共有

Bab 81

作者: Just Mommy
last update 公開日: 2026-11-03 16:43:00

Dewa yang mendengar ucapan Clove seketika menggertakkan giginya pelan. Sorot matanya menghujam tajam ke arah kaca spion tengah tempat Liam menyembunyikan senyum tipisnya.

Di dalam hati pria itu, rasa gengsi mendadak bergejolak. Jika ia menuruti permintaan Clove untuk pergi ke lokasi 'rapat' lebih dulu, itu artinya ia kalah dan menyerahkan kendali pada wanita di sampingnya.

"Liam," ucap Dewa dengan suara bariton yang sangat dingin. "Antar dia pulang ke rumahnya lebih dulu
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 81

    Dewa yang mendengar ucapan Clove seketika menggertakkan giginya pelan. Sorot matanya menghujam tajam ke arah kaca spion tengah tempat Liam menyembunyikan senyum tipisnya.Di dalam hati pria itu, rasa gengsi mendadak bergejolak. Jika ia menuruti permintaan Clove untuk pergi ke lokasi 'rapat' lebih dulu, itu artinya ia kalah dan menyerahkan kendali pada wanita di sampingnya."Liam," ucap Dewa dengan suara bariton yang sangat dingin. "Antar dia pulang ke rumahnya lebih dulu!"Clove yang mendengar keputusan itu seketika menoleh dengan dahi berkerut tajam. Ia merasa tidak enak hati jika harus merepotkan sang Presdir yang sibuk."Jangan, Pak," tolaknya cepat seraya mengibaskan kedua tangannya. "Bapak kan mau ada meeting penting. Saya tidak ingin mengganggu jadwal atau membuat Bapak terlambat."Dewa menyandarkan punggungnya di jok, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Senyum yang sangat tipis dan sarat akan provokasi

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 80

    Tubuh Clove seketika membeku. Suara bariton yang begitu dingin tepat di belakang tengkuknya sukses membuat bulu kuduknya berdiri.Jantungnya berdegup maraton. Namun wanita itu berusaha sebisa mungkin menguasai diri. Dengan wajah berpura-pura polos dan tidak mendengar ancaman itu, Clove dengan cepat mengalihkan pandangannya pada Liam."A-ayo Pak Liam, katanya tadi mobilnya sudah siap? Kita berangkat sekarang saja," ujar wanita itu cepat, hendak melangkah pergi.Namun, baru saja Clove mengayunkan kakinya, kerah bagian belakang bajunya mendadak tertarik dari belakang.Langkah Clove terhenti, lehernya agak tertarik ke belakang persis seperti seekor anak kucing yang sedang diangkat paksa oleh induknya."Mau kabur ke mana, kamu?" bisik Dewa dingin dari balik punggungnya.Dengan napas tersengal dan senyum manis yang dipaksakan hingga pipinya terasa kaku, Clove terpaksa menoleh secara perlahan. Pria tinggi berjas gelap itu sedang menatapnya dengan tajam, tangannya masih mencengkeram kerah b

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 79

    Pintu lift pribadi terbuka lebar di lobi utama. Liam langsung melompat keluar dan berlari kencang menuju pintu keluar.Mata Liam celingukan ke sana kemari, menyapu seluruh area lobi yang luas bernuansa modern itu. Namun, Clove sama sekali tidak terlihat di area ruang tunggu maupun di pelataran depan.Rasa dingin yang mencengkeram seketika merayap ke tengkuk Liam. Wajahnya memucat bagaikan mayat.Dengan napas terengah-engah, dia berlari menghampiri meja pos keamanan di dekat pintu kaca utama."Mas Security!" panggilnya setengah berteriak pada staf keamanan yang bertugas. "Lihat Nona Clove chef pribadi Pak Dewa, gak?! Dia udah turun ke lobi belum?!"Staf keamanan itu terkejut melihat sang asisten Presdir yang biasanya rapi kini tampil berantakan dengan napas memburu."E-eh, Pak Liam ... Nona Clove yang chef baru itu, ya? Tadi saya lihat—"Belum sempat staf keamanan itu menyelesaikan kalimatnya, bu

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 78

    Dewa seketika membeku. Matanya terbelalak, tak percaya. Di ujung telepon sana, Clove terdengar menarik napas panjang, menahan magma yang siap meletus kapan saja. "Bapak pikir saya ini robot yang bisa Bapak suruh-suruh dan dipermainkan seenak jidat Anda?!" lanjut Clove dengan suara bergetar menahan amarah yang membuncah. "Bapak yang minta dibuatkan menu baru, Anda menghina masakan saya, lalu saat saya sudah lelah setengah mati membuatkan yang baru, Bapak dengan santainya menyuruh saya berhenti dan pulang begitu saja?!" "Ini masalah standar kualitas, Chef Love. Sebagai customer, saya berhak mendapatkan yang terbaik. Jangan baper hanya karena masakan Anda dikritik," balas Dewa sengit. Suaranya naik satu oktaf merespons nada tinggi wanita itu. Napas Clove tersengal-sengal di seberang telepon. Emosinya benar-benar sudah berada di ambang batas kewarasan. "Tolong ya, Pak! Kalau Bapak punya masalah atau sedang puber kedua, jangan tumbalkan saya! Saya ini bekerja profesional sebaga

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 77

    Melihat Bima masih bergeming dan tidak berniat pergi, Liam terpaksa merancang alasan pamungkas yang tidak akan bisa ditolak oleh siapapun.Liam memangkas jarak lalu berbisik dengan raut wajah dingin"Chef Bima," desisnya pelan tetapi sarat ancaman. "Bahan-bahan di dapur ini dipesan khusus dengan protokol keamanan tinggi untuk konsumsi tunggal Presdir. Jika terjadi kontaminasi silang atau alergi pada makanan beliau akibat ada staf luar yang masuk tanpa sterilisasi, manajemen akan menindak tegas dan membawa hal ini ke jalur hukum. Apa Chef Bima mau bertanggung jawab jika lisensi memasak Anda dicabut hari ini juga?"Ancaman soal lisensi dan jalur hukum itu seketika membuat raut santai di wajah Bima luntur. Pria itu menelan salivanya, mendadak sadar betapa mengerikannya risiko berurusan dengan aturan pimpinan Clinton Group."I-iya. Baik, Pak Liam. Saya paham," ujar Bima terbata-bata dengan wajah

  • Dulu Ditendang Mantan, Kini jadi Istri Jutawan   Bab 76

    Raut wajah Dewa seketika berubah pekat bagaikan langit yang tertutup awan hitam. Rahangnya mengeras kaku. Urat-urat di leher serta tangannya menegang saat menyaksikan tawa renyah Clove di layar monitor CCTV.Matanya menyipit tajam, memperhatikan jemari Bima yang sempat menyentuh dan mengacak rambut Clove dengan santai. Nyala api cemburu membakar seluruh kesadaran dan rasionalitas sang Presdir hingga berada di titik didih.“Sialan!”Dewa menghempaskan pena mahal di tangannya ke lantai hingga terbelah dua.Pria itu menekan tombol intercom dengan ketukan keras. "Liam! Masuk ke ruangan saya sekarang juga!" perintahnya dengan suara bariton yang bergema penuh amarah membunuh.Di luar ruangan, Liam yang sedang mengetik laporan seketika meloncat dari kursinya. Mendengar nada suara sang bos yang sudah berada di puncak murka, ia buru-buru berlari dan memutar knop pintu ruangan tersebut.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status