LOGIN
“Aku ingin bercerai, Tuan Duke.”
Alice Alexandria, wanita berusia dua puluh lima tahun yang menyandang gelar Duchess of Raszberg setelah menikah dengan Duke Allard Von Stein, berdiri tegak dengan penuh tekad di hadapan suaminya. Balutan crinoline dress berenda panjang berwarna biru muda mempertegas sosoknya yang anggun, meski hatinya telah lama remuk. Tatapannya dingin. Tak tersisa lagi rasa cinta dan kekaguman yang selama lima tahun pernikahan selalu ia persembahkan pada sang Duke. “Bercerai?” Allard terkekeh singkat, mengejek. Rahangnya mengeras, alis tebalnya menukik tajam saat menatap Alice, seolah wanita itu baru saja melontarkan lelucon murahan. “Sejak kapan kau punya keberanian untuk menuntut sesuatu dariku?” Kemunculan Alice yang memaksa masuk ke ruangan pribadi Duke Allard telah merusak momen hangat kebersamaan sang Duke dengan seorang wanita muda dan seorang anak laki-laki. Wanita itu adalah Lady Luciana Clementine, adik ipar dari mendiang istri pertamanya. Sementara anak laki-laki yang duduk di sampingnya adalah Tuan Muda Xander Von Stein, putra tunggal Allard. Dua orang yang selalu menjadi pusat dunia sang Duke. Alice sudah terlalu lama menutup mata terhadap kenyataan bahwa suaminya tak pernah benar-benar menganggapnya ada. Di ruangan ini, dirinya hanyalah orang ketiga. Lantas, untuk apa ia terus bertahan? “Selama ini aku tak pernah bisa menjadi istri seperti yang kau inginkan, seperti mendiang Duchess Rhiana,” ucap Alice lirih. “Bukankah kehadiranku juga tak pernah berarti apa-apa bagimu?” Alice mengepalkan kedua tangannya, berusaha tetap terlihat tegar meski dadanya terasa sesak tak tertahankan. Ia menahan air mata yang menggenang di pelupuk mata agar tak jatuh membasahi pipinya. Allard mendengus sinis. “Setidaknya kau sadar diri.” Alice tidak terkejut mendengarnya. “Karena itu, berpisah adalah pilihan terbaik,” ujarnya, mengabaikan cemoohan pria itu. “Dengan begitu, kau bisa bersama wanita yang kau cintai.” Selama lima tahun pernikahan, tak satu hari pun Duke Allard benar-benar memandang atau menganggap keberadaan Alice. Pernikahan mereka semata-mata terjadi karena perjodohan demi memenuhi wasiat sang kakek. Alice bertahan dalam penderitaan, menjalani peran sebagai istri bayangan dan juga pengasuh untuk Xander yang kini berusia lima tahun. Anak itu dirawat Alice sejak bayi dengan sepenuh hati, seperti anak kandungnya sendiri. Namun sebesar apa pun pengorbanannya demi menjadi ibu tiri yang baik dan istri yang sempurna, ia tak pernah benar-benar dihargai. Allard justru mencurahkan seluruh perhatiannya pada sang putra dan adik perempuan mendiang istrinya. Sejak kehadiran Luciana, kehidupan Alice berubah drastis. Segala hal yang dulu masih bisa ia genggam, perlahan lepas dan menjauh. Termasuk suami dan anak tirinya. “Berhentilah bersandiwara, Alice. Kau membuatku muak!” sentak Allard, membuat suasana semakin tegang. Alice menggeleng pelan. “Tidak. Aku serius, Allard. Aku tak ingin lagi menjadi istrimu,” ujarnya teguh. Mata birunya yang indah berkaca-kaca saat ia melirik ke arah Xander yang kini memeluk bibinya dengan erat. “Sekarang Xander juga sudah memiliki seseorang yang membuatnya merasa nyaman. Dan orang itu bukan aku.” Luciana tampak terkejut mendengar itu. Matanya membesar, bibirnya bergetar seolah menahan luka. Dengan langkah ragu, ia mendekati Alice. “Nyonya Alice, tolong jangan salah paham,” ucapnya lembut. “Saya tidak pernah berniat merebut apa pun dari Anda. Saya hanya ingin menjaga keponakan saya.” Ucapannya terdengar tulus. Namun tangan Luciana dengan sengaja meraih Xander dan menariknya lebih dekat ke dalam pelukannya, seolah Alice adalah ancaman. “Bibi Luci…” Xander mendongak, menatap Luciana dengan mata berkaca-kaca. “Jangan sedih.” Luciana menundukkan kepala, ia tersenyum sedih saat mengelus puncak kepala anak itu. “Tidak apa-apa, Sayang. Bibi hanya tidak ingin menjadi penyebab pertengkaran orang tuamu.” Gadis itu kemudian menatap Alice dan Allard bergantian. Sepasang matanya memerah menahan tangis. “Saya mohon maaf jika kehadiran saya menimbulkan kesalahpahaman di antara kalian. Saya bisa segera pergi dari sini.” “Kau tidak perlu pergi ke mana pun, Luciana,” sela Allard dengan cepat. Hati Alice seakan ditusuk ribuan jarum saat mendengar suaminya mempertahankan keberadaan gadis itu di rumah mereka. Ia sudah menduga, Allard tak akan pernah membiarkan Luciana pergi. “Dan kau, Alice… Kau pikir dengan drama murahan ini aku akan melepaskanmu? Jangan bermimpi!” desis Allard dengan bibir menipis menahan amarah. “Aku tidak pernah meminta apapun, Allard. Aku hanya ingin bercerai,” Alice membela diri, karena ia benar-benar sudah berada di batas kesabaran. Melihat kesungguhan di wajah pilu istrinya, kemarahan Allard justru semakin memuncak. Pria itu melangkah mendekat hingga berdiri tepat di hadapan Alice, menatapnya dengan kebencian yang tak ia sembunyikan. Rahang tegasnya mengeras. “Dengar baik-baik. Sampai kapan pun, aku tidak akan menceraikanmu,” desis Allard dingin. “Ini adalah hukuman bagimu karena telah datang dalam hidupku dan dengan lancang menggantikan posisi mendiang istriku!” Usai mengucapkan itu, Allard berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan Alice tanpa sepatah kata tambahan. Air mata Alice akhirnya mengalir. Ia tertunduk, menyembunyikan tangisnya. Kata-kata Allard terasa seperti kutukan penuh kebencian yang mencabik-cabik hatinya. Luciana menatapnya dengan sorot mata iba. Xander melepaskan diri dari pelukan bibinya dan melangkah mendekat. Wajah anak itu penuh kemarahan yang tak seharusnya dimiliki anak seusianya. Anak yang dulu begitu manis kini berubah menjadi sosok monster kecil yang memusuhinya. “Ibu bukan lagi ibuku!” teriaknya tajam. “Aku tidak mau punya ibu sepertimu! Aku sudah punya Bibi Luciana yang jauh lebih baik!”"A-apa maksud Anda, Nyonya Duchess? Saya tidak mengerti … mengapa Anda menuduh saya menipu?" Suara lembut Luciana terdengar begitu pilu dan penuh kesedihan, raut wajahnya tampak murung. Jemarinya saling meremas di balik sarung tangan sutra putih yang ia pakai. “Saya minta maaf bila keberhasilan tugas saya dari Tuan Duke kurang berkenan untuk Anda, Nyonya Duchess,” ucap gadis itu lagi. Alice mengembuskan napasnya dan menggeleng kecil. "Kau tidak perlu meminta maaf, Lady Clementine," jawabnya. Setelah itu, Alice gegas melangkah pergi. Namun, Luciana tidak tinggal diam, ia tetap mengejar Alice dengan langkah cepat. "Tunggu, Nyonya Duchess!" Entah mengapa, Alice merasa tidak nyaman saat gadis itu mengikutinya. Ini tidak biasa dilakukan oleh Luciana yang biasanya abai padanya. Luciana berjalan di samping Alice, "Anda bisa mengatakan kalau memang Anda tidak nyaman karena Tuan Duke menyerahkan tugas-tugas Xander pada saya. Saya siap mundur, Nyonya. Anda tidak perlu menuduh saya
Satu minggu kemudian….Hari ini adalah hari pertama Xander belajar dengan guru barunya. Alice penasaran, siapa guru baru yang dipilih oleh Luciana.Alice berjalan keluar dari dalam kamar, ia ingin melihat kegiatan belajar Xander di ruang belajar. Namun, saat baru saja keluar dari dalam kamar, kepala pelayan berjalan ke arahnya. "Selamat pagi, Nyonya Duchess," sapa wanita paruh baya itu sembari memberikan hormat pada Alice. "Selamat pagi, Madam Paloma. Ada apa?" "Tuan Duke sudah kembali dari istana Razsberg, Nyonya Duchess," jawab sang kepala pelayan.Bulu mata Alice mengerjap lembut. Setelah satu minggu lamanya Allard pergi ke istana karena urusan penting dengan raja, kini suaminya itu telah kembali. "Di mana suamiku sekarang?" tanyanya. "Ada di depan, Nyonya Duchess."Tanpa menjawab lagi, Alice segera berjalan ke depan dan menemui suaminya. Sedangkan kepala pelayan itu tidak mengikutinya, karena mereka akan menyiapkan perintah sang Nyonya Duchess untuk menyiapkan makan siang ber
Setelah meninggalkan istana Razsberg, sepanjang perjalanan menuju kediaman suaminya, bayangan Allard bersama Luciana menjadi pusat perhatian di pesta masih terngiang dalam benak Alice.Ia merasa lelah akan semuanya.“Aku tidak bisa diam saja. Aku harus melakukan sesuatu, karena menunggu Allard menceraikan aku pun rasanya tidak mungkin,” ucapnya putus asa.Alice memandang bulan dari balik jendela kereta kudanya. “Aku harus menyusun rencana agar bisa pergi.” Begitu sampai di kediaman suaminya, Alice segera mengganti pakaian dan menyendiri di dalam kamar.Tanpa sengaja, ia melirik ke arah meja kamarnya, di mana terletak dua amplop surat di atas sana."Pasti dari Ibu," lirihnya. Alice meraih surat itu dan membacanya.Isi surat ditulis oleh pelayan yang merawat ibunya, menuliskan bahwa kondisi ibunya belum stabil. Masih memerlukan pengobatan khusus dan biaya yang tidak murah.Alice tertunduk lesu, meremas kertas surat itu sebelum menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya."Kalau ber
Saat pesta dansa dimulai, semua orang bergegas mencari pasangannya masing-masing. Alice tetap di posisi, memperhatikan orang-orang di sekitarnya.Sampai akhirnya wanita dengan balutan gaun merah itu melihat suaminya berjalan ke arahnya.Pandangan mata mereka bertabrakan. Tatapan mata biru Alice yang sendu, dan mata hitam milik Allard yang dingin dan tenang."Apa kau ingin mengajakku berdansa?" tanya Alice ragu saat Allard sudah berdiri di hadapannya."Menurutmu?"Jawaban pria itu membuat Alice terpaku. Desiran aneh menjalar dalam dadanya, bersama detak jantung yang berdebum.Tetapi, tiba-tiba …."Tuan Duke, bisakah kita berdansa bersama?" Luciana muncul, memeluk lengan kanan Allard hingga pria itu menatapnya."Pangeran Kecil yang meminta kita untuk berdansa bersama," imbuh Luciana. Mendengar ucapan Luciana, lantas Alice menoleh dan mencari keberadaan Xander. Putranya saat ini tengah bersama raja dan ratu di depan sana. Tapi mengapa Luciana mengatakan kalau Xander yang memintanya ber
Alice menggigit bibir bawahnya yang gemetar, berusaha menampik nyeri yang ditimbulkan oleh kata-kata tajam bocah itu. Xander berlari keluar dari ruangan, diikuti oleh Luciana yang mengikutinya, meninggalkan Alice yang terpaku di tempat.Alice memutuskan untuk mengejar Xander dan meminta maaf. “Xander, Sayang…”Langkah Alice terhenti saat seorang pelayan menghampirinya. “Nyonya hari sudah menjelang sore, saya diminta oleh kepala pelayan untuk membantu Nyonya bersiap ke pesta,” ujar pelayan itu. Pesta? Alice teringat malam ini ia mendapat undangan pesta kerajaan. Ia akan datang bersama Allard dan Xander. Alice ingat, Xander akan bersemangat tiap pergi ke pesta bersamanya. Semoga kali ini ia bisa meluluhkan hati Xander lagi. “Tunggu sebentar, aku akan membantu putraku lebih dulu.”Alice meninggalkan pelayan dan bergegas ke arah ke kamar sang putra. Ia membuka pintu kamar Xander yang baru saja ditutup. Kedatangannya membuat Xander dan Luciana menoleh. Dahi bocah itu mengerut tajam,
“Aku ingin bercerai, Tuan Duke.”Alice Alexandria, wanita berusia dua puluh lima tahun yang menyandang gelar Duchess of Raszberg setelah menikah dengan Duke Allard Von Stein, berdiri tegak dengan penuh tekad di hadapan suaminya. Balutan crinoline dress berenda panjang berwarna biru muda mempertegas sosoknya yang anggun, meski hatinya telah lama remuk.Tatapannya dingin. Tak tersisa lagi rasa cinta dan kekaguman yang selama lima tahun pernikahan selalu ia persembahkan pada sang Duke.“Bercerai?” Allard terkekeh singkat, mengejek. Rahangnya mengeras, alis tebalnya menukik tajam saat menatap Alice, seolah wanita itu baru saja melontarkan lelucon murahan. “Sejak kapan kau punya keberanian untuk menuntut sesuatu dariku?”Kemunculan Alice yang memaksa masuk ke ruangan pribadi Duke Allard telah merusak momen hangat kebersamaan sang Duke dengan seorang wanita muda dan seorang anak laki-laki.Wanita itu adalah Lady Luciana Clementine, adik ipar dari mendiang istri pertamanya. Sementara anak la







