LOGINSelene menatapnya, terkejut kecil.
Dirian mengangkat tangan, seolah menghentikan segala kemungkinan sanggahan. “Aku tidak akan mengatakannya di luar sana. Aku tidak akan membiarkan siapa pun tahu. Bagi mereka, ini akan terlihat seperti keputusan dingin seorang duke yang menjaga stabilitas.”
Ia menurunkan suaranya. “Tapi di ruangan ini saja, kau perlu
Tidak ada nada menuduh. Tidak ada desakan. Kalimat itu diucapkan begitu saja dan justru karena itu terasa lebih berat.Dirian berbalik untuk pergi.Jay menatap punggungnya, jemarinya mengepal di sisi piring yang belum tersentuh. Ada banyak hal yang ingin ia katakan tentang Viviene, tentang pencarian yang buntu, tentang kegelisahan yang tidak pernah ia akui. Tapi semua itu tertahan di dadanya.Langkah Dirian berhenti sesaat, seolah ia mempertimbangkan sesuatu. Namun ia tidak menoleh.“Pastikan kau tetap seperti yang kau yakini,” tambahnya singkat, lalu melanjutkan langkahnya keluar.Jay ditinggalkan sendirian.Ia menatap makanan di depannya, uapnya mulai memudar. Kata-kata Di
Selene menatapnya, terkejut kecil.Dirian mengangkat tangan, seolah menghentikan segala kemungkinan sanggahan. “Aku tidak akan mengatakannya di luar sana. Aku tidak akan membiarkan siapa pun tahu. Bagi mereka, ini akan terlihat seperti keputusan dingin seorang duke yang menjaga stabilitas.”Ia menurunkan suaranya. “Tapi di ruangan ini saja, kau perlu tahu alasannya.”Selene membuka mulut, namun Dirian lebih dulu berbicara. “Aku tidak ingin kau terlibat lebih jauh. Setiap langkahmu di luar kastil hari ini sudah cukup membuatku tidak tenang.”Selene menatapnya,Nada suaranya sedikit mengeras, bukan marah melainkan takut yang disamarkan. “Jika aku tidak bergerak, maka kau akan melakukann
Selene berhenti melangkah. Ia menoleh perlahan. Dirian berdiri di dekat jendela, mantel kerjanya sudah dilepas, lengannya terlipat di dada. Tatapannya tidak marah lebih tepatnya, penuh pengamatan.“Aku tidak bermaksud begitu,” jawab Selene akhirnya, menutup pintu di belakangnya. Ia menyandarkan punggungnya sejenak, seolah membutuhkan penopang. “Pikiranku sedang… tidak rapi.”Dirian mengangkat alis tipis. Ia melangkah mendekat, jaraknya cukup dekat untuk membuat Selene merasakan kehadirannya sepenuhnya.“Tidak rapi karena apa?” tanyanya. “Sejak pagi kau keluar masuk, berbicara dengan banyak orang, lalu kembali dengan wajah seperti itu. Dan aku tidak tahu apa pun.”Nada itu membuat Selene menghela napas panjang. Ia menun
Daisy menunduk lebih dalam, seolah ingin memastikan kesetiaannya benar-benar tersampaikan.“Saya mengerti, nyonya,” ucapnya lirih, lalu mundur beberapa langkah, memberi ruang tanpa perlu diperintah.Selene melangkah menyusuri lorong batu yang hening menuju ruangan Lamina. Setiap langkahnya terukur, namun pikirannya tidak. Di ambang pintu, ia berhenti. Tangannya terangkat sedikit, lalu turun kembali sebuah gerak ragu yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun.Ia tahu, apa yang akan dilakukan Lamina bukan sekadar upaya mencari jejak.Ini adalah menyentuh sisa-sisa keberadaan seseorang yang mungkin telah melalui ketakutan, penderitaan, atau sesuatu yang jauh lebih buruk.Mengikuti jejak seseorang yang telah menghilang selama lebih dari seminggu bukan hanya soal kemampuan. Itu soal kesiapan menerima kenyat
Jay menunduk hormat. “Tentu, nyonya.”Ia lalu menatap Selene dengan sorot yang lebih lembut, berbeda dari sikap profesionalnya barusan. “Namun sekarang, Anda sebaiknya kembali. Anda terlihat lelah.”Selene tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya sampai ke matanya. “Mungkin. Tapi pikiranku belum mau diam.”Jay membalas dengan nada tegas namun penuh hormat, “Justru karena itu. Pikiran tajam butuh tubuh yang utuh.”Ilard langsung mengangguk setuju. “Yang mulia duke tidak akan senang jika mengetahui ini.”Selene akhirnya menghela napas dan mengangguk kecil. “Baik. Aku pulang.”Sebelum berbalik, Selene menatap Jay sekali lagi. “Jay.”
Di tempat itu, penderitaan Viviene berjalan mengikuti satu pola yang kejam dan teratur. Rafael tidak pernah berkata apa pun ia hanya berdiri dengan tenang, tatapannya dingin, dan jemarinya bergerak perlahan di udara. Setiap gerakan kecil dari tangannya selalu diikuti oleh suara Josh, seolah lelaki itu adalah lidah bagi kehendak Rafael.Hari itu, panas terasa lebih menyiksa dari biasanya.Bara api telah disiapkan di hadapan Viviene. Api tidak menyala tinggi, namun pijarnya cukup untuk membuat udara di sekitarnya bergetar. Viviene berdiri gemetar, wajahnya pucat, tubuhnya sudah terlalu lelah untuk merasa takut seperti dulu.Rafael menggerakkan jarinya sedikit satu isyarat singkat.Josh tersenyum miring, lalu berkata dengan nada santai,“Berjalanlah. Ada seseorang yang m







