LOGINJordi menepis tangan Nia. Pria itu tampak patah hati."Nia, apa kamu begitu nggak berperasaan? Bagaimana kamu tega mengatakan hal-hal kejam seperti itu? Apa aku nggak memperlakukanmu dengan baik selama ini? Apa aku nggak memperlakukan Yuyu dengan baik? Aku nggak minta kalian membalasnya dengan hal yang sama, tapi paling nggak, berikan aku sedikit rasa hormat, 'kan?"Nia memejamkan matanya. "Kamu ingin dihormati, tapi apa kamu pernah menghormati kami?""Aku lagi melindungi kalian!""Perlindungan bukanlah alasan. Kalau kamu terus bersikap otoriter seperti ini, aku dan Yuyu ....""Apa yang ingin kalian lakukan?"Nia menegakkan punggungnya. "Aku dan Yuyu akan meninggalkanmu.""Apa kamu nggak takut ...." Jordi hendak mengancamnya, tetapi menelan kata-katanya kembali. "Kamu seharusnya tahu apa konsekuensinya!""Bukankah kamu ingin memaksaku mati?""Kenapa kamu bisa berpikir aku tega memaksamu?"Nia tersenyum kecut. "Jordi, berhentilah mencoba membuatku tersentuh dengan cintamu, oke? Cintamu
Kening Jordi berkerut. "Kamu sadar apa yang kamu katakan barusan? Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang ayah yang baik. Alih-alih memujiku punya rasa tanggung jawab, kamu justru menyalahkanku karena melakukan hal yang salah!""Kamu bilang kamu ingin menjadi ayah yang baik? Tapi apa yang menurutmu seharusnya dilakukan oleh seorang ayah yang baik hanyalah pendapatmu sendiri. Aku dan Yuyu sama sekali nggak beranggapan seperti itu.""Karena aku melarangnya main skateboard?""Kamu nggak menghormati apa yang disukainya.""Dia masih begitu kecil. Bermain skateboard akan membahayakannya!""Kamu bisa menemaninya bermain dan melindunginya dari samping, alih-alih menggunakan wewenangmu sebagai ayahnya untuk menekannya, mengambil papan skateboard, dan membuangnya ke tempat sampah!"Ekspresi Jordi berubah beberapa kali. Dia tidak menyangka Nia akan sepenuhnya tidak menyetujui apa yang telah dia lakukan, meskipun dia melakukan semua itu demi putrinya."Bagaimana dengan Micha
"Yuyu benar-benar ada di tempatmu! Kamu tahu nggak betapa khawatirnya Nia? Seharusnya kamu beri tahu dia dulu!""Yuyu bersembunyi di semak-semak di luar rumahku seharian penuh. Pas Nia dan yang lainnya datang mencarinya, aku benar-benar nggak tahu Yuyu ada di sana. Yuyu baru keluar dari persembunyiannya setelah mereka pergi.""Kalau begitu, kamu juga harus telepon Nia.""Yuyu nggak perbolehkan.""Kamu itu orang dewasa ....""Yuyu bilang Jordi menganiaya dia. Nia benar-benar lalai menjadi seorang ibu. Aku benar-benar marah.""Uh, Yuyu bilang seperti itu padamu?""Ya, jangan beri tahu Nia. Aku pasti akan melindungi Yuyu. Aku sudah janji padanya."Setelah menutup telepon, Bertha menatap Nia yang berdiri tepat di depannya."Yuyu berada di tempat Michael."Nia telah mendengar apa yang mereka berdua bicarakan. Dia menghela napas lega, tetapi dia juga marah. Yuyu bahkan tidak memberitahunya. Namun, saat mendengar Michael mengatakan bahwa dia lalai sebagai seorang ibu, dia memang harus mengaku
Apa Nia memaksanya untuk belajar memasak?Namun, itu bukanlah mimpinya. Dia semestinya menyukai panjat tebing. Setidaknya, impiannya di saat berusia 18 tahun adalah berkeliling dunia dengan mobil karavan untuk panjat tebing.Mungkin impian Michael di usia 28 tahun bukan lagi panjat tebing, melainkan memiliki seorang istri, anak, dan rumah yang hangat.Yuyu sangat lapar dan makan dengan lahap. Namun, Michael menyajikan terlalu banyak untuknya. Meskipun Yuyu makan banyak, dia juga tidak bisa menghabiskannya.Michael dengan santai mengambil mangkuknya, menuangkan sisa mi ke dalam mangkuknya sendiri, lalu menghabiskannya dalam beberapa suapan besar.Michael melirik jam dan berkata, "Aku antar kamu pulang ke rumah ya."Mendengar itu, Yuyu langsung cemberut."Ini rumahku. Ayah mau aku pulang ke mana lagi?"Melihat Yuyu hampir menangis, Michael segera menghiburnya. "Aku nggak bilang ini bukan rumahmu, tapi kamu kabur secara diam-diam. Ibumu mengira kamu tersesat dan sangat khawatir. Dia menca
Michael menerimanya dalam sekejap. Gadis kecil ini sangat menggemaskan. Hanya pria sehebat dirinya dan wanita secantik Nia yang bisa memiliki anak seperti itu."Ayah yang salah. Meski Ayah hilang ingatan, mulai sekarang, Ayah akan mengukir kembali dirimu dalam ingatanku dan nggak akan melupakanmu lagi." Michael menggendong Yuyu dan menghiburnya.Sulit dipercaya dia bisa begitu saja mengucapkan kata-kata klise seperti itu. Namun, bagaimana dia tega melihat gadis kecil yang lucu itu menangis?"Jangan nangis lagi. Kalau kamu nangis, Ayah jadi ikut sedih."Ayahnya dulu juga menghiburnya dengan cara yang sama. Mendengar nada familier itu, tangisan Yuyu bertambah kencang. Dia juga memeluk leher Michael erat-erat."Ayah, jangan tinggalkan aku dengan Ibu!""Uh, meskipun aku menginginkan ibumu, aku juga nggak bisa. Tapi kamu putri kandungku, jadi aku pasti nggak akan meninggalkanmu!""Ayah, aku kangen sama kamu.""Kelak kita nggak akan berpisah lagi."Setelah masuk ke dalam rumah, Yuyu mengatak
"Nggak perlu khawatir soal itu." Michael mengusap hidungnya. "Karena sudah selesai masak, kamu boleh pergi sekarang.""Ah?"Nadia terkejut. Dia bilang apa? Dia menyuruhnya pergi?"Tuan Michael, jangan bercanda lagi. Menyebalkan sekali!""Aku nggak tertarik bercanda denganmu. Ambil barang-barangmu dan pergi dari sini!" seru Michael dengan dingin.Melihat tampang serius Michael, Nadia mengerutkan kening. "Tuan Michael, kita semua orang dewasa. Kamu mengundang saya datang ke rumah Anda, dan saya pun datang. Tapi saya datang ke sini bukan hanya untuk memasak buat Anda!""Kalau nggak?" Michael mengangkat alisnya, tampak seperti seorang bajingan."Nggak mungkin Tuan Michael ... nggak tertarik sedikit pun pada saya, 'kan?""Apa aku harus tertarik padamu?""Aku nggak seburuk itu.""Biasa saja.""Kamu!""Pergi sana!"Nadia sangat marah hingga nyaris pingsan. Dia berdandan rapi, pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan, lalu turun di gerbang masuk, dan harus mengangkat semua barang belan







