LOGINSelene tersentak bangun.
Napasnya terengah, dadanya naik turun dengan cepat seolah ia baru saja ditarik kembali dari dasar kegelapan yang tak berujung. Dunia berputar sesaat sebelum pandangannya mengeras dan hal pertama yang ia lihat adalah Lamina.
Penyihir itu masih berdiri di tempatnya.
Wajah Lamina pucat, keringat membasahi pelipisn
Pesta itu berlangsung dengan kemegahan yang nyaris sempurna, namun keindahannya bukan hanya terletak pada cahaya lampu kristal atau deretan hidangan yang tersaji rapi di sepanjang aula. Ada sesuatu yang lebih dalam mengisi ruangan itu sesuatu yang tidak terlihat, namun bisa dirasakan oleh setiap orang yang hadir.Aula utama kastil Leventis dipenuhi para bangsawan dan tamu undangan dari berbagai wilayah. Gaun-gaun indah berkilauan, jas-jubah formal tertata sempurna, dan suara musik mengalun lembut, menyatu dengan percakapan yang mengisi setiap sudut ruangan. Namun perlahan, semua itu mereda. Suara-suara mulai turun, percakapan terhenti satu per satu, hingga akhirnya perhatian seluruh aula terpusat ke bagian depan.Di sanalah mereka berdiri.Dirian berdiri tegap, seperti biasa tenang, dingin, dan tidak tergoyahkan. Wajahnya tidak menunjukkan banyak emosi, namun kehadirannya saja sudah cukup untuk menahan seluruh ruangan dalam kendali tanpa perlu sepatah kata pun. Di sampingnya, Selene b
Dirian telah selesai bersiap ketika Selene keluar dari kamar.Pagi yang terlewat tanpa sarapan tidak lagi terasa penting. Kini, mereka berjalan berdampingan menuju ruang makan utama, di mana makan siang telah disiapkan dengan rapi. Cahaya matahari siang menyusup melalui jendela-jendela tinggi, jatuh lembut di atas meja panjang yang dipenuhi hidangan hangat.Suasana kastil terasa lebih hidup hari itu.Namun di dalam ruangan tersebut, ada ketenangan yang berbeda lebih pribadi, lebih hangat.Divrio dan Dagny sudah duduk lebih dulu.Begitu Selene dan Dirian mengambil tempat, kedua anak itu langsung memperhatikan mereka. Tidak ada basa-basi panjang, hanya kehadiran yang terasa cukup untuk memulai percakapan.Divrio yang pertama berbicara.“Ibu,” katanya, menatap Selene dengan wajah penuh rasa ingin tahu, “kita akan kembali ke utara, kan?”Selene mengangguk pelan dan sebelum ia sempat menambahkan sesuatu, Dagny ikut menyela.“Apakah semua orang akan ikut?” tanyanya. “Atau hanya kita saja?”
Hari-hari berlalu dengan tenang di kastil.Setelah segala kekacauan yang terjadi, suasana perlahan kembali pada ritmenya yang semula. Festival pergantian musim berlangsung meriah seperti biasanya lampu-lampu digantung di sepanjang jalan, pasar malam bermunculan di setiap sudut ibu kota, dan tawa serta musik mengisi udara hingga larut malam. Orang-orang merayakan perubahan dengan penuh sukacita, seolah tidak ada yang pernah terjadi sebelumnya.Namun tidak semua orang hidup dalam suasana yang sama.Di sudut lain kehidupan yang jauh dari gemerlap itu, Lamina baru saja kembali dari hutan. Keranjang kayu di lengannya penuh dengan buah ek yang baru ia kumpulkan. Napasnya sedikit terengah, namun wajahnya tetap tenang seperti biasa.Begitu ia melangkah mendekati rumah kayu sederhana itu, ia melihat Jay sudah berdiri di sana. Pria itu bersandar ringan di dekat pintu, menatap ke arahnya seolah sudah menunggu cukup lama.Lamina tersenyum kecil saat melihatnya.“Kau menungguku?” tanyanya santai.
Selene berdiri tegak di sisi ruangan, tidak bergeser sedikit pun sejak tadi. Tatapannya tertuju pada Viviene tenang, namun tidak lagi sepenuhnya datar. Ada sesuatu yang lebih dalam di sana, sesuatu yang tidak ia tunjukkan dengan kata-kata.“Dirian meminta maaf bukan untuk mengubah sesuatu,” ucapnya akhirnya, suaranya lembut namun tegas, mengisi ruang yang terlalu lama dibiarkan sunyi. “Dia meminta maaf… karena memang itu yang seharusnya dia lakukan.”Viviene tidak langsung menjawab.Matanya tetap menatap Selene, seolah mencoba menembus kata-kata itu, mencari makna lain di baliknya. Namun yang ia temukan hanya ketenangan, ketenangan yang justru terasa asing.Selene melangkah sedikit lebih dekat, meski tetap menjaga jarak.“Entah apa arti kata maaf itu bagimu,” lanjutnya pelan, “yang perlu kau pahami adalah… dia sudah cukup merendahkan dirinya untuk mengatakannya. Dan itu bukan sesuatu yang mudah.”Nada suaranya tidak meninggi, tidak juga memaksa.Namun justru karena itu, setiap katanya
Viviene menatap Dirian tanpa mengedip.Tatapan itu datar bukan karena ia tidak merasakan apa-apa, melainkan karena semua yang pernah ia rasakan seolah telah terkikis habis. Di hadapannya, Dirian berdiri dengan sikap yang sama seperti yang selalu ia kenal: tenang, tegak, dan dingin.Tidak ada perubahan dalam raut wajahnya, tidak ada getaran dalam suaranya, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya tidak pernah menyentuh apa pun di dalam dirinya.Dan mungkin… memang tidak pernah.“Hiduplah dengan baik,” ucap Dirian akhirnya, suaranya rendah dan nyaris tanpa emosi. “Karena setelah ini… kau akan mendapatkan akhir yang memang seharusnya kau dapatkan.”Kalimat itu sederhana, namun terasa seperti vonis yang tidak bisa diganggu gugat.Viviene tidak menjawab.Ia hanya menatapnya.Menatap wajah itu untuk waktu yang sedikit lebih lama seolah berusaha mengingatnya dengan jelas, menyimpannya dalam sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak yakin masih ia miliki.Tidak ada yang berubah dan Dirian teta
Tanpa banyak berpikir, Selene meraih jubahnya dan menyampirkannya ke bahu. Gerakannya cepat, hampir tergesa, seolah rasa penasaran itu tidak memberinya waktu untuk ragu. Ia keluar dari kamar, melintasi lorong kastil yang sunyi, hanya ditemani cahaya lampu redup yang memantul di dinding batu.Udara malam langsung menyambutnya begitu ia melangkah keluar. Dingin, tajam, namun tidak cukup untuk memperlambat langkahnya. Tatapannya segera mencari sosok yang tadi ia lihat dari jendela.Dan ia menemukannya.Dirian berjalan di kejauhan, langkahnya tenang namun pasti, seolah memiliki tujuan yang jelas. Tidak ada penjaga di sekitarnya, tidak ada pelayan yang mengikuti. Hanya dirinya sendiri, menyusuri halaman kastil di tengah malam.Selene mengikutinya.Ia menjaga jarak, tidak memanggil, tidak ingin menarik perhatian. Ada sesuatu yang terasa aneh, sesuatu yang membuatnya memilih untuk diam dan melihat.Langkah Dirian akhirnya berhenti di depan bangunan asrama pelayan.Selene mengernyit.Tempat i
Dirian membuka mulut, lalu menutupnya lagi.Lamina mendahului, suaranya tenang namun dingin, “Kutukan yang mengikat hidup suamimu.”Selene melangkah masuk cep
Pagi masih terlalu dini. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, embun menempel di mantel Dirian ketika ia menghentikan langkah di depan rumah Selene. Langit masih abu-abu pucat—waktu di mana orang-orang seharusnya masih terlelap. “Kukira semua masih tidur,” gumam Selene pelan, merapikan mant
Pertarungan itu meledak tanpa aba-aba.Raungan iblis banteng mengguncang udara, memecah barisan seperti gelombang badai. Tanah beku terbelah saat kakinya menghantam salju, tubuh raksasanya bergerak terlalu cepat untuk ukura
Hening kembali turun.Namun kali ini, Dirian tidak memanggil lagi.Ia berdiri diam di tengah salju, napasnya berat, matanya menyala dengan tekad yang jauh lebih berbahaya







