Home / Zaman Kuno / Duchess Alice, Tuan Duke Tak Ingin Bercerai / Bab 3. Tak Lebih dari Sekedar Istri Bayangan

Share

Bab 3. Tak Lebih dari Sekedar Istri Bayangan

Author: Te Anastasia
last update Last Updated: 2026-02-10 12:29:02

Saat pesta dansa dimulai, semua orang bergegas mencari pasangannya masing-masing. Alice tetap di posisi, memperhatikan orang-orang di sekitarnya.

Sampai akhirnya wanita dengan balutan gaun merah itu melihat suaminya berjalan ke arahnya.

Pandangan mata mereka bertabrakan. Tatapan mata biru Alice yang sendu, dan mata hitam milik Allard yang dingin dan tenang.

"Apa kau ingin mengajakku berdansa?" tanya Alice ragu saat Allard sudah berdiri di hadapannya.

"Menurutmu?"

Jawaban pria itu membuat Alice terpaku. Desiran aneh menjalar dalam dadanya, bersama detak jantung yang berdebum.

Tetapi, tiba-tiba ….

"Tuan Duke, bisakah kita berdansa bersama?"

Luciana muncul, memeluk lengan kanan Allard hingga pria itu menatapnya.

"Pangeran Kecil yang meminta kita untuk berdansa bersama," imbuh Luciana.

Mendengar ucapan Luciana, lantas Alice menoleh dan mencari keberadaan Xander. Putranya saat ini tengah bersama raja dan ratu di depan sana. Tapi mengapa Luciana mengatakan kalau Xander yang memintanya berdansa dengan Allard?

“Maaf jika saya lancang—”

“Baiklah,” Allard menyela tanpa penolakan.

Luciana tampak tersenyum lega. “Terima kasih.”

Alice terpaku mendengar Allard menerima ajakan dari gadis itu. Padahal Alice yakin bahwa Allard tahu Alice berbohong soal ajakan dansa itu adalah permintaan Xander.

"Duchess, aku akan berdansa dengan Lady Luciana. Apakah kau mengizinkan kami?" Allard menoleh pada Alice, nada dan raut wajahnya terlihat mengejek.

Lidah Alice terasa kelu. Melarangnya juga tidak akan mengubah apapun. Padahal tanpa bertanya dengan suara lirih dan mencemooh itu, Alice tahu kalau Allard pasti lebih memilih Luciana dibandingkan dirinya.

Belum sempat sepatah kata terucap darinya, Luciana lebih dulu menarik lengan Allard dan meninggalkan Alice.

Keduanya lantas berjalan ke tengah lantai pesta. Meninggalkan Alice yang terpaku dengan harapan yang pupus.

Saat sang putra raja yang maju berdansa, para tamu memperhatikan mereka berdua dengan tatapan kagum.

“Duke Allard dan Lady Luciana adalah pasangan yang sangat serasi.”

“Aku rasa begitu,” sahut seseorang di sebelahnya. “Seharusnya Tuan Duke menikah dengan Lady Luciana, karena mereka tampak lebih sepadan.”

Suara bisik-bisik itu terdengar tak hanya satu atau dua orang saja. Semua tamu saling mengelu-elukan Allard dan Luciana yang berdansa layaknya pangeran dan putri di depan sana.

Akan tetapi, tidak dengan Alice. Istri sah yang justru menjadi penonton dansa suaminya bersama wanita lain.

Menyedihkan!

Alice merasa kasihan pada dirinya sendiri. Bahkan untuk mendapatkan perhatian suaminya pun ia tetap kalah dari gadis itu.

'Untuk apa aku di sini?' Alice membalik badannya sambil memegang dadanya yang terasa nyeri.

Ia tak ingin melihat suaminya berdansa dengan wanita lain.

Itu adalah sebuah penghinaan.

Alice menghela napas, merasa tak punya pilihan lain selain pergi meninggalkan hall pesta. Ia lantas berjalan sendirian menjauh dari tempat itu.

Alice berlari kecil menuruni beberapa anak tangga. Tapi kain renda pada gaun crinoline yang ia pakai tanpa sengaja terinjak oleh kakinya, hingga membuat wanita cantik itu menabrak seorang pria yang berjalan ke arahnya.

Pria itu reflek merangkulnya hingga Alice tidak sampai terjerembab ke lantai.

“Anda baik-baik saja, Yang Mulia Duchess?” Pria itu menatapnya sangat dalam.

Alice tercengang, pria yang kini merangkulnya adalah Count Alastair Von Stein, saudara tiri Allard. Anak dari raja Ronan dengan wanita simpanannya. Alastair mendapatkan gelar Count setelah ia diakui sebagai anak Raja Razsberg meskipun ia tidak berhak atas takhta, bahkan keberadaannya hampir tidak pernah dianggap.

Tetapi Alice … berbeda dengan semua orang.

Alice segera menarik diri dan mengangguk. “Ma-maafkan saya, Count Alastair. Gaun saya tidak sengaja terinjak sampai membuat saya nyaris terjatuh,” jelasnya. “Terima kasih Anda sudah menolong saya.”

“Anda mau ke mana, Duchess Alice?” tanya Alastair mengamati wajah Alice yang murung.

“Sa-saya pamit pulang, Tuan Count. Saya … kurang enak badan,” alibi Alice, masih tertunduk gugup.

Pria itu menatapnya sambil mengangguk ragu. “Di mana Yang Mulia Duke?”

Alice tidak menjawab.

“Apakah Anda perlu diantar? Saya—”

“Tidak perlu, Tuan Count. Terima kasih atas kebaikan Anda,” ujar Alice menyela. Ia menundukkan kepalanya dengan hormat. “Saya mohon undur diri, Tuan Count. Sampai jumpa di lain waktu.” Alice segera pergi setelah berpamitan pada pria itu.

Tanpa Alice sadar bahwa kepergiannya tadi masih terus diperhatikan oleh suaminya, Allard Von Stein yang kini berdiri di balkon lantai dua.

Pria itu meremas segelas anggur di tangannya. Raut wajahnya mengeras begitu melihat interaksi Alice bersama Alastair sebelum pergi bersama kereta kudanya meninggalkan istana.

“Ayah….”

Suara kecil Xander menyita perhatian Allard. Anak kecil laki-laki itu berlari kecil ke arahnya sambil celingak-celinguk.

"Ayah, kenapa Ibu tidak terlihat?" tanya Xander mendekati Allard dan meremas bagian belakang pakaian yang Allard pakai. Luciana berdiri di belakangnya.

"Sudah pulang," jawab Allard.

"Pulang?!" ulang Xander tak percaya.

“Umm, kenapa Nyonya Alice pulang tanpa berpamitan pada Xander ya?” gumam Luciana, menarik perhatian anak kecil itu.

Raut Xander seketika keruh. “Ugh! Menyebalkan!”

Anak itu berbalik, kembali ke dalam hall pesta sambil menghentakkan kakinya kesal diikuti oleh Luciana yang segera membujuk keponakannya itu.

Lain dengan sang putra, Allard yang masih berdiri di tempat, meremas gelas berisi anggur di tangan kanannya.

Kejadian Alice bersama Alastair di bawah sana beberapa menit yang lalu masih terekam jelas di kepalanya. Meskipun Alastair juga anak dari ayah yang sama dengannya, namun Allard tidak pernah menganggap keberadaannya, karena baginya dia tidak lebih dari anak seorang selir, yang beruntung diakui oleh ayahnya dan diberi gelar kehormatan seorang Count.

Sungguh, ia tidak menduga! Alice justru akrab dengan pria rendahan yang sangat Allard benci.

Rahang Allard tampak mengeras. “Menjijikkan!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Duchess Alice, Tuan Duke Tak Ingin Bercerai   Bab 6. Putra yang Kusayangi, Kini Mengusirku

    "A-apa maksud Anda, Nyonya Duchess? Saya tidak mengerti … mengapa Anda menuduh saya menipu?" Suara lembut Luciana terdengar begitu pilu dan penuh kesedihan, raut wajahnya tampak murung. Jemarinya saling meremas di balik sarung tangan sutra putih yang ia pakai. “Saya minta maaf bila keberhasilan tugas saya dari Tuan Duke kurang berkenan untuk Anda, Nyonya Duchess,” ucap gadis itu lagi. Alice mengembuskan napasnya dan menggeleng kecil. "Kau tidak perlu meminta maaf, Lady Clementine," jawabnya. Setelah itu, Alice gegas melangkah pergi. Namun, Luciana tidak tinggal diam, ia tetap mengejar Alice dengan langkah cepat. "Tunggu, Nyonya Duchess!" Entah mengapa, Alice merasa tidak nyaman saat gadis itu mengikutinya. Ini tidak biasa dilakukan oleh Luciana yang biasanya abai padanya. Luciana berjalan di samping Alice, "Anda bisa mengatakan kalau memang Anda tidak nyaman karena Tuan Duke menyerahkan tugas-tugas Xander pada saya. Saya siap mundur, Nyonya. Anda tidak perlu menuduh saya

  • Duchess Alice, Tuan Duke Tak Ingin Bercerai   Bab 5. Lady Clamentine, Kau Tidak Bisa Menipuku

    Satu minggu kemudian….Hari ini adalah hari pertama Xander belajar dengan guru barunya. Alice penasaran, siapa guru baru yang dipilih oleh Luciana.Alice berjalan keluar dari dalam kamar, ia ingin melihat kegiatan belajar Xander di ruang belajar. Namun, saat baru saja keluar dari dalam kamar, kepala pelayan berjalan ke arahnya. "Selamat pagi, Nyonya Duchess," sapa wanita paruh baya itu sembari memberikan hormat pada Alice. "Selamat pagi, Madam Paloma. Ada apa?" "Tuan Duke sudah kembali dari istana Razsberg, Nyonya Duchess," jawab sang kepala pelayan.Bulu mata Alice mengerjap lembut. Setelah satu minggu lamanya Allard pergi ke istana karena urusan penting dengan raja, kini suaminya itu telah kembali. "Di mana suamiku sekarang?" tanyanya. "Ada di depan, Nyonya Duchess."Tanpa menjawab lagi, Alice segera berjalan ke depan dan menemui suaminya. Sedangkan kepala pelayan itu tidak mengikutinya, karena mereka akan menyiapkan perintah sang Nyonya Duchess untuk menyiapkan makan siang ber

  • Duchess Alice, Tuan Duke Tak Ingin Bercerai   Bab 4. Mencari Cara untuk Berpisah

    Setelah meninggalkan istana Razsberg, sepanjang perjalanan menuju kediaman suaminya, bayangan Allard bersama Luciana menjadi pusat perhatian di pesta masih terngiang dalam benak Alice.Ia merasa lelah akan semuanya.“Aku tidak bisa diam saja. Aku harus melakukan sesuatu, karena menunggu Allard menceraikan aku pun rasanya tidak mungkin,” ucapnya putus asa.Alice memandang bulan dari balik jendela kereta kudanya. “Aku harus menyusun rencana agar bisa pergi.” Begitu sampai di kediaman suaminya, Alice segera mengganti pakaian dan menyendiri di dalam kamar.Tanpa sengaja, ia melirik ke arah meja kamarnya, di mana terletak dua amplop surat di atas sana."Pasti dari Ibu," lirihnya. Alice meraih surat itu dan membacanya.Isi surat ditulis oleh pelayan yang merawat ibunya, menuliskan bahwa kondisi ibunya belum stabil. Masih memerlukan pengobatan khusus dan biaya yang tidak murah.Alice tertunduk lesu, meremas kertas surat itu sebelum menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya."Kalau ber

  • Duchess Alice, Tuan Duke Tak Ingin Bercerai   Bab 3. Tak Lebih dari Sekedar Istri Bayangan

    Saat pesta dansa dimulai, semua orang bergegas mencari pasangannya masing-masing. Alice tetap di posisi, memperhatikan orang-orang di sekitarnya.Sampai akhirnya wanita dengan balutan gaun merah itu melihat suaminya berjalan ke arahnya.Pandangan mata mereka bertabrakan. Tatapan mata biru Alice yang sendu, dan mata hitam milik Allard yang dingin dan tenang."Apa kau ingin mengajakku berdansa?" tanya Alice ragu saat Allard sudah berdiri di hadapannya."Menurutmu?"Jawaban pria itu membuat Alice terpaku. Desiran aneh menjalar dalam dadanya, bersama detak jantung yang berdebum.Tetapi, tiba-tiba …."Tuan Duke, bisakah kita berdansa bersama?" Luciana muncul, memeluk lengan kanan Allard hingga pria itu menatapnya."Pangeran Kecil yang meminta kita untuk berdansa bersama," imbuh Luciana. Mendengar ucapan Luciana, lantas Alice menoleh dan mencari keberadaan Xander. Putranya saat ini tengah bersama raja dan ratu di depan sana. Tapi mengapa Luciana mengatakan kalau Xander yang memintanya ber

  • Duchess Alice, Tuan Duke Tak Ingin Bercerai   Bab 2. Kehilangan Kasih Sayang Anakku

    Alice menggigit bibir bawahnya yang gemetar, berusaha menampik nyeri yang ditimbulkan oleh kata-kata tajam bocah itu. Xander berlari keluar dari ruangan, diikuti oleh Luciana yang mengikutinya, meninggalkan Alice yang terpaku di tempat.Alice memutuskan untuk mengejar Xander dan meminta maaf. “Xander, Sayang…”Langkah Alice terhenti saat seorang pelayan menghampirinya. “Nyonya hari sudah menjelang sore, saya diminta oleh kepala pelayan untuk membantu Nyonya bersiap ke pesta,” ujar pelayan itu. Pesta? Alice teringat malam ini ia mendapat undangan pesta kerajaan. Ia akan datang bersama Allard dan Xander. Alice ingat, Xander akan bersemangat tiap pergi ke pesta bersamanya. Semoga kali ini ia bisa meluluhkan hati Xander lagi. “Tunggu sebentar, aku akan membantu putraku lebih dulu.”Alice meninggalkan pelayan dan bergegas ke arah ke kamar sang putra. Ia membuka pintu kamar Xander yang baru saja ditutup. Kedatangannya membuat Xander dan Luciana menoleh. Dahi bocah itu mengerut tajam,

  • Duchess Alice, Tuan Duke Tak Ingin Bercerai   Bab 1. Permintaan Cerai Duchess Alice

    “Aku ingin bercerai, Tuan Duke.”Alice Alexandria, wanita berusia dua puluh lima tahun yang menyandang gelar Duchess of Raszberg setelah menikah dengan Duke Allard Von Stein, berdiri tegak dengan penuh tekad di hadapan suaminya. Balutan crinoline dress berenda panjang berwarna biru muda mempertegas sosoknya yang anggun, meski hatinya telah lama remuk.Tatapannya dingin. Tak tersisa lagi rasa cinta dan kekaguman yang selama lima tahun pernikahan selalu ia persembahkan pada sang Duke.“Bercerai?” Allard terkekeh singkat, mengejek. Rahangnya mengeras, alis tebalnya menukik tajam saat menatap Alice, seolah wanita itu baru saja melontarkan lelucon murahan. “Sejak kapan kau punya keberanian untuk menuntut sesuatu dariku?”Kemunculan Alice yang memaksa masuk ke ruangan pribadi Duke Allard telah merusak momen hangat kebersamaan sang Duke dengan seorang wanita muda dan seorang anak laki-laki.Wanita itu adalah Lady Luciana Clementine, adik ipar dari mendiang istri pertamanya. Sementara anak la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status