MasukLangkah kaki Rehan dan Raka begitu berhati-hati saat menuntun Mbak Sri menuju teras depan. Wanita itu masih tampak sangat pucat, napasnya tersendat-sendat pasca-kejadian pingsannya yang tiba-tiba di lantai dapur tadi. Dengan perlahan, mereka mendudukkan Mbak Sri di kursi rotan tua yang berada di sudut teras.
“Mbak Sri duduk dulu ya,” ucap Raka.
Tatapannya kosong, Mbak Sri perlahan duduk dengan tubuh yang lemas. Namun, rasa syok yang membendung seolah tak sanggup ditahan lagi. Baru saja tubuhnya menyentuh kursi, Mbak Sri justru meluruh ke bawah, bersimpuh lemas di atas tegel.
Air matanya menetes makin deras, meresap dan membasahi kain daster batik lusuh yang dikenakannya. Isak tangisnya pecah, meratapi kemalangan nasib yang seakan tak henti-hentinya menghimpit.
Merasa iba, Rehan bersimpuh di samping tubuh Mbak Sri, “Mbak yang tenang, ada kami di sini yang siap membantu Mbak Sri.”Dadanya terasa sangat sesak, seolah dihantam batu besar yang tak kasat mata. "Salahku apa, Gusti... Kenapa Teguh tega begini?" bisiknya lirih di antara sedu-kayan yang kian menjadi.
Melihat kondisi itu, Rehan dan Raka, dua anak kost yang sudah menganggap Mbak Sri seperti kakak sendiri tak tega membiarkannya larut dalam kehancuran. Raka berlutut mendekat, mencoba memberikan rasa aman.
"Mbak Sri, minum dulu pelan-pelan," Rehan menyodorkan segelas air hangat sambil mengelus bahu Mbak Sri dengan perlahan, berusaha meredakan getaran di tubuh wanita itu.
"Kenapa, Han... Raka... Kenapa Mas Teguh tega banget sama Mbak?" Mbak Sri mendongak, matanya sembap dan merah. "Motor itu cuma satu-satunya kenangan dari Bapak... Tabungan itu buat kita sambung hidup. Mbak salah apa sampai dibalas begini?"
Raka menggeleng tegas, tatapannya penuh empati sekaligus kemarahan atas perlakuan Teguh. "Mbak Sri enggak salah apa-apa. Tolong jangan salahkan diri sendiri. Yang jahat dan enggak punya hati itu Mas Teguh, bukan Mbak."
"Tapi Mbak bingung harus gimana lagi... Mbak enggak punya siapa-siapa di sini, uang Mbak habis..." tangis Mbak Sri kembali pecah.
Rehan memegang kedua lengan Mbak Sri, menatapnya lurus dengan penuh kesungguhan. "Mbak dengarin Rehan. Mbak enggak sendiri. Ada Rehan sama Raka di sini. Kita enggak akan tinggal diam melihat Mbak diginiin."
"Benar, Mbak," potong Raka cepat. "Mbak tenang dulu, fokus balikin napas dan tenaga. Masalah Mas Teguh, motor, sama uang itu, biar kami berdua yang urus. Sore ini juga saya sama Rehan bakal menyelesaikan semuanya."
Di saat yang bersamaan, suara derit pintu kayu terdengar dari kamar nomor dua yang berada tepat di samping teras. Pintu itu terbuka pelan, menampilkan sosok dr. Dimas. Dokter residen RSUD berusia 28 tahun itu baru saja menyelesaikan jadwal piket maraton selama 36 jam tanpa henti. Jas laboratoriumnya sudah kusut tak beraturan, wajahnya kusam, dan matanya merah melotot menahan perih serta mual hebat akibat maag kronisnya yang kambuh. Dengan sisa tenaga yang ada, Dimas sebenarnya hanya berniat keluar kamar untuk mencari segelas air minum.
Namun, pemandangan di depannya seketika menghentikan langkah sang dokter.
“Mbak Sri..” seru Dimas sambil menghampiri sosok Mbak Sri, “… Mbak Sri kenapa?” tanyanya panik.
Melihat Mbak Sri menangis terisak dalam kondisi tak berdaya, rasa mual dan perih yang melilit perut Dimas mendadak lenyap dari kesadarannya. Dokter muda yang selama ini dikenal kaku, dingin, dan minim ekspresi saat menghadapi pasien itu mendadak bergerak cepat. Tanpa memedulikan rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya, Dimas bergegas melangkah maju dan langsung berlutut di tegel dingin, tepat di depan kaki Mbak Sri.
"Mbak Sri... dengarkan saya," bisik Dimas dengan suara serak namun tegas, memegang lembut kedua bahu wanita itu untuk menyeimbangkan posisinya, matanya yang merah menatap lurus penuh kepedulian yang jarang ia perlihatkan sebelumnya.
Dengan tangan yang gemetar, Dimas menggenggam pergelangan tangan Mbak Sri untuk memeriksa denyut nadinya. Suasana kamar terasa hening, menyisakan sisa-sisa trauma usai keributan yang baru saja terjadi.
"Tolong bernapas pelan-pelan, Mbak... Ada Dimas di sini, Mbak Sri nggak sendiri," bisik Dimas lembut dengan tatapan mata yang sarat kepedulian intim. Dia membimbing wanita itu untuk menarik napas dalam-dalam, memastikan kondisi fisik Mbak Sri tidak memburuk akibat syok hebat akibat ulah suaminya.
Di saat yang sama, pemulihan kondisi fisik Mbak Sri dilakukan oleh anak-anak kos. Raka dengan telaten membawakan baskom berisi air hangat dan handuk kecil untuk menyapu keringat dingin di leher Mbak Sri, sementara Mas Rehan menuangkan segelas teh jahe panas untuk meredakan gemetar di tubuh wanita itu.
Bagi ketiga penghuni kos tersebut, perlakuan ini bukanlah hal berlebihan. Mbak Sri adalah sosok pengayom yang terlalu baik. Selama berbulan-bulan tinggal di sana, Mbak Srilah yang selalu memastikan mereka tidak kelaparan saat tanggal tua, tanpa ragu membagikan masakan rumahannya.
Ketika Raka sempat jatuh sakit hingga tak bisa bangun dari tempat tidur, Mbak Sri lah yang mengompres dan menyuapinya tanpa lelah. Saat Rehan stres menghadapi tekanan pekerjaan, Mbak Sri selalu siap mendengar keluh kesahnya sembari menyeduhkan teh hangat. Bahkan pada Dimas, Mbak Sri selalu menyisipkan bekal diam-diam di atas motornya setiap pagi karena tahu anak muda itu sering lupa sarapan.
Ketulusan, kehangatan, dan sikap keibuan Mbak Sri yang tak pernah meminta balasan itulah yang menyentuh hati mereka. Mengetahui bahwa selama ini Mbak Sri menyimpan penderitaan fisik dan batin akibat perlakuan kasar suaminya membuat anak-anak kos itu merasa terpanggil untuk melindunginya.
Dimas bahkan menunggu di teras sampai Mbak Sri meminum beberapa sendok bubur buatannya sendiri, memastikan asupan nutrisinya terpenuhi meski sedikit.
Mbak Sri yang terharu melihat dedikasi itu menatap Dimas dengan mata berkaca-kaca. Dengan suara bergetar, ia bertanya, “Kenapa Dimas membantu Mbak? Padahal Dimas sendiri pasti lelah karena baru pulang dari rumah sakit, kan?”
Dimas menggenggam jemari Mbak Sri semakin erat, menatap matanya dalam-dalam.
Mbak Sri yang panik segera ganti pakaian dan cepat-cepat keluar untuk membuka gerbang kos. Tapi, baru setengah jalan, Bimo yang baru bangun tidur bersama Rehan dan Raka langsung menahan Mbak Sri di teras dan meminta ia diam saja.Mbak Sri yang ketakutan setengah mati ingin ikut menjelaskan ke arah gerbang kalau dia dan Teguh sudah mau cerai, agar tidak disangkutpautkan lagi. Namun, langkahnya langsung dihentikan Bimo, anggota Reskrim Polsek lokal berbadan tegap itu melangkah keluar paling depan dan berbisik tegas."Mbak Sri di sini saja. Biar saya dan anak-anak kos yang urus."Mas Rehan beserta Raka mendekat ke pagar, lalu menghentak pintu besi itu dengan tegas dari dalam hingga menimbulkan dentuman keras."Siapa yang izinkan kalian berteriak dan mengancam menyita properti pribadi di sini?" Suara dingin Mas Rehan memotong teriakan tiga debt collector bertato suruhan pinjol yang kembali menggoncang-goncang pagar besi Wisma Asri pagi itu.Tiga penagih utang yang diutus menguras utang li
Pintu depan kos terbuka, memperlihatkan Nico yang datang terengah-engah sambil menjinjing dua kantong plastik besar. Es batu dalam kantong minuman dingin bergemerincing, bersanding dengan beberapa bungkus jajanan pasar dan roti."Nih, buat Mbak Sri," kata Nico sambil menyerahkan kantong itu ke Mbak Sri. "Tadi pas Raka nge-chat di grup bilang Mbak Sri hampir pingsan, aku langsung mampir ke toko kelontong depan."Mbak Sri hanya bisa tersenyum haru, lalu mengangguk pelan. "Makasih ya, Nico... jadi repot begini."“Tidak repot kok, Mbak,” jawab Nico dengan senyum khasnya.“Lebih baik Mbak Sri sekarang istirahat saja sudah malam,” ucap Mas Bayu.Setelah Mbak Sri dipaksa masuk ke dalam untuk istirahat dan meminum es tehnya, Mas Bayu memanggil beberapa anak kos lain dan berdiri di pelataran depan kosan. Tangannya memegang meteran gulung, matanya meneliti setiap sudut teras luar yang rencananya akan disulap menjadi warung."Udah, biarkan Mbak Sri istirahat dulu," ujar Mas Bayu, menepuk bahu Ra
Cahaya matahari pagi yang beranjak siang menyinari teras kos Wisma Asri. Suasana di rumah kos itu masih diliputi rasa haru dan sesak yang menyisa. Berita mengenai suami Mbak Sri yang kabur membawa lari seluruh isi rekeningnya meninggalkan duka mendalam bagi wanita cantik yang selama ini merawat rumah kos tersebut.Mbak Sri duduk tersandar di kursi rotan, matanya sembap dan tangannya gemetar memegang cangkir teh jahe yang sudah mendingin. Di hadapannya, Raka, Rehan, dan Dimas masih setia menemani.Dimas maju satu langkah, berlutut sejajar dengan tempat duduk Mbak Sri, lalu menatap wanita itu dengan sorot mata yang mantap dan hangat."Mbak Sri, dengarkan Dimas," ucapnya lembut namun penuh penekanan. "Wisma Asri ini rumah kita semua. Tempat ini berdiri bukan cuma karena bangunan atau atapnya, tapi karena Mbak Sri. Mbak adalah alasan kenapa kos ini selalu terasa hangat dan bikin kita semua betah untuk pulang."Dimas menoleh sebentar ke arah Raka dan Rehan yang mengangguk setuju, lalu kemb
Langkah kaki Rehan dan Raka begitu berhati-hati saat menuntun Mbak Sri menuju teras depan. Wanita itu masih tampak sangat pucat, napasnya tersendat-sendat pasca-kejadian pingsannya yang tiba-tiba di lantai dapur tadi. Dengan perlahan, mereka mendudukkan Mbak Sri di kursi rotan tua yang berada di sudut teras.“Mbak Sri duduk dulu ya,” ucap Raka.Tatapannya kosong, Mbak Sri perlahan duduk dengan tubuh yang lemas. Namun, rasa syok yang membendung seolah tak sanggup ditahan lagi. Baru saja tubuhnya menyentuh kursi, Mbak Sri justru meluruh ke bawah, bersimpuh lemas di atas tegel.Air matanya menetes makin deras, meresap dan membasahi kain daster batik lusuh yang dikenakannya. Isak tangisnya pecah, meratapi kemalangan nasib yang seakan tak henti-hentinya menghimpit.Merasa iba, Rehan bersimpuh di samping tubuh Mbak Sri, “Mbak yang tenang, ada kami di sini yang siap membantu Mbak Sri.”Dadanya terasa sangat sesak, seolah dihantam batu besar yang tak kasat mata. "Salahku apa, Gusti... Kenapa
"Mbak Sri! Teguh bawa kabur motor almarhum Bapak sama cewek karaoke, tabungan Mbak di bank juga dikuras bersih!"****Aroma gurih adonan tempe mendoan yang meletup-letup di atas wajan berpadu dengan wangi pekat teh tubruk yang baru disaring. Dapur kos-kosan dua lantai itu seperti biasa dihidupkan oleh sesosok wanita berusia 35 tahun berdaster batik katun kusam. Rambutnya disanggul asal dengan jepitan plastik yang sedikit longgar. Dialah Sri Rahayu atau yang kerap di panggil Mbak Sri, jantung utama yang membuat rumah itu selalu terasa seperti pulang."Kopi hitamnya kurang manis tidak, Mas Rehan?" tanya Mbak Sri sambil menyeka keringat di pelipisnya dengan ujung daster.Mas Rehan, pengacara LBH berwajah lelah yang kemeja putihnya tergulung kaku hingga siku, menyesap cangkir sengnya perlahan. Matanya yang sembap akibat sisa-sisa lembur membela kasus penggusuran rakyat kecil mendadak tampak lebih rileks."Pas, Mbak. Kopi buatan Mbak Sri selalu paling bisa menyembuhkan sakit kepala," jawab







