LOGINAmelia menghentikan suapannya saat melihat siapa yang datang. Ia menatap tak berkedip selama beberapa saat hingga pada akhirnya Patricia berdeham."Ada apa kau kemari , Karla?" tanya dengan mata memicing. Sementara Amelia langsung menyudahi makannya dan segera mencuci tangannya.Ia berusaha untuk meredakan debaran jantungnya juga perasaannya. Ia menarik napas beberapa kali sebelum kembali ke ruang tamu. Ia melihat Karla sudah duduk di sofa bersama Patricia dan Nina."Ah, Mbak ini kekasihnya Pak David , kan?" tanya Amelia dengan tenang."Iya, aku kemari hanya ingin berkenalan. Kita sempat bertemu tadi, kan?"Amelia tau saat ini kakaknya sedang menyelidiki dan juga sedang cemburu. Sebagai seorang adik, ia tau betul bagaimana sifat dan watak kakaknya itu."Namaku Jasmine."Amelia mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Karla menatap sejenak sebelum menyambut uluran tangan Amelia."Karla."Amelia mengerling ke arah Patricia, sementara Patricia sudah memperlihatkan wajah yang mengeras kare
Amelia bergegas meraih ponselnya dan menghubungi Tasya. Ah, dia lupa janjinya dengan Tasya untuk melakukan panggilan video dengan Davina."Hai, Mel ...."Tasya menyapa dengan wajah penuh senyum. Sementara Davina tampak sedang memegang sepotong roti di tangannya.Amelia tersenyum melihat putri kecilnya yang semakin hari semakin cantik itu."Maaf, aku lupa bahwa ponsel aku silent. Tadi David mengajakku makan siang bersama. Baru setengah jam yang lalu aku pulang.""Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengingatkan dirimu untuk selalu berhati-hati.""Aku akan menjaga diriku dengan baik," jawab Amelia.Tasya tampak ragu untuk bertanya, namun akhirnya ia pun melontarkan pertanyaan, "Karla ....""Aku tadi bertemu dengannya. Dia masih terlihat seperti biasanya, tapi aku tau bahwa dia tidak bahagia saat ini, Sya. Aku tau itu, sebagai adik aku bisa merasakan apa yang saat ini Karla rasakan."Tasya menghela napas panjang, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Menurut pendapatku, kau dekati kakakmu
Setelah menunggu hampir satu bulan sambil mempersiapkan segala sesuatunya, pagi ini David dan Patricia sudah berada di bandara untuk menjemput Amelia dan manager yang ditunjuk oleh Tasya. Hampir satu jam lebih mereka menunggu karena pesawat delay, akhirnya yang mereka tunggu pun tiba."Itu Jasmine," kata Patricia sambil menunjuk ke arah sosok wanita cantik memakai dress berwarna biru muda selutut. Ia berjalan dengan sangat percaya diri dan langsung menghampiri Patricia."Selamat datang, Jasmine," sambut Patricia."Terima kasih, Patty. Hmm ... ini Karenina yang akan membantu segala keperluanku dan mengatur segala jadwalku. Panggil saja Nina," ujar Amelia kepada Patricia tanpa menoleh sedikitpun kepada David. Patricia hanya mengulum senyum melihat sikap Amelia pada David."Jasmine, ini David. Dia adalah pemilik Pandawa Record dan Citra Buana televisi," kata Patricia. Amelia menoleh kepada David lalu melepaskan kacamatanya dan mengulurkan tangannya. Untuk beberapa saat David hanya diam t
David merasa suasana hatinya makin buruk saat ia pulang ke apartemen dan melihat Davila menangis dan Karla tidak ada di apartemen."Markonah, Ibu ke mana?" tanyanya."Syuting , Tuan Bos," jawab Markonah polos. David menghela napas panjang, ia seharusnya tidak membiarkan Karla kembali ke dunia entertainment. Tadinya, David memberikan izin karena berharap Karla tidak akan menelantarkan Davila."Sudah, bawa Davila pada saya, biar saya yang tidurkan dia," ujar David pada Tuti. Baby sitter Davila itu segera menghampiri tuannya dan memberikan Davila kepada David. Seolah tau bahwa yang menggendong adalah Daddy-nya. Tangis Davila yang semula melengking langsung berhenti dan bayi munggil itu mulai tersenyum."Dari tadi Non Davila tidak mau meminum susunya," lapor Tuti sambil memberikan botol susu Davila. David mengangguk dan segera meraih botol susu Davila dan memberikan kepada bayi mungil itu. Davila segera menyedotnya dengan rakus dan tidak berapa lama susu itu habis.
Patricia merasa takjub saat bertemu Davina. Gadis yang hampir berusia setahun itu tampak begitu cantik dan menggemaskan. Patricia tidak perlu meragukan bahwa itu adalah benar anak David. Karena wajah Davina mengingatkan pada David. Semua mirip, hanya saja Davina perempuan."Ya Tuhan, ini benar-benar cetakan David yang sempurna. Bahkan Davila tidak mirip dengan David, dia lebih mirip Karla dibandingkan David," tukas Patricia. Amelia tersenyum, "Mungkin karena aku terlalu mencintai David , jadi wajah Davina mirip dengan David.""David bodoh karena sudah menyia-yiakan cinta darimu," ujar Patricia."Wajar, mana ada lelaki yang mau denganku dulu? Aku saja jijik melihat tubuhku sendiri, apa lagi orang lain," kekeh Amelia geli. Patricia menghela napas, "Apa bedanya wanita kurus dan gemuk? Tidak ada, Amelia. Sama- sama wanita, punya hati dan perasaan. Ya, aku akui memang wanita yang kurus terlihat jauh lebih cantik mengenakan pakaian apa saja, tetapi kecantikan yang paling utama i
"Apa saja syaratnya aku pastikan David akan setuju, termasuk jika Jasmine meminta untuk menjaga jarak dengannya," janji Patricia. Tasya tersenyum, "Baiklah kalau begitu, aku jadi tenang mendengarnya," sahut Tasya. Setelah berbincang sebentar Tasya sendiri yang mengantarkan Patricia ke hotel."Sampai jumpa nanti malam, Patty," kata Tasya sambil melambaikan tangannya. Patricia membalas lambaian tangan Tasya dan segera masuk ke kamarnya. Hal pertama yang Patricia lakukan adalah mengambil laptop dan menyalakan sambungan Wifi kemudian melakukan video call dengan David di Jakarta, Tampak David tersenyum senang saat Patricia melakukan video call dengannya."Lama sekali, seharusnya sejak tadi kau menghubungiku," keluh David."Aku langsung bertemu manager Jasmine, dan kau tau siapa managernya?" tanya Patricia. David mengerutkan dahinya, "Aku mengenalnya?""Kita sangat mengenalnya karena dia dulu adalah salah satu penyanyi latar Karla.""Siapa?""Tasya.""Tasya? Bukankah dia mengundurk
"Anggap saja kejadian malam itu tidak pernah terjadi," kata David sambil meletakkan cek itu di atas meja. Ia menatap Amelia, ia melihat air mata mulai menetes di kedua netra indah Amelia. Tapi,gadis itu tampak sangat tenang,berbeda dengan reaksi yang ia berikan saat pertama kali.Amelia hanya menat
David merasa gelisah. Semua crew sudah bersiap di belakang panggung termasuk juga Karla. Tapi, Amelia tidak juga bisa dihubungi. Bahkan,yang membuat David kaget setengah mati saat melihat kamar Amelia dibersihkan dan room service mengatakan penghuni kamar sudah cek out . Ponsel Amelia sendiri t
"Kenapa kau bisa tidur di kamar ini?!" seru David saat melihat seorang gadis bertubuh gemuk tidur di sampingnya. Sementara gadis yang sedang tertidur itupun langsung terbangun saat mendengar teriakan David. Sama dengan reaksi David ,gadis itupun berteriak histeris. Apa lagi saat ia menarik selimut
"Kita harus mencarinya, adikmu itu," tegas David kepada Karla."Selama berbulan- bulan ini kita terus berusaha mencarinya,David. Tapi, kita tidak juga berhasil menemukan dia. Mungkin dia memang tidak mau ditemukan, kita harus bagaimana?" jawab Karla putus asa. Sejak Amelia menghilang, David mem







