LOGINSetelah meninggalkan istana Razsberg, sepanjang perjalanan menuju kediaman suaminya, bayangan Allard bersama Luciana menjadi pusat perhatian di pesta masih terngiang dalam benak Alice.
Ia merasa lelah akan semuanya. “Aku tidak bisa diam saja. Aku harus melakukan sesuatu, karena menunggu Allard menceraikan aku pun rasanya tidak mungkin,” ucapnya putus asa. Alice memandang bulan dari balik jendela kereta kudanya. “Aku harus menyusun rencana agar bisa pergi.” Begitu sampai di kediaman suaminya, Alice segera mengganti pakaian dan menyendiri di dalam kamar. Tanpa sengaja, ia melirik ke arah meja kamarnya, di mana terletak dua amplop surat di atas sana. "Pasti dari Ibu," lirihnya. Alice meraih surat itu dan membacanya. Isi surat ditulis oleh pelayan yang merawat ibunya, menuliskan bahwa kondisi ibunya belum stabil. Masih memerlukan pengobatan khusus dan biaya yang tidak murah. Alice tertunduk lesu, meremas kertas surat itu sebelum menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Kalau bercerai dengan Allard, bagaimana dengan pengobatan Ibu?" Wajah Alice menjadi sendu. Bulu matanya bergetar, menatap dua lembar surat dari ibunya. Menyadari bahwa ia tidak bisa pergi begitu saja, sebab nyawa ibunya bergantung pada fasilitas pengobatan yang disediakan oleh Allard. “Kau benar-benar menyedihkan, Alice ….” Lamunannya buyar saat ia mendengar suara suaminya dan Luciana di luar. Perlahan Alice beranjak dari duduknya dan membuka pintu kamar, berjalan keluar menuju ke arah kamar putra kecilnya. Di sana ia melihat Allard masuk bersama Luciana. Xander tampak tertidur dalam gendongan pria itu. Mereka tampak seperti orang tua Xander yang sesungguhnya. Orang lain yang tidak mengenal siapa mereka, mungkin akan beranggapan bahwa mereka adalah pasangan suami istri. Sementara dirinya …. Lagi-lagi Alice terhantam kenyataan menyedihkan yang sama. Sampai beberapa menit lamanya, Allard dan Luciana tidak kunjung keluar dari kamar Xander. Alice pun memutuskan kembali ke kamarnya. Wanita itu berbaring di atas ranjang besar di dalam kamarnya yang megah. Sendirian ditemani sunyi dan sepi. ** Keesokan harinya. Ruang makan hanya terisi oleh tiga orang pagi ini. Alice menatap Xander yang sejak tadi bercerita tentang Luciana yang menemaninya di pesta semalam sambil menikmati menu sarapannya. Sedangkan Allard juga menanggapi putranya dengan baik. Sesekali pria itu menatap istrinya, namun Alice tetap diam dan enggan membuka suara sejak tadi. Setelah semua yang ia lalui, Alice sadar ia tidak memiliki jalan keluar dari pernikahan ini, maka ia harus bertahan meski dengan cara paling menyakitkan sekalipun. "Kenapa semalam Ibu pulang lebih dulu? Kenapa meninggalkanku dan Ayah?" tanya Xander, bocah laki-laki berambut hitam dan bermata hitam itu menatap Alice dengan alis menurun. Alice membalas tatapan ragu anak tirinya, tepi bibirnya masih memberikan senyuman manis. "Untuk apa ibu berlama-lama di sana?" jawabnya, masih tersenyum pada Xander yang memperhatikan, "Bukankah sudah ada Bibi Luciana bersama Xander? Xander sendiri yang mengatakan lebih baik bersama Bibi Luciana daripada dengan ibu, bukan?" Anak itu langsung diam dan tertunduk dengan bibir mengerucut. Tanpa sadar, jawaban yang Alice lontarkan membuat Allard mengernyit, menyadari ada sesuatu yang berbeda darinya. Dan ketenangannya itu, sungguh mengusik Allard. "Apa kau lupa kalau kau seorang Duchess?" sindir Allard dengan nada dingin. Alice menghentikan kegiatan makannya dan menatap langsung ke manik suaminya. "Aku tidak pernah lupa dengan posisiku." "Lantas mengapa kau pergi meninggalkan pesta yang masih berlangsung? Kecuali kau tidak waras, Duchess!" sinis Allard, balas menatapnya tajam. Alice menarik ujung bibirnya, tersenyum dengan tenang, lalu melanjutkan kegiatan makannya. "Aku pulang karena tidak ada gunanya untuk terus berada di sana," jawab Alice tak gentar. "Suamiku sudah menemukan teman berdansa yang serasi. Anakku juga tidak membutuhkan perhatianku lagi. Jadi—" "Kau marah karena aku berdansa dengan Luciana?" sela Allard, bertanya dengan nada setengah mengejek. Alih-alih menjelaskan panjang lebar, Alice beranjak dari duduknya. Sebelum ia melangkah lebih jauh, wanita cantik berambut hitam panjang itu menatap suaminya dengan serius. "Untuk apa aku marah? Lagipula, apa aku memiliki hak untuk marah padamu?" Jawaban tenang Alice seperti deklarasi perang di telinga Allard. Seolah ada palu godam yang menghantam dinding egonya saat mendengar ucapan Alice, istri yang selama ini tak pernah membantah, selalu mengalah dan hidup di bawah tangannya layaknya benalu yang hanya menempel dan merugikan orang lain. Tetapi, mengapa wanita ini sekarang berbeda? “Lalu, apa yang kau bicarakan dengan Alastair?” tanya Allard tiba-tiba. Alice teringat semalam saat Count Alastair menolongnya. Dari mana suaminya tahu? Apa Allard melihatnya pergi? “Tidak ada. Aku hanya berterima kasih karena beliau telah menolongku saat aku hampir terjatuh,” jawab wanita itu tenang. Tak ada raut ketakutan yang biasa ia tunjukkan. Setelah dirasa tak ada yang perlu dibahas lagi, Alice memutuskan untuk pergi. "Kalian bisa melanjutkan makan kalian lagi. Aku permisi." Alice menunduk kepalanya memberi hormat pada Allard dan Xander. "Ayah…." Xander menatap sang Ayah, jemari mungilnya meremas jas yang Allard pakai. Alice hendak membuka pintu saat Luciana mendadak muncul di hadapannya. "Tunggu!" Suara Allard menahan langkah Alice. Ia diam di tempat, tidak menoleh. "Kirimkan surat untuk calon pengajar baru anakku," titah Allard. Karena itu tugas seorang ibu, Alice pun mengangguk. "Aku akan segera memilih dan mengirim surat untuk calon guru baru Xander." Luciana menatap Alice yang berdiri di sampingnya. "Emmm ... maaf Nyonya Duchess, bolehkah saya membantu Anda mencarikan guru untuk keponakan saya? Saya sudah menemukan calon guru yang sepertinya cocok untuk Xander." Dahi Alice mengerut dan melirik wanita berambut pirang ini dengan tajam. "Apakah boleh?" Dengan tatapan yang polos dan lugu, Luciana memohon. “Aku bisa—” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Allard lebih dulu menyela Alice. "Kirimkan suratnya segera!" sahut pria itu, entah ditujukan kepada siapa. Namun, Luciana langsung tersenyum kegirangan dan menyambar, "Baik, Tuan Duke. Terima kasih banyak." Allard melenggang pergi meninggalkan ruangan itu begitu saja, melewati Alice dan Luciana di ambang pintu. Luciana tersenyum. Namun setelah itu ia berdehem pelan dan melirik ke arah Alice dengan ragu-ragu. "Maaf atas sikap lancang saya, Nyonya Duchess,” katanya dengan suara lembut mendayu. Ia mendongak, menatap tepat di manik Alice. “Tapi sepertinya … Tuan Duke lebih percaya pada saya.” Alice sempat tertegun, tapi ia segera mengerti apa yang terjadi. Alice lantas mendekat, menyunggingkan senyum kecil pada gadis itu. "Bukankah sejak awal, itu yang kau inginkan, Lady Clementine?" Iris mata Luciana melebar seketika. 'Apa?!'"A-apa maksud Anda, Nyonya Duchess? Saya tidak mengerti … mengapa Anda menuduh saya menipu?" Suara lembut Luciana terdengar begitu pilu dan penuh kesedihan, raut wajahnya tampak murung. Jemarinya saling meremas di balik sarung tangan sutra putih yang ia pakai. “Saya minta maaf bila keberhasilan tugas saya dari Tuan Duke kurang berkenan untuk Anda, Nyonya Duchess,” ucap gadis itu lagi. Alice mengembuskan napasnya dan menggeleng kecil. "Kau tidak perlu meminta maaf, Lady Clementine," jawabnya. Setelah itu, Alice gegas melangkah pergi. Namun, Luciana tidak tinggal diam, ia tetap mengejar Alice dengan langkah cepat. "Tunggu, Nyonya Duchess!" Entah mengapa, Alice merasa tidak nyaman saat gadis itu mengikutinya. Ini tidak biasa dilakukan oleh Luciana yang biasanya abai padanya. Luciana berjalan di samping Alice, "Anda bisa mengatakan kalau memang Anda tidak nyaman karena Tuan Duke menyerahkan tugas-tugas Xander pada saya. Saya siap mundur, Nyonya. Anda tidak perlu menuduh saya
Satu minggu kemudian….Hari ini adalah hari pertama Xander belajar dengan guru barunya. Alice penasaran, siapa guru baru yang dipilih oleh Luciana.Alice berjalan keluar dari dalam kamar, ia ingin melihat kegiatan belajar Xander di ruang belajar. Namun, saat baru saja keluar dari dalam kamar, kepala pelayan berjalan ke arahnya. "Selamat pagi, Nyonya Duchess," sapa wanita paruh baya itu sembari memberikan hormat pada Alice. "Selamat pagi, Madam Paloma. Ada apa?" "Tuan Duke sudah kembali dari istana Razsberg, Nyonya Duchess," jawab sang kepala pelayan.Bulu mata Alice mengerjap lembut. Setelah satu minggu lamanya Allard pergi ke istana karena urusan penting dengan raja, kini suaminya itu telah kembali. "Di mana suamiku sekarang?" tanyanya. "Ada di depan, Nyonya Duchess."Tanpa menjawab lagi, Alice segera berjalan ke depan dan menemui suaminya. Sedangkan kepala pelayan itu tidak mengikutinya, karena mereka akan menyiapkan perintah sang Nyonya Duchess untuk menyiapkan makan siang ber
Setelah meninggalkan istana Razsberg, sepanjang perjalanan menuju kediaman suaminya, bayangan Allard bersama Luciana menjadi pusat perhatian di pesta masih terngiang dalam benak Alice.Ia merasa lelah akan semuanya.“Aku tidak bisa diam saja. Aku harus melakukan sesuatu, karena menunggu Allard menceraikan aku pun rasanya tidak mungkin,” ucapnya putus asa.Alice memandang bulan dari balik jendela kereta kudanya. “Aku harus menyusun rencana agar bisa pergi.” Begitu sampai di kediaman suaminya, Alice segera mengganti pakaian dan menyendiri di dalam kamar.Tanpa sengaja, ia melirik ke arah meja kamarnya, di mana terletak dua amplop surat di atas sana."Pasti dari Ibu," lirihnya. Alice meraih surat itu dan membacanya.Isi surat ditulis oleh pelayan yang merawat ibunya, menuliskan bahwa kondisi ibunya belum stabil. Masih memerlukan pengobatan khusus dan biaya yang tidak murah.Alice tertunduk lesu, meremas kertas surat itu sebelum menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya."Kalau ber
Saat pesta dansa dimulai, semua orang bergegas mencari pasangannya masing-masing. Alice tetap di posisi, memperhatikan orang-orang di sekitarnya.Sampai akhirnya wanita dengan balutan gaun merah itu melihat suaminya berjalan ke arahnya.Pandangan mata mereka bertabrakan. Tatapan mata biru Alice yang sendu, dan mata hitam milik Allard yang dingin dan tenang."Apa kau ingin mengajakku berdansa?" tanya Alice ragu saat Allard sudah berdiri di hadapannya."Menurutmu?"Jawaban pria itu membuat Alice terpaku. Desiran aneh menjalar dalam dadanya, bersama detak jantung yang berdebum.Tetapi, tiba-tiba …."Tuan Duke, bisakah kita berdansa bersama?" Luciana muncul, memeluk lengan kanan Allard hingga pria itu menatapnya."Pangeran Kecil yang meminta kita untuk berdansa bersama," imbuh Luciana. Mendengar ucapan Luciana, lantas Alice menoleh dan mencari keberadaan Xander. Putranya saat ini tengah bersama raja dan ratu di depan sana. Tapi mengapa Luciana mengatakan kalau Xander yang memintanya ber
Alice menggigit bibir bawahnya yang gemetar, berusaha menampik nyeri yang ditimbulkan oleh kata-kata tajam bocah itu. Xander berlari keluar dari ruangan, diikuti oleh Luciana yang mengikutinya, meninggalkan Alice yang terpaku di tempat.Alice memutuskan untuk mengejar Xander dan meminta maaf. “Xander, Sayang…”Langkah Alice terhenti saat seorang pelayan menghampirinya. “Nyonya hari sudah menjelang sore, saya diminta oleh kepala pelayan untuk membantu Nyonya bersiap ke pesta,” ujar pelayan itu. Pesta? Alice teringat malam ini ia mendapat undangan pesta kerajaan. Ia akan datang bersama Allard dan Xander. Alice ingat, Xander akan bersemangat tiap pergi ke pesta bersamanya. Semoga kali ini ia bisa meluluhkan hati Xander lagi. “Tunggu sebentar, aku akan membantu putraku lebih dulu.”Alice meninggalkan pelayan dan bergegas ke arah ke kamar sang putra. Ia membuka pintu kamar Xander yang baru saja ditutup. Kedatangannya membuat Xander dan Luciana menoleh. Dahi bocah itu mengerut tajam,
“Aku ingin bercerai, Tuan Duke.”Alice Alexandria, wanita berusia dua puluh lima tahun yang menyandang gelar Duchess of Raszberg setelah menikah dengan Duke Allard Von Stein, berdiri tegak dengan penuh tekad di hadapan suaminya. Balutan crinoline dress berenda panjang berwarna biru muda mempertegas sosoknya yang anggun, meski hatinya telah lama remuk.Tatapannya dingin. Tak tersisa lagi rasa cinta dan kekaguman yang selama lima tahun pernikahan selalu ia persembahkan pada sang Duke.“Bercerai?” Allard terkekeh singkat, mengejek. Rahangnya mengeras, alis tebalnya menukik tajam saat menatap Alice, seolah wanita itu baru saja melontarkan lelucon murahan. “Sejak kapan kau punya keberanian untuk menuntut sesuatu dariku?”Kemunculan Alice yang memaksa masuk ke ruangan pribadi Duke Allard telah merusak momen hangat kebersamaan sang Duke dengan seorang wanita muda dan seorang anak laki-laki.Wanita itu adalah Lady Luciana Clementine, adik ipar dari mendiang istri pertamanya. Sementara anak la







