Home / Fantasi / Elang, si Dewa Medis / 98. Pacar Barumu?

Share

98. Pacar Barumu?

Author: Zila Aicha
last update Last Updated: 2026-01-21 19:46:59

Meta terdiam bagai batu begitu mendengar perkataan Ginny yang tajam, tepat sasaran.

Ginny yang merasa puas karena telah membuat gadis itu tidak bisa berkata-kata lagi pun akhirnya berbicara, “Sebaiknya kau urus aja urusanmu sendiri, tidak perilaku campur urusan orang lain, Meta.”

Setelah mengatakannya, Ginny meninggalkan Meta dan teman-temannya yang ternganga karena tidak bisa membalas perkataan Ginny.

Sementara itu, Elang Viscala telah mulai bersiap-siap dan kini tinggal menunggu kedatangan Ma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Elang, si Dewa Medis   125. Akhir

    Thomas segera mengangguk cepat, “Saat ini saya memang tidak memilikinya. Tapi saya … sempat melihatnya, Tuan. Ada seorang teman yang memilikinya.”“Bagus. Jika kau bisa membawakannya untukku, aku akan menyetujui berapapun harga yang kau tawarkan,” kata Elang tanpa ragu.Mata Thomas seketika berbinar-binar. Dia percaya bahwa Elang selalu serius dengan perkataannya. “Anda jangan khawatir, Tuan! Saya pasti akan mendapatkannya untuk Anda.” Thomas berkata dengan penuh percaya diri. Elang manggut-manggut.Bahan obat yang dia sebutkan itu adalah salah satu bahan terpenting untuk menyembuhkan beberapa jenis penyakit berbahaya. Elang tidak akan mempermasalahkan harga barang itu karena dia yakin khasiat obat yang akan dia racik itu akan menyembuhkan banyak penyakit dan tentu saja pasti akan mendatangkan keuntungan yang besar. Selama dua minggu lamanya, Elang benar-benar disibukkan dengan pembangunan gedung dan juga masalah perizinan.Dia didukung penuh oleh Yasa Wiraya yang tidak segan-seg

  • Elang, si Dewa Medis   124. Pemasok Bahan Obat

    Lora tersenyum menanggapinya, “Tidak, Sophia. Aku baru mulai bekerja bersama dengan beliau tidak lebih dari dua minggu lamanya.”Sophia terkejut mendengarnya.Lora sepertinya bisa merasakan bahwa gadis itu penasaran terhadap bosnya dan dia tidak keberatan untuk mulai bercerita. “Bos Elang itu orang baik, Sophia. Dia tidak seperti orang kaya lainnya. Maksudku … kau pasti juga bisa merasakan bahwa tidak ada kesombongan di dalam setiap nada bicaranya dan dia juga menghargai setiap orang. Aku … bisa menjamin bahwa kau tidak akan menyesal bekerja untuknya.” Mendengar penjelasan Lora, Sophia semakin yakin dan semakin bersemangat bekerja di tempat baru itu. Sementara itu, Elang yang bertemu dengan beberapa pemasok bahan obat pun mulai bernegosiasi dengan mereka.Elang berhasil mendapatkan begitu banyak bahan obat dan kini dia pun bertemu dengan seorang pemasok obat yang mengatakan bahwa dia memiliki bahan-bahan obat yang langka.Mereka berada di sebuah restoran dan Elang sedang ditunjukka

  • Elang, si Dewa Medis   123. Bolehkah Aku Bertanya?

    Moira mendesah pelan, “Daiva, semua yang kau katakan itu benar. Tapi … seperti yang kau bilang, hidup harus berlanjut. Jadi … aku harus melanjutkan hidupku meskipun bukan sebagai manajermu.”Setelah mengatakan hal itu Moira bangkit dari kursinya dan kemudian berjalan menuju ke arah pintu keluar. Tetapi, saat dia membuka pintu, sebuah buku terlempar ke arahnya dan tepat mengenai punggungnya. Tanpa dia menoleh, dia tahu bahwa tentu saja itu dilakukan oleh Daiva.“Kau … benar-benar tidak tahu terima kasih. Aku membencimu, Moira.” Daiva menggeram marah.Sementara Moira hanya menanggapi, “Kau seharusnya tidak memiliki waktu untuk membenciku. Sebaiknya kau segera pikirkan bagaimana caranya kau menghadapi masalah ini.”“Kau tidak mungkin hanya bergantung dari uang tabungan yang tidak terlalu banyak itu. Kau … harus segera mencari jalan keluar,” kata Moira.Daiva melemparkan sebuah botol minuman ke arahnya tapi Moira berhasil menghindar dan lalu keluar dari kamar hotel Daiva.Daiva hanya bi

  • Elang, si Dewa Medis   122. Kau Kurang Ajar!

    “Jangan khawatir, Yandra!”Yasa tersenyum miring kemudian melanjutkan, “Tidak ada yang mungkin berani membahasnya.”Usai mengatakan hal itu mereka pun meninggalkan rumah rahasia nenek Cakra Buana.Hanya dalam waktu singkat, berita penangkapan Cakra Buana dengan tuduhan penculikan dan pembunuhan pun tersebar luas.Para media memberitakannya dengan begitu masif sehingga tidak ada yang tidak mungkin tidak tahu tentang berita itu mungkin negeri itu.Hari berikutnya, Daiva Gunawan yang ketakutan setelah Cakra Buana ditangkap memilih untuk menginap di sebuah hotel. “Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa?” ucap Daiva yang merasa begitu stres setelah melihat berita-berita yang tersebar di internet. Dia semua tak percaya bahwa Cakra tertangkap.Bahkan, di berita pun dijelaskan bahwa ada bukti kuat yang digunakan oleh pelapor untuk menjerat Cakra.Jika sudah begitu, Daiva berpikir bahwa kemungkinan Cakra bisa bebas sangatlah kecil. Dia sekarang ini bahkan tak berani pergi keluar sendirian dan b

  • Elang, si Dewa Medis   121. Penjara?

    “Iya, dia saudaraku. Elang … merupakan kerabat jauhku.”Cakra termangu.Dia tidak pernah menduga hal itu sebelumnya. Elang Viscala dan Yasa Wiraya tidak terlihat mirip. Bahkan keduanya juga berasal dari kalangan yang jauh berbeda.Akan tetapi, kenyataan itu ternyata tak menutup kemungkinan bahwa mereka memang memiliki hubungan darah. Bisa saja Elang memiliki nama belakang yang berbeda dari Yasa dikarenakan orang tuanya yang tidak menikah dengan keluarga kaya sehingga namanya menggunakan nama biasa. “Jadi … mengapa kau bisa berpikir untuk menculik saudaraku?”Cakra semula agak linglung tapi kini dia sudah mulai menguasai dirinya, “Dia lah berani mengganggu pacarku. Aku hanya sangat kesal terhadapnya.”“Oh, rasa kesalmu ternyata bisa membuat orang hampir kehilangan nyawanya ya?”Cakra menyipitkan mata. “Dia tidak mati. Bukankah kau yang menyelamatkan dia ketika aku menculik dan memerintahkan anak buahku untuk menghajarnya sampai mati?”Yasa menyeringai, “Kau mengakuinya sekarang. Sia

  • Elang, si Dewa Medis   120. Dia Bukan Manusia?

    “Mengapa kau … berpikir aku mempengaruhi Yasa?” Elang bertanya dengan nada bingung.Pemuda itu masih belum melepaskan Cakra dan tetap menodongkan pistol miliknya ke kepala Cakra.“Jangan berpura-pura tidak tahu!” Cakra yang meskipun di bawah tekanan tetap terlihat begitu galak. Elang mendesah pelan, “Kupastikan urusan bisnismu itu tidak ada hubungannya denganku.”“Omong kosong. Kau pikir aku percaya terhadap apa yang kau katakan?”“Memang apa peduliku kau percaya atau tidak?” balas Elang.Rendra hanya bisa menahan napas, terlebih lagi ketika dia berpikir bahwa Elang sedang mulai kehilangan kesabarannya. Cakra berkata lagi, “Sialan! Gara-gara Yasa Wiraya selalu menghindar dari pertemuan denganku, ayahku menjadi marah besar. Dia-”“Aku sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Kau … ini benar-benar aneh. Kau mencampur adukkan bisnis dengan masalah pribadi. Ah, aku tidak menyangka kalau ternyata seorang Cakra Buana yang namanya begitu terkenal tidak bisa membedakan mana masalah pribadi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status