Share

Bab 3

Author: Lalapoo
last update publish date: 2026-06-08 16:11:45

Tidak ada perubahan sedikit pun pada wajah Rion setelah mendengar pertanyaan itu.

Pria itu hanya menatap Helena dalam diam selama beberapa detik. Wajah tampannya tetap tenang, nyaris tanpa ekspresi, sementara sorot mata merah gelapnya sulit ditebak seperti biasa.

Tidak terlihat terkejut. Tidak terlihat gugup. Seolah pertanyaan yang baru saja diajukan Helena bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu lama.

Kemudian Rion sedikit membungkukkan tubuhnya. Gerakan itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka menyempit.

Helena refleks menahan napas.

“Sepertinya kakak saya tidak ingin melewatkan malam pertamanya bersama sang istri,” ucap Rion akhirnya. Suaranya rendah dan tenang, mengalir begitu saja tanpa keraguan sedikit pun. “Jadi semalam beliau memutuskan untuk datang ke kamar Anda.”

Helena terdiam karena jawaban itu terdengar sangat masuk akal.

Bukankah memang itu yang seharusnya terjadi? Rezef Laurent adalah suaminya. Tidak peduli seburuk apa pun kondisi kesehatannya, tidak ada yang aneh jika ia tetap datang menemui istrinya pada malam pertama pernikahan mereka.

Tapi setelah mendengar penjelasan itu, kegelisahan di dalam dada Helena justru tidak ikut menghilang.

Ia meneguk ludah pelan. Kesalahannya sendiri karena membiarkan pikirannya berlari terlalu jauh.

Kini, dengan posisi Rion yang berdiri begitu dekat, Helena justru menjadi terlalu sadar akan keberadaan pria itu. Aroma tubuhnya yang samar, wangi khas yang bersih dan maskulin, kembali memenuhi inderanya. Dan tanpa diundang, ingatan tentang malam sebelumnya muncul lagi di benaknya.

“Kalau begitu...” Helena memaksa dirinya tersenyum tipis. “Saya mengerti.”

Rion menatapnya beberapa saat, seolah mencoba membaca sesuatu dari wajahnya.

“Benarkah?”

Pertanyaan itu membuat Helena kembali mengangkat pandangan.

Untuk sesaat mata mereka bertemu. Ada sesuatu dalam tatapan Rion yang membuatnya sulit merasa nyaman. Bukan karena pria itu kasar atau mengintimidasi, justru sebaliknya.

Rion terlalu tenang. Seolah apa pun yang terjadi di sekitarnya tidak pernah benar-benar mampu mengusik dirinya. Dan anehnya, ketenangan itu justru terasa lebih berbahaya daripada kemarahan.

“Baiklah,” ucapnya pelan. “Nikmati sarapan Anda.”

Helena mengerjapkan mata.

“Dan Anda?”

“Saya tidak bisa menemani Anda sampai selesai.”

“Karena pekerjaan?”

“Karena kakak saya sakit.”

Jawaban itu datang begitu mudah, seolah sudah sering diucapkan berkali-kali.

Rion meluruskan lengan jas hitamnya sebelum melanjutkan, “Sebagian besar urusan keluarga sekarang berada di tangan saya. Ada beberapa hal yang harus saya selesaikan pagi ini.”

Helena mengangguk perlahan.

“Kalau begitu semoga pekerjaan Anda berjalan lancar, Tuan Rion.”

“Terima kasih, Kakak Ipar.”

Rion menundukkan kepala sedikit sebagai bentuk penghormatan sebelum berbalik menuju pintu aula.

Helena memperhatikannya tanpa sadar.

Langkah pria itu tetap sama seperti sebelumnya. Tenang, mantap, dan penuh kendali. Tidak terburu-buru, tetapi juga tidak lambat. Setiap gerakannya selalu terlihat begitu pasti, seolah ia tahu persis ke mana harus melangkah dan apa yang harus dilakukan.

Sampai akhirnya sosok tinggi itu menghilang di balik pintu.

Helena menghela napas panjang begitu pintu aula tertutup di belakang Rion. Ia hanya duduk diam sambil menatap cangkir teh di hadapannya. Permukaan cairan keemasan itu memantulkan bayangan wajahnya yang samar.

Lalu tanpa sadar ia menggeleng kecil.

"Sebenarnya apa yang sedang kupikirkan?" gumamnya pelan.

Bahkan bagi dirinya sendiri, pikiran-pikiran yang sejak tadi memenuhi kepalanya terasa konyol.

Berusaha mengusir pikirannya sendiri, Helena kembali fokus pada sarapan yang tersaji di hadapannya. Ia memotong roti dengan tenang, lalu memakannya perlahan sambil menikmati teh yang mulai mendingin.

Meski begitu, ia tetap menyadari sesuatu.

Ada banyak yang memperhatiakannya, para pelayan memang terlatih untuk tidak menatap majikan mereka secara terang-terangan, tetapi Helena dibesarkan di lingkungan istana. Ia tahu kapan seseorang sedang memperhatikannya.

Helena meletakkan serbet di samping piringnya.

"Dorote."

Pelayan wanita tua yang sejak tadi berdiri tidak jauh darinya segera melangkah maju.

"Ya, Nyonya?"

"Aku sudah selesai."

Dorote membungkukkan kepala.

"Kalau begitu, setelah ini saya akan menemani Anda bertemu dengan Tuan Tom."

Helena mengernyit pelan.

"Siapa Tom?"

Dorote terlihat sedikit terkejut.

"Beliau adalah kepala pelayan kastel, Nyonya."

Helena menatap wanita itu beberapa saat.

"Lalu kau?"

Dorote tersenyum tipis.

"Saya hanya asistennya."

Helena benar-benar terdiam kali ini.

Entah mengapa, ia selalu mengira Dorote adalah kepala pelayan utama. Wanita itu yang menyambutnya sejak pertama kali tiba, yang mengurus kebutuhan pribadinya, bahkan yang menemaninya sejak malam pernikahan.

Melihat ekspresinya, Dorote segera menambahkan penjelasan.

"Tuan Tom mengurus seluruh urusan kastel dan kebutuhan Tuan Marquess. Karena itu beliau sangat jarang meninggalkan tugasnya."

Wanita tua itu tersenyum sopan.

"Sementara saya ditugaskan untuk melayani Anda selama Anda tinggal di kastel ini."

Helena mengalihkan pandangannya.

Kalimat itu terdengar sederhana tapi Helena cukup mengerti makna yang tersembunyi di baliknya. Itu adalah cara yang lebih halus untuk mengatakan selama Anda masih menjadi Nyonya Laurent.

Selama pernikahan ini masih ada dan selama dirinya masih memiliki hubungan dengan keluarga Laurent.

Pikiran itu membuat dadanya terasa sedikit berat. Baru kemarin ia tiba di sini sebagai pengantin baru, tetapi entah mengapa kata-kata Dorote membuat kastel ini terasa semakin asing.

Seolah tempat ini belum benar-benar menganggapnya bagian dari keluarga.

Helena bangkit dari kursinya dengan tenang.

"Baiklah."

Dorote segera menundukkan kepala.

"Nyonya?"

"Tunjukkan jalannya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 97

    Helena tetap berdiri di tempatnya setelah Rose pergi. Baru ketika pintu balkon benar-benar tertutup dan langkah kaki wanita itu tak lagi terdengar, ia membiarkan bahunya sedikit mengendur.Ia mengembuskan napas panjang.Akhirnya. Setidaknya untuk beberapa saat, ia bisa bernapas tanpa harus memikirkan kata-kata yang sengaja dilemparkan kepadanya.Helena mengangkat wajah, membiarkan angin malam menyentuh pipinya. Udara di balkon terasa jauh lebih dingin dibandingkan suasana di dalam aula, tetapi justru itulah yang ia butuhkan.Pesta ini ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan. Ia datang hanya untuk menghadiri sebuah acara. Namun sepanjang malam, ia harus menghadapi tatapan orang-orang, bisikan mengenai Rezef, sindiran Rose, bahkan rumor tentang dirinya dan Rion.Helena menundukkan pandangan. Ia masih teringat perkataan Rose. Helena tidak ingin memikirkannya.Pernikahannya dengan Rezef memang berbeda dari kebanyakan pernikahan bangsawan lainnya. Tidak ada kemesraan yang

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 96

    Rion kembali menatap Helena."Kalau kita berhenti sekarang hanya karena mereka berbicara, bukankah itu justru membuat mereka semakin yakin bahwa ada sesuatu?"Helena terdiam. Ia membenci kenyataan bahwa perkataan Rion masuk akal."Jadi kita terus saja?""Ya."Rion kembali menggerakkan langkahnya."Biarkan mereka melihat sesuatu yang memang tidak salah."Helena tidak menjawab.Ia hanya mengikuti gerakannya. Musik terus mengalun, dan mereka kembali berputar di tengah lantai dansa.Dari luar, mereka memang terlihat seperti pasangan yang serasi. Rion memimpin dengan tenang, sementara Helena mengikuti langkahnya dengan anggun. Tidak ada yang mengetahui bahwa wanita itu justru sedang berusaha keras menjaga jarak di dalam pikirannya.Tidak ada yang mengetahui bahwa setiap kali tangan Rion menyentuhnya, Helena teringat pada malam yang seharusnya tidak pernah terjadi.Dan mungkin itulah yang paling membuatnya gelisah. Bukan tatapan para bangsawan. Bukan pula bisikan Rose. Melainkan kenyataan b

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 95

    Helena menarik napas perlahan. Ia mulai memahami apa yang dilakukan Rose. Wanita itu tidak pernah secara langsung mengatakan bahwa Helena menyukai Rion atau bahwa pernikahannya dengan Rezef sedang bermasalah. Rose hanya melemparkan kalimat-kalimat samar, lalu membiarkan orang lain membuat kesimpulan sendiri.Helena tidak perlu mendengar bisikan mereka untuk mengetahui apa yang sedang dibicarakan. Tatapan beberapa bangsawan yang sesekali beralih dari dirinya kepada Rion sudah cukup menjelaskan semuanya.Ia menegakkan tubuh dan memilih untuk tidak menanggapi.Jika ia membantah setiap perkataan, justru akan terlihat seolah-olah dirinya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Lebih baik membiarkan mereka berbicara sampai bosan sendiri.Namun ketika Helena tanpa sengaja menoleh kepada Rion, pria itu sedang memandangnya. Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik. Tidak ada senyum. Tidak ada kata-kata. Tetapi tatapan itu membuat Helena kembali teringat pada satu hal yang selama ini berusah

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 94

    Begitu memasuki aula, Helena segera menyadari bahwa suasananya jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan. Para bangsawan telah memenuhi ruangan, sebagian berdiri dalam kelompok-kelompok kecil sambil berbincang, sementara yang lain duduk di sekitar meja panjang yang dipenuhi hidangan dan minuman. Kilauan lampu kristal memenuhi langit-langit, memantulkan cahaya ke lantai marmer dan gaun-gaun mewah yang dikenakan para wanita.Namun sebelum Helena sempat memperhatikan lebih jauh, Rion sudah membimbingnya menuju bagian tengah aula."Yang Mulia ada di sana."Helena mengikuti arah pandangnya. Kaisar berdiri bersama beberapa pejabat dan bangsawan tinggi. Begitu melihat mereka mendekat, percakapan di sekitar kelompok itu perlahan mereda.Helena menarik napas kecil. Ia kemudian berdiri sedikit lebih tegak. Rion berhenti beberapa langkah di hadapan Kaisar, lalu menundukkan kepala dengan hormat. Helena segera melakukan hal yang sama."Salam hormat, Yang Mulia."Kaisar memandang mereka berdua se

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 93

    Rion terdiam mendengar jawaban Helena. Tatapannya sempat beralih pada cadar tipis yang menutupi sebagian wajah wanita itu, kemudian kembali pada matanya. Beberapa detik berlalu sebelum sudut bibirnya terangkat sedikit."Jadi Anda takut orang-orang mengira saya pasangan Anda?"Helena langsung mengerutkan kening. "Jangan mengatakan sesuatu seperti itu."Nada suaranya terdengar lebih tegas daripada yang ia maksudkan. Namun Rion justru terkekeh pelan, sama sekali tidak terlihat tersinggung."Saya hanya bertanya.""Anda tahu apa yang saya maksud.""Saya tahu."Jawaban Rion begitu singkat. Setelah itu ia tidak lagi menggoda Helena. Ia hanya berbalik menuju kereta yang telah menunggu di depan mereka, lalu membuka pintunya dengan tenang."Silakan."Helena hanya menatap Rion sebentar sebelum masuk ke dalam kereta. Rion menyusul setelah memastikan Helena duduk dengan nyaman, lalu mengambil tempat di seberangnya.Kereta mulai berjalan meninggalkan Kastel Laurent. Helena memandang keluar jendela,

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 92

    Malam itu, setelah kembali ke kamar, Helena masih memikirkan perkataan Rion sebelum mereka berpisah. Helena duduk di depan meja rias dengan rambut terurai. Ia sudah berganti pakaian, tetapi kalung dengan batu permata merah dari Rezef masih terpasang di lehernya. Ia menyentuhnya perlahan.Entah mengapa, Helena merasa heran. Bukankah seharusnya Rion lebih mengingat bros pemberiannya sendiri? Bros berlambang keluarga Laurent itu masih tersemat di gaunnya.Namun saat mereka berpisah, justru kalung pemberian Rezef yang Rion ingatkan untuk dijaga.Helena mengerutkan kening."Aneh..."Helena memiringkan kepala, mencoba memahami maksud Rion. Mungkin Rion hanya ingin mengingatkannya. Kalung itu bukan perhiasan biasa. Itu hadiah dari Rezef, suaminya, yang diberikan tepat pada hari pesta teh pertamanya dan disaksikan banyak orang.Mungkin Rion hanya mengingatkan bahwa kalung itu penting.Tidak lebih.Helena mengangguk kecil, merasa sudah menemukan alasan yang masuk akal."Ya. Mungkin hanya itu."

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 1

    "Ah...""Ah. Ah... Hah.."Napas Helena keluar dalam hembusan pendek dan berat, dadanya naik turun tak beraturan di bawah bobot tubuh Marquess Laurent.Rambutnya kusut, menempel di leher dan dahinya yang memerah. Seluruh tubuhnya terasa seperti terbakar panas yang mengalir dari titik pertemuan merek

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 7

    Helena akhirnya tersadar dari kebingungan yang sempat menguasai dirinya.Dengan cepat ia mengangkat kedua tangannya lalu mendorong dada Rion hingga pria itu mundur satu langkah. Jarak yang tercipta membuatnya bisa bernapas lebih lega.Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi berusaha ia tek

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 6

    Helena keluar dari ruangan kerja Tom dengan langkah tenang. Dokumen yang baru saja diberikan kepadanya masih berada di tangannya, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada lembaran-lembaran kertas itu.Ucapan Tom terus terngiang di kepalanya.Pria itu tidak pernah berbicara kasar. Bahkan sel

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 5

    Helena menurunkan pandangannya sesaat. Jemarinya bergerak pelan di atas tepi dokumen yang masih terbuka di hadapannya.“Tidak seperti itu maksud saya.”Tom menunggu dengan sabar, memberi ruang baginya untuk melanjutkan tanpa menyela.Helena menarik napas pendek.“Saya tidak pernah melihat wajahnya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status