MasukPintu depan kos terbuka, memperlihatkan Nico yang datang terengah-engah sambil menjinjing dua kantong plastik besar. Es batu dalam kantong minuman dingin bergemerincing, bersanding dengan beberapa bungkus jajanan pasar dan roti.
"Nih, buat Mbak Sri," kata Nico sambil menyerahkan kantong itu ke Mbak Sri. "Tadi pas Raka nge-chat di grup bilang Mbak Sri hampir pingsan, aku langsung mampir ke toko kelontong depan."
Mbak Sri hanya bisa tersenyum haru, lalu mengangguk pelan. "Makasih ya, Nico... jadi repot begini."
“Tidak repot kok, Mbak,” jawab Nico dengan senyum khasnya.
“Lebih baik Mbak Sri sekarang istirahat saja sudah malam,” ucap Mas Bayu.
Setelah Mbak Sri dipaksa masuk ke dalam untuk istirahat dan meminum es tehnya, Mas Bayu memanggil beberapa anak kos lain dan berdiri di pelataran depan kosan. Tangannya memegang meteran gulung, matanya meneliti setiap sudut teras luar yang rencananya akan disulap menjadi warung.
"Udah, biarkan Mbak Sri istirahat dulu," ujar Mas Bayu, menepuk bahu Raka. "Sekarang fokus kita bantu-bantuan. Rehan, Raka, Dimas, Nico, sini bentar. Kita ukur dulu kontruksi depan ini, kira-kira bagian mana yang perlu dibongkar buat meja kasir sama etalase."
Kelima laki-laki itu mulai sibuk. Dimas dan Nico memegang ujung meteran, sementara Raka mencatat angka-angka ukuran di buku kecil. Rehan sibuk menepuk-nepuk pilar kayu, memastikan kekuatannya.
"Lumayan juga nih ukurannya, Mas," kata Rehan sambil mengusap keringat di dahi. "Kalau dibuat meja L di pojok kanan, terus sisanya buat tempat duduk pelanggan, muat banget."
"Iya, lagian sayang kalau Mbak Sri harus mulai dari nol sendirian," timpal Nico sambil melipat meteran. "Ngomong-ngomong, Mas Bayu kok perhatian banget sih sama Mbak Sri? Dari tadi sigap banget, mana kepikir bikin warung juga."
Mas Bayu tersenyum tipis, merapikan gulungan meterannya. Ia menyandarkan badan ke tiang teras, lalu menghembuskan napas pelan.
"Bukan apa-apa," jawab Mas Bayu tenang. "Cuma... pas denger cerita Mbak Sri tadi rasanya seperti cermin."
Dimas yang tadinya mau mengukur pilar sebelah kiri langsung berhenti. "Maksudnya gimana, Mas?"
"Saya juga pernah di posisi itu," kata Mas Bayu dengan nada suara yang tetap santai tapi menyimpan beban masa lalu. "Ditipu sama orang yang paling dipercaya, diselingkuhi mantan istri sampai tabungan habis. Bedanya, dulu saya tidak punya siapa-siapa buat bantu berdiri lagi. Jadi pas liat Mbak Sri... saya tahu persis rasanya hancur seperti gimana."
Suasana teras mendadak hening sejenak. Keempat anak kos itu saling pandang, tertegun mendengar pengakuan jujur dari sosok Mas Bayu yang selama ini selalu terlihat tenang dan berwibawa.
Raka yang pertama kali memecah keheningan dengan senyum jahil di wajahnya. "Wah... jalan ceritanya kok bisa pas banget gini ya? Jangan-jangan emang jodoh yang tertunda nih, Mas?"
"Eeeaaa!" sorak Rehan seraya menyenggol lengan Mas Bayu. "Pantesan dari tadi koordinirnya paling semangat! Ternyata ada hati yang sedang diperjuangkan!"
"Ekstra perhatian nih ceritanya," tambah Nico sambil tertawa kecil. "Lanjutkan, Mas Bayu! Kami para anak kos siap jadi tim sukses!"
Dimas ikut-ikutan menepuk pundak Mas Bayu pelan. "Ciye Mas Bayu... dari simpati jadi cinta nih arahnya."
Didesak godaan bersahut-sahutan dari anak-anak kos, Mas Bayu tidak marah atau salah tingkah secara berlebihan. Ia hanya terkekeh pelan, sebuah tawa kecil yang hangat namun tersirat keteguhan di dalamnya.
"Udah, udah, malah bercanda," kekeh Mas Bayu sambil menggelengkan kepala, menyembunyikan binar tipis di matanya. "Fokus ukur dulu. Yang penting sekarang Mbak Sri bisa bangkit dan punya penghasilan sendiri. Soal yang lain... biar mengalir aja."
Meskipun ucapannya terdengar biasa, cara Mas Bayu menatap ke arah pintu dalam tempat Mbak Sri beristirahat memberi isyarat jelas, ia tidak sekadar ingin membantu, tapi siap menjadi pelindung yang baru dalam hidup wanita itu.
***
Pagi itu, Mbak Sri baru saja membuka selot pintu depan dengan sisa kantuk yang masih menggelantung di pelupuk mata. Tubuhnya hanya dibalut selembar kain jarik yang dililit rapi hingga dada, sebuah kemben sederhana yang biasa ia pakai kalau baru selesai mandi pagi atau saat hawa kosan sedang gerah-gerahnya.
Begitu pintu terbuka lebar, sosok yang berdiri di sana justru Pak Doni. Sopir travel yang bertubuh kekar, lengkap dengan kaos oblong dan celana kainnya. Tangannya memegang kantong plastik berwarna bening.
Mbak Sri mendelik kaget, refleks menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Lho, Pak Doni…"
Belum sempat Mbak Sri merapatkan pintu, Pak Doni yang sepertinya tidak sadar situasi dan fokus menyerahkan oleh-olehnya justru masuk begitu saja melintasi ambang pintu ruang tamu.
"Ini lho Mbak Sri, kebetulan tadi habis mengantar penumpang dari Jakarta, saya bawakan…”
Kata-katanya terputus di udara saat matanya akhirnya menyadari penampilan Mbak Sri. Bahu terbuka yang mulus, leher jenjang tanpa sehelai benang pun penutup, dan jarik yang melilit pas di lekuk tubuh perempuan itu.
Hening seketika. Ruang tamu itu mendadak diselimuti rasa canggung yang teramat sangat. Hawa dingin pagi bertukar jadi hawa gerah bertekanan tinggi.
Pak Doni membeku di tempat, matanya membelalak, dadanya kempas-kempis. Wajahnya yang sawo matang berubah merah padam dalam hitungan detik. Mbak Sri sendiri kaku bagai patung, bibirnya agak terbuka tapi tak ada suara yang keluar, jemarinya meremas kain kembennya makin erat.
“Aduh Mbak Sri… maafkan saya, s-saya lancang masuk begitu saja,” ucap Pak Doni sambil memalingkan wajahnya.
Dengan gerakan serba salah dan panik setengah mati, Pak Doni hampir menjatuhkan kantong plastik itu ke atas meja kayu. "I-ini... ada es cincau dan bubur kacang hijau! Minta maaf Mbak Sri, saya benar tidak sengaja.”
Pak Doni langsung mundur teratur dengan langkah serabutan, kedua tangannya menutupi seluruh wajahnya rapat-rapat sampai sikunya menabrak bingkai pintu.
“S-saya permisi dulu,” pamitnya sambil membuka pintu dan menutupnya kencang.
Mbak Sri menghembuskan napas panjang yang tertahan, dadanya naik turun. Rasa malu, kaget, dan sedikit geli bercampur aduk. Ia mengelus dadanya sambil menatap bingkisan di atas meja. Pak Doni yang biasanya gagah dan berwibawa di balik kemudi ternyata bisa selucu dan sesalah tingkah itu.
Sambil menggeleng-gelengkan kepala, Mbak Sri bergegas masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Ia melangkah ke lemari kayu jati kuno peninggalan orang tuanya, menarik gagang pintu lemari agak keras.
Brak.
Sebuah bingkai foto kecil tersenggol ujung bajunya dan jatuh terbalik di atas tumpukan pakaian. Mbak Sri mengambilnya pelan. Itu foto pernikahannya sepuluh tahun lalu dengan Teguh.
Matanya menatap lekat foto itu, memancing memori lama yang mendadak menyeruak tanpa permisi. Dulu, Mbak Sri adalah seorang manajer pemasaran sukses di sebuah perusahaan ritel ternama di Surabaya. Ia sosok perempuan independen dengan gaya busana modern, jenjang karir cemerlang, dan masa depan yang sangat menjanjikan.
Namun, ketika kedua orang tuanya meninggal berurutan dalam kurun waktu singkat, kos-kosan peninggalan keluarga ini tidak ada yang mengurus. Di saat yang sama, pernikahan mereka yang memasuki tahun kelima mulai diguncang prahara karena belum juga dikaruniai momongan. Teguh sering menyalahkannya secara implisit, menuduh bahwa fokus karirnya yang terlalu tinggi membuat rahimnya tak kunjung subur.
Demi menyelamatkan pernikahan dan menghormati peninggalan orang tua, Mbak Sri mengambil keputusan besar, melepaskan karir mewahnya, melepas semua baju kantor kerennya, lalu pulang ke rumah ini untuk menjadi ibu rumah tangga sekaligus pengelola kos.
Awal pernikahan mereka sebenarnya begitu manis. Teguh adalah sosok suami yang lembut, suka memeluknya dari belakang saat ia memasak, dan selalu membawakannya bunga setiap kali pulang kerja. Tapi entah sejak kapan, rasa manis itu menguap. Teguh berubah dingin dan jarang sekali menyentuhnya, bahkan alasan bekerja lembur membuat Teguh kerap kali pulang larut dan memilih tidur di kamar lain.
Mbak Sri meremas bingkai foto itu. Setetes air mata menggenang di sudut matanya, siap meluncur jatuh membasahi pipinya. Rasa kesepian yang teramat sangat menghimpit dadanya.
DOR! DOR! DOR!
Gedoran kasar berbahan besi menghantam pagar depan rumah dengan sangat keras, membuyarkan seluruh lamunan dan menghancurkan keheningan pagi.
"TEGUH! KELUAR KAMU!"
Teriakan berat dan beratmosfer mengancam itu menggema dari arah luar, diiringi suara pagar besi yang diguncang-guncang secara paksa.
"JANGAN SEMBUNYI DI BALIK ROK ISTRIMU! BAYAR UTANGMU HARI INI JUGA!"
Mbak Sri tersentak kaget. Airmata yang tadinya hendak jatuh mendadak surut, berganti dengan rasa panik dan jantung yang berdegup kencang. Ia buru-buru menyambar kaosnya, menyadari bahwa ketenangan hidupnya baru saja dihantam badai lain.
Mbak Sri yang panik segera ganti pakaian dan cepat-cepat keluar untuk membuka gerbang kos. Tapi, baru setengah jalan, Bimo yang baru bangun tidur bersama Rehan dan Raka langsung menahan Mbak Sri di teras dan meminta ia diam saja.Mbak Sri yang ketakutan setengah mati ingin ikut menjelaskan ke arah gerbang kalau dia dan Teguh sudah mau cerai, agar tidak disangkutpautkan lagi. Namun, langkahnya langsung dihentikan Bimo, anggota Reskrim Polsek lokal berbadan tegap itu melangkah keluar paling depan dan berbisik tegas."Mbak Sri di sini saja. Biar saya dan anak-anak kos yang urus."Mas Rehan beserta Raka mendekat ke pagar, lalu menghentak pintu besi itu dengan tegas dari dalam hingga menimbulkan dentuman keras."Siapa yang izinkan kalian berteriak dan mengancam menyita properti pribadi di sini?" Suara dingin Mas Rehan memotong teriakan tiga debt collector bertato suruhan pinjol yang kembali menggoncang-goncang pagar besi Wisma Asri pagi itu.Tiga penagih utang yang diutus menguras utang li
Pintu depan kos terbuka, memperlihatkan Nico yang datang terengah-engah sambil menjinjing dua kantong plastik besar. Es batu dalam kantong minuman dingin bergemerincing, bersanding dengan beberapa bungkus jajanan pasar dan roti."Nih, buat Mbak Sri," kata Nico sambil menyerahkan kantong itu ke Mbak Sri. "Tadi pas Raka nge-chat di grup bilang Mbak Sri hampir pingsan, aku langsung mampir ke toko kelontong depan."Mbak Sri hanya bisa tersenyum haru, lalu mengangguk pelan. "Makasih ya, Nico... jadi repot begini."“Tidak repot kok, Mbak,” jawab Nico dengan senyum khasnya.“Lebih baik Mbak Sri sekarang istirahat saja sudah malam,” ucap Mas Bayu.Setelah Mbak Sri dipaksa masuk ke dalam untuk istirahat dan meminum es tehnya, Mas Bayu memanggil beberapa anak kos lain dan berdiri di pelataran depan kosan. Tangannya memegang meteran gulung, matanya meneliti setiap sudut teras luar yang rencananya akan disulap menjadi warung."Udah, biarkan Mbak Sri istirahat dulu," ujar Mas Bayu, menepuk bahu Ra
Cahaya matahari pagi yang beranjak siang menyinari teras kos Wisma Asri. Suasana di rumah kos itu masih diliputi rasa haru dan sesak yang menyisa. Berita mengenai suami Mbak Sri yang kabur membawa lari seluruh isi rekeningnya meninggalkan duka mendalam bagi wanita cantik yang selama ini merawat rumah kos tersebut.Mbak Sri duduk tersandar di kursi rotan, matanya sembap dan tangannya gemetar memegang cangkir teh jahe yang sudah mendingin. Di hadapannya, Raka, Rehan, dan Dimas masih setia menemani.Dimas maju satu langkah, berlutut sejajar dengan tempat duduk Mbak Sri, lalu menatap wanita itu dengan sorot mata yang mantap dan hangat."Mbak Sri, dengarkan Dimas," ucapnya lembut namun penuh penekanan. "Wisma Asri ini rumah kita semua. Tempat ini berdiri bukan cuma karena bangunan atau atapnya, tapi karena Mbak Sri. Mbak adalah alasan kenapa kos ini selalu terasa hangat dan bikin kita semua betah untuk pulang."Dimas menoleh sebentar ke arah Raka dan Rehan yang mengangguk setuju, lalu kemb
Langkah kaki Rehan dan Raka begitu berhati-hati saat menuntun Mbak Sri menuju teras depan. Wanita itu masih tampak sangat pucat, napasnya tersendat-sendat pasca-kejadian pingsannya yang tiba-tiba di lantai dapur tadi. Dengan perlahan, mereka mendudukkan Mbak Sri di kursi rotan tua yang berada di sudut teras.“Mbak Sri duduk dulu ya,” ucap Raka.Tatapannya kosong, Mbak Sri perlahan duduk dengan tubuh yang lemas. Namun, rasa syok yang membendung seolah tak sanggup ditahan lagi. Baru saja tubuhnya menyentuh kursi, Mbak Sri justru meluruh ke bawah, bersimpuh lemas di atas tegel.Air matanya menetes makin deras, meresap dan membasahi kain daster batik lusuh yang dikenakannya. Isak tangisnya pecah, meratapi kemalangan nasib yang seakan tak henti-hentinya menghimpit.Merasa iba, Rehan bersimpuh di samping tubuh Mbak Sri, “Mbak yang tenang, ada kami di sini yang siap membantu Mbak Sri.”Dadanya terasa sangat sesak, seolah dihantam batu besar yang tak kasat mata. "Salahku apa, Gusti... Kenapa
"Mbak Sri! Teguh bawa kabur motor almarhum Bapak sama cewek karaoke, tabungan Mbak di bank juga dikuras bersih!"****Aroma gurih adonan tempe mendoan yang meletup-letup di atas wajan berpadu dengan wangi pekat teh tubruk yang baru disaring. Dapur kos-kosan dua lantai itu seperti biasa dihidupkan oleh sesosok wanita berusia 35 tahun berdaster batik katun kusam. Rambutnya disanggul asal dengan jepitan plastik yang sedikit longgar. Dialah Sri Rahayu atau yang kerap di panggil Mbak Sri, jantung utama yang membuat rumah itu selalu terasa seperti pulang."Kopi hitamnya kurang manis tidak, Mas Rehan?" tanya Mbak Sri sambil menyeka keringat di pelipisnya dengan ujung daster.Mas Rehan, pengacara LBH berwajah lelah yang kemeja putihnya tergulung kaku hingga siku, menyesap cangkir sengnya perlahan. Matanya yang sembap akibat sisa-sisa lembur membela kasus penggusuran rakyat kecil mendadak tampak lebih rileks."Pas, Mbak. Kopi buatan Mbak Sri selalu paling bisa menyembuhkan sakit kepala," jawab







