MasukMbak Sri yang panik segera ganti pakaian dan cepat-cepat keluar untuk membuka gerbang kos. Tapi, baru setengah jalan, Bimo yang baru bangun tidur bersama Rehan dan Raka langsung menahan Mbak Sri di teras dan meminta ia diam saja.
Mbak Sri yang ketakutan setengah mati ingin ikut menjelaskan ke arah gerbang kalau dia dan Teguh sudah mau cerai, agar tidak disangkutpautkan lagi. Namun, langkahnya langsung dihentikan Bimo, anggota Reskrim Polsek lokal berbadan tegap itu melangkah keluar paling depan dan berbisik tegas.
"Mbak Sri di sini saja. Biar saya dan anak-anak kos yang urus."
Mas Rehan beserta Raka mendekat ke pagar, lalu menghentak pintu besi itu dengan tegas dari dalam hingga menimbulkan dentuman keras.
"Siapa yang izinkan kalian berteriak dan mengancam menyita properti pribadi di sini?" Suara dingin Mas Rehan memotong teriakan tiga debt collector bertato suruhan pinjol yang kembali menggoncang-goncang pagar besi Wisma Asri pagi itu.
Tiga penagih utang yang diutus menguras utang lima belas juta buatan Teguh Sri memang sengaja datang bermaksud membuat keributan di lingkungan kos agar penghuni dan pemilik malu.
Pria berkulit gelap dengan tato naga membelit leher maju menyambar jeruji pagar, matanya melotot. "Nggak usah ikut campur ya, Mas! Kita datang mau ngambil hak kita! Mana Si Teguh? Katakan sama dia, kalau lima belas juta hari ini nggak lunas, kos-kosan ini kita sita buat jaminan!"
Pria bertato lainnya menunjuk-nunjuk Mbak Sri di teras. "Istri Teguh ada di situ, kan? Jangan pura-pura tuli! Pokoknya aset tempat ini kita segel hari ini!"
Raka terkekeh sinis sambil bersandar santai di tiang pagar. "Sita aset? Paham hukum atau cuma paham teriak-teriak doang, Bang? Teguh itu cuma menumpang di sini, statusnya suami pemilik. Wisma Asri ini sertifikatnya atas nama Mbak Sri dan warisan murni keluarganya. Nggak ada sangkut pautnya sama utang piutang Teguh!"
Debt collector bertato naga itu menggebrak pagar lagi. "Kita nggak peduli mau warisan mau bukan! Teguh di data pinjol patuh mencantumkan alamat kos ini. Kalau utang pokok dengan bunganya tidak dibayar sekarang, kita bawa barang-barang mahal di rumah ini!"
"Coba saja kalau berani sentuh gerbang ini sekali lagi," potong Rehan tenang namun menatap lurus ke mata pria itu. "Tindakan kalian yang mengancam, memeras, dan mau menyita barang tanpa penetapan pengadilan itu murni tindak pidana."
Salah satu penagih utang yang berbadan pendek melangkah maju dengan berkacak pinggang. "Tidak usah nakut-nakutinin pakai hukum! Kita ini orang lapangan! Hukum kita simple, ada utang, ada barang yang ditarik!"
Bimo berjalan santai tapi memancarkan aura intimidasi yang tak main-main. Ia sengaja keluar hanya mengenakan kaus oblong ketat yang mencetak bentuk dadanya serta celana jeans kasual. Namun, yang membuat mata para preman melotot adalah lencana kepolisian berkilat di pinggangnya dan pistol dinas yang terselip rapi—senjata yang memang sengaja ia tunjukkan, toh sejam lagi ia sudah harus masuk dinas.
Melihat Bimo melangkah maju dengan pandangan dingin, Raka dan Mas Rehan otomatis mundur beberapa langkah. Tubuh Bimo jauh lebih kekar dan tegap dibanding Raka yang berpostur atletis khas pesilat. Kombinasi fisik raksasa, lencana polisi, dan senjata api di pinggang Bimo sudah lebih dari cukup untuk membuat para preman itu mati kutu dan kabur tanpa sempat mengeluh.
"Mas-mas sekalian," kata Bimo dengan nada datar namun sangat berbobot. "Perkenalkan, saya Bimo. Anggota Reskrim Polsek dekat sini. Pertama, kos ini bukan milik Teguh. Kedua, tidak ada debt collector yang punya kewenangan menyita aset pribadi tanpa perintah eksekusi dari pengadilan. Ketiga..."
Bimo mengeluarkan kartu anggotanya dari saku dan menempelkannya tepat di celah pagar, tepat di depan wajah sang ketua kelompok.
"...kalian berteriak-teriak dari tadi bisa kena pasal tentang perbuatan tidak menyenangkan, ditambah upaya pemerasan dengan ancaman. Mau saya hubungi piket Reskrim sekarang buat jemput kalian bertiga?"
Seketika itu juga, gertakan dan teriakan tiga debt collector tersebut terhenti. Pria bertato naga mendadak bungkam, menatap kartu identitas di tangan Bimo, lalu saling pandang dengan dua rekannya yang mendadak melangkah mundur satu tapak.
"B-bukan gitu, Pak..." bisik salah satu penagih utang, suaranya kini melunak. "Kita cuma menjalankan tugas dari kantor..."
"Tugas kantor kalian tidak membuat kalian kebal hukum," tegas Rehan memotong. "Kalau mau tagih Teguh, cari dia pribadi di luar. Sekali lagi kalian datang buat rusuh di tempat ini atau mengancam Mbak Sri, kita proses hukum sampai tuntas."
Ketiga penagih utang itu mengutuk pelan di balik napas mereka. Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, mereka berbalik arah dan bergegas pergi meninggalkan gang Wisma Asri.
Mbak Sri yang menyaksikan semuanya dari teras bernapas lega, dadanya yang tadinya berdegup kencang perlahan melandai setelah dilindungi oleh para penghuni kosnya.
Pasca-kejadian yang sempat mengocok perut dan memacu adrenalin tersebut, kedamaian perlahan kembali merengkuh Wisma Asri. Kehangatan pagi yang biasa kini terasa lagi. Satu per satu penghuni kos mulai berangkat bekerja, melambaikan tangan menyapa pagi yang kembali normal.
Pelataran kini menyisakan Raka yang memang tidak bekerja kantoran. Bagi Mbak Sri, pemilik kos tersebut, Raka sudah dianggap seperti adiknya sendiri. Pemuda itu dengan senang hati tinggal dan membantu berbagai urusan pertukangan serta perawatan Wisma Asri sehari-hari.
Pagi menjelang siang itu, Raka tampak berjongkok di dekat dinding samping, tangannya cekatan membetulkan sambungan pipa air yang sempat longgar. Otot-otot lengannya tegang, dan kilap keringat mulai membasahi pelipis serta lehernya akibat terik matahari yang makin menyengat.
Mbak Sri berjalan mendekat membawa segelas es teh manis. Langkah kakinya yang halus terhenti tepat di samping Raka. Melihat pemuda itu bersusah payah, dada Mbak Sri berdesir pelan. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia berlutut kecil di samping Raka.
Dengan gerakan yang sangat lembut, Mbak Sri meraih ujung daster batiknya, lalu mengusap peluh di kening dan leher Raka.
Raka tertegun. Gerakan tangannya yang memegang kunci pipa mendadak berhenti. Jarak mereka begitu dekat hingga aroma wangi sabun dan sentuhan halus kain daster Mbak Sri menerpa kulit lehernya, meninggalkan sensasi hangat yang menjalar cepat.
"Capek ya, Ka?" bisik Mbak Sri pelan. Matanya menatap Raka tepat di manik mata, dengan sudut bibir terangkat membentuk senyuman tipis yang sulit diartikan.
Raka menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa sangat kering.
Mbak Sri yang panik segera ganti pakaian dan cepat-cepat keluar untuk membuka gerbang kos. Tapi, baru setengah jalan, Bimo yang baru bangun tidur bersama Rehan dan Raka langsung menahan Mbak Sri di teras dan meminta ia diam saja.Mbak Sri yang ketakutan setengah mati ingin ikut menjelaskan ke arah gerbang kalau dia dan Teguh sudah mau cerai, agar tidak disangkutpautkan lagi. Namun, langkahnya langsung dihentikan Bimo, anggota Reskrim Polsek lokal berbadan tegap itu melangkah keluar paling depan dan berbisik tegas."Mbak Sri di sini saja. Biar saya dan anak-anak kos yang urus."Mas Rehan beserta Raka mendekat ke pagar, lalu menghentak pintu besi itu dengan tegas dari dalam hingga menimbulkan dentuman keras."Siapa yang izinkan kalian berteriak dan mengancam menyita properti pribadi di sini?" Suara dingin Mas Rehan memotong teriakan tiga debt collector bertato suruhan pinjol yang kembali menggoncang-goncang pagar besi Wisma Asri pagi itu.Tiga penagih utang yang diutus menguras utang li
Pintu depan kos terbuka, memperlihatkan Nico yang datang terengah-engah sambil menjinjing dua kantong plastik besar. Es batu dalam kantong minuman dingin bergemerincing, bersanding dengan beberapa bungkus jajanan pasar dan roti."Nih, buat Mbak Sri," kata Nico sambil menyerahkan kantong itu ke Mbak Sri. "Tadi pas Raka nge-chat di grup bilang Mbak Sri hampir pingsan, aku langsung mampir ke toko kelontong depan."Mbak Sri hanya bisa tersenyum haru, lalu mengangguk pelan. "Makasih ya, Nico... jadi repot begini."“Tidak repot kok, Mbak,” jawab Nico dengan senyum khasnya.“Lebih baik Mbak Sri sekarang istirahat saja sudah malam,” ucap Mas Bayu.Setelah Mbak Sri dipaksa masuk ke dalam untuk istirahat dan meminum es tehnya, Mas Bayu memanggil beberapa anak kos lain dan berdiri di pelataran depan kosan. Tangannya memegang meteran gulung, matanya meneliti setiap sudut teras luar yang rencananya akan disulap menjadi warung."Udah, biarkan Mbak Sri istirahat dulu," ujar Mas Bayu, menepuk bahu Ra
Cahaya matahari pagi yang beranjak siang menyinari teras kos Wisma Asri. Suasana di rumah kos itu masih diliputi rasa haru dan sesak yang menyisa. Berita mengenai suami Mbak Sri yang kabur membawa lari seluruh isi rekeningnya meninggalkan duka mendalam bagi wanita cantik yang selama ini merawat rumah kos tersebut.Mbak Sri duduk tersandar di kursi rotan, matanya sembap dan tangannya gemetar memegang cangkir teh jahe yang sudah mendingin. Di hadapannya, Raka, Rehan, dan Dimas masih setia menemani.Dimas maju satu langkah, berlutut sejajar dengan tempat duduk Mbak Sri, lalu menatap wanita itu dengan sorot mata yang mantap dan hangat."Mbak Sri, dengarkan Dimas," ucapnya lembut namun penuh penekanan. "Wisma Asri ini rumah kita semua. Tempat ini berdiri bukan cuma karena bangunan atau atapnya, tapi karena Mbak Sri. Mbak adalah alasan kenapa kos ini selalu terasa hangat dan bikin kita semua betah untuk pulang."Dimas menoleh sebentar ke arah Raka dan Rehan yang mengangguk setuju, lalu kemb
Langkah kaki Rehan dan Raka begitu berhati-hati saat menuntun Mbak Sri menuju teras depan. Wanita itu masih tampak sangat pucat, napasnya tersendat-sendat pasca-kejadian pingsannya yang tiba-tiba di lantai dapur tadi. Dengan perlahan, mereka mendudukkan Mbak Sri di kursi rotan tua yang berada di sudut teras.“Mbak Sri duduk dulu ya,” ucap Raka.Tatapannya kosong, Mbak Sri perlahan duduk dengan tubuh yang lemas. Namun, rasa syok yang membendung seolah tak sanggup ditahan lagi. Baru saja tubuhnya menyentuh kursi, Mbak Sri justru meluruh ke bawah, bersimpuh lemas di atas tegel.Air matanya menetes makin deras, meresap dan membasahi kain daster batik lusuh yang dikenakannya. Isak tangisnya pecah, meratapi kemalangan nasib yang seakan tak henti-hentinya menghimpit.Merasa iba, Rehan bersimpuh di samping tubuh Mbak Sri, “Mbak yang tenang, ada kami di sini yang siap membantu Mbak Sri.”Dadanya terasa sangat sesak, seolah dihantam batu besar yang tak kasat mata. "Salahku apa, Gusti... Kenapa
"Mbak Sri! Teguh bawa kabur motor almarhum Bapak sama cewek karaoke, tabungan Mbak di bank juga dikuras bersih!"****Aroma gurih adonan tempe mendoan yang meletup-letup di atas wajan berpadu dengan wangi pekat teh tubruk yang baru disaring. Dapur kos-kosan dua lantai itu seperti biasa dihidupkan oleh sesosok wanita berusia 35 tahun berdaster batik katun kusam. Rambutnya disanggul asal dengan jepitan plastik yang sedikit longgar. Dialah Sri Rahayu atau yang kerap di panggil Mbak Sri, jantung utama yang membuat rumah itu selalu terasa seperti pulang."Kopi hitamnya kurang manis tidak, Mas Rehan?" tanya Mbak Sri sambil menyeka keringat di pelipisnya dengan ujung daster.Mas Rehan, pengacara LBH berwajah lelah yang kemeja putihnya tergulung kaku hingga siku, menyesap cangkir sengnya perlahan. Matanya yang sembap akibat sisa-sisa lembur membela kasus penggusuran rakyat kecil mendadak tampak lebih rileks."Pas, Mbak. Kopi buatan Mbak Sri selalu paling bisa menyembuhkan sakit kepala," jawab







