Mag-log inRoselyn berlari keluar tanpa menoleh lagi. Hawa dingin malam itu terasa menusuk kulitnya yang hanya terbalut gaun tipis. Namun, itu tak sebanding dengan jantung yang nyaris copot. Berdebar antara cemas dan puas karena baru saja menendang ego sang Duke.
Empat jam menuju rumah pun terasa seperti siksaan tiada akhir. Di dalam kereta yang berguncang, Roselyn meringkuk di sudut., memeluk dirinya sendiri yang masih gemetar.
Hujan mulai reda saat ia menekan pergelangan kuat-kuat. Semata-mata hanya untuk memastikan denyut nadinya masih ada dan semua ini nyata.
Hingga akhirnya, kereta kuda pun berhenti berputar. Fajar pucat mulai menyinari gerbang kediaman Sirius yang megah nan kokoh. Tempat yang di masa depan nanti akan hangus, tetapi kini masih berdiri tegak menyambut kepulangannya.
Pintu kereta terbuka. Matthew, sang kepala pengawal, sudah berdiri di sisi tangga. Ia mengulurkan tangan, berusaha membantu sang nona turun.
"Perlahan, Lady. Anda sudah samp--"
Kalimatnya terputus. Matthew membelalak saat melihat penampilan Roselyn.
Gaun silver yang basah kuyup, kardigan sutranya tersampir miring, dan rambut yang tertata sempurna malah berantakan menutupi wajah pucat sang majikan.
Roselyn menapaki anak tangga dengan punggung tegak, meski air sisa hujan menetes dari ujung gaunnya yang kelabu terkena lumpur.
Ia pun mendorong pintu besar itu. Suara gesekan kayu berat yang bergema seketika teredam oleh kesunyian yang mencekam. Ia melangkah masuk ke main hall tanpa alas kaki.
Di ujung ruangan, tepat di bawah lampu gantung kristal yang temaram, sesosok pria sudah berdiri menanti dengan tangan terlipat di belakang punggung. Count Vogard Sirius.
"Kenapa gaun mahal ini sampai lusuh? Duke tidak menidurimu di taman, ‘kan?"
"Aku pergi sebelum dia sempat melepas bajunya, Ayah."
Tanpa aba-aba, Vogard langsung menarik tangan sang putri ke ruang kerja. Rak buku yang tidak pernah dibuka, lukisan leluhur dengan mata yang seolah mengikuti, dan aroma tembakau yang menempel di setiap tirai langsung menyambut mereka.
"Kenapa kau pulang memalukan begini?!"
"Aku menyesal pergi ke sana."
"Menyesal?! Aku membiarkanmu pergi ke sana agar kau bisa mengikatnya. Supaya si Rubah itu tidak punya alasan membatalkan rencana pernikahan kalian."
"Jadi Ayah tahu dia berniat meniduriku, dan tetap membiarkanku pergi?"
"Tentu saja. Rayu dia dan lahirkan anaknya. Untuk apa lagi tubuhmu itu?"
Roselyn mengepalkan tangan di balik lipatan gaun, hingga kukunya menggores telapak tangan. Ia seakan butuh rasa sakit supaya tetap berdiri.
Ia diam beberapa detik, berharap sang ayah akan menyadari betapa hina ucapan barusan. Namun, tidak sedikit pun raut bersalah tampak di wajah Vogard.
"Apa Ayah tahu bagaimana Derrick memperlakukanku selama ini?"
"Bukankah dia akhirnya membalas cintamu? Fokus saja jadi Nyonya D'Arest demi martabat keluarga kita."
"Bagaimana denganku?"
"Sudah terlalu banyak yang kuberikan untukmu."
"Kalau begitu, beri aku izin untuk membatalkan pertunangan ini, Ayah."
Srak!
Kotak pena perak melayang sebelum Roselyn sempat berkedip. Sudut tajamnya menghantam dahi, disusul sensasi hangat yang mulai mengalir turun ke pelipis.
"Gadis rendahan. Apa otakmu sudah rusak?!"
"Derrick tidak mencintaiku, Ayah."
“Apa cinta bisa membuatmu menghidupimu?”
"Tolong dukung aku sekali saja. Setelah itu, hukuman apa pun, aku akan menerima."
Vogard menjambak rambut Roselyn, memaksanya mendongak. Meski hatinya sudah tabah menerima kekerasan di masa lampau, tetapi raga muda itu tetap gemetar.
"Cinta? Kau bicara soal cinta setelah semua kemewahan yang kuberikan?”
“Aku tidak pernah minta dibelikan apa pun.”
"Anak tidak tahu balas budi! Dari mana kau belajar kurang ajar seperti ini?!"
"Memang benar Ayah memberikan gaun dan permata mahal, tapi itu supaya nilaiku lebih tinggi,'kan?"
"Apa wajahmu akan tetap sombong kalau aku menjualmu pada bangsawan tua sebagai selir?"
PLAK!
Tamparan itu begitu keras hingga telinga Roselyn berdenging. Ia sampai terhempas ke lantai.
Sudut bibirnya pecah. Namun, Vogard belum selesai.
Pria itu melangkah mendekat, lalu menendang perut sang putri yang belum sempat menstabilkan napas. Pukulan demi pukulan menyusul.
Makin keras dan brutal, tapi tetap hati-hati menghindari area yang terbuka. Jangan sampai ada bekas luka yang terlihat, batinnya.
Lanjut ia mencengkeram rambut Roselyn, memaksa wanita itu mendongak hanya untuk melihat wajah ayahnya yang memerah padam karena murka, sebelum kemudian melempar kepala itu kembali ke lantai.
"Aku berbesar hati mengurus anak haram sepertimu, jadi ketahui tempatmu!"
Di lantai yang dingin itu, kilatan memori membayangi Roselyn. Dirinya yang dulu pasti akan merangkak, menciumi ujung sepatu Vogard sambil memohon dimaafkan. Tapi kini tidak lagi.
"Aku akan memaafkanmu kali ini." Pria paruh baya itu membenahi jas, berpikir dirinya sedang berlapang dada memaafkan. "Tapi--"
"Tapi apa?" Roselyn menatap tajam. "Pukul lagi, Ayah. Hancurkan wajah 'aset' ini, lalu lihat apa masih ada pria yang mau membayar mahal untuk barang rusak!"
“Apa …?” Vogard tercengang. “Beraninya Jalang sepertimu membantah!”
Namun, tepat sebelum amarah kembali tersulut, pria ringan tangan itu berusaha mengendalikan diri. Tinggal menghitung hari untuk menjadi besan Duke, ia tidak mau melepaskan kesempatan emas begitu saja.
"Masuk ke kamarmu! Jangan keluar sampai hari pernikahan. Kau akan tetap menjadi Duchess. Bahkan jika aku harus menyeret mayatmu ke altar."
Beberapa pelayan pun dipanggil untuk menyeret wanita itu ke keluar. Namun, Roselyn menepis. Ia dengan tegas berkata akan pergi sendiri.
Selangkah demi selangkah sambil berpegangan pada dinding. Ia menyusuri koridor dengan setiap sendi tubuh yang menjerit. Dadanya sesak. Bibirnya terasa perih.
“Nona, biar saya bantu.” Matthew sudah menanti di depan kamar.
“Tidak usah.”
Walau ekspresinya tidak mudah dibaca, Roselyn melihat saat pria itu melirik ke arah dahinya yang berdarah. Bukan dengan tatapan terhibur seperti beberapa pelayan, tetapi penuh iba.
"Maaf, Nona. Seperti biasa, saya harus mengunci kamar Nona hari ini. Silakan gunakan ini."
"Elysium. Ayah selalu memberikannya setelah menyiksaku, dia takut lukanya membekas, ya?"
"Tidak. Selama ini saya yang membelinya."
"Kenapa?!"
"Anda adalah Nona saya."
"Tapi salep ini seharga gaji tiga bulan pelayanan. Jangan bilang kau …."
Matthew tersenyum lembut. Sosoknya tampak bersinar saat mengulurkan obat. “Maaf karena tidak bisa menolong Nona. Tapi saya harap, setidaknya Nona tidak perlu tidur sambil kesakitan.”
Usai memberikan elysium, Matthew membungkuk pendek, lalu mengunci Roselyn di kamar. Wanita itu pun merosot perlahan di balik pintu, membiarkan air mata itu keluar kali ini.
Ia membuka telapak tangan, menatap salep dan beberapa camilan pemberian Matthew, karena tahu Vogard akan mengurungnya tanpa makanan.
"Kupikir kau cuma suruhan Ayah." Suaranya serak, hampir tidak terdengar. "Siapa sangka kau tetap miskin setelah bekerja puluhan tahun. Rupanya gajimu habis untuk membeli ini ... Paman."
Sebelum melangkah keluar dari pintu penginapan, Kaelus menahan pundak Roselyn pelan, menghentikan langkah sang istri tepat di dekat kereta kuda yang sudah siap.Pria berambut perak itu berlutut dengan satu kaki, memeriksa kembali ikatan tali sepatu Roselyn, lalu berdiri untuk merapikan mantel tebal yang menyelimuti tubuh kecil tersebut. "Ada yang sakit?" tanya Kaelus, sepasang netra merahnya menatap lurus, memindai wajah Roselyn dengan raut sarat akan kekhawatiran.Roselyn menggeleng pelan, seulas senyum tipis terbit di bibirnya. "Aku sudah jauh lebih baik, Kael. Sungguh."Kaelus tidak langsung menjawab. Ia meraih jemari Roselyn yang terbalut kain perban, menggenggamnya perlahan seolah memastikan s
Keheningan seketika menyelimuti kamar setelah kalimat itu lolos dari bibir Kaelus.Roselyn tidak langsung menjawab. Ia membalikkan tubuh dalam dekapan hangat Kaelus, menatap langsung wajah pria itu.Di luar jendela, salju Lancaster masih turun dengan lambat, perlahan menutupi noda darah di halaman dengan lapisan putih yang polos.Alam seakan tengah berusaha keras untuk berpura-pura bahwa tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi malam itu.Namun, Roselyn tidak bisa ikut berpura-pura abai."Katakan sekali lagi," ucap Roselyn pelan."Aku cuma ingin cari tahu, kenapa kau bisa mengulang waktu, Rose."Ada semburat kegelisahan yang me
Februari datang bersama keping salju yang turun makin lebat tatkala kesatria Valthorne menyeret Derrick melewati gerbang halaman.Roselyn berdiri di sana, di atas tanah penginapan yang masih berlumur noda darah yang membeku. Tatapannya lurus memandangi punggung pria berambut hitam itu hingga benar-benar menghilang di balik tikungan jalan.Angin malam yang menusuk langsung menghantam kulitnya yang hanya terbungkus gaun tipis, yang kini sudah koyak dan kotor di beberapa bagian.Kaelus berdiri tepat di belakang. Tidak ada satu pun aksara yang keluar, tidak pula menyentuh sang istri.Pria itu hanya ada di sana, memilih kebisuan sebagai satu-satunya bahasa saat melindungi wanitanya."Kael." Roselyn menatap sang suami.
Roselyn masih terbenam di dada Kaelus ketika merasakan tubuh suaminya mendadak menegang. Insting sebagai seorang kesatria membuat pria itu langsung mengendus bahaya yang mengintai di dekat mereka.Tanpa melepaskan pelukan, pria berambut perak itu memutar posisi tubuh, menyembunyikan Roselyn di balik punggung besarnya yang kokoh."Rose, mundurlah," bisik Kaelus, setelah mengecup lembut ubun-ubun sang istri.Roselyn baru saja melangkah satu kaki ke belakang ketika kilatan logam meluncur dari arah pintu belakang yang masih menganga.Kaelus bergerak secepat kilat, menangkis tebasan mendadak itu dengan sarung pedangnya yang bahkan belum sempat tercabut.Trang!Kedua senj
Lancaster akhirnya muncul di balik tirai salju yang menipis. Atap-atap rumah penduduk mengintip dari kejauhan, tampak seperti sebuah janji yang nyaris terpenuhi.Kaelus menahan tali kendali kudanya tepat di gerbang kota, langsung menyebarkan pasukan ke beberapa arah sekaligus."Periksa setiap penginapan di sepanjang jalan utama," titahnya pada sang kapten, tegas tanpa keraguan.Para kesatria yang dipimpin pun segera berpencar. Derap kaki kuda mereka memecah keheningan jalanan kecil yang mulai sepi akibat hantaman badai.Belum genap sepuluh menit, salah satu kesatria sudah kembali dengan napas terengah-engah."Tuan! Sebuah penginapan di ujung jalan, pemiliknya bilang ada rombongan yang datang kemarin dan meny
Keheningan itu terasa seperti pisau yang ditahan tepat di atas leher Cedric. Ia menatap Kaelus lama, mencari celah keraguan di wajah datar itu.Akan tetapi, yang ditemukan hanya aura dingin milik seseorang yang sudah lama mengantongi kebenaran. Atau lebih tepatnya, tidak membiarkan kebenaran itu memacu benci yang menghancurkan diri sendiri."Siapa yang memberitahumu?" Suara Cedric akhirnya bergetara, lebih pelan dari yang diinginkan."Itu tidak penting.""Kukira mendiang kaisar sudah menghabisi pengikut ayahmu. Bahkan catatan tentang ciri-ciri keluarga pewaris tahta sudah dibakar.""Kejahatan pasti terbongkar, Cedric."Pria bermata emas itu diam sejenak. Beberapa detik kemud
Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan dir
Roselyn menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Ia menahan diri, meski jiwanya menjerit ingin membanting pintu itu sampai hancur.Sarung tangan sutranya ditanggalkan, perhiasan dilepas satu per satu. Mutiara dan permata mahal itu jatuh berserakan di atas meja rias tanpa dipedulikan. Ia duduk sejen
Hening yang mencekam menyelimuti balkon, hanya menyisakan suara napas Roselyn yang masih tersengal dan patah-patah. Di hadapannya, Kaelus berdiri mematung seperti patung es yang tidak tersentuh waktu.Roselyn menunduk, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih menggila. "Maaf karena harus memper
"Buktikan cintamu, Lady. Coba layani aku malam ini."Suara itu terdengar lembut. Namun, bukan melodi, melainkan lonceng kematian.Roselyn bergeming di atas marmer dingin, membiarkan lututnya mati rasa. Kehormatan sebagai putri tunggal Count Sirius pun sudah lama ditanggalkan. Yang tersisa hanyalah







