Share

Bab.2

Author: Addarayuli
last update publish date: 2026-08-28 15:56:37

Langkah kaki Rehan dan Raka begitu berhati-hati saat menuntun Mbak Sri menuju teras depan. Wanita itu masih tampak sangat pucat, napasnya tersendat-sendat pasca-kejadian pingsannya yang tiba-tiba di lantai dapur tadi. Dengan perlahan, mereka mendudukkan Mbak Sri di kursi rotan tua yang berada di sudut teras.

“Mbak Sri duduk dulu ya,” ucap Raka.

Tatapannya kosong, Mbak Sri perlahan duduk dengan tubuh yang lemas. Namun, rasa syok yang membendung seolah tak sanggup ditahan lagi. Baru saja tubuhnya menyentuh kursi, Mbak Sri justru meluruh ke bawah, bersimpuh lemas di atas tegel.

Air matanya menetes makin deras, meresap dan membasahi kain daster batik lusuh yang dikenakannya. Isak tangisnya pecah, meratapi kemalangan nasib yang seakan tak henti-hentinya menghimpit.

Merasa iba, Rehan bersimpuh di samping tubuh Mbak Sri, “Mbak yang tenang, ada kami di sini yang siap membantu Mbak Sri.”

Dadanya terasa sangat sesak, seolah dihantam batu besar yang tak kasat mata. "Salahku apa, Gusti... Kenapa Teguh tega begini?" bisiknya lirih di antara sedu-kayan yang kian menjadi.

Melihat kondisi itu, Rehan dan Raka, dua anak kost yang sudah menganggap Mbak Sri seperti kakak sendiri tak tega membiarkannya larut dalam kehancuran. Raka berlutut mendekat, mencoba memberikan rasa aman.

"Mbak Sri, minum dulu pelan-pelan," Rehan menyodorkan segelas air hangat sambil mengelus bahu Mbak Sri dengan perlahan, berusaha meredakan getaran di tubuh wanita itu.

"Kenapa, Han... Raka... Kenapa Mas Teguh tega banget sama Mbak?" Mbak Sri mendongak, matanya sembap dan merah. "Motor itu cuma satu-satunya kenangan dari Bapak... Tabungan itu buat kita sambung hidup. Mbak salah apa sampai dibalas begini?"

Raka menggeleng tegas, tatapannya penuh empati sekaligus kemarahan atas perlakuan Teguh. "Mbak Sri enggak salah apa-apa. Tolong jangan salahkan diri sendiri. Yang jahat dan enggak punya hati itu Mas Teguh, bukan Mbak."

"Tapi Mbak bingung harus gimana lagi... Mbak enggak punya siapa-siapa di sini, uang Mbak habis..." tangis Mbak Sri kembali pecah.

Rehan memegang kedua lengan Mbak Sri, menatapnya lurus dengan penuh kesungguhan. "Mbak dengarin Rehan. Mbak enggak sendiri. Ada Rehan sama Raka di sini. Kita enggak akan tinggal diam melihat Mbak diginiin."

"Benar, Mbak," potong Raka cepat. "Mbak tenang dulu, fokus balikin napas dan tenaga. Masalah Mas Teguh, motor, sama uang itu, biar kami berdua yang urus. Sore ini juga saya sama Rehan bakal menyelesaikan semuanya."

Di saat yang bersamaan, suara derit pintu kayu terdengar dari kamar nomor dua yang berada tepat di samping teras. Pintu itu terbuka pelan, menampilkan sosok dr. Dimas. Dokter residen RSUD berusia 28 tahun itu baru saja menyelesaikan jadwal piket maraton selama 36 jam tanpa henti. Jas laboratoriumnya sudah kusut tak beraturan, wajahnya kusam, dan matanya merah melotot menahan perih serta mual hebat akibat maag kronisnya yang kambuh. Dengan sisa tenaga yang ada, Dimas sebenarnya hanya berniat keluar kamar untuk mencari segelas air minum.

Namun, pemandangan di depannya seketika menghentikan langkah sang dokter.

“Mbak Sri..” seru Dimas sambil menghampiri sosok Mbak Sri, “… Mbak Sri kenapa?” tanyanya panik.

Melihat Mbak Sri menangis terisak dalam kondisi tak berdaya, rasa mual dan perih yang melilit perut Dimas mendadak lenyap dari kesadarannya. Dokter muda yang selama ini dikenal kaku, dingin, dan minim ekspresi saat menghadapi pasien itu mendadak bergerak cepat. Tanpa memedulikan rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya, Dimas bergegas melangkah maju dan langsung berlutut di tegel dingin, tepat di depan kaki Mbak Sri.

"Mbak Sri... dengarkan saya," bisik Dimas dengan suara serak namun tegas, memegang lembut kedua bahu wanita itu untuk menyeimbangkan posisinya, matanya yang merah menatap lurus penuh kepedulian yang jarang ia perlihatkan sebelumnya.

Dengan tangan yang gemetar, Dimas menggenggam pergelangan tangan Mbak Sri untuk memeriksa denyut nadinya. Suasana kamar terasa hening, menyisakan sisa-sisa trauma usai keributan yang baru saja terjadi.

"Tolong bernapas pelan-pelan, Mbak... Ada Dimas di sini, Mbak Sri nggak sendiri," bisik Dimas lembut dengan tatapan mata yang sarat kepedulian intim. Dia membimbing wanita itu untuk menarik napas dalam-dalam, memastikan kondisi fisik Mbak Sri tidak memburuk akibat syok hebat akibat ulah suaminya.

Di saat yang sama, pemulihan kondisi fisik Mbak Sri dilakukan oleh anak-anak kos. Raka dengan telaten membawakan baskom berisi air hangat dan handuk kecil untuk menyapu keringat dingin di leher Mbak Sri, sementara Mas Rehan menuangkan segelas teh jahe panas untuk meredakan gemetar di tubuh wanita itu.

Bagi ketiga penghuni kos tersebut, perlakuan ini bukanlah hal berlebihan. Mbak Sri adalah sosok pengayom yang terlalu baik. Selama berbulan-bulan tinggal di sana, Mbak Srilah yang selalu memastikan mereka tidak kelaparan saat tanggal tua, tanpa ragu membagikan masakan rumahannya.

Ketika Raka sempat jatuh sakit hingga tak bisa bangun dari tempat tidur, Mbak Sri lah yang mengompres dan menyuapinya tanpa lelah. Saat Rehan stres menghadapi tekanan pekerjaan, Mbak Sri selalu siap mendengar keluh kesahnya sembari menyeduhkan teh hangat. Bahkan pada Dimas, Mbak Sri selalu menyisipkan bekal diam-diam di atas motornya setiap pagi karena tahu anak muda itu sering lupa sarapan.

Ketulusan, kehangatan, dan sikap keibuan Mbak Sri yang tak pernah meminta balasan itulah yang menyentuh hati mereka. Mengetahui bahwa selama ini Mbak Sri menyimpan penderitaan fisik dan batin akibat perlakuan kasar suaminya membuat anak-anak kos itu merasa terpanggil untuk melindunginya.

Dimas bahkan menunggu di teras sampai Mbak Sri meminum beberapa sendok bubur buatannya sendiri, memastikan asupan nutrisinya terpenuhi meski sedikit.

Mbak Sri yang terharu melihat dedikasi itu menatap Dimas dengan mata berkaca-kaca. Dengan suara bergetar, ia bertanya, “Kenapa Dimas membantu Mbak? Padahal Dimas sendiri pasti lelah karena baru pulang dari rumah sakit, kan?”

Dimas menggenggam jemari Mbak Sri semakin erat, menatap matanya dalam-dalam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.89

    Pagi itu, sinar matahari baru saja menerobos celah-celah pepohonan di area proyek pembangunan. Suasana di lapangan yang biasanya bising oleh suara mesin, pagi ini terasa agak sunyi dan dibalut canggung.Di depan proyek, Mas Bayu, Pak Doni dan Mas Rehan sedang duduk Bersama. Hingga tak lama kemudia, tak jauh dari tempat mereka duduk, di balik gerbang berhenti sebuah motor membuat ketiganya menoleh.Sesosok wanita anggun dengan pakaian rapi bertandang ke lokasi. Ia adalah Mbak Sri, yang datang tepat waktu sesuai dengan janji yang telah ia buat sebelumnya. Mbak Sri hadir untuk menemui Mas Bayu.Namun, kehadiran Mbak Sri yang tak disangka-sangka oleh Pak Doni dan Mas Rehan membuat suasana seketika menegang.Mas Rehan dan Pak Doni menghentikan pembicaraan mereka begitu melihat kedatangan Mbak Sri. Wajah mereka menunjukkan terkejut yang luar biasa.Mas Rehan terperanjat, "Mbak Sri? Anda... bagaimana bisa ada di sini pagi-pagi begini?"Pak Doni s

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.88

    Suasana di Kos Wisma Asri menjelang pukul sembilan pagi mulai berangsur sepi. Kebisingan khas pagi hari seperti suara deru motor, celoteh penghuni kos yang berebut kamar mandi, hingga denting alat masak kini telah mereda. Mayoritas penghuninya sudah berangkat menembus kemacetan kota untuk bekerja dan berkuliah. Hanya tersisa keheningan yang dibalut sepoi angin pagi dan suara jangkrik liar di sudut halaman.Di dalam kamarnya, Mbak Sri berdiri mengamati penampilannya. Ia meraih tas selempang kulit warna cokelat pastel lalu memakainya serong di bahu. Matanya menatap lekat pantulan dirinya di cermin rias berukuran sedang. Dress bunga-bunga kecil berwarna lembut yang melekat di tubuhnya tampak begitu rapi, membalut sosoknya yang biasanya hanya mengenakan daster atau kaos santai sehari-hari. Sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat, namun penuh arti mengembang di bibirnya.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Mbak Sri meraih botol parfum kaca berdesain elegan dari atas me

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.87

    Suara tumisan bumbu halus di atas wajan besar beradu dengan keheningan pagi yang masih samar. Jarum jam dinding di dapur umum menunjukkan pukul 04.15 WIB. Asap tipis beraroma bawang merah, terasi, dan daun jeruk membumbung tinggi, memenuhi ruangan berubin putih tersebut.Setelah tiga hari tutup total demi mengurus berkas perceraiannya di Pengadilan Agama, Mbak Sri akhirnya kembali ke tempat yang paling membuatnya merasa hidup: dapur katering milik pribadinya. Hari ini, ia harus menyelesaikan 50 kotak nasi tumpeng mini dan 100 porsi prasmanan untuk acara syukuran kantor.Dengan cekatan, Mbak Sri mengaduk sambal goreng ati dengan sutil kayu besar. Keringat tipis mulai menetes di pelipisnya. Tangannya yang sigap dan terlatih melangkah dari satu kompor ke kompor lain.Ting!Suara denting notifikasi ponsel terdengar dari balik saku apron kain motif kotak-kotak biru yang ia kenakan.Mbak Sri mengecilkan api kompor terlebih dahulu. Ia me

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.86

    Angin malam berembus dingin, membawa aroma tanah basah yang kian pekat. Langit di atas sana gulita, tertutup awan mendung yang menggantung rendah, seolah menyimpan beban yang siap ditumpahkan kapan saja.Mbak Sri duduk sendirian di kursi kayu teras rumahnya. Matanya menatap lurus ke arah langit malam yang hampa. Sebuah helaan napas berat terdengar beberapa kali dari bibirnya, terlepas bersama rasa sesak yang tak kunjung mereda. Malam ini seharusnya terasa begitu berharga—sebuah garis akhir dari drama panjang yang menguras emosi dan air mata. Namun, bukannya lega, hatinya justru terasa ganjil, gundah, dan tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di relung dadanya yang paling dalam."Mas Bayu..." lirih Mbak Sri sangat pelan, hampir tak terdengar, mengucap nama seseorang yang kini jauh darinya.Tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut mendarat di atas kepalanya. Sebuah elusan hangat pada pucuk kepala yang seketika menghentikan lamunannya.Mbak Sri te

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.85

    Suara dentang halus koin dan kunci di dalam saku celana mengiringi langkah Mas Bayu saat ia melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya. Suasana ruangan terasa sunyi, hanya derak halus kipas angin yang membelah udara panas sore itu.Mas Bayu melepas topi rimba kesayangannya, meletakkannya dengan layu di atas meja kayu yang dipenuhi tumpukan berkas. Matanya yang tampak lelah tertuju pada segelas air putih dingin yang berdiri anggun di sudut meja. Tanpa ragu, ia meraih gelas itu, menempelkan pinggirannya ke bibir, dan meminumnya hingga tandas tanpa henti.Glek... glek... glek."Haaah..."Terdengar suara helaan napas panjang yang sarat akan beban keluar dari mulut Mas Bayu. Ia menurunkan gelas kosong itu, lalu perlahan menjatuhkan punggungnya, menyandarkan tubuhnya yang letih ke sandaran kursi busa. Mas Bayu mendongak, menatap kosong ke arah langit-langit plafon ruangan yang putih bersih.Tatapannya benar-benar kosong. Sudah hampir satu bulan dia

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.84

    Ketukan palu hakim tiga kali menggema di ruang sidang Pengadilan Agama, menandai akhir dari perjalanan panjang rumah tangga Mbak Sri dan Teguh."Memutuskan, mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya. Menjatuhkan talak satu ba'in sughra tergugat, Teguh bin Sastro, terhadap penggugat, Sri Wahyuni binti Sukirno," ucap Ketua Majelis Hakim lantang dari balik meja hijau.Mbak Sri, yang duduk didampingi kuasa hukumnya di sisi kiri ruang sidang, menghembuskan napas panjang. Kedua tangannya yang bertaut di atas pangkuan perlahan mengendur.Hakim melanjutkan pembacaan amar putusan, masuk ke poin rekonvensi atau gugatan balik yang diajukan oleh pihak Teguh mengenai sengketa harta bersama dan tuduhan perselingkuhan."Menimbang, bahwa mengenai gugatan rekonvensi tergugat terkait tuntutan pembagian harta bersama berupa rumah kos dan tuduhan pelanggaran kesusilaan oleh penggugat..." Hakim melepaskan kacamata bacanya sejenak, lalu menatap tajam ke arah Teguh yang duduk gelisah di sisi kanan. "Ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status