LOGIN“Duke Greybone mengatur tenda sementara untuk mengungsi, juga memeriksa kerusakan yang terjadi di kota. Beliau memastikan juga ketersediaan air bersih untuk korban terdampak.”
Laporan normal, tapi bukan itu yang diinginkan Tili. “Maksudku… siapa saja yang ditemuinya.”
“Pengungsi dan beberapa bangsawan.” Ragnar menjawab, dan agak bingung karena bisa melihat Tili kesal.
Tili penyabar, tapi kali ini langsung ingin marah. Tapi bukan salah Ragnar, perintahnya hanya untuk mengikuti, bukan mencari tahu apakah Theo menemui Sera.
“Selain pengungsi, Duke Greybone kemana saja?” Tili menyabarkan hati, dan bertanya lagi.
“Mengunjungi danau, lalu mengunjungi Count Ravenshire dan Count Lorne untuk mengatur penyaluran gandum darurat.”
Tili mencengkram selimut yang menutupi pinggangnya—akhirnya! Count Lorne adalah ayah Sera. Nama lengkap Sera adalah Seraphina Lorne. Tili belum pernah bertemu dengannya secara langsung tapi cukup tahu dari gosip.
“Apa yang dilakukan Duke Greybone di sana? Di rumah Count Lorne maksudku,” tanya Tili, tidak sabar.
“Mmm… membicarakan penyaluran gandum? Setelah itu Count Lorne pergi ke gudang gandum.” Ragnar heran lagi, karena merasa sudah menyebut hal itu tadi.
“Bukan! Apa Theo bicara—” Tili mengerem lidahnya, karena menyadari satu hal. Ragnar tidak akan tahu, ia tidak mungkin mengikuti Theo dari jarak amat dekat.
Ragnar hanya melakukan seperti apa yang diperintahkan Tili, mengikuti dari jauh, jangan sampai Theo melihatnya. Ragnar tidak akan tahu apakah Theo bertemu Sera saat mengunjungi kediaman Lorne. Ragnar tidak akan melihat apa yang terjadi di dalam pagar rumah itu.
Tili menghela napas, merasa bodoh karena berita yang ditunggunya ternyata tidak sesuai keinginan.
Ia masih tidak tahu apakah apa yang dilihatnya itu bayangan masa depan yang nyata atau hanya mimpi buruk yang terlihat terlalu nyata.
Keinginannya untuk mendapat bukti pengkhianatan Theo—juga membuktikan kalau yang dilihatnya itu adalah bayangan masa depan, sama-sama tidak terwujud.
“Maaf… Duchess. Apakah saya salah?” Ragnar berlutut lagi, menunduk karena wajah tidak puas Tili terlihat jelas.
Butuh beberapa saat agar Tili bisa tersenyum lagi. “Tidak. Terima kasih. Kau sudah melakukan pekerjaan dengan baik. Bangunlah.”
“Terima kasih, Duchess.” Ragnar bangun dengan wajah lega.
“Istirahatlah. Maaf, aku malah menyuruhmu bekerja saat sedang terluka.” Tili kini juga melihat wajah Ragnar yang lebam.
“Tidak, My Lady. Saya berhutang budi pada Anda seumur hidup.” Ragnar kali ini membungkuk hormat. “Saya akan melaksanakan perintah Anda, apapun itu.”
“Pulanglah.” Tili berterima kasih, tapi tidak akan memaksanya untuk melakukan apapun saat ini.
Bahkan Tili masih bingung harus melakukan apa untuk masa depannya. Ia hanya kembali berbaring saat Ragnar keluar.
“Apa aku hanya gila?” Tili menatap gelang berbandul hijau di tangannya, kembali meragukan semua kesimpulan yang tertuju pada bentuk keajaiban dari gelang itu.
Mungkin kebetulan saja.
***
“Tili… lihat yang aku bawa.”
Tili duduk, menatap dengan mata tidak bersemangat saat mendengar suara Theo.
“Aku ingin menunjukkannya semalam, tapi kau sudah tidur.” Theo mendorong masuk kursi beroda ke dalam kamar rawat Tili.
“Oh…” Tili agak takjub. Ia tidak tahu benda itu bisa tercipta, tapi ternyata ada yang membuatnya.
“Aku pernah melihatnya saat mengunjungi kediaman Marquess Dunham. Dia memakai ini untuk ibunya yang sedang sakit.” Theo menjelaskan dengan wajah cerah.
Kursi beroda dari kayu itu meluncur mulus di atas lantai.
“Aku kemarin meminta beberapa orang mencarinya untukmu.” Theo berdiri di samping kursi itu, memamerkan dengan wajah puas.
“Agak sulit, tapi akhirnya ada yang menyebut punya.” Theo menatap Tili dan perlahan keningnya berkerut, menyadari kalau reaksi Tili tidak seperti biasanya.
Tili juga tahu, dan sengaja. Ia tahu Theo menyebut segala kesulitan untuk mendapatkan kursi itu agar mendapat pujian atau ucapan terima kasih, tapi bibir Tili hanya mengatup sejak tadi.
Tili tidak bisa merasa terharu atas perhatian itu, karena merasa Theo menutupi kesalahan dengan kebaikan yang sengaja ditonjolkan.
“Apa kakimu masih sakit? Atau yang lain?” Theo melepaskan jubah yang menutupi pundak dan duduk di samping Tili.
“Apa aku perlu memanggil dokter lagi?” Theo mengulurkan tangan, tapi sebelum bisa menyentuh pipi, Tili menepis tangan itu.
“Tili?” Mata Theo melebar. “Ada apa?” Ia menatap tangannya sendiri yang tertolak. “Kenapa kau kasar?”
Tili tidak pernah sekasar itu. Bahkan saat mereka masih tidak sangat akur, Tili tidak pernah menolaknya dengan kasar.
“Kenapa…”
“Aku ingin kita berpisah.” Tili menatap persis di mata Theo, tanpa berkedip.
“TILI!” Theo melonjak bangun. “Apa maksudmu?”
“Kau tidak dengar? Aku ingin kita berpisah.” Tili mengulang dengan nada lebih lugas.
“Kau jangan bercanda, Tili! Kenapa tiba—”
“Tidak tiba-tiba. Aku sudah memikirkannya.” Tili nyaris tidak tidur memikirkan hal ini, jadi bukan keputusan tiba-tiba.
“Ini tiba-tiba Tili! Kita baik-baik saja kemarin!” sergah Theo sambil kembali duduk dan berusaha menggenggam tangan Tili—tapi kembali ditepis.
“Apa yang baik-baik saja? Kau membiarkan anak kita mati!” desis Tili. Mata yang tadi lugas dan tenang, mulai berkabut. Emosi berusaha merobohkan pertahanan akal sehat Tili.
“Tili…” desah Theo, sambil menundukkan kepala. “Aku tahu… aku tidak seharusnya meninggalkanmu saat tersesat. Tapi aku… aku tidak mungkin tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Aku menganggap kau akan aman bersama Ragnar.”
“Ragnar bahkan tidak akan bisa menemukan barak tempat kamarnya berada tanpa bantuan! Kau tidak memikirkan ini?” Tili menepuk kepalanya sendiri—kasar, menyuruh Theo berpikir.
Keinginannya untuk tetap menyebut semua alasan dengan tenang sudah tidak bisa dipertahankan. Air mata yang kemarin tertahan kebingungan, meluber dengan mudahnya.
Tili berusaha menerima, berusaha mengikuti saran Lio untuk memikirkan masa depan saja—tapi itu anaknya. Tili sudah terbiasa dengan keberadaannya. Ia mengelus, bicara, merasakan hangat dan beban itu dalam tubuhnya.
Rasa kosong yang menyakitkan selalu menyengat setiap kali tangannya tidak sengaja melewati perutnya yang datar. Harapan yang ada di sana sudah hilang. Direnggut oleh pilihan bodoh berdasar masa lalu yang tidak bisa dilepaskan.
“Tili, aku tidak dengan sengaja ingin meninggalkanmu. Aku hanya ingin mencari Ayah dan…”
“Aku melihatmu memeluk Sera.” Tili marah, tapi suaranya kembali dingin, turun saat menyebut hal busuk yang menjadi alasannya mengambil keputusan itu. Ia mengucapkannya sebagai penutup atas semua gelisah yang meracuni benaknya.
Theo boleh menyangkal—memakai ayahnya sebagai alasan kenapa dirinya ditinggalkan, karena memang tidak menyebut nama Sera saat itu.
Tapi perbedaan itu memang tidak menjadi landasan Tili mengambil keputusan. Mungkin bayangan itu memang hanya ilusi, tapi apa yang dilihat Tili di balkon itu adalah kenyataan.
Itu semua bukan ilusi atau ramalan—karena sejenak wajah Theo memucat saat mendengarnya. Mengukuhkan kalau semua itu benar.
Setelah memastikan Theo tidak bisa melihat—pintu kamar mandi tertutup, Tili segera mengambil botol kecil dari laci mejanya. Obat itu didapatnya dari dokter. Alasan yang dipakainya sederhana—sulit tidur karena terlalu lelah, dokter itu memberi dengan senang hati setelahnya. Ia hanya memberi peringatan agar tidak terlalu sering dipakai karena bisa menimbulkan adiksi.Agak berbahaya, tapi harus. Selain jijik, Tili punya alasan lain menolak Theo saat ini.Tili menenangkan diri, ia baru memakainya sekali ini—jadi tidak akan berbahaya. Karena memang terlalu sibuk, Theo tidak bisa terlalu sering meminta tinggal di kamarnya. Beberapa waktu lalu, Tili masih memakai alasan sakit kepala, dan Theo percaya.Tili menuangkan cairan itu ke dalam sisa tehnya dan meminumnya hingga tandas. Rasanya hanya menjadi sedikit lebih pahit. Tidak masalah, Tili memilih kehilangan kesadaran daripada harus melayani sentuhan Theo. Tili punya nafsu, tapi lebih memilih tangan untuk memuaskannya—daripada Theo.Tili
“Lepaskan! Kau ingin orang-orang melihat?!” desis Theo memprotes tapi tidak berani membentak keras.Pun tidak amat berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sera, meski matanya sudah panik menatap sekitar. Khawatir ada yang melihat.Sera menariknya dari lorong saat Theo keluar dari ruang kerjanya tadi. Kini menyeretnya—setengah berlari menuju sudut lorong kastil yang remang."Sera, berhentilah. Pulang saja, ini sudah sangat malam. Pelayan akan mengantarmu dengan kereta," ucap Theo dengan nada lelah. Theo mengikutinya hanya karena tidak ingin ada keributan, tapi sebenarnya agak malas mendengar keluhannya.Sera berbalik dengan sentakan keras, matanya yang memerah menatap Theo. "Pulang? Bagaimana bisa kau menyuruhku pulang dengan tenang setelah melihatmu memamerkan kemesraan dengannya di depan King Gareth?"Theo memijat pangkal hidungnya. Sesuai dengan dugaan, Sera membawanya untuk mengeluh. Otaknya yang sudah penat malas mencerna masalah, rasanya semakin tidak ingin bergerak.“Kau in
“Tidak semua wanita seperti itu!” desis Cal, menahan keinginan mengumpat, karena jelas ayahnya sama sekali tidak tahu bagaimana sifat Tili. “Tili tidak akan pernah menerimaku sebelum bercerai dengan suaminya.” Cal menyebut dengan sangat yakin. Cal bahkan berani mempertaruhkan lehernya. Tili tidak akan pernah menerima pria lain selama ia masih terikat pernikahan dengan Theo. Harga diri Tili terlalu tinggi, dan tidak akan menjatuhkannya hanya untuk bersenang-senang dengan pria.“Kau terdengar sangat mengenalnya.” Mata Gareth menipis.“Memang. Bukankah harus?” Cal kembali emosi. “Kau tidak dengar aku mengatakan apa sejak tadi? Dia bukan wanita mudah! Aku tidak akan bisa mendapatkannya hanya dengan melambaikan tangan.”“Ck! Aku meragukannya.” Gareth bangkit lalu menarik dagu Cal, menyuruhnya mendongak untuk memeriksa wajahnya.“Dengan wajah seperti ini? Kau tidak seharusnya ditolak. Kulit gelap tidak mengurangi pesonamu.” Gareth tidak percaya Cal bisa ditolak.“Apa kau sedang memuji d
Cal sampai di halaman kastil tepat saat kereta King Gareth telah sampai. Ia mendengus pelan saat melewati Tili yang masih menggelayut manja di lengan Theo.Tili mendengar meski samar, sesaat berpaling untuk bertanya apa sebenarnya yang diinginkannya. Tapi Cal terus maju, dan wajahnya segera berubah menjadi topeng keramahan saat ayahnya turun dari kereta. Tili sampai mengerutkan kening, tidak nyaman melihat senyum itu karena terlihat sangat palsu. Tili sudah lama tidak melihat Cal tersenyum sepalsu itu. Tapi ayahnya tidak jauh berbeda—senyumnya terang saat menapak tanah.King Gareth memiliki wajah yang mirip dengan Cal—semua orang bisa melihatnya dalam sekali pandang. Hanya karena usia, rambut King Gareth kini kelabu, tidak lagi hitam pekat.Namun, Tili menyayangkan warna matanya. Wajah itu hanya cocok dengan mata Darjeeling. Sementara King Gareth memiliki mata hijau terang.“Kau terlihat sangat sehat.” Gareth menyapa Cal dengan hangat.“Ayah,” Cal membungkuk hormat. Tapi bungkukan
Tili mengusap kalung di lehernya—sangat serasi saat dipadukan dengan gaun emerald yang menjadi pilihannya kemarin. Itu kalung hadiah pernikahan dari ayahnya.Kalung itu sudah dijual oleh Lio, tapi ditebus lagi oleh ayahnya. Lalu dititipkan pada Ragnar yang kembali membawa pesan melegakan beberapa hari lalu.Untuk masalah Valwood, Tili bisa menyingkirkannya dari pikiran.“Sudah siap?” Theo menghampiri. Ia pun sudah siap dengan seragam hijau dan mantel berbulu.“Sudah.” Dengan manis, Tili melingkarkan tangan ke lengan Theo.Mereka berjalan beriringan menuju pintu besar kastil. Rombongan yang membawa bendera Lunaris sudah terlihat beberapa waktu lalu. Sebentar lagi, tamu agung akan datang.Tapi perhatian pelayan di istana yang juga sudah berbaris untuk penyambutan sedikit teralihkan saat Tili dan Theo lewat.Mereka berbisik dengan bersemangat saat melihat kedekatan itu. Mereka tidak buta, tentu beberapa hari ke belakang melihat bagaimana Theo dan Tili menjadi dekat.Tili menyadari suasan
“Warna biru atau ungu mungkin cocok untukmu.” Tili melanjutkan sambil memeriksa beberapa warna lain, mendekatkannya pada warna kain yang akan dipakainya.“Pastikan warnanya tidak terlalu mencolok atau menyerupai emerald dan navy yang akan kami pakai. Saya tidak ingin para utusan Lunaris nanti merasa rancu antara siapa Duchess di kastil ini dan siapa tamunya.”Tili semakin tajam memperingatkan. Sera tidak boleh terlihat mencolok di samping Theo.Sera mengangguk, tapi belum berani mendongak untuk menunjukkan wajah. Hanya tangannya yang terulur untuk menyentuh kain—gemetar.“Lady Lorne? Apa Anda mendengar saya?” Tili tentu membutuhkan tanggapan dan akan memaksa.“Tentu saja, Your Grace. Saya akan memilih warna yang… pantas,” jawab Sera dengan suara yang bergetar.Theo, yang tidak menyadari perang dingin itu, masih sibuk mengatur jubahnya dan mengukur apakah bagian belakangnya terlalu panjang.Tili kembali mengalihkan perhatian pada Theo, ikut mengukur dan memastikan pakaiannya tepat di b







