تسجيل الدخولMalam semakin larut ketika Daniel akhirnya berdiri dari sofa. Beberapa urusan sudah ia selesaikan, dan kini tinggal menunggu waktu sampai semua yang telah dipersiapkannya benar-benar berguna.Megan yang sejak tadi duduk memperhatikannya langsung mengangkat wajah. "Kita mau ke mana?"Daniel mengambil jaket hitam yang tersampir di kursi, lalu mengenakannya dengan tenang. "Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.""Apa?"Daniel tidak langsung menjawab. Ia hanya memasukkan cincin ruby itu ke dalam saku dalam jasnya."Sesuatu yang mungkin akan membuatmu tercengang," ucapnya dengan nada setengah bercanda.Megan berdecak, tetapi tetap mengikuti langkah pria itu. "Apa itu berkaitan dengan stempel keluargaku?""Kau pintar menebak."Megan segera berdiri. "Selama bertahun-tahun benda itu disembunyikan. Tidak banyak orang yang tahu keberadaannya, dan kau mengetahuinya? Kalau begitu, kenapa baru sekarang kau memberitahuku?""Karena aku ingin memberitahumu."Daniel berjalan melewatinya menuju pin
Di dalam ruangan yang menghadap ke arah jendela besar, Daniel berdiri. Cahaya bulan malam masuk melalui kaca, menerangi sosoknya yang tegap dan diam. Di tangannya, sebuah cincin tengah ia pegang, cincin yang sama, yang pernah Daniel perintahkan pada Megan untuk mencurinya dari seseorang.Benda kecil itu tampak sederhana di bawah cahaya. Sebuah cincin dengan batu ruby merah tua yang tidak terlalu berkilau, tidak terlalu mencolok. Siapa pun yang melihatnya akan menganggapnya sebagai perhiasan murahan yang tidak bernilai.Tapi Daniel tahu lebih baik.Saat membayangkan sesuatu, mendadak seringai menghiasi bibir Daniel. Senyum yang penuh makna, senyum yang menunjukkan bahwa ia mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain."Tidak akan lama lagi, " gumamnya pelan, suaranya nyaris menghilang di antara desiran angin malam.Ia menggenggam cincin itu lebih erat. Mau seperti apa pun, ia tidak boleh kehilangan benda ini. Cincin itu terlihat bukan seperti benda yang mahal, namun sesuatu yang
Kalimat Daniel membuat Megan diam seribu kata.Ia membeku. Matanya terbuka lebar, mulutnya setengah terbuka, dan pikirannya berhenti berfungsi sepenuhnya. Seakan kalimat yang pria ini katakan seperti angin yang lewat begitu cepat di telinganya sampai sulit ia cerna. Seperti mimpi di siang bolong. Seperti sesuatu yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan."Tunggu..." suara Megan keluar tergagap, nyaris tidak terdengar. "Kau mengatakan apa?"Ia menatap Daniel dengan mata yang penuh keterkejutan. Ia tau benar kalau telinganya tidak salah dengar, setiap kata masih bergema di kepalanya dengan jelas. Tapi ia ingin memastikan lagi. Ia butuh mendengarnya sekali lagi. Untuk meyakinkan dirinya bahwa ini nyata.Daniel tersenyum, senyum yang lembut, yang berbeda dari semua senyum yang pernah Megan lihat sebelumnya. Tangannya terangkat, jari-jarinya menyelipkan untaian rambut yang jatuh ke belakang telinga Megan dengan gerakan yang begitu lembut, begitu penuh perhatian.Lalu ia mendekatkan bibirn
Dalam waktu singkat, kabar kematian Niel Bosch menyebar seperti api di padang rumput kering dan meninggalkan abu di mana-mana. Berita itu muncul di semua kanal media, menggantikan pemberitaan tentang skandal perusahaan yang masih dalam keadaan sekarat.Namun ada yang aneh.Kabar tidak mengatakan bahwa Niel mati karena dibunuh. Tidak ada penyelidikan. Tidak ada kecurigaan. Tidak ada nama Daniel atau Megan yang disebutkan.Sebaliknya, kabar resmi yang beredar adalah, Niel Bosch meninggal karena serangan jantung.Megan membaca berita itu di ponselnya dengan kening berkerut. Ia mendongak saat Daniel masuk ke ruangan, masih mengenakan setelan hitamnya, dengan ekspresi lelah setelah menghadiri pemakaman."Mereka menutupinya," kata Megan pelan. "Andrew merahasiakan kematian ayahnya."Daniel melepas jas hitamnya dan menggantungnya di kursi. "Aku sudah menduganya."Megan menggelengkan kepala. "Kenapa? Kenapa Andrew tidak berkata jujur saja? Aku membunuh ayahnya. Itu fakta. Kenapa dia menyembun
Megan berdiri diam.Pistol di tangannya masih mengarah ke tubuh Niel Bosch yang kini terbaring tak bergerak di lantai gudang yang kotor. Darah mulai menggenang di bawah kepalanya, merah, pekat, dan mengalir perlahan seperti sungai kecil yang membawa semua kebencian yang selama ini ia pendam.Dengan cara yang sama.Persis sama.Megan melihat kembali malam itu, malam ketika ibunya roboh di hadapannya. Sebuah tembakan di kepala. Tubuh yang jatuh. Darah yang menggenang.Dan sekarang, Megan melakukan hal yang sama.Ia menurunkan pistolnya perlahan. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena sadar bahwa ia baru saja melakukan sesuatu yang tidak bisa ia tarik kembali."Aku tidak beda jauh dengan si pembunuh."Pikiran itu muncul seperti hantu yang tidak bisa ia usir."Aku membunuhnya dengan cara yang sama. Tembakan di kepala. Tanpa ampun. Tanpa belas kasihan."Megan merasakan dadanya sesak. Udara di ruangan itu terasa semakin tipis.Tapi di sisi lain, di bagian terdalam hatinya, ada s
Keesokan harinya, dunia bisnis terguncang.Berita-berita tentang keluarga Bosch mulai bermunculan di internet seperti wabah yang tidak bisa dihentikan. Pertama, dokumen-dokumen rahasia tentang transaksi gelap mereka bocor ke publik. Kedua, laporan-laporan tentang pencucian uang dan kolusi dengan pejabat-pejabat korup mulai menyebar. Ketiga, bukti-bukti tentang keterlibatan Bosch dalam pembunuhan keluarga Cornelius muncul di berbagai platform media.Kantor pusat perusahaan Bosch di Barcelona menjadi seperti sarang lebah yang terusik. Telepon berdering tanpa henti. Para eksekutif berlarian panik. Dan di luar gedung, wartawan mulai berdatangan seperti sekawanan burung bangkai yang mencium bau daging busuk."Tuan! Saham kita turun sepuluh persen dalam satu jam!" lapor salah satu anak buahnya dengan suara gemetar.Niel Bosch berdiri di depan jendela kantornya, menatap kota Barcelona yang kini terasa seperti musuh. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya."Dan investor?" suaranya pelan, te
Semalaman, Megan tidak benar-benar tidur. Ia hanya memejamkan mata… tanpa pernah benar-benar beristirahat.Langit di luar jendela perlahan berubah dari hitam pekat, menjadi abu-abu muram, lalu disusupi cahaya pagi yang dingin. Namun di dalam kepalanya… semuanya tetap gelap.Daniel.Nama itu berputa
Dengan sorot mata tajam penuh perlawanan, Megan menatap Daniel.“Lepaskan,” desisnya dingin.Senyum tipis terangkat di bibir Daniel, bukan karena patuh, tapi karena tertarik. Ia berjongkok santai, membuka ikatan di kaki Megan satu per satu.“Aku akan melepaskanmu,” ucapnya ringan, “tapi berjanjilah
Seorang pria. Berjalan dengan tenang. Tidak terburu-buru. Tidak panik.Namun jelas, mengikutinya.Darah Megan langsung berdesir dingin, panik. Sial! Apakah ia ketahuan?Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan mempercepat langkahnya. Dari cepat… menjadi lari.Sepatu botnya menghantam aspal kasar, nafa
Kata-kata pria itu terus berputar di kepala Megan.Bekerja denganku.Bukan ancaman biasa. Bukan pula sekadar tawaran. Ada sesuatu di balik nada suaranya, sesuatu yang membuat bulu kuduk Megan berdiri.Kenapa dia tidak melaporkannya?Kenapa justru… menginginkannya?Siapa sebenarnya pria itu?“Megan.







