Share

Bab 4

Author: Lalapoo
last update publish date: 2026-06-08 16:12:09

Helena duduk tegak di kursinya sambil menatap dokumen yang terbuka di hadapannya.

Sejak beberapa menit terakhir, pandangannya terus bergerak dari satu halaman ke halaman lain, tetapi pikirannya tidak benar-benar fokus membaca.

Ruangan kerja kepala pelayan itu terasa jauh lebih resmi dibanding tempat-tempat lain yang telah ia lihat di kastel. Rak-rak tinggi dipenuhi buku catatan dan arsip, sementara meja besar dari kayu gelap di tengah ruangan dipenuhi dokumen yang tersusun rapi.

Pria yang duduk di seberangnya juga jauh berbeda dari bayangannya.

Sebelum datang, Helena membayangkan kepala pelayan kastel Laurent adalah seorang pria tua berusia lanjut yang telah mengabdi selama puluhan tahun.

Namun Tom sama sekali tidak sesuai dengan gambaran itu. Usianya memang terlihat lebih dewasa dibanding Rion, tetapi tidak terlalu jauh.

Wajahnya tampan dengan kesan matang dan tenang, rambutnya tersisir rapi ke belakang tanpa satu helai pun yang keluar dari tempatnya, sementara seragam kepala pelayan yang dikenakannya tampak sempurna hingga ke detail terkecil.

Ia memiliki pembawaan yang membuat orang lain tanpa sadar ingin mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

"Apa Anda memahaminya, Nyonya?"

Suara rendah Tom memecah keheningan.

Helena mengangkat pandangan dari dokumen yang sedang dibacanya. Di dalam berkas itu tercantum berbagai informasi mengenai hak dan kewajibannya sebagai nyonya rumah kastel, daftar pelayan yang berada di bawah perintahnya, hingga rincian anggaran bulanan yang disediakan untuk kebutuhannya.

Dan jumlahnya membuatnya masih sulit percaya. Perlahan ia menutup dokumen itu lalu meletakkannya di atas meja.

"Saya mengerti."

Tom mengangguk kecil.

"Bagus."

Helena terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Namun saya ingin menanyakan sesuatu."

"Tentu saja."

"Apakah anggaran ini tidak terlalu besar?"

Tom tampak menundukkan pandangan sebentar ke arah dokumen tersebut, seolah benar-benar mempertimbangkan pertanyaannya.

Lalu ia berkata dengan tenang, "Saya rasa jumlah itu masih dalam batas yang wajar."

Helena berkedip.

Wajar?

Angka itu bahkan jauh lebih besar daripada dana pribadi yang pernah ia miliki ketika masih tinggal di istana Elvard.

Melihat ekspresinya, Tom melanjutkan dengan nada yang sama santainya.

"Jika suatu saat Anda merasa jumlah itu kurang, saya akan mengatur tambahan anggaran sesuai kebutuhan Anda."

Helena tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap pria itu beberapa saat.

Cara Tom mengucapkan kalimat tersebut seolah sedang membicarakan sesuatu yang sangat biasa. Seolah menambah anggaran sebesar itu bukanlah persoalan yang perlu dipikirkan.

Keluarga Laurent benar-benar berada pada tingkat kekayaan yang bahkan sulit ia bayangkan.

"Terima kasih," ucap Helena akhirnya.

Tom membungkukkan kepala sedikit.

"Itu memang tugas saya, Nyonya."

Keheningan singkat kembali memenuhi ruangan.

Helena mengambil cangkir teh yang telah disediakan untuknya. Saat sedang menyesapnya perlahan, Tom kembali membuka salah satu dokumen di atas mejanya.

"Tuan berpesan agar seluruh kebutuhan Anda dipenuhi sebaik mungkin."

Gerakan Helena terhenti. Ia menurunkan cangkir tehnya perlahan.

"Tuan?"

Tom mengangguk tanpa terlihat menyadari perubahan kecil pada ekspresinya.

"Ya."

Helena mengernyit.

"Maksud Anda Tuan Marquess?"

Barulah kali ini Tom mengangkat pandangan sepenuhnya dari dokumennya. Lalu, untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka dimulai, sudut bibir pria itu sedikit terangkat.

Bukan senyum yang jelas, hanya gerakan kecil yang nyaris tidak terlihat.

"Tidak."

Jawaban itu membuat Helena membeku.

Tom melanjutkan dengan nada yang tetap sopan.

"Saya sedang membicarakan Tuan Muda Rion."

Helena hanya menatapnya. Entah mengapa nama itu terasa lebih mengejutkan daripada yang seharusnya.

"Rion?" ulangnya pelan.

"Benar."

Tom melipat kedua tangannya di atas meja.

"Tuan Muda Rion yang memberikan sebagian besar instruksi mengenai kebutuhan Anda sebelum kedatangan Anda ke kastel."

Helena merasakan jemarinya perlahan menegang di atas pangkuan, ia memang sudah menyadari ada sesuatu yang tidak biasa.

Para pelayan terlihat sangat menghormati Rion. Bahkan Dorote dan beberapa pelayan lain tampak lebih sering menunggu perintah darinya dibanding menunggu perintah dari siapa pun.

Saat itu Helena mengira hal tersebut terjadi karena Rezef sedang sakit, tapi semakin banyak yang ia dengar, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul di kepalanya.

"Apakah semua urusan kastel memang ditangani olehnya?" tanya Helena hati-hati.

Tom tidak langsung menjawab.

Ia tampak mempertimbangkan kata-kata yang akan digunakan sebelum akhirnya berkata, "Dalam beberapa tahun terakhir, Tuan Muda Rion memang memikul banyak tanggung jawab keluarga."

Jawaban yang sangat hati-hati.

Helena mengangkat pandangannya ke arah Tom yang duduk tenang di seberang meja. Kepala pelayan itu tampak sedang menunggu apakah masih ada hal lain yang ingin ia tanyakan.

"Kalau begitu..." Helena berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Apakah saya boleh bertanya sesuatu?"

"Tentu saja, Nyonya."

Jawaban Tom terdengar sopan seperti biasa. Tidak ada sedikit pun tanda ketidaksabaran di wajahnya. Seolah pria itu memiliki waktu tak terbatas untuk menjawab semua pertanyaan yang mungkin diajukan Helena.

Helena meneguk ludah pelan. Ia sebenarnya sudah memikirkan pertanyaan ini sejak pagi tadi.

"Kapan saya bisa bertemu dengan Tuan Marquess secara langsung?"

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.

Tom tidak segera menjawab. Pria itu hanya menatap Helena selama beberapa saat dengan ekspresi yang sama tenangnya seperti sebelumnya.

Helena merasa pertanyaannya telah membuat sesuatu berubah di dalam ruangan itu.

Lalu akhirnya Tom berbicara.

"Dengan segala hormat, Nyonya..." suaranya terdengar rendah dan terukur. "Bukankah semalam Anda sudah bertemu dengan Tuan Marquess?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 63

    Helena menundukkan pandangannya. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan, sementara senyum tipis yang muncul di bibirnya sama sekali tidak mengandung kebahagiaan."Saya bahkan tidak melakukan apa-apa."Suaranya pelan, hampir seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri."Saya hanya mengatakan bahwa Lady Rose adalah orang luar dan seharusnya tidak ikut campur dalam urusan keluarga Laurent."Ia terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan."Tetapi hanya karena kalimat itu... saya dikurung di ruang hukuman selama berjam-jam."Helena mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya bertemu dengan mata Rion, tetapi kali ini tidak ada kemarahan di sana.Hanya rasa lelah."Kalau begitu..." Ia tersenyum tipis. "Sepertinya saya mulai mengerti."Rion masih diam.Helena menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya."Lady Rose benar-benar seseorang yang tidak boleh dibuat tersinggung."Keheningan memenuhi ruangan. Beberapa saat kemudian, Helena kembali berkata dengan suara yang jauh lebih

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 62

    Menjelang sore, kesunyian yang sejak tadi menyelimuti ruang hukuman akhirnya terusik.Dari balik pintu besi terdengar derap langkah yang terburu-buru menyusuri lorong batu. Suaranya semakin lama semakin dekat, diiringi gema sepatu yang memantul di dinding-dinding dingin bawah tanah.Helena yang sejak tadi hanya terduduk bersandar di dinding perlahan mengangkat kepalanya.Ia sudah terlalu lama berada di ruangan itu hingga tubuhnya mulai terasa kaku. Cahaya matahari yang semula masuk melalui jendela kecil kini berubah menjadi semburat jingga, menandakan berjam-jam telah berlalu sejak dirinya dibawa ke tempat itu.Belum sempat ia menebak siapa yang datang, sebuah suara keras menggema di sepanjang lorong."Apa maksud semua ini?" Suara itu begitu tegas hingga membuat seluruh lorong mendadak sunyi.Helena langsung mengenalinya.Rion.Beberapa penjaga yang berjaga di depan ruang hukuman tampak gugup. Salah seorang di antaranya buru-buru membungkukkan badan."Tu-Tuan Rion...""Aku bertanya."

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 61

    Helena melipat kembali surat itu dengan sangat hati-hati, lalu menyimpannya di dalam laci nakas, berdampingan dengan barang-barang yang paling ia jaga. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menjadi Marchioness Laurent, ia menutup matanya dengan hati yang sedikit lebih ringan.Karena kini ia tidak lagi merasa berjalan sendirian. Di balik segala rahasia yang masih menyelimuti pernikahan mereka, suaminya telah memberikan sebuah jawaban.Jawaban yang sederhana.Namun cukup untuk membuat Helena percaya bahwa suatu hari nanti, mereka benar-benar akan bertemu tanpa lagi dipisahkan oleh kegelapan ataupun selembar surat.Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Rezef kembali datang ke kamar Helena.Ruangan kembali tenggelam dalam kegelapan, hanya menyisakan keheningan yang perlahan berubah menjadi kehangatan. Tidak ada banyak kata yang terucap di antara mereka. Hubungan mereka masih dipenuhi misteri, tetapi untuk pertama kalinya Helena merasakan sesuatu yang berbeda.Malam itu, Rezef memper

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 60

    Helena menghela napas pelan sebelum akhirnya mengangguk.“Baiklah,” ucapnya lirih. “Saya mengerti.”Ia tidak ingin lagi memperpanjang pembicaraan mengenai Rose. Wanita itu sudah pergi, dan Helena merasa tidak ada gunanya membiarkan suasana malam menjadi semakin buruk karena pertengkaran yang tidak akan menghasilkan apa-apa.Beberapa saat mereka hanya berdiri dalam diam. Cahaya lampu gantung memantulkan bayangan lembut di lantai marmer aula, sementara suara angin malam terdengar samar dari luar jendela.Namun satu pertanyaan masih terus mengganggu pikiran Helena sejak pagi tadi. Ia menatap Rion yang tampak hendak pergi, lalu memanggilnya pelan.“Tuan Rion.”Pria itu menghentikan langkah dan menoleh.“Ya?”Helena menggenggam ujung lengan gaunnya sebelum akhirnya bertanya dengan hati-hati.“Apakah Anda benar-benar akan pergi berperang?”Rion terdiam sejenak. Tatapannya beralih ke arah halaman kastel yang gelap sebelum kembali kepada Helena.“Untuk saat ini aku hanya diperintahkan mengawa

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 59

    Kalimat itu diucapkan Helena dengan tenang. Justru karena itulah, ucapannya terasa semakin tajam. Senyum di wajah Rose perlahan menghilang, dan untuk pertama kalinya malam itu ekspresinya benar-benar berubah. Di sekitar aula, para pelayan hanya menundukkan kepala tanpa berani ikut campur.Rion berdiri diam sambil memandang Helena dan Rose bergantian. Untuk pertama kalinya ia merasa Helena benar-benar telah berubah. Wanita itu tidak lagi hanya bertahan, tetapi mulai memahami posisinya sebagai Marchioness Laurent dan tahu bagaimana mempertahankannya tanpa kehilangan harga dirinya.Rose menatap Helena cukup lama. Wajahnya masih dihiasi senyum, tetapi senyum itu kini terlihat dipaksakan. Tatapannya perlahan berubah tajam, seolah sedang menahan amarah yang mulai sulit disembunyikan."Marchioness," ucapnya pelan, "apakah sekarang kau mulai meremehkanku?"Helena tidak menunjukkan sedikit pun perubahan ekspresi. Ia membalas tatapan Rose dengan tenang, sama sekali tidak terlihat terintimidasi.

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 58

    Ia mengepalkan jemarinya di atas pangkuan."Aku pernah melihat bagaimana kota berubah menjadi lautan api."Suara Helena tetap tenang. Justru terlalu tenang. Seolah semua itu telah ia pendam begitu lama hingga tidak lagi mampu diungkapkan dengan emosi."Aku pernah melihat orang-orang berlari tanpa tahu ke mana harus menyelamatkan diri." Ia berhenti sejenak. "Lalu keesokan harinya... banyak di antara mereka tidak pernah bangun lagi."Dorote membeku di tempatnya. Ia tidak pernah mendengar Helena membicarakan masa lalunya seperti ini. Helena menundukkan pandangannya."Karena itu..." Ia menghela napas panjang. "Aku tidak akan pernah bisa tenang setiap kali mendengar kata perang."Ruangan kembali hening.Dorote akhirnya memahami. Yang membuat Helena gelisah bukan semata-mata karena Rion mungkin akan berangkat ke medan perang. Melainkan karena perang sendiri telah meninggalkan luka yang tidak terlihat di dalam hati wanita itu. Dorote perlahan meletakkan tangannya di atas meja, tidak berani m

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 7

    Helena akhirnya tersadar dari kebingungan yang sempat menguasai dirinya.Dengan cepat ia mengangkat kedua tangannya lalu mendorong dada Rion hingga pria itu mundur satu langkah. Jarak yang tercipta membuatnya bisa bernapas lebih lega.Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi berusaha ia tek

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 6

    Helena keluar dari ruangan kerja Tom dengan langkah tenang. Dokumen yang baru saja diberikan kepadanya masih berada di tangannya, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada lembaran-lembaran kertas itu.Ucapan Tom terus terngiang di kepalanya.Pria itu tidak pernah berbicara kasar. Bahkan sel

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 12

    Pertanyaan itu belum sempat bergema sepenuhnya di ruangan itu ketika pria itu bergerak.Tanpa satu kata pun, pria bertubuh tinggi besar itu membungkam bibir Helena. Ia tidak menciumnya dengan lembut, ia menyerang. Itu adalah ciuman yang lapar, dominan, dan penuh tuntutan, seolah ia sedang menandai

  • Duke Laurent, Kau Kah Di Ranjangku?   Bab 10

    Hening.Permintaan Helena untuk "kelembutan" tidak dijawab dengan kata-kata. Tidak ada janji, tidak ada bantahan. Hanya ada keheningan yang mencekam, yang justru membuat detak jantung Helena berpacu lebih liar.Namun, keheningan itu pecah oleh satu suara.Hhh...Sebuah embusan napas berat, panas, d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status