LOGINTidak ada perubahan sedikit pun pada wajah Rion setelah mendengar pertanyaan itu.
Pria itu hanya menatap Helena dalam diam selama beberapa detik. Wajah tampannya tetap tenang, nyaris tanpa ekspresi, sementara sorot mata merah gelapnya sulit ditebak seperti biasa.
Tidak terlihat terkejut. Tidak terlihat gugup. Seolah pertanyaan yang baru saja diajukan Helena bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu lama.
Kemudian Rion sedikit membungkukkan tubuhnya. Gerakan itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka menyempit.
Helena refleks menahan napas.
“Sepertinya kakak saya tidak ingin melewatkan malam pertamanya bersama sang istri,” ucap Rion akhirnya. Suaranya rendah dan tenang, mengalir begitu saja tanpa keraguan sedikit pun. “Jadi semalam beliau memutuskan untuk datang ke kamar Anda.”
Helena terdiam karena jawaban itu terdengar sangat masuk akal.
Bukankah memang itu yang seharusnya terjadi? Rezef Laurent adalah suaminya. Tidak peduli seburuk apa pun kondisi kesehatannya, tidak ada yang aneh jika ia tetap datang menemui istrinya pada malam pertama pernikahan mereka.
Tapi setelah mendengar penjelasan itu, kegelisahan di dalam dada Helena justru tidak ikut menghilang.
Ia meneguk ludah pelan. Kesalahannya sendiri karena membiarkan pikirannya berlari terlalu jauh.
Kini, dengan posisi Rion yang berdiri begitu dekat, Helena justru menjadi terlalu sadar akan keberadaan pria itu. Aroma tubuhnya yang samar, wangi khas yang bersih dan maskulin, kembali memenuhi inderanya. Dan tanpa diundang, ingatan tentang malam sebelumnya muncul lagi di benaknya.
“Kalau begitu...” Helena memaksa dirinya tersenyum tipis. “Saya mengerti.”
Rion menatapnya beberapa saat, seolah mencoba membaca sesuatu dari wajahnya.
“Benarkah?”
Pertanyaan itu membuat Helena kembali mengangkat pandangan.
Untuk sesaat mata mereka bertemu. Ada sesuatu dalam tatapan Rion yang membuatnya sulit merasa nyaman. Bukan karena pria itu kasar atau mengintimidasi, justru sebaliknya.
Rion terlalu tenang. Seolah apa pun yang terjadi di sekitarnya tidak pernah benar-benar mampu mengusik dirinya. Dan anehnya, ketenangan itu justru terasa lebih berbahaya daripada kemarahan.
“Baiklah,” ucapnya pelan. “Nikmati sarapan Anda.”
Helena mengerjapkan mata.
“Dan Anda?”
“Saya tidak bisa menemani Anda sampai selesai.”
“Karena pekerjaan?”
“Karena kakak saya sakit.”
Jawaban itu datang begitu mudah, seolah sudah sering diucapkan berkali-kali.
Rion meluruskan lengan jas hitamnya sebelum melanjutkan, “Sebagian besar urusan keluarga sekarang berada di tangan saya. Ada beberapa hal yang harus saya selesaikan pagi ini.”
Helena mengangguk perlahan.
“Kalau begitu semoga pekerjaan Anda berjalan lancar, Tuan Rion.”
“Terima kasih, Kakak Ipar.”
Rion menundukkan kepala sedikit sebagai bentuk penghormatan sebelum berbalik menuju pintu aula.
Helena memperhatikannya tanpa sadar.
Langkah pria itu tetap sama seperti sebelumnya. Tenang, mantap, dan penuh kendali. Tidak terburu-buru, tetapi juga tidak lambat. Setiap gerakannya selalu terlihat begitu pasti, seolah ia tahu persis ke mana harus melangkah dan apa yang harus dilakukan.
Sampai akhirnya sosok tinggi itu menghilang di balik pintu.
Helena menghela napas panjang begitu pintu aula tertutup di belakang Rion. Ia hanya duduk diam sambil menatap cangkir teh di hadapannya. Permukaan cairan keemasan itu memantulkan bayangan wajahnya yang samar.
Lalu tanpa sadar ia menggeleng kecil.
"Sebenarnya apa yang sedang kupikirkan?" gumamnya pelan.
Bahkan bagi dirinya sendiri, pikiran-pikiran yang sejak tadi memenuhi kepalanya terasa konyol.
Berusaha mengusir pikirannya sendiri, Helena kembali fokus pada sarapan yang tersaji di hadapannya. Ia memotong roti dengan tenang, lalu memakannya perlahan sambil menikmati teh yang mulai mendingin.
Meski begitu, ia tetap menyadari sesuatu.
Ada banyak yang memperhatiakannya, para pelayan memang terlatih untuk tidak menatap majikan mereka secara terang-terangan, tetapi Helena dibesarkan di lingkungan istana. Ia tahu kapan seseorang sedang memperhatikannya.
Helena meletakkan serbet di samping piringnya.
"Dorote."
Pelayan wanita tua yang sejak tadi berdiri tidak jauh darinya segera melangkah maju.
"Ya, Nyonya?"
"Aku sudah selesai."
Dorote membungkukkan kepala.
"Kalau begitu, setelah ini saya akan menemani Anda bertemu dengan Tuan Tom."
Helena mengernyit pelan.
"Siapa Tom?"
Dorote terlihat sedikit terkejut.
"Beliau adalah kepala pelayan kastel, Nyonya."
Helena menatap wanita itu beberapa saat.
"Lalu kau?"
Dorote tersenyum tipis.
"Saya hanya asistennya."
Helena benar-benar terdiam kali ini.
Entah mengapa, ia selalu mengira Dorote adalah kepala pelayan utama. Wanita itu yang menyambutnya sejak pertama kali tiba, yang mengurus kebutuhan pribadinya, bahkan yang menemaninya sejak malam pernikahan.
Melihat ekspresinya, Dorote segera menambahkan penjelasan.
"Tuan Tom mengurus seluruh urusan kastel dan kebutuhan Tuan Marquess. Karena itu beliau sangat jarang meninggalkan tugasnya."
Wanita tua itu tersenyum sopan.
"Sementara saya ditugaskan untuk melayani Anda selama Anda tinggal di kastel ini."
Helena mengalihkan pandangannya.
Kalimat itu terdengar sederhana tapi Helena cukup mengerti makna yang tersembunyi di baliknya. Itu adalah cara yang lebih halus untuk mengatakan selama Anda masih menjadi Nyonya Laurent.
Selama pernikahan ini masih ada dan selama dirinya masih memiliki hubungan dengan keluarga Laurent.
Pikiran itu membuat dadanya terasa sedikit berat. Baru kemarin ia tiba di sini sebagai pengantin baru, tetapi entah mengapa kata-kata Dorote membuat kastel ini terasa semakin asing.
Seolah tempat ini belum benar-benar menganggapnya bagian dari keluarga.
Helena bangkit dari kursinya dengan tenang.
"Baiklah."
Dorote segera menundukkan kepala.
"Nyonya?"
"Tunjukkan jalannya."
Helena menundukkan pandangannya. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan, sementara senyum tipis yang muncul di bibirnya sama sekali tidak mengandung kebahagiaan."Saya bahkan tidak melakukan apa-apa."Suaranya pelan, hampir seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri."Saya hanya mengatakan bahwa Lady Rose adalah orang luar dan seharusnya tidak ikut campur dalam urusan keluarga Laurent."Ia terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan."Tetapi hanya karena kalimat itu... saya dikurung di ruang hukuman selama berjam-jam."Helena mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya bertemu dengan mata Rion, tetapi kali ini tidak ada kemarahan di sana.Hanya rasa lelah."Kalau begitu..." Ia tersenyum tipis. "Sepertinya saya mulai mengerti."Rion masih diam.Helena menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya."Lady Rose benar-benar seseorang yang tidak boleh dibuat tersinggung."Keheningan memenuhi ruangan. Beberapa saat kemudian, Helena kembali berkata dengan suara yang jauh lebih
Menjelang sore, kesunyian yang sejak tadi menyelimuti ruang hukuman akhirnya terusik.Dari balik pintu besi terdengar derap langkah yang terburu-buru menyusuri lorong batu. Suaranya semakin lama semakin dekat, diiringi gema sepatu yang memantul di dinding-dinding dingin bawah tanah.Helena yang sejak tadi hanya terduduk bersandar di dinding perlahan mengangkat kepalanya.Ia sudah terlalu lama berada di ruangan itu hingga tubuhnya mulai terasa kaku. Cahaya matahari yang semula masuk melalui jendela kecil kini berubah menjadi semburat jingga, menandakan berjam-jam telah berlalu sejak dirinya dibawa ke tempat itu.Belum sempat ia menebak siapa yang datang, sebuah suara keras menggema di sepanjang lorong."Apa maksud semua ini?" Suara itu begitu tegas hingga membuat seluruh lorong mendadak sunyi.Helena langsung mengenalinya.Rion.Beberapa penjaga yang berjaga di depan ruang hukuman tampak gugup. Salah seorang di antaranya buru-buru membungkukkan badan."Tu-Tuan Rion...""Aku bertanya."
Helena melipat kembali surat itu dengan sangat hati-hati, lalu menyimpannya di dalam laci nakas, berdampingan dengan barang-barang yang paling ia jaga. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menjadi Marchioness Laurent, ia menutup matanya dengan hati yang sedikit lebih ringan.Karena kini ia tidak lagi merasa berjalan sendirian. Di balik segala rahasia yang masih menyelimuti pernikahan mereka, suaminya telah memberikan sebuah jawaban.Jawaban yang sederhana.Namun cukup untuk membuat Helena percaya bahwa suatu hari nanti, mereka benar-benar akan bertemu tanpa lagi dipisahkan oleh kegelapan ataupun selembar surat.Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Rezef kembali datang ke kamar Helena.Ruangan kembali tenggelam dalam kegelapan, hanya menyisakan keheningan yang perlahan berubah menjadi kehangatan. Tidak ada banyak kata yang terucap di antara mereka. Hubungan mereka masih dipenuhi misteri, tetapi untuk pertama kalinya Helena merasakan sesuatu yang berbeda.Malam itu, Rezef memper
Helena menghela napas pelan sebelum akhirnya mengangguk.“Baiklah,” ucapnya lirih. “Saya mengerti.”Ia tidak ingin lagi memperpanjang pembicaraan mengenai Rose. Wanita itu sudah pergi, dan Helena merasa tidak ada gunanya membiarkan suasana malam menjadi semakin buruk karena pertengkaran yang tidak akan menghasilkan apa-apa.Beberapa saat mereka hanya berdiri dalam diam. Cahaya lampu gantung memantulkan bayangan lembut di lantai marmer aula, sementara suara angin malam terdengar samar dari luar jendela.Namun satu pertanyaan masih terus mengganggu pikiran Helena sejak pagi tadi. Ia menatap Rion yang tampak hendak pergi, lalu memanggilnya pelan.“Tuan Rion.”Pria itu menghentikan langkah dan menoleh.“Ya?”Helena menggenggam ujung lengan gaunnya sebelum akhirnya bertanya dengan hati-hati.“Apakah Anda benar-benar akan pergi berperang?”Rion terdiam sejenak. Tatapannya beralih ke arah halaman kastel yang gelap sebelum kembali kepada Helena.“Untuk saat ini aku hanya diperintahkan mengawa
Kalimat itu diucapkan Helena dengan tenang. Justru karena itulah, ucapannya terasa semakin tajam. Senyum di wajah Rose perlahan menghilang, dan untuk pertama kalinya malam itu ekspresinya benar-benar berubah. Di sekitar aula, para pelayan hanya menundukkan kepala tanpa berani ikut campur.Rion berdiri diam sambil memandang Helena dan Rose bergantian. Untuk pertama kalinya ia merasa Helena benar-benar telah berubah. Wanita itu tidak lagi hanya bertahan, tetapi mulai memahami posisinya sebagai Marchioness Laurent dan tahu bagaimana mempertahankannya tanpa kehilangan harga dirinya.Rose menatap Helena cukup lama. Wajahnya masih dihiasi senyum, tetapi senyum itu kini terlihat dipaksakan. Tatapannya perlahan berubah tajam, seolah sedang menahan amarah yang mulai sulit disembunyikan."Marchioness," ucapnya pelan, "apakah sekarang kau mulai meremehkanku?"Helena tidak menunjukkan sedikit pun perubahan ekspresi. Ia membalas tatapan Rose dengan tenang, sama sekali tidak terlihat terintimidasi.
Ia mengepalkan jemarinya di atas pangkuan."Aku pernah melihat bagaimana kota berubah menjadi lautan api."Suara Helena tetap tenang. Justru terlalu tenang. Seolah semua itu telah ia pendam begitu lama hingga tidak lagi mampu diungkapkan dengan emosi."Aku pernah melihat orang-orang berlari tanpa tahu ke mana harus menyelamatkan diri." Ia berhenti sejenak. "Lalu keesokan harinya... banyak di antara mereka tidak pernah bangun lagi."Dorote membeku di tempatnya. Ia tidak pernah mendengar Helena membicarakan masa lalunya seperti ini. Helena menundukkan pandangannya."Karena itu..." Ia menghela napas panjang. "Aku tidak akan pernah bisa tenang setiap kali mendengar kata perang."Ruangan kembali hening.Dorote akhirnya memahami. Yang membuat Helena gelisah bukan semata-mata karena Rion mungkin akan berangkat ke medan perang. Melainkan karena perang sendiri telah meninggalkan luka yang tidak terlihat di dalam hati wanita itu. Dorote perlahan meletakkan tangannya di atas meja, tidak berani m
Helena mengerjap pelan. Untuk beberapa saat ia hanya menatap Rion, merasa seolah baru saja salah mendengar apa yang dikatakan pria itu."Aku sudah menikah."Sulit dipercaya.Sejak tiba di Kastel Laurent, ia belum pernah sekalipun mendengar keberadaan seorang istri Rion. Tidak ada potret seorang wan
Helena membeku dan entah mengapa, jawaban sederhana itu membuat kamar yang luas tersebut terasa jauh lebih sunyi.Kata-kata Dorote masih menggantung di udara ketika Helena menatap wanita itu dengan sedikit kebingungan."Tidak akan datang?" ulangnya pelan."Ya, Nyonya."Helena tidak langsung menjawa
Pertanyaan itu belum sempat bergema sepenuhnya di ruangan itu ketika pria itu bergerak.Tanpa satu kata pun, pria bertubuh tinggi besar itu membungkam bibir Helena. Ia tidak menciumnya dengan lembut, ia menyerang. Itu adalah ciuman yang lapar, dominan, dan penuh tuntutan, seolah ia sedang menandai
Hening.Permintaan Helena untuk "kelembutan" tidak dijawab dengan kata-kata. Tidak ada janji, tidak ada bantahan. Hanya ada keheningan yang mencekam, yang justru membuat detak jantung Helena berpacu lebih liar.Namun, keheningan itu pecah oleh satu suara.Hhh...Sebuah embusan napas berat, panas, d






