Share

Luka yang Membiru

Author: Rainey Alta
last update publish date: 2026-01-13 10:44:04

Roselyn berlari keluar tanpa menoleh lagi. Hawa dingin malam itu terasa menusuk kulitnya yang hanya terbalut gaun tipis. Namun, itu tak sebanding dengan jantung yang nyaris copot. Berdebar antara cemas dan puas karena baru saja menendang ego sang Duke.

Empat jam menuju rumah pun terasa seperti siksaan tiada akhir. Di dalam kereta yang berguncang, Roselyn meringkuk di sudut., memeluk dirinya sendiri yang masih gemetar.

Hujan mulai reda saat ia menekan pergelangan kuat-kuat. Semata-mata hanya untuk memastikan denyut nadinya masih ada dan semua ini nyata.

Hingga akhirnya, kereta kuda pun berhenti berputar. Fajar pucat mulai menyinari gerbang kediaman Sirius yang megah nan kokoh. Tempat yang di masa depan nanti akan hangus, tetapi kini masih berdiri tegak menyambut kepulangannya.

Pintu kereta terbuka. Matthew, sang kepala pengawal, sudah berdiri di sisi tangga. Ia mengulurkan tangan, berusaha membantu sang nona turun.

"Perlahan, Lady. Anda sudah samp--"

Kalimatnya terputus. Matthew membelalak saat melihat penampilan Roselyn.

Gaun silver yang basah kuyup, kardigan sutranya tersampir miring, dan rambut yang tertata sempurna malah berantakan menutupi wajah pucat sang majikan.

Roselyn menapaki anak tangga dengan punggung tegak, meski air sisa hujan menetes dari ujung gaunnya yang kelabu terkena lumpur.

Ia pun mendorong pintu besar itu. Suara gesekan kayu berat yang bergema seketika teredam oleh kesunyian yang mencekam. Ia melangkah masuk ke main hall tanpa alas kaki.

Di ujung ruangan, tepat di bawah lampu gantung kristal yang temaram, sesosok pria sudah berdiri menanti dengan tangan terlipat di belakang punggung. Count Vogard Sirius.

"Kenapa gaun mahal ini sampai lusuh? Duke tidak menidurimu di taman, ‘kan?"

"Aku pergi sebelum dia sempat melepas bajunya, Ayah."

Tanpa aba-aba, Vogard langsung menarik tangan sang putri ke ruang kerja. Rak buku yang tidak pernah dibuka, lukisan leluhur dengan mata yang seolah mengikuti, dan aroma tembakau yang menempel di setiap tirai langsung menyambut mereka.

"Kenapa kau pulang memalukan begini?!"

"Aku menyesal pergi ke sana."

"Menyesal?! Aku membiarkanmu pergi ke sana agar kau bisa mengikatnya. Supaya si Rubah itu tidak punya alasan membatalkan rencana pernikahan kalian."

"Jadi Ayah tahu dia berniat meniduriku, dan tetap membiarkanku pergi?"

"Tentu saja. Rayu dia dan lahirkan anaknya. Untuk apa lagi tubuhmu itu?"

Roselyn mengepalkan tangan di balik lipatan gaun, hingga kukunya menggores telapak tangan. Ia seakan butuh rasa sakit supaya tetap berdiri.

Ia diam beberapa detik, berharap sang ayah akan menyadari betapa hina ucapan barusan. Namun, tidak sedikit pun raut bersalah tampak di wajah Vogard.

"Apa Ayah tahu bagaimana Derrick memperlakukanku selama ini?"

"Bukankah dia akhirnya membalas cintamu? Fokus saja jadi Nyonya D'Arest demi martabat keluarga kita."

"Bagaimana denganku?"

"Sudah terlalu banyak yang kuberikan untukmu."

"Kalau begitu, beri aku izin untuk membatalkan pertunangan ini, Ayah."

Srak!

Kotak pena perak melayang sebelum Roselyn sempat berkedip. Sudut tajamnya menghantam dahi, disusul sensasi hangat yang mulai mengalir turun ke pelipis. 

"Gadis rendahan. Apa otakmu sudah rusak?!"

"Derrick tidak mencintaiku, Ayah."

“Apa cinta bisa membuatmu menghidupimu?”

"Tolong dukung aku sekali saja. Setelah itu, hukuman apa pun, aku akan menerima."

Vogard menjambak rambut Roselyn, memaksanya mendongak. Meski hatinya sudah tabah menerima kekerasan di masa lampau, tetapi raga muda itu tetap gemetar.

"Cinta? Kau bicara soal cinta setelah semua kemewahan yang kuberikan?”

“Aku tidak pernah minta dibelikan apa pun.”

"Anak tidak tahu balas budi! Dari mana kau belajar kurang ajar seperti ini?!"

"Memang benar Ayah memberikan gaun dan permata mahal, tapi itu supaya nilaiku lebih tinggi,'kan?"

"Apa wajahmu akan tetap sombong kalau aku menjualmu pada bangsawan tua sebagai selir?"

PLAK!

Tamparan itu begitu keras hingga telinga Roselyn berdenging. Ia sampai terhempas ke lantai.

Sudut bibirnya pecah. Namun, Vogard belum selesai.

Pria itu melangkah mendekat, lalu menendang perut sang putri yang belum sempat menstabilkan napas. Pukulan demi pukulan menyusul.

Makin keras dan brutal, tapi tetap hati-hati menghindari area yang terbuka. Jangan sampai ada bekas luka yang terlihat, batinnya.

Lanjut ia mencengkeram rambut Roselyn, memaksa wanita itu mendongak hanya untuk melihat wajah ayahnya yang memerah padam karena murka, sebelum kemudian melempar kepala itu kembali ke lantai.

"Aku berbesar hati mengurus anak haram sepertimu, jadi ketahui tempatmu!"

Di lantai yang dingin itu, kilatan memori membayangi Roselyn. Dirinya yang dulu pasti akan merangkak, menciumi ujung sepatu Vogard sambil memohon dimaafkan. Tapi kini tidak lagi.

"Aku akan memaafkanmu kali ini." Pria paruh baya itu membenahi jas, berpikir dirinya sedang berlapang dada memaafkan. "Tapi--"

"Tapi apa?" Roselyn menatap tajam. "Pukul lagi, Ayah. Hancurkan wajah 'aset' ini, lalu lihat apa masih ada pria yang mau membayar mahal untuk barang rusak!"

“Apa …?” Vogard tercengang. “Beraninya Jalang sepertimu membantah!”

Namun, tepat sebelum amarah kembali tersulut, pria ringan tangan itu berusaha mengendalikan diri. Tinggal menghitung hari untuk menjadi besan Duke, ia tidak mau melepaskan kesempatan emas begitu saja.

"Masuk ke kamarmu! Jangan keluar sampai hari pernikahan. Kau akan tetap menjadi Duchess. Bahkan jika aku harus menyeret mayatmu ke altar."

Beberapa pelayan pun dipanggil untuk menyeret wanita itu ke keluar. Namun, Roselyn menepis. Ia dengan tegas berkata akan pergi sendiri.

Selangkah demi selangkah sambil berpegangan pada dinding. Ia menyusuri koridor dengan setiap sendi tubuh yang menjerit. Dadanya sesak. Bibirnya terasa perih.

“Nona, biar saya bantu.” Matthew sudah menanti di depan kamar.

“Tidak usah.”

Walau ekspresinya tidak mudah dibaca, Roselyn melihat saat pria itu melirik ke arah dahinya yang berdarah. Bukan dengan tatapan terhibur seperti beberapa pelayan, tetapi penuh iba.

"Maaf, Nona. Seperti biasa, saya harus mengunci kamar Nona hari ini.  Silakan gunakan ini."

"Elysium. Ayah selalu memberikannya setelah menyiksaku, dia takut lukanya membekas, ya?"

"Tidak. Selama ini saya yang membelinya."

"Kenapa?!"

"Anda adalah Nona saya."

"Tapi salep ini seharga gaji tiga bulan pelayanan. Jangan bilang kau …."

Matthew tersenyum lembut. Sosoknya tampak bersinar saat mengulurkan obat. “Maaf karena tidak bisa menolong Nona. Tapi saya harap, setidaknya Nona tidak perlu tidur sambil kesakitan.”

Usai memberikan elysium, Matthew membungkuk pendek, lalu mengunci Roselyn di kamar. Wanita itu pun merosot perlahan di balik pintu, membiarkan air mata itu keluar kali ini.

Ia membuka telapak tangan, menatap salep dan beberapa camilan pemberian Matthew, karena tahu Vogard akan mengurungnya tanpa makanan.

"Kupikir kau cuma suruhan Ayah." Suaranya serak, hampir tidak terdengar. "Siapa sangka kau tetap miskin setelah bekerja puluhan tahun. Rupanya gajimu habis untuk membeli ini ... Paman."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Racun yang Tersimpan

    Dentang lonceng terdengar begitu gaduh di luar, memecah keheningan koridor. Beberapa kesatria Valthorne bergegas menuju menara untuk memeriksa sumber keributan.Sementara itu, Kaelus masih berdiri tegak di depan ruang arsip. Jarinya mengetuk-ngetuk lengan kiri dengan irama teratur, menanti jawaban yang telah dipersiapkan oleh mendiang adik Rieta."Kuharap kau punya alasan yang masuk akal, Lexcan," ucap Kaelus datar. Tatapan matanya lurus, dingin, dan menuntut.Rieta sempat bergeming. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri sebelum akhirnya mengumpulkan keberanian. "Yang Mulia, saya menemukan catatan ini terselip di dalam buku harian Kakak.""Aku tidak tertarik membaca catatan pribadi orang yang sudah meninggal. Katakan saja intinya."

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Salju yang Menutup Luka Lama 

    Kereta kuda Valthorne bergerak meninggalkan pelabuhan saat fajar musim dingin menyemburat di ufuk timur.Rembulan merah semalam telah tenggelam, digantikan langit kelabu yang membawa angin dingin khas Utara.Di dalam kabin yang hangat, Roselyn bersandar pada bahu Kaelus. Jemarinya yang terbalut sarung tangan beludru digenggam erat, seolah pria itu enggan membiarkan sejengkal jarak pun memisahkan mereka."Kau memikirkan ucapan Merran semalam, Rose?"Roselyn menghela napas tipis, matanya menatap kosong ke luar jendela yang buram oleh embun es. "Tentang langit yang mencoba mengembalikan takdir awal. Iya, aku kepikiran.”“Kau tahu sudah banyak yang berubah dibanding masa lalu.”

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Rahasia Keturunan Lennox

    Gemuruh guntur membelah keheningan di dalam kamar itu.Ledakan cahaya dari Jantung Emas Samudera pelan-pelan memudar, meninggalkan kehangatan magis yang kini mengendap di antara aromaterapi herbal yang pekat.Raja Odiley termenung sejenak. Kelopak mata Brenand sedikit bergetar, menatap sepasang netra hitam jernih yang selama 12 tahun ini ditunggu untuk terbuka kembali.Namun, Merran sama sekali tidak menoleh ke arah sang raja. Ekspresi wanita itu tampak teramat dingin, seolah Brenand hanyalah seonggok angin lalu.Tidak kuasa menahan diri, ia pun mendengus pelan, memprotes dengan nada getir yang bercampur rasa tidak terima yang kekanak-kanakan. “Aku yang menunggu

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Bulan Merah

    “Sebenarnya sejak kapan kau curiga aku juga kembali ke masa lalu?” tanya Roselyn sembari bersandar di dada Kaelus.Pria bermanik merah itu pun menatapnya sejenak, sebelum memeluk tubuh sang istri yang duduk di atas kedua pahanya. Mendengar pertanyaan tiba-tiba itu, Kaelus sempat terdiam, jemarinya mengusap pelan helai rambut cokelat Roselyn.Kereta kuda yang sempat berguncang pun kini bergerak lambat, membelah hujan salju lebat yang menutupi jalur curam menuju wilayah perbatasan.“Kau mau jawab atau tidak?”Roselyn sedikit mendongak, memegangi pipi Kaelus dengan kedua telapak tangan yang mungil, sementara bibirnya cemberut, meminta jawaban.Kaelus mengecup dahi sang pujaan hati, lalu menyahut, “Sejak melihatmu di pesta kekaisaran.”“Ah, saat pertama kali bertemu, ya?” lanjut Roselyn, kelopak matanya berkedip heran.“Benar, Sayangku.”“Mustahil kau langsung tahu, ‘kan?”“Hm, kalau diingat-ingat, hari itu kau tampak murung. Bahkan seperti orang yang tidak nyaman berada di keramaian,” t

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Janji Raja Odiley

    “Kepalamu akan langsung melayang kalau bergerak,” ancam Kaelus dengan pedang yang terhunus tepat di samping nadi sang penyusup.Pria di bawah bayangan pohon willow itu sempat terkejut. Kelopak matanya sedikit melebar menangkap pantulan cahaya dari bilah besi yang menempel erat di kulit leher. Ia tidak menyangka Kaelus bisa bergerak secepat ini dalam sunyi. Padahal beberapa saat lalu, dirinya sempat terkecoh hingga masuk kembali kamar dan mengunci pintu balkon.Namun, keterkejutan itu hanya bertahan sesaat. Ketegangan di wajah sang tamu tak diundang itu luruh. Ia terlampau santai untuk seseorang yang nyawanya berada di ujung tanduk."Kalau aku mati, maka kau sendiri yang akan kesulitan," sahut pria itu. Suaranya besar, tetapi terdengar begitu halus.Ia pun berbalik dengan senyuman yang tersungging di bibir tipisnya. Cahaya bulan yang tipis akhirnya menyinari wajah tegas nan rupawan milik Brenand Cyruss, Raja Odiley.Kaelus tidak menurunkan pedangnya sedikit pun. Matanya kian menggela

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Penguntit Tampan

    Jeritan perawat memecah kesunyian pagi.Roselyn menjatuhkan pena yang digenggam. Sebelum sempat mencerna kalimat yang menyusul—tinta menciprat, membentuk bercak hitam di atas laporan yang belum sempat ditandatangani."Grand Duchess! Lady Lexcan sudah sadar!"Kursi kerja terdorong ke belakang dengan suara berderak keras. Roselyn sudah berlari sebelum benar-benar memutuskan untuk berlari, gaunnya melambai liar, melewati lorong yang terasa lebih panjang.Dua hari menunggu tanpa jawaban pasti dari para dokter, dua hari menahan napas setiap kali pintu Kamar Emerald berderak, akhirnya berujung pada satu kalimat yang membuat dadanya bergetar antara lega dan takut untuk berharap terlalu banyak.Ia sampai di depan Kamar Emerald

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Gadis Tanpa Keluarga

    Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan dir

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Fajar di Pelukanmu

    Roselyn menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Ia menahan diri, meski jiwanya menjerit ingin membanting pintu itu sampai hancur.Sarung tangan sutranya ditanggalkan, perhiasan dilepas satu per satu. Mutiara dan permata mahal itu jatuh berserakan di atas meja rias tanpa dipedulikan. Ia duduk sejen

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Salju yang Hangat

    Hening yang mencekam menyelimuti balkon, hanya menyisakan suara napas Roselyn yang masih tersengal dan patah-patah. Di hadapannya, Kaelus berdiri mematung seperti patung es yang tidak tersentuh waktu.Roselyn menunduk, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih menggila. "Maaf karena harus memper

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Kaelus Valthorne

    Tiga hari dalam kurungan kamar adalah waktu yang cukup bagi memar di tubuh Roselyn untuk berubah warna dari ungu pekat menjadi kuning pudar. Berkat elysium dari sang paman, luka di dahinya hanya menyisakan garis merah tipis.Vogard pun memastikan garis itu tertutup bedak sebelum menyeret putrinya k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status