamarnya sejak beberapa tahun yang lalu. "Anak yang sejak kecil aku rawat seperti anakku sendiri ... kini benar-benar membenciku." Alice terduduk di kursi dan menatap lukisan itu terus menerus dengan perasaan nelangsa. "Xander, maafkan Ibu…." ** Matahari terbenam sempurna, malam pun tiba. Alice keluar dari dalam kediaman Duke dengan balutan gaun pesta berwarna merah. Rambut hitamnya ditata rapi oleh para pelayannya. Alice berjalan seorang diri. Ternyata Allard bersama Luciana dan Xander sudah berada di depan. Alice melihat dua kereta kuda milik kerajaan berada di sana. "Ayo kita berangkat," ajak Allard menatap putra kecilnya. Alice berjalan di samping mereka dan terdiam di tempat melihat Xander dan Luciana masuk ke dalam kereta kuda yang pertama, karena Xander ingin satu kereta bersama Ayah dan Bibinya. Dengan balutan pakaian kerajaan berwarna hitam, lengkap dengan lencana kerajaan Raszberg yang terpasang, Allard Von Stein tampak gagah dan tampan. Pria itu menoleh pada Alice yang berdiri di sampingnya. "Aku akan pergi bersama mereka. Pergilah kereta kuda kedua di belakang." Alice meremas jemari yang terbungkus rapi oleh sarung tangan putihnya. Wanita cantik itu hanya diam, sebelum Allard masuk ke dalam kereta kudanya dan pergi lebih dulu. Alice menatap kepergian mereka dengan tatapan kosong. “Seandainya pesta ini bukan dari kerajaan Raszberg, aku tidak akan datang.” Setibanya di lokasi pesta, Alice disambut dengan gunjingan. Namun, Alice mencoba untuk tidak menghiraukan mereka. "Alice, mengapa kau terlambat?" Ratu Raszberg—Caroline Von Stein berjalan mendekat. Alice membungkukkan badannya memberikan hormat pada raja dan ratu kerajaan Raszberg, sekaligus ayah dan ibu mertuanya. "Maafkan saya, Yang Mulia. Kereta kuda yang saya tumpangi sedikit bermasalah," jelas Alice, berdusta. "Setidaknya kau sudah sampai di sini sebelum pesta dimulai," sahut raja Ronan Von Stein meliriknya sekilas. Di dalam pesta, di antara kalangan masyarakat borjuis, Alice merasa tidak nyaman sekalipun ia seorang menantu raja dan ratu di wilayah ini. Kemunculannya disambut dengan gosip yang tidak menyenangkan. Mulai dari kedatangan suaminya bersama Luciana, hingga Alice yang terlambat dan tampak terasing. Semua orang menyudutkannya. Bagi mereka, Alice Alexandria tetaplah gadis desa yang tidak setara bersanding dengan putra raja, sekalipun Allard Von Stein seorang duda. Sampai perhatian Alice tersita pada sosok Allard yang berjalan bersama Xander dan Luciana menyambut para tamu bangsawan di depan sana. Allard tersenyum, tampak sangat berbeda ketika bersamanya. Hati Alice seperti tercubit. ‘Allard dan Xander tampak begitu bahagia bersama Luciana. Mereka … layaknya keluarga yang sempurna ….’"A-apa maksud Anda, Nyonya Duchess? Saya tidak mengerti … mengapa Anda menuduh saya menipu?" Suara lembut Luciana terdengar begitu pilu dan penuh kesedihan, raut wajahnya tampak murung. Jemarinya saling meremas di balik sarung tangan sutra putih yang ia pakai. “Saya minta maaf bila keberhasilan tugas saya dari Tuan Duke kurang berkenan untuk Anda, Nyonya Duchess,” ucap gadis itu lagi. Alice mengembuskan napasnya dan menggeleng kecil. "Kau tidak perlu meminta maaf, Lady Clementine," jawabnya. Setelah itu, Alice gegas melangkah pergi. Namun, Luciana tidak tinggal diam, ia tetap mengejar Alice dengan langkah cepat. "Tunggu, Nyonya Duchess!" Entah mengapa, Alice merasa tidak nyaman saat gadis itu mengikutinya. Ini tidak biasa dilakukan oleh Luciana yang biasanya abai padanya. Luciana berjalan di samping Alice, "Anda bisa mengatakan kalau memang Anda tidak nyaman karena Tuan Duke menyerahkan tugas-tugas Xander pada saya. Saya siap mundur, Nyonya. Anda tidak perlu menuduh saya
Satu minggu kemudian….Hari ini adalah hari pertama Xander belajar dengan guru barunya. Alice penasaran, siapa guru baru yang dipilih oleh Luciana.Alice berjalan keluar dari dalam kamar, ia ingin melihat kegiatan belajar Xander di ruang belajar. Namun, saat baru saja keluar dari dalam kamar, kepala pelayan berjalan ke arahnya. "Selamat pagi, Nyonya Duchess," sapa wanita paruh baya itu sembari memberikan hormat pada Alice. "Selamat pagi, Madam Paloma. Ada apa?" "Tuan Duke sudah kembali dari istana Razsberg, Nyonya Duchess," jawab sang kepala pelayan.Bulu mata Alice mengerjap lembut. Setelah satu minggu lamanya Allard pergi ke istana karena urusan penting dengan raja, kini suaminya itu telah kembali. "Di mana suamiku sekarang?" tanyanya. "Ada di depan, Nyonya Duchess."Tanpa menjawab lagi, Alice segera berjalan ke depan dan menemui suaminya. Sedangkan kepala pelayan itu tidak mengikutinya, karena mereka akan menyiapkan perintah sang Nyonya Duchess untuk menyiapkan makan siang ber
Setelah meninggalkan istana Razsberg, sepanjang perjalanan menuju kediaman suaminya, bayangan Allard bersama Luciana menjadi pusat perhatian di pesta masih terngiang dalam benak Alice.Ia merasa lelah akan semuanya.“Aku tidak bisa diam saja. Aku harus melakukan sesuatu, karena menunggu Allard menceraikan aku pun rasanya tidak mungkin,” ucapnya putus asa.Alice memandang bulan dari balik jendela kereta kudanya. “Aku harus menyusun rencana agar bisa pergi.” Begitu sampai di kediaman suaminya, Alice segera mengganti pakaian dan menyendiri di dalam kamar.Tanpa sengaja, ia melirik ke arah meja kamarnya, di mana terletak dua amplop surat di atas sana."Pasti dari Ibu," lirihnya. Alice meraih surat itu dan membacanya.Isi surat ditulis oleh pelayan yang merawat ibunya, menuliskan bahwa kondisi ibunya belum stabil. Masih memerlukan pengobatan khusus dan biaya yang tidak murah.Alice tertunduk lesu, meremas kertas surat itu sebelum menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya."Kalau ber
Saat pesta dansa dimulai, semua orang bergegas mencari pasangannya masing-masing. Alice tetap di posisi, memperhatikan orang-orang di sekitarnya.Sampai akhirnya wanita dengan balutan gaun merah itu melihat suaminya berjalan ke arahnya.Pandangan mata mereka bertabrakan. Tatapan mata biru Alice yang sendu, dan mata hitam milik Allard yang dingin dan tenang."Apa kau ingin mengajakku berdansa?" tanya Alice ragu saat Allard sudah berdiri di hadapannya."Menurutmu?"Jawaban pria itu membuat Alice terpaku. Desiran aneh menjalar dalam dadanya, bersama detak jantung yang berdebum.Tetapi, tiba-tiba …."Tuan Duke, bisakah kita berdansa bersama?" Luciana muncul, memeluk lengan kanan Allard hingga pria itu menatapnya."Pangeran Kecil yang meminta kita untuk berdansa bersama," imbuh Luciana. Mendengar ucapan Luciana, lantas Alice menoleh dan mencari keberadaan Xander. Putranya saat ini tengah bersama raja dan ratu di depan sana. Tapi mengapa Luciana mengatakan kalau Xander yang memintanya ber
Alice menggigit bibir bawahnya yang gemetar, berusaha menampik nyeri yang ditimbulkan oleh kata-kata tajam bocah itu. Xander berlari keluar dari ruangan, diikuti oleh Luciana yang mengikutinya, meninggalkan Alice yang terpaku di tempat.Alice memutuskan untuk mengejar Xander dan meminta maaf. “Xander, Sayang…”Langkah Alice terhenti saat seorang pelayan menghampirinya. “Nyonya hari sudah menjelang sore, saya diminta oleh kepala pelayan untuk membantu Nyonya bersiap ke pesta,” ujar pelayan itu. Pesta? Alice teringat malam ini ia mendapat undangan pesta kerajaan. Ia akan datang bersama Allard dan Xander. Alice ingat, Xander akan bersemangat tiap pergi ke pesta bersamanya. Semoga kali ini ia bisa meluluhkan hati Xander lagi. “Tunggu sebentar, aku akan membantu putraku lebih dulu.”Alice meninggalkan pelayan dan bergegas ke arah ke kamar sang putra. Ia membuka pintu kamar Xander yang baru saja ditutup. Kedatangannya membuat Xander dan Luciana menoleh. Dahi bocah itu mengerut tajam,
“Aku ingin bercerai, Tuan Duke.”Alice Alexandria, wanita berusia dua puluh lima tahun yang menyandang gelar Duchess of Raszberg setelah menikah dengan Duke Allard Von Stein, berdiri tegak dengan penuh tekad di hadapan suaminya. Balutan crinoline dress berenda panjang berwarna biru muda mempertegas sosoknya yang anggun, meski hatinya telah lama remuk.Tatapannya dingin. Tak tersisa lagi rasa cinta dan kekaguman yang selama lima tahun pernikahan selalu ia persembahkan pada sang Duke.“Bercerai?” Allard terkekeh singkat, mengejek. Rahangnya mengeras, alis tebalnya menukik tajam saat menatap Alice, seolah wanita itu baru saja melontarkan lelucon murahan. “Sejak kapan kau punya keberanian untuk menuntut sesuatu dariku?”Kemunculan Alice yang memaksa masuk ke ruangan pribadi Duke Allard telah merusak momen hangat kebersamaan sang Duke dengan seorang wanita muda dan seorang anak laki-laki.Wanita itu adalah Lady Luciana Clementine, adik ipar dari mendiang istri pertamanya. Sementara anak la







