MasukCahaya matahari pagi yang beranjak siang menyinari teras kos Wisma Asri. Suasana di rumah kos itu masih diliputi rasa haru dan sesak yang menyisa. Berita mengenai suami Mbak Sri yang kabur membawa lari seluruh isi rekeningnya meninggalkan duka mendalam bagi wanita cantik yang selama ini merawat rumah kos tersebut.
Mbak Sri duduk tersandar di kursi rotan, matanya sembap dan tangannya gemetar memegang cangkir teh jahe yang sudah mendingin. Di hadapannya, Raka, Rehan, dan Dimas masih setia menemani.
Dimas maju satu langkah, berlutut sejajar dengan tempat duduk Mbak Sri, lalu menatap wanita itu dengan sorot mata yang mantap dan hangat.
"Mbak Sri, dengarkan Dimas," ucapnya lembut namun penuh penekanan. "Wisma Asri ini rumah kita semua. Tempat ini berdiri bukan cuma karena bangunan atau atapnya, tapi karena Mbak Sri. Mbak adalah alasan kenapa kos ini selalu terasa hangat dan bikin kita semua betah untuk pulang."
Dimas menoleh sebentar ke arah Raka dan Rehan yang mengangguk setuju, lalu kembali menatap Mbak Sri.
"Masalah suami Mbak yang kabur itu... Mbak tidak sendirian hadapin ini. Kita bertiga, dan semua anak kos di sini, tidak akan tinggal diam. Kos ini tempat kita pulang, dan kami yang akan jaga rumah ini termasuk jaga Mbak Sri. Semuanya bakal baik-baik aja, Mbak. Kita bakal urus semuanya bareng-bareng."
Mendengar ucapan Dimas, pertahanan Mbak Sri kembali runtuh. Air matanya menetes, kali ini bukan sekadar karena rasa sakit, melainkan rasa syukur yang membuncah.
Mbak Sri mengangguk pelan, menyapu air matanya dengan ujung sarung. "Terima kasih banyak ya... Dimas, Raka, Mas Rehan. Mbak tidak tahu harus ngomong apa lagi. Terima kasih sudah bantu Mbak sejak tadi..."
Ia menarik napas panjang, mencoba menata kembali napasnya yang sesak. "Kalian balik ke kamar masing-masing ya, pasti capek dari pagi ikut repot. Mbak... Mbak cuma ingin istirahat sebentar di kamar."
Ketiganya mengangguk paham. Setelah memastikan Mbak Sri masuk ke kamarnya dengan aman, Raka, Rehan, dan Dimas melangkah pergi dengan komitmen tertanam di hati, melindungi Mbak Sri dan menjaga tempat yang sudah mereka anggap sebagai rumah tersebut.
Langit sore mulai memerah keemasan, menandakan azan Magrib yang tak lama lagi akan berkumandang. Di dalam kamarnya yang remang, Mbak Sri terbangun setelah sempat tertidur beberapa jam. Kelopak matanya masih terasa berat, namun ia menolak untuk terus berbaring meratapi nasib.
Ia bangkit, duduk di tepi ranjang, lalu menarik napas panjang.
"Sri... cukup," bisiknya pada diri sendiri, menatap pantulan bayangannya yang samar di kaca lemari. "Kamu mau sampai kapan begini? Mengurung diri dan menangisi orang yang bahkan tidak memikirkan kamu? Masih ada hari esok. Kamu punya tangan, punya kaki, masih sehat. Harta bisa dicari lagi, tapi kalau kamu hancur di sini, siapa yang mau mengelola kos ini? Tidak, Sri. Kamu harus kuat. Kamu tidak boleh kalah dengan keadaan!"
Menyeka sisa air mata di pipinya, Mbak Sri beranjak menuju dapur. Ia memutuskan untuk menyibukkan diri di dapur demi mengalihkan pikiran yang kalut.
Suara minyak panas dan aroma masakan mulai memenuhi ruangan. Hari ini, ia memasak oseng kangkung yang segar, sambal terasi yang pedas mantap, serta ikan asin goreng yang renyah. Masakan sederhana, namun dibuat dengan penuh rasa terima kasih untuk anak-anak kos yang sudah berbaik hati membantunya di masa-masa sulit ini.
Tak berapa lama, aroma masakan menggugah selera anak-anak kos Wisma Asri. Rehan, Raka, dan Dimas berkumpul di meja makan. Turut bergabung pula Mas Bayu, seorang kontraktor duda matang berusia 33 tahun yang baru beberapa minggu pindah ngekos setelah rumah lamanya dijual pasca-perceraian. Mereka makan bersama dalam suasana hangat yang begitu erat, layaknya sebuah keluarga besar.
Di tengah gelak tawa Raka dan Dimas yang berebut ikan asin, Mas Bayu sesekali mencuri pandang ke arah Mbak Sri. Melihat mata Mbak Sri yang masih sembap dan tatapannya yang sesekali menerawang, Bayu mengerti betul luka mendalam itu. Sebagai sesama korban pengkhianatan, setelah mantan istrinya memilih pergi demi mengejar pria kaya, Bayu bisa merasakan kepedihan yang sedang ditanggung wanita di hadapannya.
“Kasihan sekali Mbak Sri,” batin Mas Bayu prihatin.
Sehabis makan dan membersihkan meja, Mas Bayu menyeduh dua cangkir teh hangat. Ia menghampiri Mbak Sri dan mengisyaratkan wanita itu untuk duduk sebentar di kursi rotan teras depan.
"Mbak Sri, duduk sebentar yuk. Ngeteh dulu di teras," ajak Bayu pelan, suara seraknya membelah hening.
Bayu menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke arah kegelapan halaman. Jarinya mengusap pinggiran cangkir yang hangat.
"Mbak Sri..." panggil Mas Bayu sambil menjeda kalimatnya. "Kamu pernah merasa... semua yang kamu bangun bertahun-tahun hancur cuma dalam semalam?"
Mbak Sri menoleh, menatap samping wajah Bayu yang separuh terhalang bayangan.
Bayu tersenyum kecut. "Aku belum pernah cerita ini sama siapa pun di sini. Sebelum aku pindah ke desa ini, aku punya usaha kecil di kota. Dan seseorang yang aku percaya sepenuhnya, seseorang yang waktu itu aku pikir akan jadi pendamping hidupku."
Ia menarik napas panjang, menahannya sejenak seolah udara malam itu berat untuk dihirup.
"Dia pergi sama sahabatku sendiri, Mbak Sri. Bukan cuma bawa lari tabunganku sampai habis tak bersisa, tapi dia juga membuat nama baikku hancur di depan keluarga besarku. Aku dianggap penipu, dikutuk, dan diusir. Malam itu, aku hanya berdiri di pinggir jalan tol, ngeliat hujan turun, dan mikir... untuk apa aku hidup kalau dunia sejahat ini?"
"Mas Bayu..." suara Sri lirih, hampir berupa bisikan. "Ternyata rasa dingin yang sering aku lihat di mata Mas selama ini... itu bekas membeku dari malam itu, ya?"
Bayu menoleh, menatap mata Sri. Di sana, tidak ada rasa kasihan yang merendahkan. Yang ada hanyalah pemahaman yang telanjang.
"Kamu tahu rasanya, kan, Sri?" tanya Bayu pelan.
"Tahu banget, Mas," balaskan Sri sambil menunduk menatap jemarinya sendiri. "Bedanya, Mas dikhianati di kota, aku dihancurkan di rumahku sendiri oleh orang yang seharusnya melindungiku. Waktu aku pergi dari rumah dulu, aku juga merasa dunia sudah selesai. Aku merasa kotor, tak berharga, dan takut buat percaya lagi sama manusia."
"Mbak Sri tidak sendiri," ujar Bayu lembut. Matanya menatap lurus ke arah garasi luas Wisma Asri yang selama ini hanya terpakai sebagian. Sebuah gagasan mendadak melintas di benaknya.
"Mbak, garasi depan itu luas sekali dan posisinya strategis. Bagaimana kalau kita manfaatkan untuk bikin bisnis katering? Kita beri nama 'Dapur Mbak Sri'. Masakan Mbak Sri ini rasanya enak sekali. Selain bisa mengalihkan pikiran, Mbak Sri juga tidak perlu terlalu kepikiran soal uang yang hilang."
Rehan, yang ternyata ikut mendengarkan dari balik pintu, langsung menimbung keluar dengan penuh semangat.
Tak mau kalah, Rehan yang mengerti hukum menepuk bahu Bayu. "Dan untuk urusan Mas Teguh, serahkan ke saya, Mbak. Besok saya mulai susun berkas hukum untuk membekukan sisa aset dan memproses gugatan cerai. Kita pastikan hak-hak Mbak Sri terlindungi."
Dukungan yang begitu tulus dari orang-orang di sekitarnya perlahan meruntuhkan tembok keputusasaan di hati Mbak Sri. Rasa percaya diri yang sempat hancur lebur kini perlahan terangkat kembali. Seulas senyum hangat akhirnya terbit di wajahnya.
Namun, sebelum Mbak Sri sempat mengucapkan sepatah kata pun untuk berterima kasih..
KRIET...
Suara pintu berderit kencang. Terbukanya pintu secara mendadak itu membuat seketika seluruh obrolan terhenti. Semua mata refleks tertuju ke arah samping kiri teras, menantikan siapa yang berdiri di sana.
Mbak Sri yang panik segera ganti pakaian dan cepat-cepat keluar untuk membuka gerbang kos. Tapi, baru setengah jalan, Bimo yang baru bangun tidur bersama Rehan dan Raka langsung menahan Mbak Sri di teras dan meminta ia diam saja.Mbak Sri yang ketakutan setengah mati ingin ikut menjelaskan ke arah gerbang kalau dia dan Teguh sudah mau cerai, agar tidak disangkutpautkan lagi. Namun, langkahnya langsung dihentikan Bimo, anggota Reskrim Polsek lokal berbadan tegap itu melangkah keluar paling depan dan berbisik tegas."Mbak Sri di sini saja. Biar saya dan anak-anak kos yang urus."Mas Rehan beserta Raka mendekat ke pagar, lalu menghentak pintu besi itu dengan tegas dari dalam hingga menimbulkan dentuman keras."Siapa yang izinkan kalian berteriak dan mengancam menyita properti pribadi di sini?" Suara dingin Mas Rehan memotong teriakan tiga debt collector bertato suruhan pinjol yang kembali menggoncang-goncang pagar besi Wisma Asri pagi itu.Tiga penagih utang yang diutus menguras utang li
Pintu depan kos terbuka, memperlihatkan Nico yang datang terengah-engah sambil menjinjing dua kantong plastik besar. Es batu dalam kantong minuman dingin bergemerincing, bersanding dengan beberapa bungkus jajanan pasar dan roti."Nih, buat Mbak Sri," kata Nico sambil menyerahkan kantong itu ke Mbak Sri. "Tadi pas Raka nge-chat di grup bilang Mbak Sri hampir pingsan, aku langsung mampir ke toko kelontong depan."Mbak Sri hanya bisa tersenyum haru, lalu mengangguk pelan. "Makasih ya, Nico... jadi repot begini."“Tidak repot kok, Mbak,” jawab Nico dengan senyum khasnya.“Lebih baik Mbak Sri sekarang istirahat saja sudah malam,” ucap Mas Bayu.Setelah Mbak Sri dipaksa masuk ke dalam untuk istirahat dan meminum es tehnya, Mas Bayu memanggil beberapa anak kos lain dan berdiri di pelataran depan kosan. Tangannya memegang meteran gulung, matanya meneliti setiap sudut teras luar yang rencananya akan disulap menjadi warung."Udah, biarkan Mbak Sri istirahat dulu," ujar Mas Bayu, menepuk bahu Ra
Cahaya matahari pagi yang beranjak siang menyinari teras kos Wisma Asri. Suasana di rumah kos itu masih diliputi rasa haru dan sesak yang menyisa. Berita mengenai suami Mbak Sri yang kabur membawa lari seluruh isi rekeningnya meninggalkan duka mendalam bagi wanita cantik yang selama ini merawat rumah kos tersebut.Mbak Sri duduk tersandar di kursi rotan, matanya sembap dan tangannya gemetar memegang cangkir teh jahe yang sudah mendingin. Di hadapannya, Raka, Rehan, dan Dimas masih setia menemani.Dimas maju satu langkah, berlutut sejajar dengan tempat duduk Mbak Sri, lalu menatap wanita itu dengan sorot mata yang mantap dan hangat."Mbak Sri, dengarkan Dimas," ucapnya lembut namun penuh penekanan. "Wisma Asri ini rumah kita semua. Tempat ini berdiri bukan cuma karena bangunan atau atapnya, tapi karena Mbak Sri. Mbak adalah alasan kenapa kos ini selalu terasa hangat dan bikin kita semua betah untuk pulang."Dimas menoleh sebentar ke arah Raka dan Rehan yang mengangguk setuju, lalu kemb
Langkah kaki Rehan dan Raka begitu berhati-hati saat menuntun Mbak Sri menuju teras depan. Wanita itu masih tampak sangat pucat, napasnya tersendat-sendat pasca-kejadian pingsannya yang tiba-tiba di lantai dapur tadi. Dengan perlahan, mereka mendudukkan Mbak Sri di kursi rotan tua yang berada di sudut teras.“Mbak Sri duduk dulu ya,” ucap Raka.Tatapannya kosong, Mbak Sri perlahan duduk dengan tubuh yang lemas. Namun, rasa syok yang membendung seolah tak sanggup ditahan lagi. Baru saja tubuhnya menyentuh kursi, Mbak Sri justru meluruh ke bawah, bersimpuh lemas di atas tegel.Air matanya menetes makin deras, meresap dan membasahi kain daster batik lusuh yang dikenakannya. Isak tangisnya pecah, meratapi kemalangan nasib yang seakan tak henti-hentinya menghimpit.Merasa iba, Rehan bersimpuh di samping tubuh Mbak Sri, “Mbak yang tenang, ada kami di sini yang siap membantu Mbak Sri.”Dadanya terasa sangat sesak, seolah dihantam batu besar yang tak kasat mata. "Salahku apa, Gusti... Kenapa
"Mbak Sri! Teguh bawa kabur motor almarhum Bapak sama cewek karaoke, tabungan Mbak di bank juga dikuras bersih!"****Aroma gurih adonan tempe mendoan yang meletup-letup di atas wajan berpadu dengan wangi pekat teh tubruk yang baru disaring. Dapur kos-kosan dua lantai itu seperti biasa dihidupkan oleh sesosok wanita berusia 35 tahun berdaster batik katun kusam. Rambutnya disanggul asal dengan jepitan plastik yang sedikit longgar. Dialah Sri Rahayu atau yang kerap di panggil Mbak Sri, jantung utama yang membuat rumah itu selalu terasa seperti pulang."Kopi hitamnya kurang manis tidak, Mas Rehan?" tanya Mbak Sri sambil menyeka keringat di pelipisnya dengan ujung daster.Mas Rehan, pengacara LBH berwajah lelah yang kemeja putihnya tergulung kaku hingga siku, menyesap cangkir sengnya perlahan. Matanya yang sembap akibat sisa-sisa lembur membela kasus penggusuran rakyat kecil mendadak tampak lebih rileks."Pas, Mbak. Kopi buatan Mbak Sri selalu paling bisa menyembuhkan sakit kepala," jawab







