MasukHelena hanya tersenyum.Bukan senyum yang tulus, tapi lebih seperti senyum yang ia pasang di wajahnya seperti topeng. Senyum yang ia pelajari selama bertahun-tahun hidup dalam keluarga yang mengajarkannya untuk selalu terlihat tenang, meskipun di dalam dadanya ada badai yang tak bisa ia kendalikan.Rion menatapnya sesaat. Kemudian ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan mengangkat cangkir kopinya sekali lagi."Apakah kau sudah tahu cara untuk bersosialisasi di sini?"Pertanyaan itu terdengar sederhana. Sopan. Sepertinya basa-basi yang wajar dari seorang adik ipar yang peduli.Tapi Helena tahu lebih baik.Dalam keluarga bangsawan seperti ini, setiap pertanyaan punya lapisan. Setiap kata punya makna tersembunyi. Dan cara Rion menatapnya saat bertanya itu seolah ia sedang mengukur sesuatu. Helena meletakkan cangkir tehnya."Madam Carol memberikan saya petunjuk," jawabnya dengan nada yang terukur. "Saya akan mendatangi undangan pesta teh dari setiap Nyonya Bangsawan yang mengundang."Helen
Entah sudah berapa kali. Helena tidak lagi menghitung. Tubuhnya terlalu lelah untuk mengingat. Setiap kali ia merasa semuanya sudah berakhir, pria itu kembali mendekat. Malam terasa begitu panjang hingga Helena tak lagi mampu membedakan waktu.Dan malam ini berbeda dari malam-malam sebelumnya. Sebab sebelumnya, suaminya tidak pernah datang. Kamar itu selalu gelap dan sunyi. Helena menunggu di atas kasur yang dingin, mendengarkan langkah kaki yang tak pernah terdengar di balik pintu. Malam demi malam, hingga akhirnya ia berhenti berharap.Tapi malam ini berbeda.Pagi perlahan menyusup melalui celah tirai. Cahaya matahari menyentuh wajah Helena dan membuatnya membuka mata. Tubuhnya terasa sangat berat. Pahanya terasa pegal, pinggulnya nyeri, dan tubuhnya masih menyimpan sisa kelelahan malam tadi.Helena mencoba bangun, namun tubuhnya langsung terasa sakit."Ahh..."Desahan kecil lolos dari bibirnya ketika ia bergerak. Ia menunduk dan baru menyadari bahwa dirinya masih telanjang. Semalam
Kemudian ia merasakan tarikan napas yang berat, sedikit lebih dalam dari biasanya yang memecah keheningan.Satu kata tak terucap. Tapi Helena tahu. Sebelum kakinya sempat melangkah, tangan yang mencengkeram pinggangnya bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan.Ia didorong.Punggung Helena menabrak kasur. Kain sprei yang dingin menyentuh kulitnya yang masih hangat, kontras yang membuat tubuhnya tersentak. Sebelum ia sempat memproses apa yang terjadi, berat tubuh yang besar sudah menindihnya."Suamiku—"Kata-katanya tertelan.Bibirnya disergap, mengeksplorasi setiap sudut dengan keserakahan yang tak memberi ruang untuk bernapas. Helena tak bisa melihat wajah yang ada di atasnya, hanya gelap, hanya siluet, hanya kehangatan yang menelan seluruh panca inderanya.Tangannya bergerak refleksif ke dada bidang di atasnya. Jari-jarinya mencengkeram kain kemeja, menarik, mencoba menemukan pegangan di tengah badai sensasi.Kemudian suara robekan. Kain sutra yang tipis tak mampu bertahan. Gaun ti
Helena tidak segera menjawab.Ia hanya menatap Rose dengan tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan kemarahan ataupun rasa kecewa. Sikap itu justru membuat senyum penuh kemenangan di wajah Rose perlahan kehilangan maknanya. Wanita itu tampak menunggu Helena membantah, atau setidaknya menunjukkan luka atas setiap kata yang baru saja ia ucapkan.Namun yang muncul hanyalah keheningan. Beberapa saat kemudian, Helena menghela napas pelan."Saya memang dihukum." Nada suaranya terdengar datar, seolah sedang menyampaikan sebuah kenyataan yang telah ia terima. "Itu sesuatu yang tidak saya bantah."Tatapannya tetap tertuju pada Rose."Namun pada hari yang sama, suami saya juga menenangkan saya."Untuk pertama kalinya, senyum Rose sedikit goyah. Helena melanjutkan ucapannya dengan tenang, tanpa meninggikan suara sedikit pun."Beliau mengatakan bahwa bagaimanapun hubungan dengan keluarga anda adalah sesuatu yang tidak bisa dirusak dan saya harus selalu bersikap baik pada Anda."Kalimat itu membuat R
Entah mengapa, ucapan Rion terus terngiang di benak Helena bahkan setelah pria itu selesai berbicara. Kalimat-kalimatnya terdengar sederhana, tetapi seolah menyimpan makna lain yang tidak ia ucapkan secara langsung. Rasanya seperti sebuah peringatan, namun di saat yang sama juga terdengar seperti seseorang yang sedang berusaha melindunginya dengan cara yang paling halus.Helena tidak benar-benar mengerti apa yang dimaksud Rion. Namun satu hal yang ia sadari, adik ipar itu tidak pernah sekalipun memaksanya mencari jawaban. Rion selalu memintanya menunggu, seolah percaya bahwa waktulah yang akan menjelaskan semuanya.Rion menghela napas pelan dan berkata, "Tidak perlu terlalu dipikirkan, Kakak Ipar. Untuk sekarang, lebih baik Anda fokus memulihkan kesehatan."Helena menganggukkan kepalanya pelan."Tentu saja."Rion hanya membalas dengan anggukan kecil. Keheningan kembali memenuhi ruangan. Helena sebenarnya ingin mengakhiri percakapan itu, tetapi ada satu pertanyaan yang sejak tadi terus
Helena masih memegang surat itu cukup lama. Tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari tulisan tangan Rezef, tetapi pikirannya justru semakin dipenuhi kebingungan. Ia ingin mempercayai setiap kata yang ditulis suaminya, namun kejadian hari ini membuatnya sulit mengabaikan kenyataan.Apa sebenarnya alasan Rezef melakukan semua ini?Ia menghembuskan napas panjang, lalu melipat surat itu dengan hati-hati sebelum meletakkannya kembali di atas nakas.Dorote yang sejak tadi berdiri tidak jauh darinya akhirnya melangkah mendekat. Pelayan itu membawa selimut tebal di kedua tangannya. Wajahnya masih menyiratkan kekhawatiran, terlebih setelah dokter mengatakan tubuh Helena membutuhkan banyak istirahat."Nyonya," ucap Dorote lembut sambil membentangkan selimut, "lebih baik Anda berbaring. Tubuh Anda belum benar-benar pulih."Helena menggeleng pelan."Aku rasa... aku harus menunggu."Dorote menghentikan gerakannya dan menatap Helena dengan bingung."Suami saya mengatakan bahwa kami akan berte
Helena keluar dari ruangan kerja Tom dengan langkah tenang. Dokumen yang baru saja diberikan kepadanya masih berada di tangannya, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada lembaran-lembaran kertas itu.Ucapan Tom terus terngiang di kepalanya.Pria itu tidak pernah berbicara kasar. Bahkan sel
Helena menurunkan pandangannya sesaat. Jemarinya bergerak pelan di atas tepi dokumen yang masih terbuka di hadapannya.“Tidak seperti itu maksud saya.”Tom menunggu dengan sabar, memberi ruang baginya untuk melanjutkan tanpa menyela.Helena menarik napas pendek.“Saya tidak pernah melihat wajahnya.
Helena duduk tegak di kursinya sambil menatap dokumen yang terbuka di hadapannya.Sejak beberapa menit terakhir, pandangannya terus bergerak dari satu halaman ke halaman lain, tetapi pikirannya tidak benar-benar fokus membaca.Ruangan kerja kepala pelayan itu terasa jauh lebih resmi dibanding tempa
Tidak ada perubahan sedikit pun pada wajah Rion setelah mendengar pertanyaan itu.Pria itu hanya menatap Helena dalam diam selama beberapa detik. Wajah tampannya tetap tenang, nyaris tanpa ekspresi, sementara sorot mata merah gelapnya sulit ditebak seperti biasa.Tidak terlihat terkejut. Tidak terl







