Share

Bab.3

Author: Addarayuli
last update publish date: 2026-08-28 15:57:35

Cahaya matahari pagi yang beranjak siang menyinari teras kos Wisma Asri. Suasana di rumah kos itu masih diliputi rasa haru dan sesak yang menyisa. Berita mengenai suami Mbak Sri yang kabur membawa lari seluruh isi rekeningnya meninggalkan duka mendalam bagi wanita cantik yang selama ini merawat rumah kos tersebut.

Mbak Sri duduk tersandar di kursi rotan, matanya sembap dan tangannya gemetar memegang cangkir teh jahe yang sudah mendingin. Di hadapannya, Raka, Rehan, dan Dimas masih setia menemani.

Dimas maju satu langkah, berlutut sejajar dengan tempat duduk Mbak Sri, lalu menatap wanita itu dengan sorot mata yang mantap dan hangat.

"Mbak Sri, dengarkan Dimas," ucapnya lembut namun penuh penekanan. "Wisma Asri ini rumah kita semua. Tempat ini berdiri bukan cuma karena bangunan atau atapnya, tapi karena Mbak Sri. Mbak adalah alasan kenapa kos ini selalu terasa hangat dan bikin kita semua betah untuk pulang."

Dimas menoleh sebentar ke arah Raka dan Rehan yang mengangguk setuju, lalu kembali menatap Mbak Sri.

"Masalah suami Mbak yang kabur itu... Mbak tidak sendirian hadapin ini. Kita bertiga, dan semua anak kos di sini, tidak akan tinggal diam. Kos ini tempat kita pulang, dan kami yang akan jaga rumah ini termasuk jaga Mbak Sri. Semuanya bakal baik-baik aja, Mbak. Kita bakal urus semuanya bareng-bareng."

Mendengar ucapan Dimas, pertahanan Mbak Sri kembali runtuh. Air matanya menetes, kali ini bukan sekadar karena rasa sakit, melainkan rasa syukur yang membuncah.

Mbak Sri mengangguk pelan, menyapu air matanya dengan ujung sarung. "Terima kasih banyak ya... Dimas, Raka, Mas Rehan. Mbak tidak tahu harus ngomong apa lagi. Terima kasih sudah bantu Mbak sejak tadi..."

Ia menarik napas panjang, mencoba menata kembali napasnya yang sesak. "Kalian balik ke kamar masing-masing ya, pasti capek dari pagi ikut repot. Mbak... Mbak cuma ingin istirahat sebentar di kamar."

Ketiganya mengangguk paham. Setelah memastikan Mbak Sri masuk ke kamarnya dengan aman, Raka, Rehan, dan Dimas melangkah pergi dengan komitmen tertanam di hati, melindungi Mbak Sri dan menjaga tempat yang sudah mereka anggap sebagai rumah tersebut.

Langit sore mulai memerah keemasan, menandakan azan Magrib yang tak lama lagi akan berkumandang. Di dalam kamarnya yang remang, Mbak Sri terbangun setelah sempat tertidur beberapa jam. Kelopak matanya masih terasa berat, namun ia menolak untuk terus berbaring meratapi nasib.

Ia bangkit, duduk di tepi ranjang, lalu menarik napas panjang.

"Sri... cukup," bisiknya pada diri sendiri, menatap pantulan bayangannya yang samar di kaca lemari. "Kamu mau sampai kapan begini? Mengurung diri dan menangisi orang yang bahkan tidak memikirkan kamu? Masih ada hari esok. Kamu punya tangan, punya kaki, masih sehat. Harta bisa dicari lagi, tapi kalau kamu hancur di sini, siapa yang mau mengelola kos ini? Tidak, Sri. Kamu harus kuat. Kamu tidak boleh kalah dengan keadaan!"

Menyeka sisa air mata di pipinya, Mbak Sri beranjak menuju dapur. Ia memutuskan untuk menyibukkan diri di dapur demi mengalihkan pikiran yang kalut.

Suara minyak panas dan aroma masakan mulai memenuhi ruangan. Hari ini, ia memasak oseng kangkung yang segar, sambal terasi yang pedas mantap, serta ikan asin goreng yang renyah. Masakan sederhana, namun dibuat dengan penuh rasa terima kasih untuk anak-anak kos yang sudah berbaik hati membantunya di masa-masa sulit ini.

Tak berapa lama, aroma masakan menggugah selera anak-anak kos Wisma Asri. Rehan, Raka, dan Dimas berkumpul di meja makan. Turut bergabung pula Mas Bayu, seorang kontraktor duda matang berusia 33 tahun yang baru beberapa minggu pindah ngekos setelah rumah lamanya dijual pasca-perceraian. Mereka makan bersama dalam suasana hangat yang begitu erat, layaknya sebuah keluarga besar.

Di tengah gelak tawa Raka dan Dimas yang berebut ikan asin, Mas Bayu sesekali mencuri pandang ke arah Mbak Sri. Melihat mata Mbak Sri yang masih sembap dan tatapannya yang sesekali menerawang, Bayu mengerti betul luka mendalam itu. Sebagai sesama korban pengkhianatan, setelah mantan istrinya memilih pergi demi mengejar pria kaya, Bayu bisa merasakan kepedihan yang sedang ditanggung wanita di hadapannya.

“Kasihan sekali Mbak Sri,” batin Mas Bayu prihatin.

Sehabis makan dan membersihkan meja, Mas Bayu menyeduh dua cangkir teh hangat. Ia menghampiri Mbak Sri dan mengisyaratkan wanita itu untuk duduk sebentar di kursi rotan teras depan.

"Mbak Sri, duduk sebentar yuk. Ngeteh dulu di teras," ajak Bayu pelan, suara seraknya membelah hening.

Bayu menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke arah kegelapan halaman. Jarinya mengusap pinggiran cangkir yang hangat.

"Mbak Sri..." panggil Mas Bayu sambil menjeda kalimatnya. "Kamu pernah merasa... semua yang kamu bangun bertahun-tahun hancur cuma dalam semalam?"

Mbak Sri menoleh, menatap samping wajah Bayu yang separuh terhalang bayangan.

Bayu tersenyum kecut. "Aku belum pernah cerita ini sama siapa pun di sini. Sebelum aku pindah ke desa ini, aku punya usaha kecil di kota. Dan seseorang yang aku percaya sepenuhnya, seseorang yang waktu itu aku pikir akan jadi pendamping hidupku."

Ia menarik napas panjang, menahannya sejenak seolah udara malam itu berat untuk dihirup.

"Dia pergi sama sahabatku sendiri, Mbak Sri. Bukan cuma bawa lari tabunganku sampai habis tak bersisa, tapi dia juga membuat nama baikku hancur di depan keluarga besarku. Aku dianggap penipu, dikutuk, dan diusir. Malam itu, aku hanya berdiri di pinggir jalan tol, ngeliat hujan turun, dan mikir... untuk apa aku hidup kalau dunia sejahat ini?"

"Mas Bayu..." suara Sri lirih, hampir berupa bisikan. "Ternyata rasa dingin yang sering aku lihat di mata Mas selama ini... itu bekas membeku dari malam itu, ya?"

Bayu menoleh, menatap mata Sri. Di sana, tidak ada rasa kasihan yang merendahkan. Yang ada hanyalah pemahaman yang telanjang.

"Kamu tahu rasanya, kan, Sri?" tanya Bayu pelan.

"Tahu banget, Mas," balaskan Sri sambil menunduk menatap jemarinya sendiri. "Bedanya, Mas dikhianati di kota, aku dihancurkan di rumahku sendiri oleh orang yang seharusnya melindungiku. Waktu aku pergi dari rumah dulu, aku juga merasa dunia sudah selesai. Aku merasa kotor, tak berharga, dan takut buat percaya lagi sama manusia."

"Mbak Sri tidak sendiri," ujar Bayu lembut. Matanya menatap lurus ke arah garasi luas Wisma Asri yang selama ini hanya terpakai sebagian. Sebuah gagasan mendadak melintas di benaknya.

"Mbak, garasi depan itu luas sekali dan posisinya strategis. Bagaimana kalau kita manfaatkan untuk bikin bisnis katering? Kita beri nama 'Dapur Mbak Sri'. Masakan Mbak Sri ini rasanya enak sekali. Selain bisa mengalihkan pikiran, Mbak Sri juga tidak perlu terlalu kepikiran soal uang yang hilang."

Rehan, yang ternyata ikut mendengarkan dari balik pintu, langsung menimbung keluar dengan penuh semangat.

Tak mau kalah, Rehan yang mengerti hukum menepuk bahu Bayu. "Dan untuk urusan Mas Teguh, serahkan ke saya, Mbak. Besok saya mulai susun berkas hukum untuk membekukan sisa aset dan memproses gugatan cerai. Kita pastikan hak-hak Mbak Sri terlindungi."

Dukungan yang begitu tulus dari orang-orang di sekitarnya perlahan meruntuhkan tembok keputusasaan di hati Mbak Sri. Rasa percaya diri yang sempat hancur lebur kini perlahan terangkat kembali. Seulas senyum hangat akhirnya terbit di wajahnya.

Namun, sebelum Mbak Sri sempat mengucapkan sepatah kata pun untuk berterima kasih..

KRIET...

Suara pintu berderit kencang. Terbukanya pintu secara mendadak itu membuat seketika seluruh obrolan terhenti. Semua mata refleks tertuju ke arah samping kiri teras, menantikan siapa yang berdiri di sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.89

    Pagi itu, sinar matahari baru saja menerobos celah-celah pepohonan di area proyek pembangunan. Suasana di lapangan yang biasanya bising oleh suara mesin, pagi ini terasa agak sunyi dan dibalut canggung.Di depan proyek, Mas Bayu, Pak Doni dan Mas Rehan sedang duduk Bersama. Hingga tak lama kemudia, tak jauh dari tempat mereka duduk, di balik gerbang berhenti sebuah motor membuat ketiganya menoleh.Sesosok wanita anggun dengan pakaian rapi bertandang ke lokasi. Ia adalah Mbak Sri, yang datang tepat waktu sesuai dengan janji yang telah ia buat sebelumnya. Mbak Sri hadir untuk menemui Mas Bayu.Namun, kehadiran Mbak Sri yang tak disangka-sangka oleh Pak Doni dan Mas Rehan membuat suasana seketika menegang.Mas Rehan dan Pak Doni menghentikan pembicaraan mereka begitu melihat kedatangan Mbak Sri. Wajah mereka menunjukkan terkejut yang luar biasa.Mas Rehan terperanjat, "Mbak Sri? Anda... bagaimana bisa ada di sini pagi-pagi begini?"Pak Doni s

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.88

    Suasana di Kos Wisma Asri menjelang pukul sembilan pagi mulai berangsur sepi. Kebisingan khas pagi hari seperti suara deru motor, celoteh penghuni kos yang berebut kamar mandi, hingga denting alat masak kini telah mereda. Mayoritas penghuninya sudah berangkat menembus kemacetan kota untuk bekerja dan berkuliah. Hanya tersisa keheningan yang dibalut sepoi angin pagi dan suara jangkrik liar di sudut halaman.Di dalam kamarnya, Mbak Sri berdiri mengamati penampilannya. Ia meraih tas selempang kulit warna cokelat pastel lalu memakainya serong di bahu. Matanya menatap lekat pantulan dirinya di cermin rias berukuran sedang. Dress bunga-bunga kecil berwarna lembut yang melekat di tubuhnya tampak begitu rapi, membalut sosoknya yang biasanya hanya mengenakan daster atau kaos santai sehari-hari. Sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat, namun penuh arti mengembang di bibirnya.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Mbak Sri meraih botol parfum kaca berdesain elegan dari atas me

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.87

    Suara tumisan bumbu halus di atas wajan besar beradu dengan keheningan pagi yang masih samar. Jarum jam dinding di dapur umum menunjukkan pukul 04.15 WIB. Asap tipis beraroma bawang merah, terasi, dan daun jeruk membumbung tinggi, memenuhi ruangan berubin putih tersebut.Setelah tiga hari tutup total demi mengurus berkas perceraiannya di Pengadilan Agama, Mbak Sri akhirnya kembali ke tempat yang paling membuatnya merasa hidup: dapur katering milik pribadinya. Hari ini, ia harus menyelesaikan 50 kotak nasi tumpeng mini dan 100 porsi prasmanan untuk acara syukuran kantor.Dengan cekatan, Mbak Sri mengaduk sambal goreng ati dengan sutil kayu besar. Keringat tipis mulai menetes di pelipisnya. Tangannya yang sigap dan terlatih melangkah dari satu kompor ke kompor lain.Ting!Suara denting notifikasi ponsel terdengar dari balik saku apron kain motif kotak-kotak biru yang ia kenakan.Mbak Sri mengecilkan api kompor terlebih dahulu. Ia me

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.86

    Angin malam berembus dingin, membawa aroma tanah basah yang kian pekat. Langit di atas sana gulita, tertutup awan mendung yang menggantung rendah, seolah menyimpan beban yang siap ditumpahkan kapan saja.Mbak Sri duduk sendirian di kursi kayu teras rumahnya. Matanya menatap lurus ke arah langit malam yang hampa. Sebuah helaan napas berat terdengar beberapa kali dari bibirnya, terlepas bersama rasa sesak yang tak kunjung mereda. Malam ini seharusnya terasa begitu berharga—sebuah garis akhir dari drama panjang yang menguras emosi dan air mata. Namun, bukannya lega, hatinya justru terasa ganjil, gundah, dan tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di relung dadanya yang paling dalam."Mas Bayu..." lirih Mbak Sri sangat pelan, hampir tak terdengar, mengucap nama seseorang yang kini jauh darinya.Tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut mendarat di atas kepalanya. Sebuah elusan hangat pada pucuk kepala yang seketika menghentikan lamunannya.Mbak Sri te

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.85

    Suara dentang halus koin dan kunci di dalam saku celana mengiringi langkah Mas Bayu saat ia melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya. Suasana ruangan terasa sunyi, hanya derak halus kipas angin yang membelah udara panas sore itu.Mas Bayu melepas topi rimba kesayangannya, meletakkannya dengan layu di atas meja kayu yang dipenuhi tumpukan berkas. Matanya yang tampak lelah tertuju pada segelas air putih dingin yang berdiri anggun di sudut meja. Tanpa ragu, ia meraih gelas itu, menempelkan pinggirannya ke bibir, dan meminumnya hingga tandas tanpa henti.Glek... glek... glek."Haaah..."Terdengar suara helaan napas panjang yang sarat akan beban keluar dari mulut Mas Bayu. Ia menurunkan gelas kosong itu, lalu perlahan menjatuhkan punggungnya, menyandarkan tubuhnya yang letih ke sandaran kursi busa. Mas Bayu mendongak, menatap kosong ke arah langit-langit plafon ruangan yang putih bersih.Tatapannya benar-benar kosong. Sudah hampir satu bulan dia

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.84

    Ketukan palu hakim tiga kali menggema di ruang sidang Pengadilan Agama, menandai akhir dari perjalanan panjang rumah tangga Mbak Sri dan Teguh."Memutuskan, mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya. Menjatuhkan talak satu ba'in sughra tergugat, Teguh bin Sastro, terhadap penggugat, Sri Wahyuni binti Sukirno," ucap Ketua Majelis Hakim lantang dari balik meja hijau.Mbak Sri, yang duduk didampingi kuasa hukumnya di sisi kiri ruang sidang, menghembuskan napas panjang. Kedua tangannya yang bertaut di atas pangkuan perlahan mengendur.Hakim melanjutkan pembacaan amar putusan, masuk ke poin rekonvensi atau gugatan balik yang diajukan oleh pihak Teguh mengenai sengketa harta bersama dan tuduhan perselingkuhan."Menimbang, bahwa mengenai gugatan rekonvensi tergugat terkait tuntutan pembagian harta bersama berupa rumah kos dan tuduhan pelanggaran kesusilaan oleh penggugat..." Hakim melepaskan kacamata bacanya sejenak, lalu menatap tajam ke arah Teguh yang duduk gelisah di sisi kanan. "Ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status