LOGINHelena duduk tegak di kursinya sambil menatap dokumen yang terbuka di hadapannya.
Sejak beberapa menit terakhir, pandangannya terus bergerak dari satu halaman ke halaman lain, tetapi pikirannya tidak benar-benar fokus membaca.
Ruangan kerja kepala pelayan itu terasa jauh lebih resmi dibanding tempat-tempat lain yang telah ia lihat di kastel. Rak-rak tinggi dipenuhi buku catatan dan arsip, sementara meja besar dari kayu gelap di tengah ruangan dipenuhi dokumen yang tersusun rapi.
Pria yang duduk di seberangnya juga jauh berbeda dari bayangannya.
Sebelum datang, Helena membayangkan kepala pelayan kastel Laurent adalah seorang pria tua berusia lanjut yang telah mengabdi selama puluhan tahun.
Namun Tom sama sekali tidak sesuai dengan gambaran itu. Usianya memang terlihat lebih dewasa dibanding Rion, tetapi tidak terlalu jauh.
Wajahnya tampan dengan kesan matang dan tenang, rambutnya tersisir rapi ke belakang tanpa satu helai pun yang keluar dari tempatnya, sementara seragam kepala pelayan yang dikenakannya tampak sempurna hingga ke detail terkecil.
Ia memiliki pembawaan yang membuat orang lain tanpa sadar ingin mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Apa Anda memahaminya, Nyonya?"
Suara rendah Tom memecah keheningan.
Helena mengangkat pandangan dari dokumen yang sedang dibacanya. Di dalam berkas itu tercantum berbagai informasi mengenai hak dan kewajibannya sebagai nyonya rumah kastel, daftar pelayan yang berada di bawah perintahnya, hingga rincian anggaran bulanan yang disediakan untuk kebutuhannya.
Dan jumlahnya membuatnya masih sulit percaya. Perlahan ia menutup dokumen itu lalu meletakkannya di atas meja.
"Saya mengerti."
Tom mengangguk kecil.
"Bagus."
Helena terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Namun saya ingin menanyakan sesuatu."
"Tentu saja."
"Apakah anggaran ini tidak terlalu besar?"
Tom tampak menundukkan pandangan sebentar ke arah dokumen tersebut, seolah benar-benar mempertimbangkan pertanyaannya.
Lalu ia berkata dengan tenang, "Saya rasa jumlah itu masih dalam batas yang wajar."
Helena berkedip.
Wajar?
Angka itu bahkan jauh lebih besar daripada dana pribadi yang pernah ia miliki ketika masih tinggal di istana Elvard.
Melihat ekspresinya, Tom melanjutkan dengan nada yang sama santainya.
"Jika suatu saat Anda merasa jumlah itu kurang, saya akan mengatur tambahan anggaran sesuai kebutuhan Anda."
Helena tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap pria itu beberapa saat.
Cara Tom mengucapkan kalimat tersebut seolah sedang membicarakan sesuatu yang sangat biasa. Seolah menambah anggaran sebesar itu bukanlah persoalan yang perlu dipikirkan.
Keluarga Laurent benar-benar berada pada tingkat kekayaan yang bahkan sulit ia bayangkan.
"Terima kasih," ucap Helena akhirnya.
Tom membungkukkan kepala sedikit.
"Itu memang tugas saya, Nyonya."
Keheningan singkat kembali memenuhi ruangan.
Helena mengambil cangkir teh yang telah disediakan untuknya. Saat sedang menyesapnya perlahan, Tom kembali membuka salah satu dokumen di atas mejanya.
"Tuan berpesan agar seluruh kebutuhan Anda dipenuhi sebaik mungkin."
Gerakan Helena terhenti. Ia menurunkan cangkir tehnya perlahan.
"Tuan?"
Tom mengangguk tanpa terlihat menyadari perubahan kecil pada ekspresinya.
"Ya."
Helena mengernyit.
"Maksud Anda Tuan Marquess?"
Barulah kali ini Tom mengangkat pandangan sepenuhnya dari dokumennya. Lalu, untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka dimulai, sudut bibir pria itu sedikit terangkat.
Bukan senyum yang jelas, hanya gerakan kecil yang nyaris tidak terlihat.
"Tidak."
Jawaban itu membuat Helena membeku.
Tom melanjutkan dengan nada yang tetap sopan.
"Saya sedang membicarakan Tuan Muda Rion."
Helena hanya menatapnya. Entah mengapa nama itu terasa lebih mengejutkan daripada yang seharusnya.
"Rion?" ulangnya pelan.
"Benar."
Tom melipat kedua tangannya di atas meja.
"Tuan Muda Rion yang memberikan sebagian besar instruksi mengenai kebutuhan Anda sebelum kedatangan Anda ke kastel."
Helena merasakan jemarinya perlahan menegang di atas pangkuan, ia memang sudah menyadari ada sesuatu yang tidak biasa.
Para pelayan terlihat sangat menghormati Rion. Bahkan Dorote dan beberapa pelayan lain tampak lebih sering menunggu perintah darinya dibanding menunggu perintah dari siapa pun.
Saat itu Helena mengira hal tersebut terjadi karena Rezef sedang sakit, tapi semakin banyak yang ia dengar, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul di kepalanya.
"Apakah semua urusan kastel memang ditangani olehnya?" tanya Helena hati-hati.
Tom tidak langsung menjawab.
Ia tampak mempertimbangkan kata-kata yang akan digunakan sebelum akhirnya berkata, "Dalam beberapa tahun terakhir, Tuan Muda Rion memang memikul banyak tanggung jawab keluarga."
Jawaban yang sangat hati-hati.
Helena mengangkat pandangannya ke arah Tom yang duduk tenang di seberang meja. Kepala pelayan itu tampak sedang menunggu apakah masih ada hal lain yang ingin ia tanyakan.
"Kalau begitu..." Helena berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Apakah saya boleh bertanya sesuatu?"
"Tentu saja, Nyonya."
Jawaban Tom terdengar sopan seperti biasa. Tidak ada sedikit pun tanda ketidaksabaran di wajahnya. Seolah pria itu memiliki waktu tak terbatas untuk menjawab semua pertanyaan yang mungkin diajukan Helena.
Helena meneguk ludah pelan. Ia sebenarnya sudah memikirkan pertanyaan ini sejak pagi tadi.
"Kapan saya bisa bertemu dengan Tuan Marquess secara langsung?"
Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.
Tom tidak segera menjawab. Pria itu hanya menatap Helena selama beberapa saat dengan ekspresi yang sama tenangnya seperti sebelumnya.
Helena merasa pertanyaannya telah membuat sesuatu berubah di dalam ruangan itu.
Lalu akhirnya Tom berbicara.
"Dengan segala hormat, Nyonya..." suaranya terdengar rendah dan terukur. "Bukankah semalam Anda sudah bertemu dengan Tuan Marquess?"
Helena tetap berdiri di tempatnya setelah Rose pergi. Baru ketika pintu balkon benar-benar tertutup dan langkah kaki wanita itu tak lagi terdengar, ia membiarkan bahunya sedikit mengendur.Ia mengembuskan napas panjang.Akhirnya. Setidaknya untuk beberapa saat, ia bisa bernapas tanpa harus memikirkan kata-kata yang sengaja dilemparkan kepadanya.Helena mengangkat wajah, membiarkan angin malam menyentuh pipinya. Udara di balkon terasa jauh lebih dingin dibandingkan suasana di dalam aula, tetapi justru itulah yang ia butuhkan.Pesta ini ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan. Ia datang hanya untuk menghadiri sebuah acara. Namun sepanjang malam, ia harus menghadapi tatapan orang-orang, bisikan mengenai Rezef, sindiran Rose, bahkan rumor tentang dirinya dan Rion.Helena menundukkan pandangan. Ia masih teringat perkataan Rose. Helena tidak ingin memikirkannya.Pernikahannya dengan Rezef memang berbeda dari kebanyakan pernikahan bangsawan lainnya. Tidak ada kemesraan yang
Rion kembali menatap Helena."Kalau kita berhenti sekarang hanya karena mereka berbicara, bukankah itu justru membuat mereka semakin yakin bahwa ada sesuatu?"Helena terdiam. Ia membenci kenyataan bahwa perkataan Rion masuk akal."Jadi kita terus saja?""Ya."Rion kembali menggerakkan langkahnya."Biarkan mereka melihat sesuatu yang memang tidak salah."Helena tidak menjawab.Ia hanya mengikuti gerakannya. Musik terus mengalun, dan mereka kembali berputar di tengah lantai dansa.Dari luar, mereka memang terlihat seperti pasangan yang serasi. Rion memimpin dengan tenang, sementara Helena mengikuti langkahnya dengan anggun. Tidak ada yang mengetahui bahwa wanita itu justru sedang berusaha keras menjaga jarak di dalam pikirannya.Tidak ada yang mengetahui bahwa setiap kali tangan Rion menyentuhnya, Helena teringat pada malam yang seharusnya tidak pernah terjadi.Dan mungkin itulah yang paling membuatnya gelisah. Bukan tatapan para bangsawan. Bukan pula bisikan Rose. Melainkan kenyataan b
Helena menarik napas perlahan. Ia mulai memahami apa yang dilakukan Rose. Wanita itu tidak pernah secara langsung mengatakan bahwa Helena menyukai Rion atau bahwa pernikahannya dengan Rezef sedang bermasalah. Rose hanya melemparkan kalimat-kalimat samar, lalu membiarkan orang lain membuat kesimpulan sendiri.Helena tidak perlu mendengar bisikan mereka untuk mengetahui apa yang sedang dibicarakan. Tatapan beberapa bangsawan yang sesekali beralih dari dirinya kepada Rion sudah cukup menjelaskan semuanya.Ia menegakkan tubuh dan memilih untuk tidak menanggapi.Jika ia membantah setiap perkataan, justru akan terlihat seolah-olah dirinya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Lebih baik membiarkan mereka berbicara sampai bosan sendiri.Namun ketika Helena tanpa sengaja menoleh kepada Rion, pria itu sedang memandangnya. Tatapan mereka bertemu selama beberapa detik. Tidak ada senyum. Tidak ada kata-kata. Tetapi tatapan itu membuat Helena kembali teringat pada satu hal yang selama ini berusah
Begitu memasuki aula, Helena segera menyadari bahwa suasananya jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan. Para bangsawan telah memenuhi ruangan, sebagian berdiri dalam kelompok-kelompok kecil sambil berbincang, sementara yang lain duduk di sekitar meja panjang yang dipenuhi hidangan dan minuman. Kilauan lampu kristal memenuhi langit-langit, memantulkan cahaya ke lantai marmer dan gaun-gaun mewah yang dikenakan para wanita.Namun sebelum Helena sempat memperhatikan lebih jauh, Rion sudah membimbingnya menuju bagian tengah aula."Yang Mulia ada di sana."Helena mengikuti arah pandangnya. Kaisar berdiri bersama beberapa pejabat dan bangsawan tinggi. Begitu melihat mereka mendekat, percakapan di sekitar kelompok itu perlahan mereda.Helena menarik napas kecil. Ia kemudian berdiri sedikit lebih tegak. Rion berhenti beberapa langkah di hadapan Kaisar, lalu menundukkan kepala dengan hormat. Helena segera melakukan hal yang sama."Salam hormat, Yang Mulia."Kaisar memandang mereka berdua se
Rion terdiam mendengar jawaban Helena. Tatapannya sempat beralih pada cadar tipis yang menutupi sebagian wajah wanita itu, kemudian kembali pada matanya. Beberapa detik berlalu sebelum sudut bibirnya terangkat sedikit."Jadi Anda takut orang-orang mengira saya pasangan Anda?"Helena langsung mengerutkan kening. "Jangan mengatakan sesuatu seperti itu."Nada suaranya terdengar lebih tegas daripada yang ia maksudkan. Namun Rion justru terkekeh pelan, sama sekali tidak terlihat tersinggung."Saya hanya bertanya.""Anda tahu apa yang saya maksud.""Saya tahu."Jawaban Rion begitu singkat. Setelah itu ia tidak lagi menggoda Helena. Ia hanya berbalik menuju kereta yang telah menunggu di depan mereka, lalu membuka pintunya dengan tenang."Silakan."Helena hanya menatap Rion sebentar sebelum masuk ke dalam kereta. Rion menyusul setelah memastikan Helena duduk dengan nyaman, lalu mengambil tempat di seberangnya.Kereta mulai berjalan meninggalkan Kastel Laurent. Helena memandang keluar jendela,
Malam itu, setelah kembali ke kamar, Helena masih memikirkan perkataan Rion sebelum mereka berpisah. Helena duduk di depan meja rias dengan rambut terurai. Ia sudah berganti pakaian, tetapi kalung dengan batu permata merah dari Rezef masih terpasang di lehernya. Ia menyentuhnya perlahan.Entah mengapa, Helena merasa heran. Bukankah seharusnya Rion lebih mengingat bros pemberiannya sendiri? Bros berlambang keluarga Laurent itu masih tersemat di gaunnya.Namun saat mereka berpisah, justru kalung pemberian Rezef yang Rion ingatkan untuk dijaga.Helena mengerutkan kening."Aneh..."Helena memiringkan kepala, mencoba memahami maksud Rion. Mungkin Rion hanya ingin mengingatkannya. Kalung itu bukan perhiasan biasa. Itu hadiah dari Rezef, suaminya, yang diberikan tepat pada hari pesta teh pertamanya dan disaksikan banyak orang.Mungkin Rion hanya mengingatkan bahwa kalung itu penting.Tidak lebih.Helena mengangguk kecil, merasa sudah menemukan alasan yang masuk akal."Ya. Mungkin hanya itu."
Helena akhirnya tersadar dari kebingungan yang sempat menguasai dirinya.Dengan cepat ia mengangkat kedua tangannya lalu mendorong dada Rion hingga pria itu mundur satu langkah. Jarak yang tercipta membuatnya bisa bernapas lebih lega.Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi berusaha ia tek
Helena keluar dari ruangan kerja Tom dengan langkah tenang. Dokumen yang baru saja diberikan kepadanya masih berada di tangannya, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada lembaran-lembaran kertas itu.Ucapan Tom terus terngiang di kepalanya.Pria itu tidak pernah berbicara kasar. Bahkan sel
Helena menurunkan pandangannya sesaat. Jemarinya bergerak pelan di atas tepi dokumen yang masih terbuka di hadapannya.“Tidak seperti itu maksud saya.”Tom menunggu dengan sabar, memberi ruang baginya untuk melanjutkan tanpa menyela.Helena menarik napas pendek.“Saya tidak pernah melihat wajahnya.
Tidak ada perubahan sedikit pun pada wajah Rion setelah mendengar pertanyaan itu.Pria itu hanya menatap Helena dalam diam selama beberapa detik. Wajah tampannya tetap tenang, nyaris tanpa ekspresi, sementara sorot mata merah gelapnya sulit ditebak seperti biasa.Tidak terlihat terkejut. Tidak terl







