Compartilhar

Bab.4

Autor: Addarayuli
last update Data de publicação: 2026-08-28 15:58:35

Pintu depan kos terbuka, memperlihatkan Nico yang datang terengah-engah sambil menjinjing dua kantong plastik besar. Es batu dalam kantong minuman dingin bergemerincing, bersanding dengan beberapa bungkus jajanan pasar dan roti.

"Nih, buat Mbak Sri," kata Nico sambil menyerahkan kantong itu ke Mbak Sri. "Tadi pas Raka nge-chat di grup bilang Mbak Sri hampir pingsan, aku langsung mampir ke toko kelontong depan."

Mbak Sri hanya bisa tersenyum haru, lalu mengangguk pelan. "Makasih ya, Nico... jadi repot begini."

“Tidak repot kok, Mbak,” jawab Nico dengan senyum khasnya.

“Lebih baik Mbak Sri sekarang istirahat saja sudah malam,” ucap Mas Bayu.

Setelah Mbak Sri dipaksa masuk ke dalam untuk istirahat dan meminum es tehnya, Mas Bayu memanggil beberapa anak kos lain dan berdiri di pelataran depan kosan. Tangannya memegang meteran gulung, matanya meneliti setiap sudut teras luar yang rencananya akan disulap menjadi warung.

"Udah, biarkan Mbak Sri istirahat dulu," ujar Mas Bayu, menepuk bahu Raka. "Sekarang fokus kita bantu-bantuan. Rehan, Raka, Dimas, Nico, sini bentar. Kita ukur dulu kontruksi depan ini, kira-kira bagian mana yang perlu dibongkar buat meja kasir sama etalase."

Kelima laki-laki itu mulai sibuk. Dimas dan Nico memegang ujung meteran, sementara Raka mencatat angka-angka ukuran di buku kecil. Rehan sibuk menepuk-nepuk pilar kayu, memastikan kekuatannya.

"Lumayan juga nih ukurannya, Mas," kata Rehan sambil mengusap keringat di dahi. "Kalau dibuat meja L di pojok kanan, terus sisanya buat tempat duduk pelanggan, muat banget."

"Iya, lagian sayang kalau Mbak Sri harus mulai dari nol sendirian," timpal Nico sambil melipat meteran. "Ngomong-ngomong, Mas Bayu kok perhatian banget sih sama Mbak Sri? Dari tadi sigap banget, mana kepikir bikin warung juga."

Mas Bayu tersenyum tipis, merapikan gulungan meterannya. Ia menyandarkan badan ke tiang teras, lalu menghembuskan napas pelan.

"Bukan apa-apa," jawab Mas Bayu tenang. "Cuma... pas denger cerita Mbak Sri tadi rasanya seperti cermin."

Dimas yang tadinya mau mengukur pilar sebelah kiri langsung berhenti. "Maksudnya gimana, Mas?"

"Saya juga pernah di posisi itu," kata Mas Bayu dengan nada suara yang tetap santai tapi menyimpan beban masa lalu. "Ditipu sama orang yang paling dipercaya, diselingkuhi mantan istri sampai tabungan habis. Bedanya, dulu saya tidak punya siapa-siapa buat bantu berdiri lagi. Jadi pas liat Mbak Sri... saya tahu persis rasanya hancur seperti gimana."

Suasana teras mendadak hening sejenak. Keempat anak kos itu saling pandang, tertegun mendengar pengakuan jujur dari sosok Mas Bayu yang selama ini selalu terlihat tenang dan berwibawa.

Raka yang pertama kali memecah keheningan dengan senyum jahil di wajahnya. "Wah... jalan ceritanya kok bisa pas banget gini ya? Jangan-jangan emang jodoh yang tertunda nih, Mas?"

"Eeeaaa!" sorak Rehan seraya menyenggol lengan Mas Bayu. "Pantesan dari tadi koordinirnya paling semangat! Ternyata ada hati yang sedang diperjuangkan!"

"Ekstra perhatian nih ceritanya," tambah Nico sambil tertawa kecil. "Lanjutkan, Mas Bayu! Kami para anak kos siap jadi tim sukses!"

Dimas ikut-ikutan menepuk pundak Mas Bayu pelan. "Ciye Mas Bayu... dari simpati jadi cinta nih arahnya."

Didesak godaan bersahut-sahutan dari anak-anak kos, Mas Bayu tidak marah atau salah tingkah secara berlebihan. Ia hanya terkekeh pelan, sebuah tawa kecil yang hangat namun tersirat keteguhan di dalamnya.

"Udah, udah, malah bercanda," kekeh Mas Bayu sambil menggelengkan kepala, menyembunyikan binar tipis di matanya. "Fokus ukur dulu. Yang penting sekarang Mbak Sri bisa bangkit dan punya penghasilan sendiri. Soal yang lain... biar mengalir aja."

Meskipun ucapannya terdengar biasa, cara Mas Bayu menatap ke arah pintu dalam tempat Mbak Sri beristirahat memberi isyarat jelas, ia tidak sekadar ingin membantu, tapi siap menjadi pelindung yang baru dalam hidup wanita itu.

***

Pagi itu, Mbak Sri baru saja membuka selot pintu depan dengan sisa kantuk yang masih menggelantung di pelupuk mata. Tubuhnya hanya dibalut selembar kain jarik yang dililit rapi hingga dada, sebuah kemben sederhana yang biasa ia pakai kalau baru selesai mandi pagi atau saat hawa kosan sedang gerah-gerahnya.

Begitu pintu terbuka lebar, sosok yang berdiri di sana justru Pak Doni. Sopir travel yang bertubuh kekar, lengkap dengan kaos oblong dan celana kainnya. Tangannya memegang kantong plastik berwarna bening.

Mbak Sri mendelik kaget, refleks menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Lho, Pak Doni…"

Belum sempat Mbak Sri merapatkan pintu, Pak Doni yang sepertinya tidak sadar situasi dan fokus menyerahkan oleh-olehnya justru masuk begitu saja melintasi ambang pintu ruang tamu.

"Ini lho Mbak Sri, kebetulan tadi habis mengantar penumpang dari Jakarta, saya bawakan…”

Kata-katanya terputus di udara saat matanya akhirnya menyadari penampilan Mbak Sri. Bahu terbuka yang mulus, leher jenjang tanpa sehelai benang pun penutup, dan jarik yang melilit pas di lekuk tubuh perempuan itu.

Hening seketika. Ruang tamu itu mendadak diselimuti rasa canggung yang teramat sangat. Hawa dingin pagi bertukar jadi hawa gerah bertekanan tinggi.

Pak Doni membeku di tempat, matanya membelalak, dadanya kempas-kempis. Wajahnya yang sawo matang berubah merah padam dalam hitungan detik. Mbak Sri sendiri kaku bagai patung, bibirnya agak terbuka tapi tak ada suara yang keluar, jemarinya meremas kain kembennya makin erat.

“Aduh Mbak Sri… maafkan saya, s-saya lancang masuk begitu saja,” ucap Pak Doni sambil memalingkan wajahnya.

Dengan gerakan serba salah dan panik setengah mati, Pak Doni hampir menjatuhkan kantong plastik itu ke atas meja kayu. "I-ini... ada es cincau dan bubur kacang hijau! Minta maaf Mbak Sri, saya benar tidak sengaja.”

Pak Doni langsung mundur teratur dengan langkah serabutan, kedua tangannya menutupi seluruh wajahnya rapat-rapat sampai sikunya menabrak bingkai pintu.

“S-saya permisi dulu,” pamitnya sambil membuka pintu dan menutupnya kencang.

Mbak Sri menghembuskan napas panjang yang tertahan, dadanya naik turun. Rasa malu, kaget, dan sedikit geli bercampur aduk. Ia mengelus dadanya sambil menatap bingkisan di atas meja. Pak Doni yang biasanya gagah dan berwibawa di balik kemudi ternyata bisa selucu dan sesalah tingkah itu.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala, Mbak Sri bergegas masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Ia melangkah ke lemari kayu jati kuno peninggalan orang tuanya, menarik gagang pintu lemari agak keras.

Brak.

Sebuah bingkai foto kecil tersenggol ujung bajunya dan jatuh terbalik di atas tumpukan pakaian. Mbak Sri mengambilnya pelan. Itu foto pernikahannya sepuluh tahun lalu dengan Teguh.

Matanya menatap lekat foto itu, memancing memori lama yang mendadak menyeruak tanpa permisi. Dulu, Mbak Sri adalah seorang manajer pemasaran sukses di sebuah perusahaan ritel ternama di Surabaya. Ia sosok perempuan independen dengan gaya busana modern, jenjang karir cemerlang, dan masa depan yang sangat menjanjikan.

Namun, ketika kedua orang tuanya meninggal berurutan dalam kurun waktu singkat, kos-kosan peninggalan keluarga ini tidak ada yang mengurus. Di saat yang sama, pernikahan mereka yang memasuki tahun kelima mulai diguncang prahara karena belum juga dikaruniai momongan. Teguh sering menyalahkannya secara implisit, menuduh bahwa fokus karirnya yang terlalu tinggi membuat rahimnya tak kunjung subur.

Demi menyelamatkan pernikahan dan menghormati peninggalan orang tua, Mbak Sri mengambil keputusan besar, melepaskan karir mewahnya, melepas semua baju kantor kerennya, lalu pulang ke rumah ini untuk menjadi ibu rumah tangga sekaligus pengelola kos.

Awal pernikahan mereka sebenarnya begitu manis. Teguh adalah sosok suami yang lembut, suka memeluknya dari belakang saat ia memasak, dan selalu membawakannya bunga setiap kali pulang kerja. Tapi entah sejak kapan, rasa manis itu menguap. Teguh berubah dingin dan jarang sekali menyentuhnya, bahkan alasan bekerja lembur membuat Teguh kerap kali pulang larut dan memilih tidur di kamar lain.

Mbak Sri meremas bingkai foto itu. Setetes air mata menggenang di sudut matanya, siap meluncur jatuh membasahi pipinya. Rasa kesepian yang teramat sangat menghimpit dadanya.

DOR! DOR! DOR!

Gedoran kasar berbahan besi menghantam pagar depan rumah dengan sangat keras, membuyarkan seluruh lamunan dan menghancurkan keheningan pagi.

"TEGUH! KELUAR KAMU!"

Teriakan berat dan beratmosfer mengancam itu menggema dari arah luar, diiringi suara pagar besi yang diguncang-guncang secara paksa.

"JANGAN SEMBUNYI DI BALIK ROK ISTRIMU! BAYAR UTANGMU HARI INI JUGA!"

Mbak Sri tersentak kaget. Airmata yang tadinya hendak jatuh mendadak surut, berganti dengan rasa panik dan jantung yang berdegup kencang. Ia buru-buru menyambar kaosnya, menyadari bahwa ketenangan hidupnya baru saja dihantam badai lain.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.89

    Pagi itu, sinar matahari baru saja menerobos celah-celah pepohonan di area proyek pembangunan. Suasana di lapangan yang biasanya bising oleh suara mesin, pagi ini terasa agak sunyi dan dibalut canggung.Di depan proyek, Mas Bayu, Pak Doni dan Mas Rehan sedang duduk Bersama. Hingga tak lama kemudia, tak jauh dari tempat mereka duduk, di balik gerbang berhenti sebuah motor membuat ketiganya menoleh.Sesosok wanita anggun dengan pakaian rapi bertandang ke lokasi. Ia adalah Mbak Sri, yang datang tepat waktu sesuai dengan janji yang telah ia buat sebelumnya. Mbak Sri hadir untuk menemui Mas Bayu.Namun, kehadiran Mbak Sri yang tak disangka-sangka oleh Pak Doni dan Mas Rehan membuat suasana seketika menegang.Mas Rehan dan Pak Doni menghentikan pembicaraan mereka begitu melihat kedatangan Mbak Sri. Wajah mereka menunjukkan terkejut yang luar biasa.Mas Rehan terperanjat, "Mbak Sri? Anda... bagaimana bisa ada di sini pagi-pagi begini?"Pak Doni s

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.88

    Suasana di Kos Wisma Asri menjelang pukul sembilan pagi mulai berangsur sepi. Kebisingan khas pagi hari seperti suara deru motor, celoteh penghuni kos yang berebut kamar mandi, hingga denting alat masak kini telah mereda. Mayoritas penghuninya sudah berangkat menembus kemacetan kota untuk bekerja dan berkuliah. Hanya tersisa keheningan yang dibalut sepoi angin pagi dan suara jangkrik liar di sudut halaman.Di dalam kamarnya, Mbak Sri berdiri mengamati penampilannya. Ia meraih tas selempang kulit warna cokelat pastel lalu memakainya serong di bahu. Matanya menatap lekat pantulan dirinya di cermin rias berukuran sedang. Dress bunga-bunga kecil berwarna lembut yang melekat di tubuhnya tampak begitu rapi, membalut sosoknya yang biasanya hanya mengenakan daster atau kaos santai sehari-hari. Sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat, namun penuh arti mengembang di bibirnya.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Mbak Sri meraih botol parfum kaca berdesain elegan dari atas me

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.87

    Suara tumisan bumbu halus di atas wajan besar beradu dengan keheningan pagi yang masih samar. Jarum jam dinding di dapur umum menunjukkan pukul 04.15 WIB. Asap tipis beraroma bawang merah, terasi, dan daun jeruk membumbung tinggi, memenuhi ruangan berubin putih tersebut.Setelah tiga hari tutup total demi mengurus berkas perceraiannya di Pengadilan Agama, Mbak Sri akhirnya kembali ke tempat yang paling membuatnya merasa hidup: dapur katering milik pribadinya. Hari ini, ia harus menyelesaikan 50 kotak nasi tumpeng mini dan 100 porsi prasmanan untuk acara syukuran kantor.Dengan cekatan, Mbak Sri mengaduk sambal goreng ati dengan sutil kayu besar. Keringat tipis mulai menetes di pelipisnya. Tangannya yang sigap dan terlatih melangkah dari satu kompor ke kompor lain.Ting!Suara denting notifikasi ponsel terdengar dari balik saku apron kain motif kotak-kotak biru yang ia kenakan.Mbak Sri mengecilkan api kompor terlebih dahulu. Ia me

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.86

    Angin malam berembus dingin, membawa aroma tanah basah yang kian pekat. Langit di atas sana gulita, tertutup awan mendung yang menggantung rendah, seolah menyimpan beban yang siap ditumpahkan kapan saja.Mbak Sri duduk sendirian di kursi kayu teras rumahnya. Matanya menatap lurus ke arah langit malam yang hampa. Sebuah helaan napas berat terdengar beberapa kali dari bibirnya, terlepas bersama rasa sesak yang tak kunjung mereda. Malam ini seharusnya terasa begitu berharga—sebuah garis akhir dari drama panjang yang menguras emosi dan air mata. Namun, bukannya lega, hatinya justru terasa ganjil, gundah, dan tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di relung dadanya yang paling dalam."Mas Bayu..." lirih Mbak Sri sangat pelan, hampir tak terdengar, mengucap nama seseorang yang kini jauh darinya.Tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut mendarat di atas kepalanya. Sebuah elusan hangat pada pucuk kepala yang seketika menghentikan lamunannya.Mbak Sri te

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.85

    Suara dentang halus koin dan kunci di dalam saku celana mengiringi langkah Mas Bayu saat ia melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya. Suasana ruangan terasa sunyi, hanya derak halus kipas angin yang membelah udara panas sore itu.Mas Bayu melepas topi rimba kesayangannya, meletakkannya dengan layu di atas meja kayu yang dipenuhi tumpukan berkas. Matanya yang tampak lelah tertuju pada segelas air putih dingin yang berdiri anggun di sudut meja. Tanpa ragu, ia meraih gelas itu, menempelkan pinggirannya ke bibir, dan meminumnya hingga tandas tanpa henti.Glek... glek... glek."Haaah..."Terdengar suara helaan napas panjang yang sarat akan beban keluar dari mulut Mas Bayu. Ia menurunkan gelas kosong itu, lalu perlahan menjatuhkan punggungnya, menyandarkan tubuhnya yang letih ke sandaran kursi busa. Mas Bayu mendongak, menatap kosong ke arah langit-langit plafon ruangan yang putih bersih.Tatapannya benar-benar kosong. Sudah hampir satu bulan dia

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.84

    Ketukan palu hakim tiga kali menggema di ruang sidang Pengadilan Agama, menandai akhir dari perjalanan panjang rumah tangga Mbak Sri dan Teguh."Memutuskan, mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya. Menjatuhkan talak satu ba'in sughra tergugat, Teguh bin Sastro, terhadap penggugat, Sri Wahyuni binti Sukirno," ucap Ketua Majelis Hakim lantang dari balik meja hijau.Mbak Sri, yang duduk didampingi kuasa hukumnya di sisi kiri ruang sidang, menghembuskan napas panjang. Kedua tangannya yang bertaut di atas pangkuan perlahan mengendur.Hakim melanjutkan pembacaan amar putusan, masuk ke poin rekonvensi atau gugatan balik yang diajukan oleh pihak Teguh mengenai sengketa harta bersama dan tuduhan perselingkuhan."Menimbang, bahwa mengenai gugatan rekonvensi tergugat terkait tuntutan pembagian harta bersama berupa rumah kos dan tuduhan pelanggaran kesusilaan oleh penggugat..." Hakim melepaskan kacamata bacanya sejenak, lalu menatap tajam ke arah Teguh yang duduk gelisah di sisi kanan. "Ma

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status