LOGINMalam sudah tiba,Helena berbaring di atas ranjang sambil menatap langit-langit. Gaun tidur tipis yang dikenakannya dipilihnya sendiri malam ini karena ia sudah mengambil keputusan. Ia tidak bisa melupakan kata-kata Dorote, terlebih saat mengingat keadaan Elvard.Elvard, kerajaan tempat ia dibesarkan, sedang mengalami kesulitan. Sebagai anak seorang selir, Helena tidak pernah benar-benar dianggap di istana. Ia tumbuh dengan perlakuan dingin, sering diabaikan, dan selalu berada di bawah bayang-bayang saudara-saudaranya yang lahir dari ratu.Perang dan kepemimpinan ayahnya yang buruk membuat keadaan kerajaan semakin memburuk, dan kini pernikahannya dengan Marquess Laurent menjadi satu-satunya harapan yang tersisa bagi keluarganya. Demi ibunya yang masih berada di Elvard, Helena tahu ia harus melakukan apa pun yang diperlukan.Lampu telah dimatikan, meninggalkan kamar Helena dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya bulan dari jendela. Helena berbaring di atas ranjang dengan mata terbu
Helena menatap Rion dengan bingung."Surat apa maksud Anda?"Ekspresi yang sedikit berbeda. Alisnya berkerut tipis seolah baru menyadari ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya."Kau tidak menerima surat dari orang tuamu?"Helena menggeleng.Ia bahkan langsung melirik tumpukan surat yang masih memenuhi meja kerjanya. Sejak tadi ia belum sempat membuka semuanya, tetapi ia cukup yakin tidak melihat segel Kerajaan Elvard di antara surat-surat tersebut."Tidak ada."Jawabannya membuat Rion terdiam sesaat. Tatapan pria itu beralih ke arah meja sebelum suara decihan pelan terdengar dari bibirnya.Helena mengangkat kepala. Ia mulai mengenal Rion cukup lama untuk mengetahui bahwa pria itu bukan orang yang mudah menunjukkan ketidaksenangan. Karena itu, reaksi sekecil apa pun darinya terasa jauh lebih jelas."Ada apa?"Tanpa menjawab, Rion membuka map yang dibawanya lalu mengeluarkan sebuah surat. Amplop berwarna krem dengan lambang kerajaan yang begitu familiar langsung membuat pa
Helena mengangkat pandangannya. Suara wanita itu terdengar tenang, namun ada ketegasan di dalamnya."Itulah identitas Anda sekarang."Helena terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan. Ia memahami maksud perkataan tersebut.Sejak melangkahkan kaki ke Kastel Laurent, banyak hal telah berubah. Namanya masih Helena, tetapi kehidupannya tidak lagi sama. Ia bukan lagi putri yang hidup di bawah bayang-bayang istana kerajaan. Ia juga bukan lagi gadis yang dapat mengabaikan pandangan orang lain begitu saja.Sekarang ia adalah istri seorang Marquess. Dan bersama gelar itu datang tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri. Madam Carol tersenyum tipis ketika melihat Helena mengangguk."Namun menjadi seorang Marchioness tidak pernah mudah."Wanita itu mengambil cangkir tehnya dan memutar gagangnya perlahan di antara jemarinya."Banyak orang berpikir tugas seorang nyonya rumah hanya mengurus kastel, mengawasi pelayan, menghadiri pesta, dan tersenyum kepada para tamu."Nada
Helena membeku, ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena jika ada satu orang yang paling tidak mengenal Marquess Laurent, mungkin orang itu adalah dirinya sendiri.Ia bahkan belum pernah melihat wajah suaminya dengan jelas dan belum pernah berbicara dengannya dalam terang. Belum pernah menerima penjelasan apa pun mengenai banyak hal yang terjadi di kastel ini.Lalu bagaimana mungkin seseorang mengatakan bahwa pria itu menghormatinya?Melihat kebingungan di wajah Helena, Madam Carol tersenyum."Amulet yang Anda kenakan adalah bukti pertama."Helena menunduk memandang benda itu."Lalu bukti kedua adalah kenyataan bahwa tidak seorang pun di kastel ini berani memperlakukan Anda sebagai pajangan."Kening Helena sedikit berkerut. Madam Carol terkekeh pelan."Percayalah, Marchioness. Ada banyak wanita bangsawan yang hidup mewah tetapi tidak memiliki kekuasaan apa pun di rumah mereka sendiri."Tatapan wanita itu beralih ke arah jendela."Namun sejak saya memasuki kastel ini pagi tadi, saya me
Rion pergi begitu saja setelah percakapan itu berakhir, meninggalkan Helena sendirian di meja makan bersama pikirannya yang masih belum tenang. Ia menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup beberapa saat lamanya sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.Entah bagaimana caranya, pria itu selalu berhasil membuatnya kesal sekaligus tidak mampu membantah. Padahal ia datang dengan keyakinan bahwa Rion telah mengadukannya kepada Rezef, tetapi sekarang justru dirinya sendiri yang dipenuhi keraguan.Jika bukan Rion, lalu bagaimana suaminya bisa mengetahui apa yang terjadi di taman istana? Pertanyaan itu terus berputar di benaknya tanpa menemukan jawaban.Helena akhirnya mengalihkan perhatian dari hal tersebut dan mengambil cangkir tehnya yang sudah mulai dingin. Namun bahkan sebelum ia sempat meminumnya, langkah kaki pelan terdengar mendekat. Dorote berhenti di samping kursinya lalu membungkukkan badan dengan hormat."Nyonya."Helena mengangkat pandangan."Ada apa?""Saya sudah meletakk
Pertanyaan itu keluar begitu saja tanpa peringatan.Beberapa pelayan yang sedang berjaga di sekitar ruang makan langsung menundukkan kepala lebih dalam. Tidak seorang pun berani mengangkat wajah, seolah berharap mereka tidak mendengar apa pun dari percakapan tersebut.Di seberang meja, Rion mengangkat pandangannya dari dokumen yang sedang dibaca. Tatapan mata gelap itu jatuh tepat pada Helena yang sejak tadi menatapnya dengan penuh tuntutan.Namun tidak ada keterkejutan di wajah pria itu, bahkan tidak ada pula rasa bersalah. Ia terlihat terlalu tenang."Menurutmu?"Helena mengerutkan kening."Saya sedang bertanya."Rion tidak segera menjawab. Ia hanya menatap Helena beberapa saat sebelum menutup dokumen di tangannya. Sikap tenang itu justru membuat Helena semakin kesal.Ia menarik napas panjang."Saya tidak bisa menemukan alasan lain mengapa beliau tiba-tiba marah."Alis Rion terangkat tipis."Marah?""Benar." Helena mengangguk pelan. "Beliau marah setelah pertemuan di istana."Rion h
Helena baru saja akan menjawab pertanyaan Adriel ketika suara langkah kaki terdengar dari arah jalan setapak yang membelah taman. Langkah itu tidak tergesa-gesa, namun cukup tegas untuk menarik perhatian mereka berdua.Ia menoleh bersamaan dengan sang putra mahkota.Di antara deretan pepohonan yang
Helena mengangguk pelan. Ia tidak terkejut jika Adriel mengenalnya. Rumor mengenai pernikahannya dengan Marquess Laurent pasti sudah menyebar ke seluruh ibu kota.Tapi tatapan sang pangeran membuatnya merasa seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Sesuatu yang tidak diucapkan."Sekali lagi sa
Helena tertegun setelah mendengar perkenalan pria itu.Sesaat, ia benar-benar mengira bahwa lelaki yang baru saja memasuki aula adalah Rezef Laurent, suaminya. Entah karena posturnya yang tinggi, suaranya yang rendah, atau aura dingin yang mengelilinginya, ada sesuatu dalam diri pria itu yang membu
"Ah...""Ah. Ah... Hah.."Napas Helena keluar dalam hembusan pendek dan berat, dadanya naik turun tak beraturan di bawah bobot tubuh Marquess Laurent.Rambutnya kusut, menempel di leher dan dahinya yang memerah. Seluruh tubuhnya terasa seperti terbakar panas yang mengalir dari titik pertemuan merek







