Teilen

Bab 97

last update Veröffentlichungsdatum: 01.03.2026 22:11:56

“Acha … sudah, Nak. Sudah.” Sukartini mengusap-usap lengan Acha, mencoba meredam emosi anak sulungnya yang nyaris meledak.

“Ayah, aku ng—”

“Bibi, kami mau bayar.”

Seorang pelanggan wanita muncul dari balik pintu dapur, membuat Acha terpaksa menghentikan ucapannya di tengah tenggorokan.

Rahangnya tampak mengeras. Kata-kata yang sejak tadi menumpuk di dadanya kembali ditelan mentah-mentah, meninggalkan sisa rasa pahit yang makin menggumpal.

Sukartini menoleh. Buru-buru memasang senyum yang nya
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
Dinlea
duhhh Acha yg Nerima pesan. aku yang deg2an
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 229

    Sejak tiba di kantor, Acha berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Ia membuka beberapa dokumen yang sejak tadi menunggu untuk diperiksa, lalu mulai mengerjakannya satu per satu.Sesekali tangannya naik untuk memijat pelipis ketika kepalanya terasa berat.Mungkin karena kurang tidur semalam, atau karena akhir-akhir ini pikirannya memang tidak pernah benar-benar tenang.Acha mengembuskan napas pelan, lalu kembali menatap layar komputer.Ia tidak boleh terus memikirkan hal itu. Bagaimanapun, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.Selang beberapa saat, ia melirik jam tangannya, kemudian bangkit dari kursi menuju pantry.Tak butuh waktu lama, ia kembali membawa secangkir kopi, lalu mengambil beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan Elvano di mejanya.Acha kemudian berjalan menuju ruang presiden direktur.Jantungnya sempat berdetak sedikit lebih cepat saat ia mengetuk pintu dengan pelan.Karena tidak ada jawaban dari dalam, ia akhirnya membuka pintu sedikit.Namun, l

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 228

    Ketika jam kerja selesai, Acha segera pulang ke penthouse. Namun, ia langsung menyadari kalau Elvano ternyata belum pulang.Ruangan besar itu terasa begitu sunyi.Acha bahkan tidak tahu Elvano pergi ke mana setelah dari kantor tadi. Pria itu tidak mengirimkan pesan apa pun untuk memberitahukan keberadaannya.Ah, mengapa ia berlagak seolah-olah penting bagi Elvano?Pria itu saja tidak menganggapnya demikian, kan?Acha hanya berdiri beberapa saat di ruang tengah sebelum akhirnya masuk ke kamarnya.Ia membersihkan diri, kemudian merebahkan tubuh di atas tempat tidur.Sialnya, matanya tidak juga bisa terpejam. Pemandangan yang dilihatnya di depan gedung kantor tadi kembali muncul di kepalanya, seperti sengaja terus membayanginya.Acha memejamkan mata rapat-rapat sambil menggeleng beberapa kali.Ia sudah tidak ingin memikirkannya lagi. Mungkin memang sudah waktunya ia mulai menjaga jarak dari Elvano.Bukan karena ia membenci pria itu. Justru karena ia terlalu menyukainya, sehingga Acha tid

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 227

    Suara kantin yang sejak tadi ramai mendadak terasa jauh dari Acha.Sendok di tangannya masih berada di atas piring, tetapi ia seperti tidak lagi berniat menyuapkan makanan itu ke mulutnya.Matanya hanya terpaku pada dua orang di balik dinding kaca itu.Rasanya, dadanya seperti baru saja dihantam benda keras.Ia sudah berusaha untuk tidak berharap. Sudah berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak punya hak untuk cemburu.Namun, melihat pemandangan itu secara langsung ternyata jauh lebih sulit daripada sekadar mencoba menerimanya di dalam kepala.“Wanita itu datang bareng Pak Elvano, Kak” ujar Esther lagi, memecah hening yang sempat tercipta di antara mereka.Datang bareng? Acha bertanya-tanya dalam hatinya. Apa mungkin wanita itu ke Surabaya juga?“Kakak tahu, nggak, dia siapa?” tanya Esther akhirnya. Raut wajahnya terlihat penasaran.Acha menggeleng pelan. “Pacarnya Pak Elvano kali.”Begitu mengatakannya, dada Acha langsung terasa perih. Ada sisi lain hatinya yang seperti menolak and

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 226

    Acha masih menatap layar ponselnya dengan wajah bingung. Beberapa saat kemudian, ia mengernyitkan kening sebelum akhirnya mengembuskan napas kecil. Ah, masa bodoh. Kalau Elvano memang marah hanya karena pertanyaannya tadi, itu bukan urusannya. Lagipula, pria itu juga aneh. Masa melarangnya dekat-dekat dengan Evander yang notabene adalah adiknya sendiri? Dia punya dendam apa coba sama Evander? Acha akhirnya meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian menarik selimut hingga menutupi perut. Tubuhnya kembali direbahkan di atas kasur. Ia sudah terlalu lelah untuk menebak-nebak alasan pria itu tiba-tiba memutuskan sambungan video mereka. Pria itu benar-benar sulit ditebak. Acha memejamkan mata, dan malam itu pun lewat tanpa memberinya jawaban, setidaknya sedikit. Akhir pekan berlalu begitu saja. Senin pagi, Acha sudah kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Begitu tiba di gedung kantor pusat Alvarion, suasana pagi itu sudah cukup padat. Suara langkah karyawa

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 225

    Setelah itu, Elvano benar-benar berangkat ke kantor cabang di daerah Jawa Timur itu. Sementara Acha masih berada di rumah orang tua pria tersebut.Tadinya, ia ingin ikut pulang setelah Elvano pergi. Namun, Widya menahannya dengan alasan masih ingin menghabiskan waktu bersama. Katanya, sore nanti Acha akan diantar pulang.Acha sempat mengiyakan.Masalahnya, ketika sore tiba, alih-alih diantar pulang, ia malah diminta menginap.Acha sebenarnya ingin menolak saja. Namun, melihat wajah Widya yang sudah memohon-mohon, ia jadi tidak tega.Entah bagaimana ceritanya, permintaan menginap itu bahkan berakhir dengan Widya menyuruhnya tidur di kamar Elvano.Sekarang, Acha sudah berada di dalam kamar pria itu.Ruangan tersebut bersih dan tertata rapi, didominasi warna abu-abu dengan beberapa perabot berwarna gelap. Tidak banyak hiasan, tetapi semuanya terlihat mahal dan fungsional.Terlihat sangat Elvano.Acha berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang.Matanya berkeliling se

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 224

    Elvano tak langsung menjawab, namun tatapannya sempat turun ke tangan Acha yang masih basah, sebelum kembali naik ke wajah wanita di hadapannya itu.“Tadi Raka menghubungi saya,” ujarnya kemudian.Acha menatapnya tanpa berkata-kata. Hanya menunggu kelanjutan perkataan pria itu.“Katanya saya perlu ke kantor cabang di Surabaya.”“Oh,” jawab Acha singkat.Baru sekarang ia paham siapa yang sebenarnya menghubungi Elvano tadi.Dia Raka. Bukan Nadine seperti yang sempat melintas di kepalanya.Entah kenapa, bahunya terasa sedikit lebih ringan, seolah ada sesuatu yang sejak tadi menekan pundaknya perlahan dilepaskan.“Sekarang?”Elvano mengangguk. “Iya.”Acha membuang tisu ke tempat sampah, kemudian bersandar ringan pada sisi meja wastafel.Masalah di kantor cabang itu memang sudah dibahas dalam rapat kemarin. Jadi, ia tidak terlalu terkejut mendengar Elvano harus pergi ke sana. Hanya saja, mendadak saja ada perasaan tidak nyaman ketika membayangkan pria itu akan pergi lagi setelah kejadian

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 2

    Jantungnya berdetak lebih kencang. Pertanyaan itu, benar-benar konyol! Ia menahan rasa kesal yang sudah naik ke ubun-ubun, berusaha tetap tenang di hadapan tatapan dingin Elvano. Sambil menahan napas yang hampir tersengal, Acha menjawab tegas, “Maaf, saya rasa pertanyaan ini tidak relevan dengan p

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 6

    Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 5

    Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 1

    “Astaga, kenapa macet begini?!” Acha menggerutu sebal saat pengemudi ojeknya menepikan motor. Matanya refleks melirik jam.“Jalan depan ditutup, Mbak,” katanya, “ada truk terguling. Kita harus muter jauh. Kalau nunggu, malah lebih lama.”Acha menegakkan tubuh. Hanya bisa menghela napas panjang, men

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status