Masuk“Jangan menatap ke luar jendela terlalu lama, Aurelia. Kota itu sudah melupakanmu bahkan sebelum debu kereta ini mengendap.”
Suara Alaric yang dingin menyentak Aurelia dari lamunannya.
Dunia seolah memudar di belakang Aurelia saat kereta kuda mewah berlambang serigala perak itu meninggalkan batas kota Amsterdam.
Jalanan berbatu yang akrab digantikan oleh jalur tanah yang dikelilingi kabut tebal dan pepohonan gundul yang tampak seperti jemari raksasa yang mencoba menggapai langit.
Udara musim gugur yang menusuk mulai merayap masuk melalui celah jendela, membawa aroma tanah basah dan garam laut dari pantai utara yang liar.
Di dalam ruang kereta yang sempit dan berlapis beludru hitam, keheningan terasa begitu berat hingga Aurelia merasa paru-parunya mengecil. Alaric duduk tepat di hadapannya.
Pria itu tidak membaca buku, tidak melihat keluar jendela, dan tidak memejamkan mata. Ia hanya duduk tegak dengan kedua tangan bertumpu di atas lutut, menatap lurus ke arah Aurelia dengan sorot mata yang tak terbaca.
Ruang yang terbatas ini membuat Aurelia sangat menyadari kehadiran fisik suaminya.
Aroma Alaric, campuran antara kayu cendana, tembakau mahal, dan sesuatu yang tajam seperti logam dingin, memenuhi indra penciumannya.
Setiap kali kereta berguncang melewati lubang, lutut mereka nyaris bersentuhan, dan Aurelia akan segera menarik kakinya seolah-olah kulit Alaric adalah bara api yang akan menghanguskannya.
Aurelia meremas sapu tangan di pangkuannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak tahan lagi. Kesunyian ini lebih menyiksa daripada makian ayahnya.
“Berapa lama lagi perjalanannya, Yang Mulia?” tanya Aurelia, namun suaranya terdengar asing bahkan di telinganya sendiri.
Alaric tidak segera menjawab. Dia perlahan mengalihkan fokus matanya, dari menatap wajah Aurelia secara keseluruhan, kini hanya terpaku pada bibir gadis itu yang bergetar.
Tatapan itu begitu intens, begitu menelanjangi, hingga Aurelia merasa seolah dia sedang berdiri tanpa busana di tengah badai salju.
“Dua jam jika kuda-kudanya tidak kelelahan karena beban dosamu yang kau bawa dari kota,” jawab Alaric dingin.
Suaranya rendah, bergetar di dinding kereta, mengirimkan gelombang listrik yang aneh ke tulang belakang Aurelia.
Aurelia tersentak. “Beban dosa? Aku tidak membawa apa-apa selain pakaianku dan harga diri yang tersisa.”
Mata Alaric menyipit, begitu tajam seperti pisau bedah. “Harga diri? Seorang wanita yang dijual ayahnya demi beberapa keping emas tidak punya hak bicara soal harga diri. Tutup mulutmu, Aurelia. Suaramu mengganggu ketenanganku.”
Aurelia tersedak oleh kata-katanya sendiri. Dia merasa seolah-olah baru saja ditampar secara verbal.
Dia lantas memalingkan wajah ke jendela lalu menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan yang mendesak keluar.
Dia membenci pria ini. Namun, meski diliputi kebencian, mata Aurelia tidak bisa berhenti mencuri pandang.
Alaric telah melepas sarung tangan kulitnya. Di punggung tangan kanannya, terdapat bekas luka parut yang melintang panjang, sebuah luka sabetan pedang yang dalam. Aurelia bertanya-tanya, siapa yang cukup berani melukai monster ini?
Tiba-tiba, kereta berguncang hebat saat melewati jembatan kayu yang licin. Tubuh Aurelia terlempar ke depan.
Secara naluriah, dia mengulurkan tangan untuk menyeimbangkan diri, dan telapak tangannya mendarat tepat di atas tangan Alaric yang terluka.
Kulit Alaric terasa panas, kontras dengan sikapnya yang sedingin es.
Aurelia tertegun. Untuk satu detik, mata mereka bertemu dalam jarak yang hanya beberapa inci.
Di sana, di kedalaman mata abu-abu Alaric, Aurelia melihat sesuatu yang melintas cepat: kemarahan, atau mungkin rasa sakit yang sangat tua. Namun secepat kilat, Alaric menyentakkan tangannya menjauh.
“Jangan menyentuhku tanpa izin,” desis Alaric.
Dia mengambil kain sutra dari sakunya dan mengusap punggung tangannya yang baru saja disentuh Aurelia, seolah-olah sentuhan gadis itu meninggalkan noda.
“Kau lupa aturan pertama kita, Duchess. Kau hanyalah properti. Dan properti tidak berinisiatif.”
Aurelia menarik dirinya kembali ke sudut kursi karena merasa terhina. “Aku tidak sengaja. Keretanya—”
“Aku tidak butuh penjelasanmu,” potong Alaric dengan kasar. Dia lalu menyandarkan kepalanya ke belakang dan memejamkan mata.
Sisa perjalanan itu dilalui dalam tekanan yang lebih hebat. Suhu di dalam kereta turun drastis.
Napas Aurelia mulai membentuk uap putih. Tiba-tiba, kereta mulai melambat.
Suara derit gerbang besi yang besar terdengar memekakkan telinga, beradu dengan suara angin yang melolong.
Kastil Valen menjulang tinggi dengan menara-menara tajam yang seolah menusuk awan hitam.
Bangunan itu tampak seperti monster yang sedang tertidur. Alaric turun terlebih dahulu, lalu berdiri di samping pintu, memberikan tangannya, sebuah perintah untuk segera keluar.
Aurelia melangkah turun dengan kaki yang lemas. Lautan di bawah tebing menderu ganas, suaranya seperti tangisan ribuan jiwa yang hilang.
Alaric mendekatkan wajahnya ke telinga Aurelia, meletakkan tangannya di pinggang gadis itu, mencengkeramnya dengan posesif yang menyakitkan.
“Lihatlah baik-baik, Aurelia,” bisik Alaric dengan nada penuh kepuasan yang gelap.
“Tempat ini jauh dari keramaian Amsterdam yang munafik. Di sini, tidak ada yang akan mendengar teriakanmu. Tidak ada yang akan menolongmu jika kau mencoba lari.”
Aurelia menatap gerbang besi yang perlahan menutup di belakang mereka dengan dentuman yang menggetarkan bumi.
Alaric menariknya menuju pintu kastil yang terbuka seperti mulut raksasa.
“Selamat datang di penjara barumu, Duchess Valen.”
Aula makan di Kastil Valen malam itu terasa begitu hangat, jauh dari kesan dingin yang biasanya melekat pada dinding-dinding batu besar peninggalan masa lalu.Lilin-lilin perak menyala dengan tenang di tengah meja, menyinari piring-piring porselen yang menyajikan daging rusa panggang hasil buruan Laurent. Aroma rempah dan lemak yang gurih memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang intim bagi keluarga kecil itu.Aurelia memotong daging di piringnya dengan gerakan anggun, lalu menatap Laurent yang duduk tegak di hadapannya.“Daging ini sangat empuk, Laurent. Aku masih tidak percaya anakku yang baru berusia sembilan tahun sudah bisa menjatuhkan rusa jantan sebesar itu dengan satu anak panah. Kau benar-benar cepat tanggap dalam menyerap ilmu ayahmu.”“Aku hanya mengingat pesan Papa tentang menahan napas, Ma,” sahut Laurent dengan nada rendah hati, meski binar kebanggaan sulit disembunyikan dari matanya yang tajam.“Bukan hanya cepat tanggap,” sela Elara yang duduk di samping kakaknya.Gad
Udara pagi di Hutan Valen terasa tajam dan bersih, membawa aroma pinus yang basah serta tanah yang lembap. Sinar matahari menerobos di sela-sela kanopi pepohonan yang rimbun, menciptakan kolom-kolom cahaya yang jatuh tepat di atas rumput tinggi.Di balik semak-semak lebat, dua sosok berdiri dengan keheningan yang absolut. Alaric, yang kini tampak lebih matang dengan beberapa helai uban tipis di pelipisnya, berdiri membeku di belakang Laurent.Laurent, yang telah tumbuh menjadi bocah laki-laki berusia sembilan tahun yang tangkas, memegang busur kayu hitamnya dengan stabilitas yang mengesankan.Bahunya kokoh, napasnya teratur, dan matanya yang tajam mengunci seekor rusa jantan besar yang sedang merumput sekitar lima puluh langkah di depan mereka.“Ingat apa yang kukatakan, Laurent,” bisik Alaric, suaranya sangat rendah hingga hampir menyatu dengan desau angin.“Jangan melawan angin. Jadilah bagian dari angin itu sendiri. Rasakan tarikan senarmu bukan dengan otot, tapi dengan naluri. Lep
Malam di Kastil Valen kembali dicekam oleh ketegangan yang serupa, namun kali ini udara terasa lebih berat oleh antisipasi yang menyesakkan.Di balik pintu kayu jati yang tertutup rapat, suara rintihan Aurelia yang sedang berjuang memberikan kehidupan baru bergema di sepanjang koridor. Alaric berdiri mematung di depan pintu, jemarinya meremas hulu pedang dengan begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih.“Ric, demi para leluhur, berhentilah menatap pintu itu seolah kau ingin mendobraknya dengan bahumu,” suara Edward, sahabat dekat Alaric terdengar tenang namun tegas dari arah belakang. “Ini adalah proses alami. Kau sudah melewatinya sekali bersama Laurent.”“Alami?” Alaric berbalik, matanya berkilat penuh kecemasan yang liar. “Dia sedang kesakitan di dalam sana, Edward! Aku bisa mendengar dia mengejan, aku bisa merasakan setiap tarikan napasnya yang berat. Dan aku di sini, berdiri seperti pengecut yang hanya bisa menunggu instruksi dari seorang bidan!”“Kau bukan pengecut, kau ad
Di pagi hari di tengah hamparan bunga mawar biru, seorang balita dengan energi yang seolah tak habis-habis sedang melakukan invasi terhadap ketenangan taman.Laurent berlari zigzag, sesekali berhenti untuk mencoba menangkap kupu-kupu, lalu kembali melesat dengan tawa melengking yang menggema hingga ke pilar-pilar kastil.“Laurent! Sayang, jangan terlalu dekat dengan kolam!” seru Aurelia sambil mencoba mengejar langkah kecil putranya dengan napas yang mulai memburu.Perutnya yang kini kian membuncit membuat setiap gerakan terasa dua kali lebih berat. Ia baru saja hendak melangkah lebih cepat saat rasa nyeri yang familiar menusuk pinggangnya, memaksanya berhenti dan memegang sandaran kursi taman dari besi tempa.“Yang Mulia, mohon hamba memohon,” Madame Greta segera menghampiri, wajahnya penuh kecemasan profesional.“Wajah Anda sudah sangat pucat. Biarkan kami yang mengawasi Pangeran Laurent. Anda harus duduk dan beristirahat, atau Baginda Raja akan memenggal kepala kami semua jika meli
Sinar matahari sore menembus jendela kaca patri di paviliun pribadi, memberikan rona jingga pada sofa beludru tempat Alaric dan Aurelia mencoba mencuri waktu istirahat. Namun, ketenangan di Istana Valen kini menjadi barang mewah yang langka. Dari arah koridor, suara derap langkah kaki kecil yang cepat beradu dengan lantai kayu, diikuti oleh suara Madame Greta yang terengah-engah.“Pangeran Laurent! Mohon jangan naik ke atas patung itu! Yang Mulia, tunggu!” teriak Greta dari kejauhan, yang hanya dibalas dengan tawa memekak telinga dari sang balita.Alaric memijat pangkal hidungnya, menyandarkan kepalanya di bahu Aurelia. “Aku bersumpah, anak itu memiliki stamina lebih besar daripada satu batalyon infantri. Bagaimana bisa makhluk sekecil itu membuat tiga pengasuh senior menyerah dalam satu hari?”Aurelia terkekeh pelan, meski gurat kelelahan tampak di wajahnya yang kini lebih berisi karena kehamilan keduanya. “Dia mewarisi keras kepalamu, Ric. Kau yang bilang ingin dia memiliki energi
Musim semi di tahun kedua Laurent ditandai dengan mekarnya bunga-bunga mawar biru yang lebih lebat dari sebelumnya, seolah tanah Utara benar-benar telah menerima darah Laurent sebagai bagian dari jiwanya. Aula besar dipenuhi dengan tawa riuh para bangsawan dan rakyat yang diundang untuk merayakan ulang tahun sang Serigala Kecil yang kedua. Laurent, yang kini sudah bisa berlari dengan langkah kecil yang mantap, sedang sibuk mengejar seekor anak anjing di antara sela-sela kursi panjang.Di atas kursi kebesaran, Aurelia duduk dengan anggun, namun wajahnya sedikit pucat. Ia mencoba menyesuaikan posisi duduknya, merasakan pening yang mendadak menyerang saat aroma daging panggang yang gurih tercium dari meja jamuan. Tangannya tanpa sadar meremas sandaran kursi, sementara perutnya terasa seperti diaduk oleh pusaran air yang aneh.“Aurel? Kau tidak menyentuh anggurmu sama sekali,” Alaric berbisik di sampingnya, matanya yang tajam tidak pernah melewatkan perubahan sekecil apa pun pada istriny
Malam di pondok pegunungan itu seharusnya menjadi perlindungan terakhir, sebuah benteng kayu yang memisahkan mereka dari kebisingan dunia.Namun, bagi Aurelia, keheningan justru menjadi panggung bagi simfoni kematian yang paling mengerikan.Di luar, suara sungai yang mengalir deras biasanya menenan
Pintu kayu pondok itu tertutup dengan bantingan pelan yang mengunci dunia luar di balik punggung mereka. Di dalam ruangan, hanya ada cahaya jingga dari perapian yang menari-nari di dinding, menciptakan atmosfer yang pengap oleh antisipasi.Alaric tidak membuang waktu; ia menyudutkan Aurelia ke pint
“Kau punya waktu sepuluh detik untuk menangisi masa lalumu, Aurelia. Setelah itu, pastikan tanganmu cukup stabil untuk menandatangani akta kematian kebebasanmu.”Suara itu memutus keheningan fajar di Amsterdam. Fajar yang tidak pernah terasa sekelam ini.Langit tertutup mendung abu-abu yang menggan
“Berhentilah gemetar, Aurelia. Kau hanya perlu terlihat cantik, bukan terlihat seperti pengecut yang menunggu ajal.”Suara ayahnya, Willem van Deventer, menusuk telinga Aurelia lebih tajam daripada udara dingin yang menyelinap dari jendela aula.Lilin-lilin kristal yang menggantung di langit-langit







