/ Romansa / ENAK, PAK DOSEN! / 110. Hari Pertama Di Penjara

공유

110. Hari Pertama Di Penjara

작가: OTHOR CENTIL
last update 최신 업데이트: 2025-09-20 09:15:33
“Akh!"

Wanita itu hanya bisa merintih merasakan jika tulang hidungnya yang hampir saja patah saat Diana melayangkan bogem mentah lagi. Bisa dirasakan jika cairan merah mengalir dari lubang hidung.

"Kamu kelewatan, Diana! Aku bersumpah jika aku tak sudi—"

"Itu tidak akan sebanding dengan luka yang kamu goreskan pada hatiku dan juga hati putriku," sela Diana dengan cepat.

"Aku salah menilai mu sebagai orang baik-baik. Sekarang, rasakan semua pembalasan di dunia. Karena akan ku pastikan, kamu akan berada di lembaga pemasyarakatan lebih dari 20 tahun selamanya. Camkan itu!" Diana segera menarik lengan Damar untuk menjauh dari sana.

Makin lama ia melihat Carol, maka membuatnya semakin kalap. Ia memilih menyingkir, tak mau melakukan hal yang tidak-tidak pada mantan calon kakak madunya itu.

***

Setelahnya, Carol dibawa ke sel. Wanita itu meronta pada petugas yang meringkusnya. Setelah itu, ia dihempaskan kasar masuk ke sel dan digunjing oleh para napi wanita lain.

"Lepasin! L
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Mira
Semua bisa berubah ya, munafik sekali Carol ini
댓글 모두 보기

최신 챕터

  • ENAK, PAK DOSEN!   498. Insecure

    “Dokter, bagaimana kondisi anak saya?” tanya Damar dengan nada yang menuntut kepastian. Beberapa anggota keluarganya juga turut mendekati dokter tersebut. Dari arah kedatangannya tadi, Ara dan kedua orang tuanya ikut mendekatinya. Mereka mengerumuni dokter berkacamata itu dengan perasaan was-was, sembari menunggu penjelasan lebih lanjut.“Syukurlah, Tuan Muda berhasil melewati fase kritisnya, Tuan Setyawan. Ini sebuah keajaiban karena kami pun tidak menyangka Tuan Muda akan sadar secepat ini. Kesadarannya telah pulih sepenuhnya, dia sudah bisa merespons suara dan mengenali orang di sekitarnya,” ujar Dokter Satria. Ia sempat terdiam sejenak, helaan napasnya terdengar berat sebelum menatap rekannya, Dokter Rendy, seolah tatapan matanya menyiratkan untuk melanjutkan penjelasannya.Dokter Rendy mengerti, dia langsung menyambung, menjelaskan, “Tapi, seperti yang saya bilang di awal, … ada sesuatu yang harus Anda ketahui.”“Tapi apa, Dok? Jangan berbelit-belit!” sela Damar tak sabar, raha

  • ENAK, PAK DOSEN!   497. Sadar

    “Apa? Kamu akan membawa putriku tinggal di Manhattan? Kamu … serius, Mar?” Mata Arnold dan Kim terbelalak tidak percaya pagi itu.Damar datang tanpa pemberitahuan sebelumnya, ingin menemuinya dan membahas Ara beserta kelanjutan hubungannya dengan Sagara. Dan begitu Damar mengatakan segalanya, mereka berdua shock berat. Pasalnya, Damar bersikap seenaknya sendiri, tidak memberitahukan atau merundingkan rencana ini dengan mereka terlebih dahulu.Siapa yang tidak marah coba?Kim yang biasanya diam, kini ikut andil menanggapi ucapan Damar. Tentu bicara dengan kelembutan, seperti sikapnya selama ini. “Tuan Damar, tolong jangan mengambil keputusan sepihak. Kami selaku orang tuanya jelas tidak setuju dengan usulan Anda yang terkesan mendadak ini,” matanya lembut. Ia membasahi bibirnya sekilas, menatap suaminya, lalu kembali menatap mata Damar yang penuh ambisi. “Meski alasan yang Anda sebutkan terbilang masuk akal, tapi … berada di kota sebesar itu, sendirian, menunggu putra Anda, kami … t

  • ENAK, PAK DOSEN!   496. Go To Manhattan

    Disambut oleh sang istri, Damar segera melepas coat hitam yang ia gunakan. Cuacanya cukup dingin malam ini sebab sebelum ia pulang tadi, mendadak memang hujan deras disertai gemuruh dan petir yang cukup kencang.“Mau balik lagi ke rumah sakit, Mas?”“Iya, tapi kamu di rumah aja, Yang. Gak usah ikut, nanti kamu sakit malah makin runyak.”“Baiklah.” Diana mengekor di belakang Damar. Ia membawa coat krem suaminya menuju keranjang kotor, meletakkannya dengan rapi lalu mengatakan, “Mandi dulu, Mas. Bau,” candanya.Damar tersenyum. Matanya menyipit saat ia mengusap kepala istrinya yang tak ditutupi hijab seperti biasanya. “Ya, … setelah ini kita bicara, ya.”“Em. Mau kuambilkan makanan di bawah, Mas? Pasti Mas lapar,” tawar Diana. Ia tahu, suaminya belum makan sama sekali. Ia hanya takut gerd Damar akan kambuh.Damar menolak, dia menggeleng tipis sambil berbalik badan di ambang pintu kamar mandi. Sebelah tangannya bersiap menekan handle pintu, tapi bibirnya mengucap, “Gak perlu, Yang. Tadi,

  • ENAK, PAK DOSEN!   495. Ketidaksetujuan

    “Saya butuh kepastian, Dok!”Rendy menelan ludah, ia tahu siapa yang sedang ia hadapi. Lalu, ia menanggapi dengan tenang agar ucapan yang akan keluar dari bibirnya tidak menyinggung pria ini.“Saya tahu, Tuan Setyawan. Kepastian itu ada pada kedisiplinan terapinya nanti. Tuan Muda Sagara harus melakukan serangkaian terapi yang sangat berat. Bukan hanya fisik, tapi juga stimulasi saraf elektrik untuk memaksa otot-ototnya tetap hidup sementara sarafnya beregenerasi. Saya pastikan kalau beliau mengikuti terapi secara teratur, semangat sembuh, dan bisa bersabar, maka kesembuhan beliau akan lebih cepat.”“Baiklah,” potong Damar cepat. “Setelah dia siuman dan kondisinya stabil, apa saya bisa membawanya ke rumah sakit terbaik di New York? Saya mau putra saya mendapatkan perawatan terbaik—mengingat di sini ….”Damar tak melanjutkan ucapannya. Dia tahu, pria di hadapannya itu pasti mengerti tentang keresahannya. Lalu, ia sambung dengan suara yang lebih rendah, dan pelan agar tidak menyinggung

  • ENAK, PAK DOSEN!   494. Butuh Kepastian

    “Bagaimana kondisi putra saya? Apa bisa diselamatkan, Dokter ... Rendy?” Diana menatap penuh harapan pada Dokter Rendy—begitulah nama yang ia lihat di ID card dokter yang ia guncangkan lengannya ini.Merasa istrinya membuat sang dokter tidak nyaman, Damar segera menariknya. Ia menasehati, “Yang, jangan begini. Kita dengarkan beliau bicara dulu.”Diana akhirnya mengalah. Dia memeluk suaminya, tapi tatapan sayunya tepat mengarah pada netra Dokter Rendy yang dibingkai oleh kacamata tebal.“Dok, silakan jelaskan,” kata Damar. Tak lupa, ia memberi satu kedipan pada Dokter Spesialis Saraf itu untuk tidak mengatakan segalanya.Setelah berdeham guna menetralisir rasa tak nyaman, Dokter Rendy mengangguk tipis pada Damar, ia kemudian menjelaskan singkat, namun tidak semuanya secara detail. “Secara garis besar, Tuan Muda selamat. Hanya saja, ... beliau belum sadar. Sejauh ini, tidak ada komplikasi yang terjadi. Tapi, tidak menutup kemungkinan kalau tubuh Tuan Muda Sagara akan mengalami efek sam

  • ENAK, PAK DOSEN!   493. Sesuatu Yang ... Fatal

    Dokter Satria menoleh cepat, masih menggenggam selang oksigen.m di tangannya ketika dia mendekati latar monitor yang tampaknya abnormal. “Ada apa, Dok? Jantung dan parunya sudah kembali stabil, ‘kan?”“Benar. Sirkulasinya pulih, tapi ….” Dokter Rendy menajamkan penglihatannya. Ia menatap tajam pada layar monitor yang tampak aneh. Setelah menganalisis apa yang terjadi, barulah ia menjelaskannya pada Dokter yang ada di sampingnya itu. “Sepertinya respons otonom pada ototnya hilang, Dok. Thallium itu sempat memblokade jalur perintah dari otak ke ekstremitas bawahnya. Terjadi kelumpuhan saraf perifer,” jelasnya terperinci.Dokter Satria kemudian mengecek semuanya, memastikan benar atau tidaknya diagnosis yang dilihat Dokter Rendy tadi.Matanya kini terpaku pada layar monitor yang menunjukkan garis nyaris statis pada aktivitas saraf perifer Sagara. Kemudian setelah memastikan, barulah ia merespons dengan ekspresi yang sangat cemas di wajahnya. “Maksudmu ... tidak ada hantaran listrik k

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status