Home / Mafia / Gadis Bisu Tahanan Mafia / Bab 5. mencari Lintang

Share

Bab 5. mencari Lintang

Author: Nn_Effendie
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-21 23:57:00

Rega menghentikan motornya di salah satu kedai pinggir jalan, matanya masih gelisah menoleh ke sana kemari, berharap sekilas saja bisa melihat sosok kekasih hatinya. Tapi lagi-lagi, kosong. Tak ada jejak Lintang di mana pun.

Siang telah menghilang, langit perlahan menggelap, tapi Lintang belum juga ia temukan.

Rega berjalan tertatih menuju kedai itu. Wajahnya kusut masai, rambut acak-acakan seperti habis bertarung angin, baju berantakan dan berkeringat. Tapi sorot matanya... masih membara, meski di baliknya tersembunyi ketakutan yang semakin menggerogoti.

“Buk... lihat gadis ini lewat sini nggak? Pakai motor biru, ada box di belakangnya?” Rega menunjukkan foto Lintang yang dijadikan wallpaper pada ibu pemilik warung, suaranya bergetar menahan harap yang tipis.

“Maaf Nak, Ibu nggak lihat,” jawab ibu itu singkat, sambil menggeleng.

Jawaban itu seperti tamparan. Dada Rega sesak seketika. Matanya berembun, air mata hampir jatuh tapi ia tahan mati-matian. Ia tak tahu lagi harus mencari ke mana.

Kenapa semua orang bilang nggak lihat? Dia lewat jalur ini kan? Atau.... jangan-jangan lewat jalur lain? Ban bocor? Apa Ada yang nyulik dia?”

Semua jalan yang mungkin menuju alamat Lintang sudah ia susuri berkali-kali. Padahal ia mengejar tak sampai satu jam setelah Lintang berangkat. Harusnya ia bisa menyusul, atau setidaknya mereka bersisian di jalan. Tapi tak ada jejak sama sekali?

Bahkan pantai yang cukup jauh dari jalan utama telah ia susuri, hasilnya tetap nihil. Toko langganan gadis itu belanja juga telah ia lewati, namun gadis itu juga tak ada. Bahkan rumah gadis itupun kosong.

Rega berjalan lunglai kembali ke motornya. Tubuhnya lemas, bersandar lemah pada body motor yang masih hangat. Pikirannya kacau balau, dipenuhi bayangan-bayangan buruk yang tak henti menyerang.

Bagaimana kalau Lintang kecelakaan? Sendirian di jalan sepi? Bagaimana kalau ada orang jahat?

“Lintang... kamu di mana sih?” gumamnya pelan, suaranya serak karena menahan tangis.

Rega membuka galeri di ponselnya dengan tangan gemetar. Ia membuka foto Lintang yang tersenyum lebar—senyum yang selalu berhasil membuat hari-harinya terasa ringan.

Gadis itu tak pernah kelihatan sedih, selalu tertawa riang, membuat siapa saja yang berada di dekatnya ikut bahagia. Termasuk Rega.

Rega jatuh cinta karena kesederhanaan Lintang, karena tawa renyahnya yang tulus. Ia memberanikan diri menembak, meski sempat ditolak. Enam bulan ia berjuang, tak pernah menyerah, sampai akhirnya Lintang menerimanya.

Kini hubungan mereka hampir genap satu tahun. Rasa sayang Rega semakin dalam setiap hari, ia sudah berjanji dalam hati ia akan melakukan apa saja agar Lintang tak pernah berhenti tertawa.

Rega berjanji akan melindungi gadis itu sekalipun nyawa taruhannya.

Tapi sekarang... bagaimana ia bisa menepati janji itu kalau Lintang bahkan tak ada di sisinya?

Rega mengelus layar ponsel, jarinya menyentuh wajah Lintang di foto itu. Air matanya akhirnya jatuh juga, membasahi pipinya. “Lintang... aku takut banget kamu kenapa-kenapa. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku akan cari kamu sampai ketemu….. aku pasti akan menemukanmu,” bisiknya lirih, seolah Lintang bisa mendengar.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Sasa muncul di layar. Jantung Rega berdegup kencang, harapan dan ketakutan bercampur jadi satu. Tapi ia mencoba untuk berpikir positif. Ia yakin semuanya baik-baik saja. Ia berharap Lintang telah kembali.

Dengan tangan masih gemetar, Rega segera mengangkat telepon dengan suara yang nyaris putus asa. “Halo Sa? Gimana... Lintang udah balik kan?”

***

Seperti perintah Pak Damar, setelah masuk pintu utama, ia langsung disambut lorong panjang bergaya eropa klasik yang megah

Langit-langit yang tinggi di hiasi lampu gantung kristal Swarovski besar yang berkilauan lembut, cahayanya memantul ke dinding-dinding marmer putih dengan lis emas.

Di sepanjang lorong, deretan replika Colosseum Roma, menara Eiffel, dan Arc de Triomphe berdiri gagah di atas padestal marmer.

Lintang tak bisa untuk tak menggelengkan kepala. Baginya ini adalah istana kekayaan. Ia menyakini semua harga-harga itu tak semurah harga ginjalnya jika di jual.

Matanya kemudian melirik lukisan-lukisan rumit yang namun anehnya terlihat mewah. Namun dari semua itu, kesunyian rumah ini membuatnya terganggu. Ia merasa aneh.

Sejak masuk dan kembali ia tak bertemu siapapun selain Pak Damar. Bahkan pelayan pun tak ia lihat sama sekali atau memang rumah ini tanpa pelayan.

“Apa rumah ini rumah kosong?” hati Lintang bertanya-tanya, namun pikiran menolak, “tidak mungkin kosong, tadi ada Pak Damar.”

Rumah ini sunyi senyap, tak ada suara langkah kaki atau sapaan dari siapapun. Hanya aroma samar kayu mahoni dan lilin mahal yang tercium di udara. Lintang merasa kecil di tengah kemegahan ini, tapi ia tak peduli. Tugasnya hanya mengantar pesanan dengan baik.

Lintang terus lurus hingga menemukan pintu berwarna coklat, senyum lebar tercetak di bibirnya langkahnya ia percepat kemudian membuka pintu itu.

Dan benar saja di balik pintu itu, ada dapur mewah dengan peralatan yang tersusun rapi. Lintang meletakan pesanan diatas meja dengan hati-hati.

Ia menghela nafas lega. Lalu segera pergi.

Saat balik menuju lorong, matanya kembali tertarik pada kemegahan sekitar. Lampu kristal itu seolah memanggilnya untuk menatap lebih lama. Lukisan Mona Lisa entah asli atau tiruan nampak tersenyum misterius dari dinding, membuat Lintang terpaku sesaat.

“Kalau aku memiliki rumah semewah ini….aku pasti akan nyaman dan tidak akan kemana-mana.”

Ia belum pernah melihat hal-hal seperti ini secara langsung. Rasa kagum itu perlahan menggerus peringatan Pak Damar di benaknya untuk masuk ke dua pintu.

Di ujung lorong tempatnya masuk tadi, kini terlihat jelas tiga pintu berderet. Pintu coklat yang ia lewati. Di kanannya pintu emas berkilau dengan gagang berbentuk singa berlapis murni. Dikirinya, pintu hitam pekat dengan ukiran rumit yang menonjol.

Lintang menggelengkan kepala, mencoba mengabaikan dan langsung menuju pintu utama. Tapi tiba-tiba…

Brak!

Suara gebrakan keras terdengar dari balik pintu hitam. Bukan sekali tapi dua kali. Seperti sesuatu mengantar pintu itu.

Jantung Lintang berdegup kencang. Rumah ini tadi begitu sunyi, seperti makam. Kini, ada suara gebrakan yang sangat kencang.

“Apa ada orang disana?”

Lintang menoleh kesana kemari, Ia tahu seharusnya sudah pergi setelah urusannya selesai.

“Hanya memastikan, tidak lebih.” Batinnya berkata.

Tapi rasa penasaran itu menggerogoti. Lintang semakin mendekat, ingin memastikan bunyi di balik pintu itu.

Lampu kristal di atas seolah berkedip pelan, seakan mengajaknya untuk bermain. Lukisan-lukisan terkenal itu memandangnya dengan mata diam yang penuh rahasia.

Lintang menelan ludah. Kakinya, tanpa sadar, melangkah satu kali mendekati pintu hitam.

Lalu satu langkah lagi. Semakin dekat dengan pintu hitam, semakin berpacu detak jantungnya.

Dan lagi.

Brak!!

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 52

    Setelah seharian tak melihat Lintang rasa rindu membuncah di dada Eden. Karena kesibukannya di kantor ia tak bisa menemui wanita itu.Dan sekarang di jam yang masih sangat pagi Eden datang dengan nampan berisi sarapan. Langkahnya yang tegap berbalut jas mahal melekat. Bibirnya lurus tak beriak, namun sorot matanya sedikit hangat.Cklek!Eden membuka pintu, matanya berpendar. Menatap tubuh berbalut selimut putih yang meringkuk. Kemudian meletakkan nampan di atas nakas.Eden duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur menyingkap anak rambut yang menutupi wajah Lintang.Merasakan seseorang menyentuhnya. Perlahan mata Lintang terbuka. Netra elang dengan sorot datar menjadi hal pertama yang menyambutnya. Wajah datar tanpa sedikitpun garis kebahagian, namun sayangnya sangat tampan.Lintang menatap Eden dari atas hingga bawah. Pria itu hanya diam menaikan alisnya. Sedikit geli dengan respon wanita itu.Lintang masih belum sadar. Jika pria pria yang di depanya adalah monster yang selalu menyiksa

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 51. Pil

    Di tempat yang lain,Sepasang suami istri mengintimidasi seorang wanita yang menurut mereka mencurigakan. Berpakaian pelayan dan menunduk hormat . Bahunya sedikit bergetar seperti ketakutan.“Jadi apa jaminan kau setia pada kami?” Pelayan itu menaikan wajahnya. Menatap Julia dan Arthur dengan berani. Kegelisahan dalam hatinya ia buang jauh-jauh.“Saya menggadaikan nyawa saya. Jika saya berkhianat saya rela mati. Asal…” ia menghentikan kalimatnya. Matanya terpejam erat seolah untuk mengatakan kalimat selanjutnya membutuhkan tenaga besar.Arthur dan Julia saling pandang. Kedua alisnya naik, menanti kalimat selanjutnya.“Asal Tuan dan Nyonya memberikan bayaran yang setimpal.” Lanjutnya kemudian.Ia sudah merasa sangat frustasi. Ibunya yang sangat ia cintai terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Gagal jantung yang ibunya derita membuatnya dilanda ketakutan. Takut akan kehilangan.Pihak rumah sakit mengatakan harus menjalani transplantasi jantung. Dan semua itu membutuhkan bi

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 50

    “Nona, atas nama Tuan, saya meminta maaf. Beliau selalu kasar padamu.” Aku hanya diam, menatap hamparan mawar dari balik jendela dengan tatapan kosong. Di tengah ruangan, Rendi sibuk mengganti seprai. Suaranya mengalun pelan, namun entah mengapa, aku menangkap nada kesungguhan yang ganjil di sana. “Tuan memang keras, tapi semua itu ada sebabnya,” lanjutnya lagi. Aku tetap tak bergeming. Namun saat aku menoleh, dia rupanya sudah menatapku lebih dulu. “Tuan tidak menyukai pembangkangan. Kebetulan, Nona selalu melawan dan memancing amarahnya. Itulah yang membuatnya bertindak lebih kasar.” Cih. Aku mendengus sinis. Dia bilang aku yang memancingnya? Bahkan sejak detik pertama aku menginjakkan kaki di neraka ini, pria itu sudah hampir membunuhku dengan siksaannya. Dia binatang. Monster menjijikkan yang bersembunyi di balik setelan mahal. Tatapanku menajam. Selama hampir sebulan ini, Rendi adalah satu-satunya wajah yang rutin kulihat. Dia yang memberiku makan, mengganti seprai, atau

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 49

    Lintang terbangun dengan rasa frustrasi yang menggantung. Pikirannya hancur berantakan, sama seperti hatinya. Ia memikirkan bagaimana nasib Damar dan Ema, juga kekasih serta sahabatnya, Sasa. Semuanya bercampur menjadi satu, menyesakkan dada."Aw, milikku sakit," rintihnya pelan.Ia bangkit, melangkah menuju kamar mandi yang letaknya sedikit jauh. Kamar Eden selalu gelap, dan Lintang sudah terbiasa dengan kegelapan itu. Dengan langkah tertatih, ia memasuki kamar mandi.Bersandar pada wastafel, Lintang menatap pantulan dirinya di cermin. Kantung mata hitam, rambut berantakan, sudut bibir pecah dan berdarah, serta wajah yang sama sekali tidak memancarkan aura kehidupan. Ia terlihat semakin kurus setiap harinya. Tulang selangkanya menonjol dan garis pipinya semakin tirus.Tangannya menengadah, menyiramkan air dingin ke wajahnya yang kuyu. "Bagaimana bisa semua ini menimpaku?"Tubuhnya luruh, jatuh ke lantai dengan rasa putus a

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 48.

    Setelah menyiksa Lintang seminggu terakhir, kini Eden kembali menginjakkan kakinya di perusahaan. Namun, baru saja tiba di lobi, pemandangan Julia dan Arthur yang bercumbu panas membuat darahnya mendidih.Langkahnya kian cepat. Begitu sampai di dekat mereka, Eden menarik tangan Arthur dengan kasar lalu melayangkan tonjokan keras ke wajah pria itu.Serangan tiba-tiba itu mengejutkan semua orang. Beberapa karyawan yang sedang melintas langsung menghentikan langkah mereka. Napas Eden memburu, ia menatap bengis Arthur yang terjerembab di lantai. Pria itu menyeka sudut bibirnya yang berdarah, matanya menatap Eden dengan penuh kebencian.Julia yang menyadari perlakuan mengejutkan Eden langsung membantu Arthur berdiri, lalu menatap sang anak dengan tajam."Apa yang kamu lakukan, Eden?!" teriaknya penuh amarah.Suara Julia memancing perhatian. Dalam sekejap, mereka dikelilingi oleh para karyawan yang penasaran."Kau merebut kursi kuasaku, dan sekarang kau mengotori perusahaanku dengan hal men

  • Gadis Bisu Tahanan Mafia   Bab 47. Alex

    Penyiksaan belum usai.Setelah Damar, Lintang diseret menuju tempat di mana Ema berada. Wanita itu terlihat sangat lemah, bahkan sekadar bernapas saja tampak kesulitan.Lintang spontan berlari menghampirinya, namun tarikan kasar dari Eden membuat tubuhnya terhempas dan menubruk tubuh besar pria itu. Tatapan tajam dari Eden seolah memperingatinya, membuat Lintang seketika patuh.Namun pandangannya terus terpaku pada Ema yang terbaring di ranjang seperti pasien rumah sakit. Wanita itu memang mengenakan pakaian pasien, benar-benar seperti orang yang sedang dirawat – tapi yang terjadi di ruangan ini sungguh berbeda dengan rumah sakit yang sebenarnya.Di sisi kanan ranjang, seorang pria memegang pisau yang sangat tajam. Kilauan logamnya menyilaukan mata Lintang. Setelah menatap Eden sebentar, tangannya perlahan bergerak menuju tubuh lemah Ema yang masih memejamkan mata.Ruangan ini lebih tenang dan sunyi ketimbang tempat Damar. Sekecil apapun gerakan terasa begitu nyaring di telinga, seper

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status