LOGIN“Mana Pak pesanan tadi?”
Jose menoleh kaku, suara lemah Sasa entah mengapa membawa rasa penyesalan menyusup di dada. Matanya bergetar, hatinya tak tenang. Jose gelisah. “Sasa….” Ucap Jose menggantung. Sasa menatap Jose dengan alis terangkat, ia heran dengan atasannya yang mendadak pucat, pria paruh baya itu seperti baru saja kehilangan nyawa. “Saya harus apa….Lin-tang…” suara Jose tercekat, setiap kata yang keluar rasanya sangat sulit. Lidahnya kelu pikirannya tertuju pada gadis bisu karyawan istimewanya. “Kenapa sih Pak?” Tanya Sasa tak sabar. “Tadi saya suruh Lintang antar pesanan itu….” bahu Jose merosot, kepalanya tertunduk lemas. Perkataan Jose bagai petir yang menyambar siang bolong, mulut Sasa terbuka. Kepalanya mendadak penuh dan berputar. Tubuhnya oleng, hampir saja tersungkur jika seseorang tak segera menangkapnya. Sasa menatap pria yang menolongnya kemudian menatap Jose. “Pak, Bapak kok bisa nyuruh Lintang sih. Kan Bapak tahu kekurangan Lintang.” Teriak Sasa tak tahan. Matanya menatap tak percaya Jose yang masih menatap lantai. Pria yang tadi menolong Sasa mengerutkan dahi, ia menatap Sasa bingung.“Maksudnya apa, Sa?” Sasa yang di tatap seperti itu mendadak gugup, matanya melirik Jose namun pria itu masih tak bereaksi. “Ee...itu pak bos nyuruh Lintang antar pesanan.” Ujarnya gugup. Sasa mengalihkan pandangan dari tatapan Rega. “Terus masalahnya apa?” “Masalahnya barusan customer telpon katanya dibatalkan aja.” Sasa menggaruk lehernya yang tak gatal. Kemudian ia menunjuk Jose, “salahin pak bos tuh, dia yang nyuruh.” Alis Rega menyatu, ia menatap Jose yang perlahan mengangkat kepalanya. “Ee…anu itu tadi saya yang minta antar pesanan.” Ucap Jose hati-hati. Ia merasa tak enak dengan kekasih Lintang yang menatapnya seperti musuh. “Ck, bapak kan tahu kalau tugas Lintang cuma nyuci, kok di suruh antar?” Tanya Rega sedikit keras, ia berusaha untuk tak berteriak pada atasannya. “Kalau Lintang kenapa-kenapa gimana Pak? Dia gak bisa ngomong!” “Saya tidak kepikiran….”Jose merasa bersalah. “Terus kenapa Bapak gak nyuruh saya aja? Atau bisa itu Yogi, Eros apa Mbak Lala kenapa harus Lintang.” Rega semakin mengeratkan rahangnya, matanya memerah karena kesal jika Jose bukan atasannya sudah pasti babak belur. “Kalian semua repot, resto juga padat pengunjung jangankan minta tolong kalian, bahkan kalian sendiri aja keteter—” “Ya tapi gak harus Lintang pak…” sambar Sasa frustasi. Ia menjambak rambutnya kesal. Ia tak mempermasalahkan makanan itu, tetapi gadis yang mengantar. Mungkin jika Lintang normal ia tak masalah hanya saja gadis itu tak bisa berbicara. Bagaimana jika ia kenapa-kenapa? Bahkan berteriak saja tidak keluar suaranya. Jose semakin merasa bersalah, sedangkan Sasa mulai berpikir mencari solusi. “ Yaudah gimana kalau kita tunggu aja 2 jam lagi? Semoga aja Lintang baik-baik aja.” Jose mengangguk, namun tidak dengan Rega. Pria itu melepas apron dengan kasar, wajahnya masih dipenuhi ketegangan ia melangkah cepat meninggalkan Sasa dan Jose yang menatapnya heran. “REGA…MAU KEMANA?” teriak Sasa yang melihat Rega menjauh. “NYUSUL LINTANG!” Jose dan Sasa saling pandang, keduanya menghembuskan napas berat. “Bucin.” ** Di tempat lain… Lintang bergantian menatap kertas dan bangunan di depannya. Jln Angkasa Timur, Pagar Hitam Besar. Setengah jam ia berputar-putar mencari alamat namun baru ia sadari alamat itu tak lengkap. Hanya bangunan besar di depannya yang hampir mendekati keterangan. “Ini benar tidak ya alamatna?...” Lintang menatap pagar besar melingkar, ia tebak sekitar lebih sepuluh meter tinggi pagar itu. Berwarna hitam menjulang. Di baliknya bangunan tak kalah besar dan tinggi tegak menantang menampilkan aksen gaya eropa, sebuah patung besar berada diatas. Lintang berdecak kagum, kakinya melangkah pelan sambil membawa pesanan di tangannya. Langkahnya perlahan mendekati pintu pagar. Namun setibanya di depan pintu, ia bingung saat tak menemukan bel. Lintang bertanya-tanya “kanapa belnya tidak ada? Resti bilang kalau antar pesanan cukup tekan bel, pemiliknya akan keluar.” Sambungnya polos. Matanya melirik ke arah pintu pagar yang tak tertutup sempurna, Lintang berpikir sejenak. Namun akhirnya ia memilih mendorong pintu itu hingga terbuka. “Wah…bahkan ini terlihat seperti istana daripada rumah.” Lintang disambut bangunan besar yang tadi ia lihat sedikit dari luar, ternyata bangunan itu lebih megah saat nampak di depan mata. Ada patung dewa cupit memancurkan air, tepat diatas kolam. Lintang masuk semakin dalam. Keindahan rumah itu membuatnya lupa tujuan aslinya. “Pasti pemiliknya orang kaya raya…” taman bunga menarik perhatian Lintang. Ia melangkah perlahan mendekati taman bunga mawar yang mekar. Kupu-kupu berterbangan saat ia mendekat. “Cantik sekali.” Mata Lintang berbinar. Senyum manisnya kian melebar kontras dengan mawar berbagai warna yang bermekaran. Ia fokus pada kesenangannya itu. Tak jauh dari tempat lintang, seorang pria paruh baya mengerutkan kening. Kepalanya penuh akan pertanyaan siapa gadis ini. Gunting yang ada ditangannya ia letakkan lembut diatas rumput, matanya tak beralih dari Lintang yang memetik satu mawar. Memetik. Mata pria tua itu melebar, ia bergegas mendekati lintang dengan jantung yang berdebar. “Apa yang kau lakukan?!” Lintang tersentak hingga menjatuhkan mawar itu, matanya melebar saat seseorang muncul di sampingnya namun setelahnya ia tersenyum lebar. Lintang mengambil pena dan mencoretkan kata pada buku kecil yang ia bawa, walau kesusahan pria tua itu tak membantu ia hanya melihat dengan raut bingung yang kentara. “Pak, saya hanya ingin mengantar pesanan ini…maaf saya lancang masuk. Tidak ada bel.” Pak tua itu membaca tulisan Lintang yang rapi, ia kemudian mengangguk. Walau begitu ia masih penasaran dan waspada. Taman mawar ini milik mendiang majikanya, jika ada yang tahu seseorang memetiknya kepalanya bisa di penggal. Lintang menyerahkan kantong pesanan pada pria tua itu, namun pria tua itu hanya diam menatap Lintang. Dahi Lintang berkerut, ia berbicara namun tak keluar suara. “Pak…ini pesanannya.” Pria tua itu mengerutkan kening, ia menatap Lintang heran. “Kemana suaramu? Kenapa tak ada suaranya?” Lintang tersenyum kaku, kemudian ia menuang tulisan lagi. “Saya bisu Pak.” Pria tua itu merasa tak enak, “Saya Damar, tukang kebun disini.” Ucap pria itu yang bernama Damar. Lintang mengangguk. “Nona antar saja langsung ke dalam, pintu masuk itu nanti lurus saja masuk terus lurus,” Pak Damar menunjuk pintu utama yang masih terlihat walau dari samping. “Kemudian ada 3 pintu, Nona ambil pintu berwarna coklat itu mengarah pada dapur. Satu pintu hitam dan emas Nona tidak boleh memasukinya.” Lintang mengangguk paham, ia membungkuk sejenak untuk berpamitan kemudian berjalan pelan menuju pintu utama. Setibanya di depan pintu utama, lintang segera mendorong dan masuk kedalam.Lintang terbangun dengan perasaan yang lebih baik dari sebelumnya. Ceria dan semangat. Namun keceriaan itu lenyap saat ia melihat Eden yang sudah duduk di ujung kasurnya.Bibirnya terbuka lebar, menatap terkejut Eden. Sedangkan orang yang di tatap berpangku tangan menatapnya."apa dia sudah lama di sini?" batin lintang dengan masih terkejut.Eden tersenyum tipis. senyum yang pertama kali terbit setelah berhenti di umurnya sembilan tahun.Melihat Lintang yang terbangun dengan muka bantal dan tampang bodoh membawa kehangatan dalam dirinya."ku kira kau mati." tukas Eden santai. "Kau tak bangun padahal sudah pukul dua belas siang"ia tak menyadari perubahan raut lintang yang tiba-tiba kecut.Lintang yang diejek menatap sengit Eden. “Padahal kau yang mengganggu tidur malamku,” sungutnya tak terima namun Eden tak mendengar itu.Kemudian melirik jendela yang sudah terang benderang. Kemudian tatapannya berpindah pada Eden "kenapa kau kemari?”Eden memperhatikan gerakan bibir Lintang, dalam s
Baru beberapa langkah Eden meninggalkan kamar, ia kembali lagi ke dalam kamar Lintang, membuat wanita yang hampir saja terpejam seketika kembali tegak dudukMatanya menyiratkan kebingungan yang kentara. Tubuhnya waspada dan siaga.Eden berdiri di ambang pintu, menatap Lintang yang linglung. Entah mengapa, melihat wajah polos Lintang membuat Eden bersemangat.ia tidak tahu apa yang terjadi dengannya, namun saat melihat wanita itu ia menyukainya. Namun Eden berusaha mengenyahkan rasa itu dari hatinya. Ia tak akan membiarkan seseorang datang kedalam hidupnya dan mengacaukannya.Kakinya maju satu langkah, namun kemudian ia memutar tubuh dan membanting pintu dengan kuat. Eden meninggalkan Lintang yang menatap kepergiannya dengan kebingungan.Kakinya melangkah panjang menuju kamarnya sendiri.Alis Lintang terangkat dan dahinya berkerut, jari kecilnya menggaruk pipi yang tak gatal.“Ada apa dengan monster itu?” tanyanya pada keheningan ruangan.Ia mengangkat bahu singkat, lalu kembali merin
Eden kembali ke rumah saat malam telah larut.Tumpukan dokumen dan masalah kantor hari ini benar-benar menguras tenaganya. Kepalanya terasa pening, tubuhnya lelah, dan saat ia melangkah masuk, rumah sudah gelap gulita.Eden menaiki tangga menuju kamarnya di lantai tiga. Namun saat melewati lantai dua entah mengapa bayang-bayang Lintang tiba-tiba muncul di benaknya.Gadis itu, apa sudah baik-baik saja telah kejadian malam kemarin?Eden melirik jam di pergelangan tangan. Sudah lewat tengah malam, ia ragu sejenak, tapi entah mengapa seperti ada yang menariknya untuk melihat kondisi wanita itu. Ada rasa khawatir yang berusaha ia tepis membuat langkahnya terhenti di depan pintu yang tertutup rapat.Ada dorongan aneh yang membuatnya mendekat, dengan langkah hati-hati agar tak berbunyi, Eden mengeluarkan kunci dari sakunya dan memasukkan ke lubang kunci.Klik,Pintu terbuka pelan, Eden masuk dan menutupnya kembali tanpa suara.Ruangan remang-remang, hanya diterangi sorot rembulan yang mener
Setelah sarapan selesai, piring-piring kosong dibiarkan begitu saja di atas meja kecil di sudut kamar. Ema tidak langsung pergi seperti biasanya. Ia berdiri sebentar di ambang pintu, ragu, lalu kembali mendekat. Tatapannya tertuju pada Lintang yang duduk di tepi ranjang, tubuhnya agak membungkuk, pandangan kosong ke arah jendela yang selalu tertutup rapat. Ema mengerti. Tanpa perlu kata-kata, ia tahu apa yang telah terjadi malam tadi. Bekas-bekasnya masih terlihat jelas bahkan semakin jelas ,memar merah di lengan, kissmark merah keunguan mengintip di balik leher, wajah yang lebih pucat dari biasanya, dan cara Lintang duduk dengan kaki rapat dan tangan memeluk bantal seolah ingin melindungi diri dari dunia. Meski begitu, naluri seorang ibu—meskipun ia hanya pelayan—tetap mendorongnya untuk mendengar langsung dari mulut gadis itu. Ema menghela napas pelan, lalu duduk miring di pinggir kasur. Tangannya dengan lembut memijat betis Lintang yang terasa kaku, gerakan itu lebih untuk
Waktu sekarang… Seorang pelayan, berjalan tergopoh-gopoh, di tangannya nampan berisi sarapan pagi. Langkahnya bergema di lorong panjang menuju pintu hitam yang tertutup rapat. Hatinya terasa senang ketika ia bisa kembali ke ruangan ini, lebih tepatnya bertemu dengan seseorang di dalamnya. Namanya Ema, Hari ini ia telat beberapa menit karena kondisi dapur yang sibuk, sehingga tugasnya melayani sang nona lebih lambat dari waktu biasanya. Ketika ia masuk ke dalam kamar, Ema disambut dengan kondisi kamar yang berantakan. Lebih tepatnya hanya kasur yang berantakan, sprei terlepas dari kasur dan selimut yang teronggok di depan kamar mandi. Ia menggelengkan kepala, namun senyum tercetak di bibirnya. “Nona Lintang seperti anak kecil saja.” Gumamnya sambil merapikan sprei yang terlepas. Semenjak kejadian dimana ia mengobati Lintang sebulan yang lalu ia merasa begitu senang ketika dekat dengan Lintang, gadis itu seperti mawar cantik dan mempesona. Selama 30 tahun menikah tak dikaru
POV Lintang. Namaku Lintang Sabiru, aku hanyalah seorang gadis bisu dan miskin. Bekerja sebagai pencuci piring di sebuah restoran untuk menyambung hidupku. Setelah kematian ayah 3 tahun yang lalu, aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri di usiaku yang masih muda. Sembilan belas tahun. Aku tak mengeluh, karena ayah tak pernah e mengajariku untuk mengeluh, walau dunia selalu jahat padaku, aku akan tetap bersinar seperti yang ayah ucapkan padaku. Hal yang tak pernah aku sangka adalah terkurung dalam rumah mewah yang menyeramkan. Padahal aku datang untuk mengantar pesanan tapi mereka menuduhku penyusup. Malam ini, di ruangan bawah tanah yang busuk dan berbau amis, aku merasa seluruh dunia menindih dadaku. Rantai besi yang mengikat kedua pergelangan ku sudah menggigit kulit hingga berdarah. Setiap kali aku bergerak sedikit saja, logam itu seperti mengingatkanku bahwa aku tak punya kuasa apa-apa di sini. Bahkan untuk lepas pun sulit. Tubuhku... ya Tuhan, aku bahkan tak beran