LOGINSatu minggu kemudian….
Hari ini adalah hari pertama Xander belajar dengan guru barunya. Alice penasaran, siapa guru baru yang dipilih oleh Luciana. Alice berjalan keluar dari dalam kamar, ia ingin melihat kegiatan belajar Xander di ruang belajar. Namun, saat baru saja keluar dari dalam kamar, kepala pelayan berjalan ke arahnya. "Selamat pagi, Nyonya Duchess," sapa wanita paruh baya itu sembari memberikan hormat pada Alice. "Selamat pagi, Madam Paloma. Ada apa?" "Tuan Duke sudah kembali dari istana Razsberg, Nyonya Duchess," jawab sang kepala pelayan. Bulu mata Alice mengerjap lembut. Setelah satu minggu lamanya Allard pergi ke istana karena urusan penting dengan raja, kini suaminya itu telah kembali. "Di mana suamiku sekarang?" tanyanya. "Ada di depan, Nyonya Duchess." Tanpa menjawab lagi, Alice segera berjalan ke depan dan menemui suaminya. Sedangkan kepala pelayan itu tidak mengikutinya, karena mereka akan menyiapkan perintah sang Nyonya Duchess untuk menyiapkan makan siang bersama Tuan Duke. Alice melangkah menuju ke ruang utama dan hendak berjalan menuju ke arah tangga. Namun, langkahnya terhenti sesaat ketika melihat Luciana menyambut kepulangan Allard. Wanita itu tersenyum hangat, dan Allard juga membalas senyumannya. Alice melanjutkan langkah dan mendekati mereka berdua. "Selamat datang kembali ke rumah, Suamiku," sapa Alice, tak lupa memberikan hormat pada suaminya. Allard hanya menatapnya sekilas dan memberikan anggukan kecil. Lalu menoleh pada Luciana yang masih berdiri di sampingnya. "Di mana Xander?" tanya Allard. "Oh, pangeran kecil ada di ruangan belajar, Tuan Duke," jawab Luciana sambil tersipu. Allard berjalan ke arah ruangan belajar yang berada di lantai dua. Alice mengikutinya tanpa sepatah kata. Sesekali, Allard melirik istrinya yang hanya diam seperti dinding es. Setelah menyapanya beberapa detik yang lalu, hingga kini, tidak ada kata-kata hangat dari bibir Alice seperti dulu. Bahkan sekadar bertanya apakah pekerjaan Allard selama di istana berjalan lancar pun tidak. Sampai langkah mereka akhirnya terhenti di depan ruangan di mana Xander tengah belajar bersama guru barunya. Melihatnya, Alice sedikit terkejut. Lady Jane James adalah salah satu rekan baik Alice di lingkungan bangsawan Kerajaan Razsberg. Ia dikenal sebagai sosok wanita terpandang yang tidak mudah berelasi dengan orang di luar kalangannya. Alice seketika melirik Luciana yang berjalan mendekati Allard. Ia sedikit menaruh rasa curiga. 'Dari mana Luciana bisa mengenal Lady Jane James? Mengirim surat pada keluarga Marquess James tidak semudah itu,' batin Alice terheran-heran. Ia merasa ada yang tidak beres di balik semua ini. Surat yang ia siapkan dari jauh-jauh hari, yang disimpan di dalam laci kamarnya untuk Lady Jane ... hilang entah ke mana. Mungkinkah...? "Tuan Duke, saya memilih Lady Jane James menjadi guru untuk Xander. Saya sudah mencari banyak informasi tentang beliau. Lady Jane James menjadi salah satu bangsawan muda yang hebat, ia bahkan mendapatkan nilai terbaik di perguruan tinggi kerajaan. Ia juga menguasai beberapa bahasa, dan sangat pintar dalam pelajaran matematika," ungkap Luciana dengan bangganya. "Terima kasih, Luciana. Kau sudah bekerja keras mencarikan guru yang bagus untuk Xander," ucap Allard menatapnya dengan lekat. Gadis itu tersenyum dan tersipu malu. Sesekali Luciana melirik ke arah Alice yang diam menatap ke arah Xander di depan sana. Seolah tidak tertarik dengan obrolan mereka. "Tuan Duke tidak perlu khawatir. Saya siap bila Anda memberikan tugas-tugas lain pada saya. Apalagi bila menyangkut Xander," balas Luciana, suaranya tampak manis terdengar di telinga. Alice melirik wanita itu dengan raut wajah dingin dan datar. "Bagaimana Anda bisa mengirimkan surat untuk Keluarga Marquess James, Lady Luciana?" tanya Alice pada gadis itu, tiba-tiba. "Setahuku, Keluarga Marquess James hanya menerima surat dari orang yang dia kenal saja." Pertanyaan Alice membuat Luciana tergemap kaget dan raut wajahnya sedikit gugup. Luciana langsung tertunduk, entah ke mana larinya ekspresi berbunga-bunga di wajahnya tadi. Setelah pertanyaan yang Alice lontarkan, ekspresi Luciana mendadak murung. "A-apakah Anda meremehkan tugas saya dari Tuan Duke, Nyonya Duchess?" tanyanya lirih, seolah dia sedang dipojokkan. "Apa aku bilang begitu?" Alice menjawab dengan suara tenang. Allard langsung menoleh pada Alice dengan sorot tajam. Rahangnya mengeras dan alis tebalnya bertaut tajam. Alice sudah menduga, pasti ada yang tidak terima saat ia mengatakan sesuatu yang sedikit saja membuat Luciana tersinggung. Dan orang itu adalah Allard ... suaminya! "Luciana telah melakukan perintah dari seorang Duke dengan baik. Sebagai seorang Duchess, kau tidak berhak iri. Seharusnya kau malu!" tekan Allard. Setelah mengucapkan kalimat tajam itu, Allard segera melangkah pergi meninggalkan Alice dan Luciana di sana. Luciana berdehem pelan hingga Alice kembali meliriknya. Ekspresi sedih di wajahnya beberapa menit yang lalu sudah hilang. Alice harus memuji betapa pintarnya gadis itu memasang dua wajah berbeda di depan Allard. "Emmm, Nyonya Duchess, saya rasa, Tuan Duke salah bila mengira Nyonya Duchess iri pada saya. Mana mungkin perasaan itu dimiliki oleh seorang Duchess, bukan? Maafkan saya kalau Tuan Duke sekarang lebih percaya pada saya untuk urusan Xander," ujarnya Luciana. Kalimatnya penuh simpati, namun mengandung racun yang mematikan. Apalagi ia sengaja menundukkan kepala dan menyunggingkan senyuman manis, seolah ingin menginjak-injak harga diri Alicia. Namun, Alice tidak memakan umpan itu. Ekspresinya masih tampak tenang. "Kalau begitu ... apa kau menginginkan ucapan selamat dariku atas keberhasilan tugasmu dari Tuan Duke, Lady Clementine?" balas Alice dengan suara lembut tapi menusuk tajam. Luciana tersentak dengan jawaban Alice. Dadanya langsung membara. 'A-apa katanya?!' Alice maju selangkah dan menatap gadis itu tepat di manik mata. “Lady Clementine, mungkin kau bisa menipu Tuan Duke dan orang lain di rumah ini, tetapi … kau tidak bisa menipuku!”"A-apa maksud Anda, Nyonya Duchess? Saya tidak mengerti … mengapa Anda menuduh saya menipu?" Suara lembut Luciana terdengar begitu pilu dan penuh kesedihan, raut wajahnya tampak murung. Jemarinya saling meremas di balik sarung tangan sutra putih yang ia pakai. “Saya minta maaf bila keberhasilan tugas saya dari Tuan Duke kurang berkenan untuk Anda, Nyonya Duchess,” ucap gadis itu lagi. Alice mengembuskan napasnya dan menggeleng kecil. "Kau tidak perlu meminta maaf, Lady Clementine," jawabnya. Setelah itu, Alice gegas melangkah pergi. Namun, Luciana tidak tinggal diam, ia tetap mengejar Alice dengan langkah cepat. "Tunggu, Nyonya Duchess!" Entah mengapa, Alice merasa tidak nyaman saat gadis itu mengikutinya. Ini tidak biasa dilakukan oleh Luciana yang biasanya abai padanya. Luciana berjalan di samping Alice, "Anda bisa mengatakan kalau memang Anda tidak nyaman karena Tuan Duke menyerahkan tugas-tugas Xander pada saya. Saya siap mundur, Nyonya. Anda tidak perlu menuduh saya
Satu minggu kemudian….Hari ini adalah hari pertama Xander belajar dengan guru barunya. Alice penasaran, siapa guru baru yang dipilih oleh Luciana.Alice berjalan keluar dari dalam kamar, ia ingin melihat kegiatan belajar Xander di ruang belajar. Namun, saat baru saja keluar dari dalam kamar, kepala pelayan berjalan ke arahnya. "Selamat pagi, Nyonya Duchess," sapa wanita paruh baya itu sembari memberikan hormat pada Alice. "Selamat pagi, Madam Paloma. Ada apa?" "Tuan Duke sudah kembali dari istana Razsberg, Nyonya Duchess," jawab sang kepala pelayan.Bulu mata Alice mengerjap lembut. Setelah satu minggu lamanya Allard pergi ke istana karena urusan penting dengan raja, kini suaminya itu telah kembali. "Di mana suamiku sekarang?" tanyanya. "Ada di depan, Nyonya Duchess."Tanpa menjawab lagi, Alice segera berjalan ke depan dan menemui suaminya. Sedangkan kepala pelayan itu tidak mengikutinya, karena mereka akan menyiapkan perintah sang Nyonya Duchess untuk menyiapkan makan siang ber
Setelah meninggalkan istana Razsberg, sepanjang perjalanan menuju kediaman suaminya, bayangan Allard bersama Luciana menjadi pusat perhatian di pesta masih terngiang dalam benak Alice.Ia merasa lelah akan semuanya.“Aku tidak bisa diam saja. Aku harus melakukan sesuatu, karena menunggu Allard menceraikan aku pun rasanya tidak mungkin,” ucapnya putus asa.Alice memandang bulan dari balik jendela kereta kudanya. “Aku harus menyusun rencana agar bisa pergi.” Begitu sampai di kediaman suaminya, Alice segera mengganti pakaian dan menyendiri di dalam kamar.Tanpa sengaja, ia melirik ke arah meja kamarnya, di mana terletak dua amplop surat di atas sana."Pasti dari Ibu," lirihnya. Alice meraih surat itu dan membacanya.Isi surat ditulis oleh pelayan yang merawat ibunya, menuliskan bahwa kondisi ibunya belum stabil. Masih memerlukan pengobatan khusus dan biaya yang tidak murah.Alice tertunduk lesu, meremas kertas surat itu sebelum menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya."Kalau ber
Saat pesta dansa dimulai, semua orang bergegas mencari pasangannya masing-masing. Alice tetap di posisi, memperhatikan orang-orang di sekitarnya.Sampai akhirnya wanita dengan balutan gaun merah itu melihat suaminya berjalan ke arahnya.Pandangan mata mereka bertabrakan. Tatapan mata biru Alice yang sendu, dan mata hitam milik Allard yang dingin dan tenang."Apa kau ingin mengajakku berdansa?" tanya Alice ragu saat Allard sudah berdiri di hadapannya."Menurutmu?"Jawaban pria itu membuat Alice terpaku. Desiran aneh menjalar dalam dadanya, bersama detak jantung yang berdebum.Tetapi, tiba-tiba …."Tuan Duke, bisakah kita berdansa bersama?" Luciana muncul, memeluk lengan kanan Allard hingga pria itu menatapnya."Pangeran Kecil yang meminta kita untuk berdansa bersama," imbuh Luciana. Mendengar ucapan Luciana, lantas Alice menoleh dan mencari keberadaan Xander. Putranya saat ini tengah bersama raja dan ratu di depan sana. Tapi mengapa Luciana mengatakan kalau Xander yang memintanya ber
Alice menggigit bibir bawahnya yang gemetar, berusaha menampik nyeri yang ditimbulkan oleh kata-kata tajam bocah itu. Xander berlari keluar dari ruangan, diikuti oleh Luciana yang mengikutinya, meninggalkan Alice yang terpaku di tempat.Alice memutuskan untuk mengejar Xander dan meminta maaf. “Xander, Sayang…”Langkah Alice terhenti saat seorang pelayan menghampirinya. “Nyonya hari sudah menjelang sore, saya diminta oleh kepala pelayan untuk membantu Nyonya bersiap ke pesta,” ujar pelayan itu. Pesta? Alice teringat malam ini ia mendapat undangan pesta kerajaan. Ia akan datang bersama Allard dan Xander. Alice ingat, Xander akan bersemangat tiap pergi ke pesta bersamanya. Semoga kali ini ia bisa meluluhkan hati Xander lagi. “Tunggu sebentar, aku akan membantu putraku lebih dulu.”Alice meninggalkan pelayan dan bergegas ke arah ke kamar sang putra. Ia membuka pintu kamar Xander yang baru saja ditutup. Kedatangannya membuat Xander dan Luciana menoleh. Dahi bocah itu mengerut tajam,
“Aku ingin bercerai, Tuan Duke.”Alice Alexandria, wanita berusia dua puluh lima tahun yang menyandang gelar Duchess of Raszberg setelah menikah dengan Duke Allard Von Stein, berdiri tegak dengan penuh tekad di hadapan suaminya. Balutan crinoline dress berenda panjang berwarna biru muda mempertegas sosoknya yang anggun, meski hatinya telah lama remuk.Tatapannya dingin. Tak tersisa lagi rasa cinta dan kekaguman yang selama lima tahun pernikahan selalu ia persembahkan pada sang Duke.“Bercerai?” Allard terkekeh singkat, mengejek. Rahangnya mengeras, alis tebalnya menukik tajam saat menatap Alice, seolah wanita itu baru saja melontarkan lelucon murahan. “Sejak kapan kau punya keberanian untuk menuntut sesuatu dariku?”Kemunculan Alice yang memaksa masuk ke ruangan pribadi Duke Allard telah merusak momen hangat kebersamaan sang Duke dengan seorang wanita muda dan seorang anak laki-laki.Wanita itu adalah Lady Luciana Clementine, adik ipar dari mendiang istri pertamanya. Sementara anak la







