LOGIN“Lepaskan cadarmu, Aurelia. Di sini tidak ada Tuhan yang perlu menyaksikan kemunafikan ini.”
Suara Alaric bergema di kapel kecil yang lembap di bawah tanah kastil. Ruangan itu hanya diterangi oleh selusin lilin yang apinya menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah dinding batu.
Tidak ada bunga, tidak ada musik, tidak ada saksi selain seorang pendeta tua yang tangannya gemetar memegang Alkitab dan dua penjaga bersenjata yang berdiri kaku di depan pintu.
Aurelia mengangkat tangannya yang dingin lalu menyingkap kain renda tipis yang menutupi wajah pucatnya. Dia menatap Alaric, namun pria itu tidak menatapnya balik.
Alaric hanya menatap lurus ke arah salib perak di depan mereka dengan sorot mata penuh kebencian, seolah-olah dia sedang menantang takdir, bukan sedang mengikat janji suci.
Prosedur itu berlangsung singkat, kering, dan tanpa jiwa. Kata-kata “sampai maut memisahkan” keluar dari mulut Alaric seperti sebuah vonis hukuman mati daripada sebuah komitmen.
Ketika tiba waktunya untuk berlutut, Aurelia merasakan lantai marmer yang dingin menusuk lututnya, namun dinginnya lantai itu tidak sebanding dengan kedinginan yang memancar dari pria di sampingnya.
Begitu cincin emas berat disematkan di jarinya, cincin yang terasa seperti belenggu besi, Alaric langsung berdiri tanpa membantu Aurelia bangkit.
“Selesaikan administrasinya,” perintah Alaric pada pendeta itu, bahkan sebelum doa penutup selesai dibacakan.
Dia berbalik dan meninggalkan kapel, membiarkan jubah hitamnya menyapu lantai dengan suara desis yang tajam.
**
Malam pun jatuh di Kastil Valen, membawa serta keheningan yang lebih pekat dari tinta.
Aurelia duduk di tepi tempat tidur raksasa dengan tiang-tiang kayu ek yang dipahat berbentuk naga dan serigala.
Kamar pengantin itu luas, mewah, namun terasa seperti ruang bawah tanah.
Perapian menyala besar, mengirimkan bayangan-bayangan panjang yang meliuk di dinding, tapi Aurelia tetap menggigil.
Dia masih mengenakan gaun putihnya, meskipun dia telah melepas perhiasannya. Rambutnya terurai panjang, menutupi bahunya yang gemetar.
Setiap detik terasa seperti jam. Setiap suara gesekan dahan pohon di jendela membuatnya tersentak.
Pikirannya dipenuhi dengan cerita-cerita tentang kekejaman Duke Valen. Apakah pria itu akan memaksanya? Apakah pria itu akan menyakitinya untuk menunjukkan kekuasaannya?
Pintu kamar terbuka perlahan.
Alaric masuk. Dia sudah tidak mengenakan kemeja formalnya; dia hanya memakai kemeja linen tipis yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan otot dadanya yang keras dan kulit pucatnya yang dipenuhi bekas luka.
Dia membawa aroma anggur merah yang kuat, menandakan ia baru saja menenggak minuman keras sendirian di ruang kerjanya.
Dia tidak menatap Aurelia. Dia hanya berjalan menuju meja kecil, melepaskan ikat pinggang kulitnya dan meletakkannya dengan dentuman yang keras. Aurelia tersentak, lalu meremas sprei tempat tidur.
“Kenapa kau masih bangun?” tanya Alaric tanpa menoleh.
“A-aku menunggu ... Anda,” jawab Aurelia, suaranya nyaris berbisik.
Alaric tertawa pendek, tawa kering yang tidak sampai ke matanya. “Menunggu apa? Kewajiban malam pengantin?”
Dia lalu berbalik dan menatap Aurelia dengan tatapan menghina yang merendahkan.
“Tidurlah. Aku tidak tertarik menyentuh wanita yang menatapku seolah-olah aku akan mengulitinya hidup-hidup.”
Alaric memadamkan sebagian besar lilin, menyisakan cahaya remang dari perapian.
Dia melangkah menuju tempat tidur, berat tubuhnya membuat kasur amblas di sisi lain.
Dia bahkan berbaring dengan memunggungi Aurelia, tidak melepas pakaiannya sepenuhnya, hanya menyelimuti dirinya hingga pinggang.
Aurelia terpaku. Dia ragu-ragu sejenak, lalu perlahan-lahan ikut berbaring di sisi lain. Ada jarak yang lebar di antara mereka, sebuah jurang tak kasat mata yang dipenuhi oleh kebencian dan ketidaktahuan.
Ketegangan di udara terasa begitu fisik. Aurelia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar, kontras dengan napas Alaric yang berat dan teratur.
Di dalam kegelapan yang remang, ia sangat menyadari keberadaan pria itu. Ruangan itu sempit oleh aura maskulin yang mendominasi.
Aurelia memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba memikirkan rumahnya di Amsterdam, namun yang ia rasakan hanyalah panas tubuh Alaric yang menjalar meski mereka tidak bersentuhan.
Satu jam berlalu dalam kesunyian yang mencekik. Aurelia hampir saja jatuh tertidur karena kelelahan emosional, sampai ia mendengar suara aneh.
Suara itu rendah, serak, dan penuh penderitaan.
“Jangan ... jangan lagi ....”
Aurelia sontak membuka matanya. Dia menoleh perlahan. Alaric masih memunggunginya, namun tubuh pria itu kini tegang.
Otot-otot punggungnya yang lebar tampak berkedut di bawah cahaya perapian yang mulai meredup. Alaric sedang bermimpi buruk.
“Darahnya ….” Alaric mengerang, suaranya berubah menjadi bisikan yang menyayat hati. “Elisa ... maafkan aku ... darah itu tidak mau hilang ....”
Aurelia membeku. Elisa? Siapa Elisa? Dan darah apa yang ia maksud?
Napas Alaric menjadi semakin cepat, pendek-pendek, seolah dia sedang berlari dalam tidurnya. Tangannya yang besar mencengkeram sprei hingga terdengar suara kain yang merobek.
Keringat dingin membasahi kulit punggungnya. Pria yang tadinya tampak seperti monster tak terkalahkan itu kini terlihat hancur, rapuh oleh hantu yang hanya bisa dia lihat di balik kelopak matanya.
Rasa takut Aurelia mendadak bersinggungan dengan rasa iba yang tak terduga.
Tanpa sadar, dia menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat, tangannya terangkat di udara, bimbang apakah dia harus menyentuh bahu suaminya untuk membangunkan pria itu dari nerakanya.
Namun, sebelum jemarinya menyentuh kulit Alaric, pria itu berbalik dengan sentakan yang mengerikan.
Matanya terbuka lebar, namun tidak fokus. Dia mencengkeram pergelangan tangan Aurelia dengan kekuatan yang membuat gadis itu memekik kesakitan.
“Jangan sentuh aku dengan tangan berdarah itu!” Alaric menggeram dan matanya menatap Aurelia namun seolah menembus tubuhnya, melihat orang lain di sana.
“Alaric! Ini aku, Aurelia!” teriak Aurelia ketakutan.
Kesadaran perlahan kembali ke mata abu-abu Alaric. Dia mengerjapkan matanya dan napasnya memburu.
Dia menatap Aurelia, lalu menatap tangannya yang mencengkeram pergelangan tangan istrinya hingga memerah.
Dengan kasar, dia melepaskan tangan Aurelia dan menjauh ke pinggir tempat tidur, duduk dengan kepala tertunduk di antara kedua tangannya.
Keheningan kembali turun, kali ini jauh lebih menyeramkan. Alaric tidak menoleh, suaranya kini kembali dingin, namun ada getaran halus yang tidak bisa dia sembunyikan.
“Apa yang kau dengar?” tanyanya dengan nada rendah yang mematikan.
Aurelia gemetar di balik selimut, memegangi pergelangan tangannya yang nyeri. “Anda menyebut sebuah nama ... dan tentang darah.”
Alaric terdiam lama, sebelum akhirnya dia berdiri dan berjalan menuju jendela yang gelap, membelakangi Aurelia sepenuhnya.
“Lupakan apa yang kau dengar, atau kau akan menyesal pernah memiliki telinga untuk mendengar, Aurelia. Di kastil ini, rahasia bisa membunuhmu lebih cepat daripada pedang!”
“Diam dan berdirilah dengan tegak, Aurelia. Mahkota itu tidak seberat dosa yang harus kau tanggung jika kau mempermalukanku malam ini.”Tangan Alaric yang dingin bergerak di tengkuk Aurelia, mengunci pengait kalung zamrud yang terasa seperti jeruji besi yang melingkari lehernya.Kalung itu luar biasa besar, dengan batu-batu permata yang dideretkan di atas emas murni seberat hampir satu kilogram.Di telinga Aurelia, anting-anting panjang yang senada menarik cuping telinganya hingga terasa perih, dan di kepalanya, sebuah tiara bertahtakan berlian menekan dahi seolah ingin membelah tengkoraknya.Aurelia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Dia tampak seperti dewi yang sedang dipajang, namun matanya memancarkan rasa sakit yang nyata.“Ini terlalu berat, Alaric. Aku sulit bernapas, apalagi untuk berdansa.”“Bernapas bukan prioritasmu malam ini,” sahut Alaric tanpa emosi.Dia kemudian berdiri di belakang Aurelia, mengenakan seragam kebesaran Duke yang kaku dengan medali-medali perang y
“Makanlah, Aurelia. Kau terlihat seperti mayat yang dipakaikan gaun mahal.”Suara Alaric memecah keheningan ruang makan pagi itu. Ruangan itu begitu besar hingga suara denting sendok perak melawan porselen terdengar bergema.Cahaya matahari pagi yang pucat menembus jendela-jendela tinggi, namun gagal menghangatkan suasana.Alaric duduk di ujung meja yang jauh, memotong daging asapnya dengan presisi yang mengerikan, sementara Aurelia hanya mampu mengaduk bubur gandumnya tanpa selera.Bekas cengkeraman Alaric semalam masih terasa berdenyut di pergelangan tangannya, tersembunyi di balik manset renda gaun paginya.“Aku kehilangan selera makan sejak menginjakkan kaki di tempat ini,” jawab Aurelia datar, lalu memberanikan diri menatap mata pria itu.Alaric meletakkan pisaunya dengan kasar. Dia mengelap bibirnya dengan serbet linen, lalu mengeluarkan selembar kertas perkamen kecil dari balik saku jas rumahnya.Dia mendorong kertas itu ke atas meja kayu ek yang panjang, hingga meluncur berhen
“Lepaskan cadarmu, Aurelia. Di sini tidak ada Tuhan yang perlu menyaksikan kemunafikan ini.”Suara Alaric bergema di kapel kecil yang lembap di bawah tanah kastil. Ruangan itu hanya diterangi oleh selusin lilin yang apinya menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah dinding batu.Tidak ada bunga, tidak ada musik, tidak ada saksi selain seorang pendeta tua yang tangannya gemetar memegang Alkitab dan dua penjaga bersenjata yang berdiri kaku di depan pintu.Aurelia mengangkat tangannya yang dingin lalu menyingkap kain renda tipis yang menutupi wajah pucatnya. Dia menatap Alaric, namun pria itu tidak menatapnya balik.Alaric hanya menatap lurus ke arah salib perak di depan mereka dengan sorot mata penuh kebencian, seolah-olah dia sedang menantang takdir, bukan sedang mengikat janji suci.Prosedur itu berlangsung singkat, kering, dan tanpa jiwa. Kata-kata “sampai maut memisahkan” keluar dari mulut Alaric seperti sebuah vonis hukuman mati daripada sebuah komitmen.Ketika tiba waktun
“Jangan menatap ke luar jendela terlalu lama, Aurelia. Kota itu sudah melupakanmu bahkan sebelum debu kereta ini mengendap.”Suara Alaric yang dingin menyentak Aurelia dari lamunannya.Dunia seolah memudar di belakang Aurelia saat kereta kuda mewah berlambang serigala perak itu meninggalkan batas kota Amsterdam.Jalanan berbatu yang akrab digantikan oleh jalur tanah yang dikelilingi kabut tebal dan pepohonan gundul yang tampak seperti jemari raksasa yang mencoba menggapai langit.Udara musim gugur yang menusuk mulai merayap masuk melalui celah jendela, membawa aroma tanah basah dan garam laut dari pantai utara yang liar.Di dalam ruang kereta yang sempit dan berlapis beludru hitam, keheningan terasa begitu berat hingga Aurelia merasa paru-parunya mengecil. Alaric duduk tepat di hadapannya.Pria itu tidak membaca buku, tidak melihat keluar jendela, dan tidak memejamkan mata. Ia hanya duduk tegak dengan kedua tangan bertumpu di atas lutut, menatap lurus ke arah Aurelia dengan sorot mata
“Kau punya waktu sepuluh detik untuk menangisi masa lalumu, Aurelia. Setelah itu, pastikan tanganmu cukup stabil untuk menandatangani akta kematian kebebasanmu.”Suara itu memutus keheningan fajar di Amsterdam. Fajar yang tidak pernah terasa sekelam ini.Langit tertutup mendung abu-abu yang menggantung rendah di atas kanal-kanal yang tenang, seolah alam pun ikut berkabung atas nasib yang menimpa kediaman Van Deventer.Di dalam ruang kerja ayahnya yang pengap oleh aroma cerutu dan debu buku-buku tua, Aurelia duduk mematung. Matanya sembab, namun dia tidak lagi memiliki air mata untuk ditumpahkan.Pintu besar jati itu terbuka dengan debuman pelan namun tegas. Sosok yang masuk membawa hawa dingin yang seolah menyedot seluruh kehangatan dari perapian yang menyala di sudut ruangan.Duke Alaric Valen muncul, masih dengan setelan hitamnya yang kaku, seolah dia baru saja keluar dari mimpi buruk yang paling pekat.Di bawah ketiaknya, dia menjepit sebuah map kulit tebal, dan di tangannya terdap
“Berhentilah gemetar, Aurelia. Kau hanya perlu terlihat cantik, bukan terlihat seperti pengecut yang menunggu ajal.”Suara ayahnya, Willem van Deventer, menusuk telinga Aurelia lebih tajam daripada udara dingin yang menyelinap dari jendela aula.Lilin-lilin kristal yang menggantung di langit-langit aula besar itu berpijar terang, namun bagi Aurelia, cahaya itu terasa mencekik lehernya.Aroma anggur mahal dan parfum para bangsawan yang bercampur di udara mendadak tercium amis di hidungnya. Di balik gaun sutra berwarna biru pucat yang dia kenakan, jantungnya berdegup tidak karuan.Dia tahu ini adalah perjamuan terakhir. Di balik senyum palsu ibunya dan tawa keras ayahnya, tersimpan bangkai yang mulai membusuk.“Tersenyumlah, Aurelia,” bisik Willem lagi sambil meremas bahu putrinya terlalu kencang. Jemarinya yang gemetar karena alkohol terasa dingin di kulit Aurelia.“Jangan biarkan mereka mencium bau kemiskinan kita sebelum kesepakatan ini selesai.”Aurelia menoleh pelan, tatapan matany







