LOGINNamun, diluar dugaan Fara, pria itu tidak langsung membela dirinya seperti biasanya.
Reno yang saat ini sedang sangat ingin memperbaiki hubungannya dengan Clove demi mengamankan posisi dan harta istrinya justru menatap Fara dengan raut jengah. "Soal itu, kamu harusnya bisa maklum, Far," ujar pria itu datar, melambaikan tangannya meremehkan aduan wanita itu. "Kamu jangan lupa, Clove itu istriku. Rumah itu dibeli pakai uang dia juga. Wajar kalau iClove yang sedang berusaha menenangkan diri dengan minum air langsung tersedak. Air di dalam mulutnya hampir saja tersembur keluar.Uhuk! Uhuk!Ia terbatuk-batuk seraya memegangi dadanya. Wajahnya merah padam karena kaget dan menahan malu.‘Apa dia gila? Bisa-bisanya dia ngomong gitu seolah lagi bahas cuaca hari ini!’ teriaknya dalam hati.Namun, ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan sang bos. Ia segera mengumpulkan keberanian untuk memberikan perlawanan balik. Wanita itu pun menoleh."Memangnya sudah berapa wanita yang Bapak hamili sampai bisa yakin seandal itu?" tanyanya tajam. Matanya menatap bosnya penuh tantangan."Belum ada," jawab Dewa tenang. Pria itu menyilangkan tangannya di depan dada.Wanita itu mengerutkan keningnya. "Lalu kenapa Bapak bisa seyakin itu?" cibir Clove tak mau kalah. "Bicara seperti orang yang paling berpengalaman saja."Dewa menatap wanita itu dengan tatapan pekat y
Clove terperanjat mendengarnya. Matanya terbelalak tak percaya."Bapak pikir saya sejahat itu?" protesnya dengan nada meninggi. "Saya masih waras, Pak!""Siapa tahu," sahut Dewa santai seraya bersedekap dada. "Manusia tidak ada yang bisa ditebak.""Saya ini chef pribadi Anda!" tegas wanita itu, seraya menunjuk dirinya sendiri. "Mana mungkin saya meracuni masakan saya sendiri? Kalau Bapak kenapa-napa, sudah pasti saya yang jadi tersangka utamanya!"Dewa tidak terpengaruh sama sekali oleh protes panjang itu. Pria itu menyandarkan punggungnya kembali dengan santai."Jangan berdebat," ucapnya dingin. "Saya sudah lapar. Cepat cicipi makanan itu sekarang!"Clove mengembuskan napas kasar. Ia menghentakkan kakinya pelan melampiaskan kekesalan. ‘Bener-bener sinting!’ batinnya, kesal.Tanpa membantah lagi, ia mengambil sendok dan menyuap sedikit makanan ke mulutnya. Ia mengunyahnya cepat lalu menelannya d
Clove menghela napas halus, tak berniat membantah. Bagaimanapun juga, ia sadar telah melakukan kesalahan besar karena kesiangan tadi pagi."Baiklah, Pak Liam. Saya akan naik ke atas," ujar wanita itu pasrah, lalu mengakhiri panggilan.Ia menghampiri salah satu petugas resepsionis yang berdiri anggun di balik meja. "Selamat siang, Mbak. Saya mau mengantarkan makanan untuk Pak Dewa," ucapnya sopan.Resepsionis itu tersenyum sangat ramah. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan keraguan saat menatap Clove."Dengan Nona Clove, ya?" tanya resepsionis itu memastikan. "Silakan, Nona. Kami sudah menerima amanat dari sekretaris beliau."Clove sedikit bingung mendengar keramahan yang luar biasa itu. ‘Eh, kok gampang banget? Kirain bakalan diinterogasi dulu,’ batinnya."Ah, iya, benar. Terima kasih banyak, Mbak."‘Apa mungkin semua staf di gedung ini emang ramah, ya?’ gumam wanita itu, dalam hati, heran. Seraya melangk
Namun, diluar dugaan Fara, pria itu tidak langsung membela dirinya seperti biasanya. Reno yang saat ini sedang sangat ingin memperbaiki hubungannya dengan Clove demi mengamankan posisi dan harta istrinya justru menatap Fara dengan raut jengah. "Soal itu, kamu harusnya bisa maklum, Far," ujar pria itu datar, melambaikan tangannya meremehkan aduan wanita itu. "Kamu jangan lupa, Clove itu istriku. Rumah itu dibeli pakai uang dia juga. Wajar kalau istri keberatan dan marah ada perempuan lain yang dibawa suaminya tinggal di sana." “Selama ini juga dia udah baik banget lho, ngizinin kamu tinggal. Aku yakin, istri lain gak akan sebaik dia!” tegas pria itu. ‘Sialan! Kenapa dia jadi belain istrinya, sih!’ batin wanita itu. Reno menghela napas panjang, pura-pura bersikap bijak. "Lagian, dipikir-pikir aku emang salah selama ini. Aku terlalu manjain kamu sampai lupa jaga perasaan istriku sendiri."
Wajah Clove seketika merah padam hingga ke ceruk lehernya. Ia gelagapan setengah mati mendengarkan pria itu dengan sangat santai dan dingin mengungkit kejadian sensitif tersebut di telepon. "P-Pak Dewa! Jangan bicara sembarangan!" protestnya panik, salah tingkah sendiri. Ia buru-buru memutar otak untuk mengalihkan pembicaraan yang membahayakan jantungnya ini. "Itu, nanti siang saya akan memasakkan makanan dan mengantarkannya langsung ke kantor Anda, Pak!" Dewa menaikkan sebelah alisnya, mengusap dagunya perlahan. "Makanan?" "Iya, Pak! Saya akan membawakannya ke kantor Anda nanti siang. Tolong maafkan saya untuk pagi ini," jelas Clove cepat sebelum Dewa sempat menggoda atau menolaknya lagi. "Kalau begitu, saya tutup dulu teleponnya, Pak. Terima kasih!" Sambungan diputus sepihak oleh wanita itu. Dewa menatap layar ponselnya yang kembali gelap, lalu tertawa halus. Sebuah tawa langka yang membuat Liam sampai melotot heran melihat perubahan drastis suasana hati bosny
POV AuthorFara tertegun sejenak. Namun ia tidak mau kalah begitu saja. Taktik manipulatifnya langsung keluar."Tapi Mas Reno yang punya kuasa di sini!" balas Fara seraya berakting mengusap air mata buayanya, mencoba bermain sebagai korban yang tersakiti. "Kamu itu jahat banget ya, Mbak! Aku di sini cuma mau bantu kalian, tapi kamu malah hina dan nuduh aku yang enggak-enggak! Kamu pikir aku seneng ada di posisi ini?!"Clove menyunggingkan senyum jijik melihat akting murahan di hadapannya."Gak usah sok melas dan playing victim di depanku," cibirnya dingin tanpa tersentuh sedikit pun oleh air mata palsu itu. "Air matamu itu gak akan mempan. Semua orang juga tau siapa yang jahat dan siapa yang gak tau malu di sini.""Kamu yang gak tau malu!" teriak Fara lepas kendali. "Kamu gak bisa ngebahagiain Mas Reno! Makanya dia berpaling ke perempuan lain! Kamu cuma perempuan pembawa sial yang bikin bisnis s







