LOGIN"A-apa maksud Anda, Nyonya Duchess? Saya tidak mengerti … mengapa Anda menuduh saya menipu?"
Suara lembut Luciana terdengar begitu pilu dan penuh kesedihan, raut wajahnya tampak murung. Jemarinya saling meremas di balik sarung tangan sutra putih yang ia pakai. “Saya minta maaf bila keberhasilan tugas saya dari Tuan Duke kurang berkenan untuk Anda, Nyonya Duchess,” ucap gadis itu lagi. Alice mengembuskan napasnya dan menggeleng kecil. "Kau tidak perlu meminta maaf, Lady Clementine," jawabnya. Setelah itu, Alice gegas melangkah pergi. Namun, Luciana tidak tinggal diam, ia tetap mengejar Alice dengan langkah cepat. "Tunggu, Nyonya Duchess!" Entah mengapa, Alice merasa tidak nyaman saat gadis itu mengikutinya. Ini tidak biasa dilakukan oleh Luciana yang biasanya abai padanya. Luciana berjalan di samping Alice, "Anda bisa mengatakan kalau memang Anda tidak nyaman karena Tuan Duke menyerahkan tugas-tugas Xander pada saya. Saya siap mundur, Nyonya. Anda tidak perlu menuduh saya menipu. Anda lebih berhak karena Anda adalah seorang Duchess, meskipun Tuan Duke sepertinya lebih percaya pada saya yang bukan siapa-siapa...." Langkah Alice langsung terhenti pada anak tangga paling atas. Wanita itu menatap gadis di hadapannya itu tanpa ekspresi. Sementara Luciana tampak memasang wajah memelasnya. "Lady Luciana, sudah aku katakan dengan jelas bahwa aku tidak apa-apa. Jalani dan lakukan tugasmu dengan baik dari Tuan Duke. Jadi, jangan membuang-buang waktu berhargamu untuk meyakinkanku," balas Alice dengan tegas, namun masih terlihat begitu anggun. "Tapi, Nyonya Duchess—" "Sampai nanti, Lady Luciana." Alice berbalik, hendak menuruni anak tangga. Luciana mengepalkan tangan melihat Alice yang begitu angkuh. Sikap tenang dan tak acuhnya itu membuat Luciana merasa terganggu, padahal ia sengaja ingin membuatnya kesal. Tepat saat itu, Luciana melihat Xander keluar dari ruangan belajarnya. Allard juga sedang berada di lantai satu. Kemudian, Luciana menatap Alice yang masih berjalan menuruni beberapa anak tangga. Gadis itu tersenyum miring ketika suatu ide tercetus dalam benaknya. Ia bergegas kembali mengejar Alice dengan langkah tergesa. "Duchess Alice, tunggu...." Luciana mendekati Alice, dari belakang ia meraih lengan Alice sehingga membuat wanita itu terkejut dan spontan menarik tangannya. Tapi ... apa yang terjadi? Kedua bola mata biru milik Alice melebar begitu Luciana tersentak dan terguling-guling di anak tangga seolah Alice baru saja mendorongnya. "Apa ... yang barusan dia lakukan?" ucap Alice tak percaya. Padahal seujung kuku pun ia tidak menyentuh gadis itu. Tanpa Alice tahu, di belakangnya Xander berdiri terpaku di ujung anak tangga paling atas. "Bibi Luciana!" teriak Xander keras-keras, anak itu langsung berlari turun dengan tergesa melewati Alice yang terkejut dengan keberadaannya. "Luciana!" Allard yang berada di lantai satu langsung berlari menghampiri. Beberapa pelayan berlari menghampiri begitu mendengar keributan itu. Dahi Luciana berdarah dan tubuhnya lemas terkapar mengenaskan di atas lantai marmer putih. "Bibi, bagaimana bisa Bibi sampai jatuh?! Bagaimana ini, Ayah?" jerit Xander panik. "Tu-Tuan Duke...." Dengan suara terbata, Luciana mengangkat tangannya menunjuk atas. Sontak, Allard dan Xander mengangkat wajah mereka ke sosok Alice yang berdiri dengan wajah dingin dan datar tanpa ekspresi di pertengahan anak tangga. "Ibu...." Xander menggeram marah. "Apa yang ibu lakukan?!" teriak anak itu. Alice berjalan dengan tenang menuruni anak tangga. Meskipun dadanya terasa membara seperti api yang mengobar, tetapi Alice tetap diam menatap Luciana dengan dingin. Alice tidak mengucapkan sepatah kata, tidak berusaha menjelaskan apalagi membela diri. Wajah dan iris ibur matanya sangat tenang bagai air danau yang membeku. Ia tahu, ini semua memang sudah direncanakan oleh Luciana, dengan tujuan membuat Allard dan Xander semakin membencinya. "Apa-apaan kau, Alice?!" desis Allard mengeraskan rahangnya. "Apa yang kau lakukan pada Luciana?!" Pria itu langsung beranjak, menegakkan tubuhnya dengan raut dilukis kemarahan pada Alice. Allard tak percaya melihat sosok Alice yang seperti ini. Bagaimana bisa setelah mendorong Luciana, wajah istrinya itu tetap datar dan tenang, tanpa rasa menyesal sedikitpun? Alih-alih melontarkan permohonan maaf, Alice tetap menatap lurus pada Luciana yang kini menatapnya sambil kesakitan. Alice tidak menduga, Luciana bisa selicik ini. "Kenapa kau diam?! Jelaskan padaku!" sentak Allard pada Alice yang membisu. "Apa yang perlu aku jelaskan?" Suara dingin Alice lembut menusuk telinga semua orang di sana. "Apa aku perlu mengakui kesalahan yang tidak kulakukan, Tuan Duke?" Mendengar pengakuan Alice yang begitu tenang, Luciana terkejut. Gadis itu merintih lagi memegangi kepalanya, kali ini sambil menangis untuk mempercantik sandiwaranya. "Tu-Tuan Duke, sudah ... jangan menyalahkan Nyonya Duchess. Mu-mungkin Nyonya Duchess tidak sengaja mendorong saya," ujar Luciana dalam pelukan Xander. Iris cokelat mata Luciana yang berkabut air mata menatap Alice dengan penuh kesedihan. "Se-sepertinya, Nyonya Duchess tidak senang dengan tugas yang Anda berikan pada saya. Ba-bahkan sejak awal, memang Nyonya Duchess sepertinya kurang senang dengan kedatangan saya di sini. Jadi, saya minta maaf...." Tangis Xander semakin pecah. Anak itu memeluk Luciana dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Xander menoleh kepada sang ayah. Kemarahan seperti menyelimuti anak lima tahun itu. "Ayah ... tidak seharusnya ayah mempertahankan ibu di rumah ini!" teriak Xander dengan wajah memerah. Anak laki-laki itu memancarkan sorot mata penuh permusuhan pada Alice. Sikap ibunya yang tetap tenang, seolah dirinya bukan pelaku atas kejadian ini, memicu kemarahannya. Xander menggeram dengan tangan terkepal, menatap bengis ke arah Alice. "Bukan Bibi Luciana yang harus pergi meninggalkan rumah ini. Tapi Ibu! Ibu yang harus pergi, Ayah harus mengusirnya sekarang juga!""A-apa maksud Anda, Nyonya Duchess? Saya tidak mengerti … mengapa Anda menuduh saya menipu?" Suara lembut Luciana terdengar begitu pilu dan penuh kesedihan, raut wajahnya tampak murung. Jemarinya saling meremas di balik sarung tangan sutra putih yang ia pakai. “Saya minta maaf bila keberhasilan tugas saya dari Tuan Duke kurang berkenan untuk Anda, Nyonya Duchess,” ucap gadis itu lagi. Alice mengembuskan napasnya dan menggeleng kecil. "Kau tidak perlu meminta maaf, Lady Clementine," jawabnya. Setelah itu, Alice gegas melangkah pergi. Namun, Luciana tidak tinggal diam, ia tetap mengejar Alice dengan langkah cepat. "Tunggu, Nyonya Duchess!" Entah mengapa, Alice merasa tidak nyaman saat gadis itu mengikutinya. Ini tidak biasa dilakukan oleh Luciana yang biasanya abai padanya. Luciana berjalan di samping Alice, "Anda bisa mengatakan kalau memang Anda tidak nyaman karena Tuan Duke menyerahkan tugas-tugas Xander pada saya. Saya siap mundur, Nyonya. Anda tidak perlu menuduh saya
Satu minggu kemudian….Hari ini adalah hari pertama Xander belajar dengan guru barunya. Alice penasaran, siapa guru baru yang dipilih oleh Luciana.Alice berjalan keluar dari dalam kamar, ia ingin melihat kegiatan belajar Xander di ruang belajar. Namun, saat baru saja keluar dari dalam kamar, kepala pelayan berjalan ke arahnya. "Selamat pagi, Nyonya Duchess," sapa wanita paruh baya itu sembari memberikan hormat pada Alice. "Selamat pagi, Madam Paloma. Ada apa?" "Tuan Duke sudah kembali dari istana Razsberg, Nyonya Duchess," jawab sang kepala pelayan.Bulu mata Alice mengerjap lembut. Setelah satu minggu lamanya Allard pergi ke istana karena urusan penting dengan raja, kini suaminya itu telah kembali. "Di mana suamiku sekarang?" tanyanya. "Ada di depan, Nyonya Duchess."Tanpa menjawab lagi, Alice segera berjalan ke depan dan menemui suaminya. Sedangkan kepala pelayan itu tidak mengikutinya, karena mereka akan menyiapkan perintah sang Nyonya Duchess untuk menyiapkan makan siang ber
Setelah meninggalkan istana Razsberg, sepanjang perjalanan menuju kediaman suaminya, bayangan Allard bersama Luciana menjadi pusat perhatian di pesta masih terngiang dalam benak Alice.Ia merasa lelah akan semuanya.“Aku tidak bisa diam saja. Aku harus melakukan sesuatu, karena menunggu Allard menceraikan aku pun rasanya tidak mungkin,” ucapnya putus asa.Alice memandang bulan dari balik jendela kereta kudanya. “Aku harus menyusun rencana agar bisa pergi.” Begitu sampai di kediaman suaminya, Alice segera mengganti pakaian dan menyendiri di dalam kamar.Tanpa sengaja, ia melirik ke arah meja kamarnya, di mana terletak dua amplop surat di atas sana."Pasti dari Ibu," lirihnya. Alice meraih surat itu dan membacanya.Isi surat ditulis oleh pelayan yang merawat ibunya, menuliskan bahwa kondisi ibunya belum stabil. Masih memerlukan pengobatan khusus dan biaya yang tidak murah.Alice tertunduk lesu, meremas kertas surat itu sebelum menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya."Kalau ber
Saat pesta dansa dimulai, semua orang bergegas mencari pasangannya masing-masing. Alice tetap di posisi, memperhatikan orang-orang di sekitarnya.Sampai akhirnya wanita dengan balutan gaun merah itu melihat suaminya berjalan ke arahnya.Pandangan mata mereka bertabrakan. Tatapan mata biru Alice yang sendu, dan mata hitam milik Allard yang dingin dan tenang."Apa kau ingin mengajakku berdansa?" tanya Alice ragu saat Allard sudah berdiri di hadapannya."Menurutmu?"Jawaban pria itu membuat Alice terpaku. Desiran aneh menjalar dalam dadanya, bersama detak jantung yang berdebum.Tetapi, tiba-tiba …."Tuan Duke, bisakah kita berdansa bersama?" Luciana muncul, memeluk lengan kanan Allard hingga pria itu menatapnya."Pangeran Kecil yang meminta kita untuk berdansa bersama," imbuh Luciana. Mendengar ucapan Luciana, lantas Alice menoleh dan mencari keberadaan Xander. Putranya saat ini tengah bersama raja dan ratu di depan sana. Tapi mengapa Luciana mengatakan kalau Xander yang memintanya ber
Alice menggigit bibir bawahnya yang gemetar, berusaha menampik nyeri yang ditimbulkan oleh kata-kata tajam bocah itu. Xander berlari keluar dari ruangan, diikuti oleh Luciana yang mengikutinya, meninggalkan Alice yang terpaku di tempat.Alice memutuskan untuk mengejar Xander dan meminta maaf. “Xander, Sayang…”Langkah Alice terhenti saat seorang pelayan menghampirinya. “Nyonya hari sudah menjelang sore, saya diminta oleh kepala pelayan untuk membantu Nyonya bersiap ke pesta,” ujar pelayan itu. Pesta? Alice teringat malam ini ia mendapat undangan pesta kerajaan. Ia akan datang bersama Allard dan Xander. Alice ingat, Xander akan bersemangat tiap pergi ke pesta bersamanya. Semoga kali ini ia bisa meluluhkan hati Xander lagi. “Tunggu sebentar, aku akan membantu putraku lebih dulu.”Alice meninggalkan pelayan dan bergegas ke arah ke kamar sang putra. Ia membuka pintu kamar Xander yang baru saja ditutup. Kedatangannya membuat Xander dan Luciana menoleh. Dahi bocah itu mengerut tajam,
“Aku ingin bercerai, Tuan Duke.”Alice Alexandria, wanita berusia dua puluh lima tahun yang menyandang gelar Duchess of Raszberg setelah menikah dengan Duke Allard Von Stein, berdiri tegak dengan penuh tekad di hadapan suaminya. Balutan crinoline dress berenda panjang berwarna biru muda mempertegas sosoknya yang anggun, meski hatinya telah lama remuk.Tatapannya dingin. Tak tersisa lagi rasa cinta dan kekaguman yang selama lima tahun pernikahan selalu ia persembahkan pada sang Duke.“Bercerai?” Allard terkekeh singkat, mengejek. Rahangnya mengeras, alis tebalnya menukik tajam saat menatap Alice, seolah wanita itu baru saja melontarkan lelucon murahan. “Sejak kapan kau punya keberanian untuk menuntut sesuatu dariku?”Kemunculan Alice yang memaksa masuk ke ruangan pribadi Duke Allard telah merusak momen hangat kebersamaan sang Duke dengan seorang wanita muda dan seorang anak laki-laki.Wanita itu adalah Lady Luciana Clementine, adik ipar dari mendiang istri pertamanya. Sementara anak la







