로그인Ancaman itu membuat Clove makin panik. Jika Dewa sampai turun tangan langsung menemui Reno, ia yakin situasi akan berubah menjadi kekacauan besar."Jangan! Tidak perlu!" tolak wanita itu cepat seraya menggeleng tegas. "Masih ada beberapa hal yang harus saya selesaikan sendiri dengan Reno. Saya sudah punya rencana!"Dewa merengut kesal, menyilangkan tangannya di depan dada dengan ketidaksabaran yang meluap. "Rencana apa lagi?! Kamu tidak perlu memikirkan harta gono-gini atau sisa peninggalan yang tidak seberapa itu! Semua kerugianmu bisa saya ganti sepuluh kali lipat detik ini juga!"Kekesalan Clove yang menumpuk akhirnya meledak. Ia jengkel setengah mati dengan kebiasaan Dewa yang selalu mengukur segala hal menggunakan lembaran uang."Tidak semua hal di dunia ini bisa dibeli dengan uang Anda!" sergah Clove berani, menatap tajam ke mata Dewa. "Ada salah satu buku resep rahasia peninggalan mendiang Papa ya
"Menunjukkan apa, Pak?" tanya Clove sambil menautkan alisnya."Nanti," sahut Dewa pendek dengan senyum tipis yang sukar diartikan. "Selesaikan makanmu dulu!"Clove mendengkus pelan seraya cemberut. "Kalau belum mau memberi tahu, tidak usah memancing penasaran, Pak.""Makan saja, Love. Jangan banyak protes!" balas Dewa tenang.Dewa mengusap bibirnya menggunakan serbet kain untuk terakhir kalinya. Ia langsung berdiri dari kursi. Tanpa mengucap sepatah kata pun, pria itu melangkah menuju meja kerjanya. Clove yang masih menahan rasa penasaran itu menatapnya.Dewa meraih sebuah stopmap tebal bernuansa merah tua dari atas meja. Ia pun kembali dan menyerahkannya pada wanita itu.Clove mengerutkan dahinya bingung. "Ini surat apa, Pak?"Dewa menyandarkan pinggulnya di tepi meja seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Senyum yang tipis terukir di bibirnya."Selamat," ujar pria itu dengan nada suara berat nan tenang. "Sekarang kamu sudah resmi menjadi janda."Clove seketika membelalakkan
Monica berdiri mematung di depan lift dengan wajah memerah padam. Dia mengepalkan jemarinya erat sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi dengan hentakan kaki penuh rasa malu yang membakar. "Gila, Bu Monica dibentak habis-habisan di depan umum!" bisik seorang staf keuangan seraya membelalakkan mata tak percaya. "Iya! Padahal Bu Monica itu direksi yang paling ditakuti di gedung ini," timpal karyawan lainnya dengan nada takjub bercampur puas. Namun, fokus perbincangan itu dengan cepat mengarah pada sosok Clove. Spekulasi liar yang semula hanya berembus samar di antara koki kantin kini menyebar luas ke seluruh penjuru kantor. "Tapi chef pribadi itu beneran bukan orang sembarangan, deh," cibir seorang wanita bersetelan kerja ketat di salah satu meja. "Mana ada chef yang troli makanannya didorongin langsung sama Bos besar?!" "Iya, jangankan dorong troli, Pak Dewa nyapa staf biasa aja hampir gak pernah! Ada yang gak beres, nih. Gak mungkin hubungan mereka cuma sebatas
Pintu lift khusus terbuka perlahan saat tiba di lantai tiga. Namun, pemandangan pertama yang menyapa indra penglihatan Dewa bukannya aroma makanan hangat atau suasana tenang, melainkan suara perdebatan yang bising.Pria itu melangkah keluar dan mendapati Clove sedang berdiri menahan dorongan trolinya, dihambat oleh Monica yang bersedekap angkuh di depan pintu.Aura di sekitar Dewa seketika turun hingga ke titik beku. Matanya menyipit tajam, memperlihatkan kekesalan yang luar biasa."Ada apa ini?" suara bariton pria itu menggelegar rendah. Namun sanggup membekukan lorong tersebut.Monica yang mendengar suara dingin itu seketika berbalik. Wajahnya yang semula galak mendadak berubah menjadi penuh senyuman ramah dan rasa bangga.Ia mengira baru saja melakukan tindakan yang sangat berjasa bagi pimpinannya."Ah, Pak Dewa!" ucap Monica manis, melangkah mendekati Dewa. "Baguslah Bapak turun. Saya sedang menertibkan wanita ini."Dewa menatap Monica dengan pendar mata yang sangat dingin. "Men
Sebelum Clove sempat membalas, seorang pria bercelemek putih keluar dari ruang penyimpanan bahan. Wajahnya yang semula tegang seketika berbinar cerah saat melihatnya."Clove? Kamu kerja di sini?" tanya pria itu dengan nada gembira.Wanita itu menoleh dan matanya ikut membelalak lega. "Mas Bima?"Keduanya saling melempar senyum lebar. Bima adalah senior Clove saat masih menimba ilmu di sekolah kuliner beberapa tahun lalu. Hubungan mereka memang cukup akrab sebagai sesama koki."Astaga, aku dengar ada koki pribadi baru buat Pak Dewa, gak nyangka ternyata kamu!" ujar Bima seraya menepuk bahu Clove ramah. "Ada apa? Apa kamu butuh bantuanku?""Aku kehabisan fresh rosemary, Mas. Kira-kira boleh pinjam sedikit, gak?" jawab Clove meringis pelan. "Boleh banget, jangankan sedikit, satu pot juga tak kasih!" tawa Bima renyah seraya berbalik menyambar seikat rosemary segar dari rak pendingin.Sambil menyerahkan bumbu itu, Bima menyempatkan diri mengobrol singkat, menanyakan kabar serta mendoakan
Darah Clove berdesir mendengarkan cacian pedas pria di hadapannya. Kata 'tidak kompeten' yang meluncur mulus dari bibir Dewa berhasil menyulut seluruh harga diri dan profesionalismenya sebagai seorang chef.Ia mengepalkan jemarinya, menatap tajam ke dalam iris mata pekat milik pria arogan itu."Baik, saya terima tantangan Bapak!" sahut Clove dengan nada suara dingin dan sarat penekanan.Dewa menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan, menyandarkan punggungnya semakin dalam ke kursi kebesarannya."Tapi saya minta waktu," lanjut Clove cepat sebelum pria itu sempat bersuara. "Sebentar lagi sudah masuk jam makan siang. Saya akan memasak menu makan siang untuk Anda sesuai jadwal dulu. Setelah itu, baru saya proses menu eksperimen baru yang Bapak inginkan."Dewa tidak memprotes sedikit pun. Lagipula, tujuan utamanya memutar otak dengan alasan konyol ini memang hanya demi memastikan wanita di hadapannya itu terus berputar di sekitarnya."Terserah kamu," sahut pria itu datar, pura-pura ti







