共有

Pakde sang Penakluk
Pakde sang Penakluk
作者: NamNamjoo

Bab 1

作者: NamNamjoo
last update 公開日: 2026-06-10 10:57:22

Sugiono mengusap peluh di dahinya. Pria paruh baya berusia awal empat puluhan hanya bisa menghela napas panjang menatap jalanan desa yang sepi. Pekerjaannya sebagai tukang pijat keliling sedang surut. Alih-alih dipanggil mengobati, dia lebih sering menjadi bahan tertawaan warga.

Sugiono kerap dianggap tukang pijat gadungan yang ilmunya tidak becus. Padahal, dia sudah belajar sungguh-sungguh soal titik saraf. Hanya saja, tenaganya memang dirasa kurang maksimal.

Karena tidak ada pemasukan sepeser pun, Sugiono terpaksa pergi ke ladang pinggir hutan siang harinya. Ia mengayunkan cangkul di bawah terik matahari, berniat menanam singkong sekadar menyambung hidup.

Trang...!

Mata cangkul Sugiono membentur benda keras di dalam tanah. Dia berhenti, berjongkok, lalu menyingkirkan gumpalan tanah basah dengan tangan kosong. Sebuah kotak kayu kecil seukuran kepalan tangan terlihat menyembul.

Sugiono perlahan membuka penutup kayunya. Sebuah cincin akik hitam tergeletak rapi di dalam, memancarkan kilau.

"Luar biasa... dengan tenaga murni sedahsyat ini, tidak akan ada lagi orang berani meremehkanku. Mulai sekarang, aku akan buktikan siapa ahli pengobatan sejati!" batin Sugiono bersorak kegirangan.

Seketika, rasa panas menyengat menjalar dari jari telunjuknya. Sugiono tersentak mundur sambil memegangi dadanya. Aliran energi tak kasatmata melesat masuk menembus pori-pori, mengalir deras ke seluruh pembuluh darahnya. Tulang-tulangnya bergemeretak pelan. Rasa pegal dan linu akibat mencangkul seketika lenyap tak berbekas.

Sugiono menatap kedua tangannya dengan tatapan takjub. Ada hawa hangat berpusat di telapak tangannya. Otot-otot lengannya yang tadinya kendur kini terasa jauh lebih kencang dan bertenaga. Pandangannya menjadi sangat tajam. Dia merasa seperti terlahir kembali menjadi pria bugar.

Baru saja Sugiono meresapi kekuatan barunya, terdengar suara langkah kaki terburu-buru. Ranto, adik kandungnya, datang dengan wajah panik meminta tolong agar Sugiono memijat Gendis, istrinya, yang sudah berbulan-bulan sakit urat pinggul. Inilah saat yang tepat bagi Sugiono menguji kemampuan barunya.

Suara rintihan terdengar dari dalam gubuk bambu pinggir desa. Gendis berbaring tengkurap di atas tikar. Badannya kaku. Ia tak lagi bisa melayani suaminya di ranjang.

 Setiap kali pusaka suaminya mencoba mendekat, ia selalu menjerit kesakitan. Jalan satu-satunya hanya mendatangi Sugiono, kakak iparnya sendiri.

"Sabar, Nduk. Tahan sebentar," ucap Sugiono. Tangan kekarnya menggosokkan minyak zaitun ke pinggul Gendis. "Aliran darahmu kurang lancar, Nduk. Pasti terasa sakit."

"Nduk, apa bisa kamu lepaskan rokmu? Pakde jadi susah memijat jalur urat ke bawah," pinta Sugiono.

Gendis terkejut. "Tapi, Pakde... apa tidak bisa begini saja?"

"Akan sulit diurut kalau terhalang kain tebal," jelas Sugiono. "Tenang saja, Pakde tidak akan macam-macam. Kamu kan adik iparku sendiri. Kasihan Masmu kalau harus berpuasa berbulan-bulan."

Mendengar nama suaminya disebut, pertahanan Gendis runtuh. Perlahan, ia mengangkat pinggulnya sedikit lalu menurunkan roknya. Kini hanya tersisa dalaman berwarna merah terang.

Sugiono mulai memusatkan tenaga dalam ke ujung jarinya. Hawa hangat menjalar dari telapak tangannya langsung menembus pori-pori kulit Gendis. Jempol tangannya tak sengaja menyentuh bagian tengah sensitif milik Gendis.

"Ughhh..." Tubuh Gendis tersentak. Sensasi ngilu seketika bercampur dengan rasa nikmat asing. Napasnya mulai memburu kencang.

"Maaf, Nduk. Jalur urat utamanya memang berpusat di sekitar sini," kata Sugiono meyakinkan. Tiba-tiba, cincin akik hitam di jari Sugiono mendadak memanas. 

Matanya mulai bersinar terang. Hawa panas mengalir deras dari telapak tangannya, menghancurkan gumpalan darah kotor penyumbat urat pinggul Gendis.

"Ahh, Pakde! Uhh, Pakdehh..." Tubuh Gendis menggeliat hebat di atas tikar.

Tangannya meremas lengan Sugiono sangat kuat. Kukunya sampai memutih menahan desiran panas.

"Tahan, Nduk! Tinggal buang sisa kotorannya!" Sugiono menekan satu titik saraf terakhir tepat di bawah pusar.

"Akhhhh!" Gendis memekik keras. Tubuhnya melengkung ke atas selama beberapa detik sebelum akhirnya ambruk lemas tak bertenaga. Napasnya terengah-engah memburu pasokan udara. Keringat membasahi seluruh leher dan dadanya.

Sugiono buru-buru menarik tangannya menjauh. "Sudah tuntas, Nduk," ucapnya sambil mengelap keringat di dahi.

Gendis tersipu malu, perlahan mengubah posisinya menjadi duduk. "Pakde, aku merasa agak ringan. Cuma nanti aku tidak tahu kalau Mas Ranto mengetes, apa kembali sakit atau tidak..."

Sugiono tertawa pelan. Matanya melirik bagian depan tubuh Gendis sekilas. "Oh iya, Nduk... bagaimana dengan dadamu? Apa bermasalah juga? Pakde hanya tak mau kalau Masmu berpindah ke lain hati kalau asetmu kurang kencang."

Wajah Gendis seketika memerah matang. Ia menunduk menatap dadanya sendiri. "Pakde bisa menyembuhkannya juga?"

Gendis sebenarnya masih agak ragu. Namun setelah merasakan pinggulnya benar-benar sembuh, rasa jijik di hatinya perlahan terkikis. Apalagi teringat testimoni sahabatnya—semenjak berobat ke Sugiono, suaminya jadi lebih ganas dan ia lebih kuat melayani di ranjang sampai pagi.

"Tapi...." Gendis makin tersipu malu, suaranya mengecil. "Bagian tengah dadaku biasanya memang suka nyeri Kalau sedang datang bulan, Pakde."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pakde sang Penakluk    117 Tawaran Gendis

    "Satu, dua, tiga... pas sepuluh lembar. Seratus ribuan," cengir preman itu sambil memasukkan uang tersebut ke saku jaketnya. Ia menatap Sugiono dengan nada sinis. "Nah, begini dong kalau ditagih itu langsung bayar! Jangan bilang nanti-nanti, ngeles mulu kayak bajaj. Kan enak kalau begini, kita sama-sama nagih nggak perlu pakai kekerasan fisik segala."Temannya mengangguk-angguk setuju sambil melirik tajam ke arah Gendis yang masih berdiri ketakutan di sudut ruangan."Kalau begitu, berhubung urusan hari ini sudah beres, kami pulang dulu. Satu minggu lagi kami datang lagi menagih sisa utangnya!" ucap preman itu dengan nada mengancam.Tanpa membuang waktu, keduanya berbalik badan dan melangkah keluar rumah. Tak lama kemudian, suara deru mesin motor bebek Supra tua terdengar meraung-raung di halaman, meninggalkan kepulan asap tipis saat mereka tancap gas meninggalkan perkampungan.Suasana di dalam rumah kembali sunyi. Gendis yang sedari tadi menahan napas dan gemetar hebat langsung terdud

  • Pakde sang Penakluk    116 Tagihan hutang

    Gendis menatap lekat lembar uang di telapak tangannya. Suaranya bergetar pelan."Pakde... aku sangat malu nerima uang ini," ucap Gendis tertunduk, air matanya kembali meleleh di pipi.Sugiono langsung berdiri dari duduknya. Tanpa membuang waktu, ia dengan sigap menyuruh Gendis menutup dan mengunci pintu rumahnya rapat-rapat."Tutup pintunya, Nduk," perintah Sugiono tegas.Namun, sebelum Sugiono sempat melangkah keluar melewati ambang pintu, suara dobrakan keras terdengar dari luar.Brak!Pintu kayu tipis itu terbuka paksa. Dua orang preman bertubuh gempal dengan tato ular melingkar di leher langsung nyelonong masuk ke dalam rumah."Heh, Gendis! Di mana suami sialanmu itu, hah?!" bentak preman pertama berbadan penuh tato sambil melotot tajam.Gendis terperanjat kaget, mundur sampai menubruk dinding. "B-bang Sobir belum pulang...""Halah, alasan saja! Bilang saja kalau kamu sengaja menyembunyikan suami buronan itu!" timpal preman kedua dengan suara parau. "Ini sudah minggu ketiga, lho!

  • Pakde sang Penakluk    115. Gendis

    Sugiono merogoh saku jaket kulitnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Ia menaruh lima lembar uang seratus ribuan itu di atas meja kayu kecil."Buatmu, Nduk," kata Sugiono pelan sambil mendorong uang itu mendekat ke arah Gendis.Mata Gendis membelalak kaget. Ia spontan menggeleng sambil melambaikan kedua tangannya. "Loh, Pakde... tidak usah, Pakde! Simpan saja buat keperluan Pakde sendiri."Sugiono menatap iparnya dengan sorot mata teduh. "Ambil saja, Nduk. Tidak enak menolak rezeki. Lagian kamu sama Sobir kan baru saja kena musibah kemarin," ujarnya tegas tapi lembut.Gendis menunduk, merasakan tenggorokannya tercekat. Hatinya diselimuti rasa terharu yang amat sangat. Di tengah himpitan hidup yang menghimpitnya dan sang suami, hanya kakak ipar tua ini yang datang menengok dan memberi perhatian nyata. Gendis tahu persis watak Sobir suaminya dan Sugiono memang sangat berbeda jauh, meskipun keduanya mengalir darah yang sama. Sobir sering kali egois dan pemarah, seme

  • Pakde sang Penakluk    114. 100 Juta

    Mobil.. Udin perlahan meninggalkan halaman gubuk. Asap knalpotnya mengepul tebal sebelum hilang di tikungan jalan desa.Samsul langsung merogoh ponsel dari saku celananya dengan gerakan kilat. Jari-jarinya menari cepat di atas layar, membuka aplikasi m-banking. Begitu logo loading selesai berputar, mata Samsul melotot nyaris keluar. Rahangnya jatuh."Buset... Yon!" teriak Samsul histeris. Ia melompat dari kursi bambu, berlari menghampiri Sugiono sambil menyodorkan layar ponselnya. "Lihat nih! Kamu lihat ini, Yon!"Sugiono yang sedang merapikan asbak dan sisa puntung rokok, menoleh pelan. "Ada apa sih, Sul? Teriak-teriak kayak orang kesurupan.""Matamu itu yang kesurupan! Baca ini nolnya ada berapa, Mbah!" Samsul menggebrak meja saking girangnya. "Seratus juta, Yon! Seratus juta rupiah! Si Udin ini pejabat atau bandar korupsi sih?! Cuma modal mijet jelly lembek tiga menit, bayarannya seratus juta!"Sugiono melirik layar ponsel itu sebentar. Tidak ada raut kaget yang berlebihan di wajah

  • Pakde sang Penakluk    113 Telur Bebek

    Samsul keluar dari dapur dengan langkah cepat. Di tangannya terdapat sebuah gelas kaca besar berisi cairan kental berwarna kuning kecokelatan."Ini dia, Pak Udin. Ramuan khusus VIP Platinum! Tiga butir kuning telur bebek asli, lada hitam tumbuk kasar, sama madu klanceng pilihan," seru Samsul sambil meletakkan gelas itu dengan bangga di atas meja.Bau amis seketika menguar di udara, bercampur dengan aroma tajam lada.Sugiono mengambil sebuah sarung kotak-kotak yang terlipat di atas dipan, lalu melemparkannya ke pangkuan Udin."Silakan, Pak. Diminum dulu ramuannya sampai habis," perintah Sugiono dengan nada datar. "Habis itu Bapak ganti celananya pakai sarung ini."Udin menatap gelas besar itu dengan ragu. "Baunya amis banget ya, Pakde.""Amis di mulut cuma sebentar, Pak. Manisnya di rumah nanti malam kerasa sampai subuh," timpal Samsul sambil mengedipkan mata, menyemangati layaknya pelatih tinju. "Ayo, tarik napas, langsung sikat habis!"Udin memencet hidungnya sendiri, memejamkan mata

  • Pakde sang Penakluk    112 Pasien dari kota

    Samsul menarik sebuah kursi bambu di teras gubuk dan mempersilakan tamunya duduk. Pria bernama Udin itu mendaratkan pantatnya dengan hati-hati.Samsul langsung menyodorkan segelas kopi hitam panas yang baru diseduhnya. "Silahkan diminum dulu, Pak, kopinya. Sambil ngerokok juga santai aja di sini."Udin mengangguk kaku, senyumnya tampak canggung. "Hehe, iya. Terimakasih, Mas."Sore itu Udin tampil sangat rapi. Ia mengenakan kemeja batik cokelat lengan panjang, setelan khas pejabat pemerintah dari kota, sangat kontras dengan pemandangan sekitar gubuk Sugiono yang dikelilingi sawah dan pepohonan pisang.Sugiono melangkah keluar dari dalam gubuk, mengenakan sarung pudar dan kaus oblong. Ia duduk di kursi kayu berhadapan dengan Udin. Tangan tuanya mengangkat gelas seng berisi kopi, lalu menyesapnya perlahan."Bapak tahu dari mana tempat pemijatan saya?" tanya Sugiono dengan nada datar sambil menatap tajam tamunya.Udin merapikan letak kacamatanya yang sedikit merosot. "Saya lihat di iklan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status