Home / Zaman Kuno / Duke Kejam itu Suamiku / Bab 3. Selamat Datang di Neraka Barumu

Share

Bab 3. Selamat Datang di Neraka Barumu

Author: Senja Berpena
last update publish date: 2026-01-18 13:04:00

“Jangan menatap ke luar jendela terlalu lama, Aurelia. Kota itu sudah melupakanmu bahkan sebelum debu kereta ini mengendap.”

Suara Alaric yang dingin menyentak Aurelia dari lamunannya.

Dunia seolah memudar di belakang Aurelia saat kereta kuda mewah berlambang serigala perak itu meninggalkan batas kota Amsterdam.

Jalanan berbatu yang akrab digantikan oleh jalur tanah yang dikelilingi kabut tebal dan pepohonan gundul yang tampak seperti jemari raksasa yang mencoba menggapai langit.

Udara musim gugur yang menusuk mulai merayap masuk melalui celah jendela, membawa aroma tanah basah dan garam laut dari pantai utara yang liar.

Di dalam ruang kereta yang sempit dan berlapis beludru hitam, keheningan terasa begitu berat hingga Aurelia merasa paru-parunya mengecil. Alaric duduk tepat di hadapannya.

Pria itu tidak membaca buku, tidak melihat keluar jendela, dan tidak memejamkan mata. Ia hanya duduk tegak dengan kedua tangan bertumpu di atas lutut, menatap lurus ke arah Aurelia dengan sorot mata yang tak terbaca.

Ruang yang terbatas ini membuat Aurelia sangat menyadari kehadiran fisik suaminya.

Aroma Alaric, campuran antara kayu cendana, tembakau mahal, dan sesuatu yang tajam seperti logam dingin, memenuhi indra penciumannya.

Setiap kali kereta berguncang melewati lubang, lutut mereka nyaris bersentuhan, dan Aurelia akan segera menarik kakinya seolah-olah kulit Alaric adalah bara api yang akan menghanguskannya.

Aurelia meremas sapu tangan di pangkuannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak tahan lagi. Kesunyian ini lebih menyiksa daripada makian ayahnya.

“Berapa lama lagi perjalanannya, Yang Mulia?” tanya Aurelia, namun suaranya terdengar asing bahkan di telinganya sendiri.

Alaric tidak segera menjawab. Dia perlahan mengalihkan fokus matanya, dari menatap wajah Aurelia secara keseluruhan, kini hanya terpaku pada bibir gadis itu yang bergetar.

Tatapan itu begitu intens, begitu menelanjangi, hingga Aurelia merasa seolah dia sedang berdiri tanpa busana di tengah badai salju.

“Dua jam jika kuda-kudanya tidak kelelahan karena beban dosamu yang kau bawa dari kota,” jawab Alaric dingin.

Suaranya rendah, bergetar di dinding kereta, mengirimkan gelombang listrik yang aneh ke tulang belakang Aurelia.

Aurelia tersentak. “Beban dosa? Aku tidak membawa apa-apa selain pakaianku dan harga diri yang tersisa.”

Mata Alaric menyipit, begitu tajam seperti pisau bedah. “Harga diri? Seorang wanita yang dijual ayahnya demi beberapa keping emas tidak punya hak bicara soal harga diri. Tutup mulutmu, Aurelia. Suaramu mengganggu ketenanganku.”

Aurelia tersedak oleh kata-katanya sendiri. Dia merasa seolah-olah baru saja ditampar secara verbal.

Dia lantas memalingkan wajah ke jendela lalu menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan yang mendesak keluar.

Dia membenci pria ini. Namun, meski diliputi kebencian, mata Aurelia tidak bisa berhenti mencuri pandang.

Alaric telah melepas sarung tangan kulitnya. Di punggung tangan kanannya, terdapat bekas luka parut yang melintang panjang, sebuah luka sabetan pedang yang dalam. Aurelia bertanya-tanya, siapa yang cukup berani melukai monster ini?

Tiba-tiba, kereta berguncang hebat saat melewati jembatan kayu yang licin. Tubuh Aurelia terlempar ke depan.

Secara naluriah, dia mengulurkan tangan untuk menyeimbangkan diri, dan telapak tangannya mendarat tepat di atas tangan Alaric yang terluka.

Kulit Alaric terasa panas, kontras dengan sikapnya yang sedingin es.

Aurelia tertegun. Untuk satu detik, mata mereka bertemu dalam jarak yang hanya beberapa inci.

Di sana, di kedalaman mata abu-abu Alaric, Aurelia melihat sesuatu yang melintas cepat: kemarahan, atau mungkin rasa sakit yang sangat tua. Namun secepat kilat, Alaric menyentakkan tangannya menjauh.

“Jangan menyentuhku tanpa izin,” desis Alaric.

Dia mengambil kain sutra dari sakunya dan mengusap punggung tangannya yang baru saja disentuh Aurelia, seolah-olah sentuhan gadis itu meninggalkan noda.

“Kau lupa aturan pertama kita, Duchess. Kau hanyalah properti. Dan properti tidak berinisiatif.”

Aurelia menarik dirinya kembali ke sudut kursi karena merasa terhina. “Aku tidak sengaja. Keretanya—”

“Aku tidak butuh penjelasanmu,” potong Alaric dengan kasar. Dia lalu menyandarkan kepalanya ke belakang dan memejamkan mata.

Sisa perjalanan itu dilalui dalam tekanan yang lebih hebat. Suhu di dalam kereta turun drastis.

Napas Aurelia mulai membentuk uap putih. Tiba-tiba, kereta mulai melambat.

Suara derit gerbang besi yang besar terdengar memekakkan telinga, beradu dengan suara angin yang melolong.

Kastil Valen menjulang tinggi dengan menara-menara tajam yang seolah menusuk awan hitam.

Bangunan itu tampak seperti monster yang sedang tertidur. Alaric turun terlebih dahulu, lalu berdiri di samping pintu, memberikan tangannya, sebuah perintah untuk segera keluar.

Aurelia melangkah turun dengan kaki yang lemas. Lautan di bawah tebing menderu ganas, suaranya seperti tangisan ribuan jiwa yang hilang.

Alaric mendekatkan wajahnya ke telinga Aurelia, meletakkan tangannya di pinggang gadis itu, mencengkeramnya dengan posesif yang menyakitkan.

“Lihatlah baik-baik, Aurelia,” bisik Alaric dengan nada penuh kepuasan yang gelap.

“Tempat ini jauh dari keramaian Amsterdam yang munafik. Di sini, tidak ada yang akan mendengar teriakanmu. Tidak ada yang akan menolongmu jika kau mencoba lari.”

Aurelia menatap gerbang besi yang perlahan menutup di belakang mereka dengan dentuman yang menggetarkan bumi.

Alaric menariknya menuju pintu kastil yang terbuka seperti mulut raksasa.

“Selamat datang di penjara barumu, Duchess Valen.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Ros
Semoga aurely kuat ya hadapi si mnster duke Alaric. Dan dpt meluluhkan hati duke Alaric. Semoga….. kalo aurelia mati , abis donk cerita nya.
goodnovel comment avatar
wieanton
gk guna jg ya pindah kastil klrga valen, dr awal jg udah di sebut penjara gtu...kira2 aurelia kuat gk ya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 193. Kebahagiaan Keluarga Valen

    Aula makan di Kastil Valen malam itu terasa begitu hangat, jauh dari kesan dingin yang biasanya melekat pada dinding-dinding batu besar peninggalan masa lalu.Lilin-lilin perak menyala dengan tenang di tengah meja, menyinari piring-piring porselen yang menyajikan daging rusa panggang hasil buruan Laurent. Aroma rempah dan lemak yang gurih memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang intim bagi keluarga kecil itu.Aurelia memotong daging di piringnya dengan gerakan anggun, lalu menatap Laurent yang duduk tegak di hadapannya.“Daging ini sangat empuk, Laurent. Aku masih tidak percaya anakku yang baru berusia sembilan tahun sudah bisa menjatuhkan rusa jantan sebesar itu dengan satu anak panah. Kau benar-benar cepat tanggap dalam menyerap ilmu ayahmu.”“Aku hanya mengingat pesan Papa tentang menahan napas, Ma,” sahut Laurent dengan nada rendah hati, meski binar kebanggaan sulit disembunyikan dari matanya yang tajam.“Bukan hanya cepat tanggap,” sela Elara yang duduk di samping kakaknya.Gad

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 192. Pelajaran Pertama untuk Laurent

    Udara pagi di Hutan Valen terasa tajam dan bersih, membawa aroma pinus yang basah serta tanah yang lembap. Sinar matahari menerobos di sela-sela kanopi pepohonan yang rimbun, menciptakan kolom-kolom cahaya yang jatuh tepat di atas rumput tinggi.Di balik semak-semak lebat, dua sosok berdiri dengan keheningan yang absolut. Alaric, yang kini tampak lebih matang dengan beberapa helai uban tipis di pelipisnya, berdiri membeku di belakang Laurent.Laurent, yang telah tumbuh menjadi bocah laki-laki berusia sembilan tahun yang tangkas, memegang busur kayu hitamnya dengan stabilitas yang mengesankan.Bahunya kokoh, napasnya teratur, dan matanya yang tajam mengunci seekor rusa jantan besar yang sedang merumput sekitar lima puluh langkah di depan mereka.“Ingat apa yang kukatakan, Laurent,” bisik Alaric, suaranya sangat rendah hingga hampir menyatu dengan desau angin.“Jangan melawan angin. Jadilah bagian dari angin itu sendiri. Rasakan tarikan senarmu bukan dengan otot, tapi dengan naluri. Lep

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 191. Kelahiran Bayi Kedua

    Malam di Kastil Valen kembali dicekam oleh ketegangan yang serupa, namun kali ini udara terasa lebih berat oleh antisipasi yang menyesakkan.Di balik pintu kayu jati yang tertutup rapat, suara rintihan Aurelia yang sedang berjuang memberikan kehidupan baru bergema di sepanjang koridor. Alaric berdiri mematung di depan pintu, jemarinya meremas hulu pedang dengan begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih.“Ric, demi para leluhur, berhentilah menatap pintu itu seolah kau ingin mendobraknya dengan bahumu,” suara Edward, sahabat dekat Alaric terdengar tenang namun tegas dari arah belakang. “Ini adalah proses alami. Kau sudah melewatinya sekali bersama Laurent.”“Alami?” Alaric berbalik, matanya berkilat penuh kecemasan yang liar. “Dia sedang kesakitan di dalam sana, Edward! Aku bisa mendengar dia mengejan, aku bisa merasakan setiap tarikan napasnya yang berat. Dan aku di sini, berdiri seperti pengecut yang hanya bisa menunggu instruksi dari seorang bidan!”“Kau bukan pengecut, kau ad

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 190. Si Kecil yang Lincah

    Di pagi hari di tengah hamparan bunga mawar biru, seorang balita dengan energi yang seolah tak habis-habis sedang melakukan invasi terhadap ketenangan taman.Laurent berlari zigzag, sesekali berhenti untuk mencoba menangkap kupu-kupu, lalu kembali melesat dengan tawa melengking yang menggema hingga ke pilar-pilar kastil.“Laurent! Sayang, jangan terlalu dekat dengan kolam!” seru Aurelia sambil mencoba mengejar langkah kecil putranya dengan napas yang mulai memburu.Perutnya yang kini kian membuncit membuat setiap gerakan terasa dua kali lebih berat. Ia baru saja hendak melangkah lebih cepat saat rasa nyeri yang familiar menusuk pinggangnya, memaksanya berhenti dan memegang sandaran kursi taman dari besi tempa.“Yang Mulia, mohon hamba memohon,” Madame Greta segera menghampiri, wajahnya penuh kecemasan profesional.“Wajah Anda sudah sangat pucat. Biarkan kami yang mengawasi Pangeran Laurent. Anda harus duduk dan beristirahat, atau Baginda Raja akan memenggal kepala kami semua jika meli

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 189. Kelincahan Laurent

    Sinar matahari sore menembus jendela kaca patri di paviliun pribadi, memberikan rona jingga pada sofa beludru tempat Alaric dan Aurelia mencoba mencuri waktu istirahat. Namun, ketenangan di Istana Valen kini menjadi barang mewah yang langka. Dari arah koridor, suara derap langkah kaki kecil yang cepat beradu dengan lantai kayu, diikuti oleh suara Madame Greta yang terengah-engah.“Pangeran Laurent! Mohon jangan naik ke atas patung itu! Yang Mulia, tunggu!” teriak Greta dari kejauhan, yang hanya dibalas dengan tawa memekak telinga dari sang balita.Alaric memijat pangkal hidungnya, menyandarkan kepalanya di bahu Aurelia. “Aku bersumpah, anak itu memiliki stamina lebih besar daripada satu batalyon infantri. Bagaimana bisa makhluk sekecil itu membuat tiga pengasuh senior menyerah dalam satu hari?”Aurelia terkekeh pelan, meski gurat kelelahan tampak di wajahnya yang kini lebih berisi karena kehamilan keduanya. “Dia mewarisi keras kepalamu, Ric. Kau yang bilang ingin dia memiliki energi

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 188. Hamil Anak Kedua

    Musim semi di tahun kedua Laurent ditandai dengan mekarnya bunga-bunga mawar biru yang lebih lebat dari sebelumnya, seolah tanah Utara benar-benar telah menerima darah Laurent sebagai bagian dari jiwanya. Aula besar dipenuhi dengan tawa riuh para bangsawan dan rakyat yang diundang untuk merayakan ulang tahun sang Serigala Kecil yang kedua. Laurent, yang kini sudah bisa berlari dengan langkah kecil yang mantap, sedang sibuk mengejar seekor anak anjing di antara sela-sela kursi panjang.Di atas kursi kebesaran, Aurelia duduk dengan anggun, namun wajahnya sedikit pucat. Ia mencoba menyesuaikan posisi duduknya, merasakan pening yang mendadak menyerang saat aroma daging panggang yang gurih tercium dari meja jamuan. Tangannya tanpa sadar meremas sandaran kursi, sementara perutnya terasa seperti diaduk oleh pusaran air yang aneh.“Aurel? Kau tidak menyentuh anggurmu sama sekali,” Alaric berbisik di sampingnya, matanya yang tajam tidak pernah melewatkan perubahan sekecil apa pun pada istriny

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 7. Rahasia Sayap Barat

    “Jika kau ingin mencari tahu cara tercepat untuk mati di kastil ini, teruslah melangkah menuju koridor itu, Nyonya.”Suara Martha yang parau nyaris membuat Aurelia menjatuhkan lilin di tangannya.Di lorong yang remang dan dingin, pelayan tua itu berdiri seperti bayangan, matanya menatap tajam ke ar

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 6. Pesta Para Bangsawan

    “Diam dan berdirilah dengan tegak, Aurelia. Mahkota itu tidak seberat dosa yang harus kau tanggung jika kau mempermalukanku malam ini.”Tangan Alaric yang dingin bergerak di tengkuk Aurelia, mengunci pengait kalung zamrud yang terasa seperti jeruji besi yang melingkari lehernya.Kalung itu luar bia

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 33. Kode Rahasia yang Bukan Rahasia

    Aurelia tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali dia mencoba tertidur, bayangan Alaric yang duduk tegak dengan pedang di pangkuannya menghantui benaknya.Namun, saat jam besar di aula berdentang tiga kali, puncak dari kesunyian malam, suara dengkur halus yang berat mulai terdengar dari koridor.Alar

  • Duke Kejam itu Suamiku   Bab 21. Duplikat Kunci

    Hans gemetar hebat. Dia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap sepasang mata hijau zamrud milik sang Duchess yang kini berada hanya beberapa inci dari wajahnya yang kusam oleh jelaga.Suasana di sudut dapur itu sangat panas, namun Hans merasa seolah-olah ia sedang berdiri di tengah b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status