Compartir

Bab.5

Autor: Addarayuli
last update Fecha de publicación: 2026-08-28 15:59:21

Mbak Sri yang panik segera ganti pakaian dan cepat-cepat keluar untuk membuka gerbang kos. Tapi, baru setengah jalan, Bimo yang baru bangun tidur bersama Rehan dan Raka langsung menahan Mbak Sri di teras dan meminta ia diam saja.

Mbak Sri yang ketakutan setengah mati ingin ikut menjelaskan ke arah gerbang kalau dia dan Teguh sudah mau cerai, agar tidak disangkutpautkan lagi. Namun, langkahnya langsung dihentikan Bimo, anggota Reskrim Polsek lokal berbadan tegap itu melangkah keluar paling depan dan berbisik tegas.

"Mbak Sri di sini saja. Biar saya dan anak-anak kos yang urus."

Mas Rehan beserta Raka mendekat ke pagar, lalu menghentak pintu besi itu dengan tegas dari dalam hingga menimbulkan dentuman keras.

"Siapa yang izinkan kalian berteriak dan mengancam menyita properti pribadi di sini?" Suara dingin Mas Rehan memotong teriakan tiga debt collector bertato suruhan pinjol yang kembali menggoncang-goncang pagar besi Wisma Asri pagi itu.

Tiga penagih utang yang diutus menguras utang lima belas juta buatan Teguh Sri memang sengaja datang bermaksud membuat keributan di lingkungan kos agar penghuni dan pemilik malu.

Pria berkulit gelap dengan tato naga membelit leher maju menyambar jeruji pagar, matanya melotot. "Nggak usah ikut campur ya, Mas! Kita datang mau ngambil hak kita! Mana Si Teguh? Katakan sama dia, kalau lima belas juta hari ini nggak lunas, kos-kosan ini kita sita buat jaminan!"

Pria bertato lainnya menunjuk-nunjuk Mbak Sri di teras. "Istri Teguh ada di situ, kan? Jangan pura-pura tuli! Pokoknya aset tempat ini kita segel hari ini!"

Raka terkekeh sinis sambil bersandar santai di tiang pagar. "Sita aset? Paham hukum atau cuma paham teriak-teriak doang, Bang? Teguh itu cuma menumpang di sini, statusnya suami pemilik. Wisma Asri ini sertifikatnya atas nama Mbak Sri dan warisan murni keluarganya. Nggak ada sangkut pautnya sama utang piutang Teguh!"

Debt collector bertato naga itu menggebrak pagar lagi. "Kita nggak peduli mau warisan mau bukan! Teguh di data pinjol patuh mencantumkan alamat kos ini. Kalau utang pokok dengan bunganya tidak dibayar sekarang, kita bawa barang-barang mahal di rumah ini!"

"Coba saja kalau berani sentuh gerbang ini sekali lagi," potong Rehan tenang namun menatap lurus ke mata pria itu. "Tindakan kalian yang mengancam, memeras, dan mau menyita barang tanpa penetapan pengadilan itu murni tindak pidana."

Salah satu penagih utang yang berbadan pendek melangkah maju dengan berkacak pinggang. "Tidak usah nakut-nakutinin pakai hukum! Kita ini orang lapangan! Hukum kita simple, ada utang, ada barang yang ditarik!"

Bimo berjalan santai tapi memancarkan aura intimidasi yang tak main-main. Ia sengaja keluar hanya mengenakan kaus oblong ketat yang mencetak bentuk dadanya serta celana jeans kasual. Namun, yang membuat mata para preman melotot adalah lencana kepolisian berkilat di pinggangnya dan pistol dinas yang terselip rapi—senjata yang memang sengaja ia tunjukkan, toh sejam lagi ia sudah harus masuk dinas.

Melihat Bimo melangkah maju dengan pandangan dingin, Raka dan Mas Rehan otomatis mundur beberapa langkah. Tubuh Bimo jauh lebih kekar dan tegap dibanding Raka yang berpostur atletis khas pesilat. Kombinasi fisik raksasa, lencana polisi, dan senjata api di pinggang Bimo sudah lebih dari cukup untuk membuat para preman itu mati kutu dan kabur tanpa sempat mengeluh.

"Mas-mas sekalian," kata Bimo dengan nada datar namun sangat berbobot. "Perkenalkan, saya Bimo. Anggota Reskrim Polsek dekat sini. Pertama, kos ini bukan milik Teguh. Kedua, tidak ada debt collector yang punya kewenangan menyita aset pribadi tanpa perintah eksekusi dari pengadilan. Ketiga..."

Bimo mengeluarkan kartu anggotanya dari saku dan menempelkannya tepat di celah pagar, tepat di depan wajah sang ketua kelompok.

"...kalian berteriak-teriak dari tadi bisa kena pasal tentang perbuatan tidak menyenangkan, ditambah upaya pemerasan dengan ancaman. Mau saya hubungi piket Reskrim sekarang buat jemput kalian bertiga?"

Seketika itu juga, gertakan dan teriakan tiga debt collector tersebut terhenti. Pria bertato naga mendadak bungkam, menatap kartu identitas di tangan Bimo, lalu saling pandang dengan dua rekannya yang mendadak melangkah mundur satu tapak.

"B-bukan gitu, Pak..." bisik salah satu penagih utang, suaranya kini melunak. "Kita cuma menjalankan tugas dari kantor..."

"Tugas kantor kalian tidak membuat kalian kebal hukum," tegas Rehan memotong. "Kalau mau tagih Teguh, cari dia pribadi di luar. Sekali lagi kalian datang buat rusuh di tempat ini atau mengancam Mbak Sri, kita proses hukum sampai tuntas."

Ketiga penagih utang itu mengutuk pelan di balik napas mereka. Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, mereka berbalik arah dan bergegas pergi meninggalkan gang Wisma Asri.

Mbak Sri yang menyaksikan semuanya dari teras bernapas lega, dadanya yang tadinya berdegup kencang perlahan melandai setelah dilindungi oleh para penghuni kosnya.

Pasca-kejadian yang sempat mengocok perut dan memacu adrenalin tersebut, kedamaian perlahan kembali merengkuh Wisma Asri. Kehangatan pagi yang biasa kini terasa lagi. Satu per satu penghuni kos mulai berangkat bekerja, melambaikan tangan menyapa pagi yang kembali normal.

Pelataran kini menyisakan Raka yang memang tidak bekerja kantoran. Bagi Mbak Sri, pemilik kos tersebut, Raka sudah dianggap seperti adiknya sendiri. Pemuda itu dengan senang hati tinggal dan membantu berbagai urusan pertukangan serta perawatan Wisma Asri sehari-hari.

Pagi menjelang siang itu, Raka tampak berjongkok di dekat dinding samping, tangannya cekatan membetulkan sambungan pipa air yang sempat longgar. Otot-otot lengannya tegang, dan kilap keringat mulai membasahi pelipis serta lehernya akibat terik matahari yang makin menyengat.

Mbak Sri berjalan mendekat membawa segelas es teh manis. Langkah kakinya yang halus terhenti tepat di samping Raka. Melihat pemuda itu bersusah payah, dada Mbak Sri berdesir pelan. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia berlutut kecil di samping Raka.

Dengan gerakan yang sangat lembut, Mbak Sri meraih ujung daster batiknya, lalu mengusap peluh di kening dan leher Raka.

Raka tertegun. Gerakan tangannya yang memegang kunci pipa mendadak berhenti. Jarak mereka begitu dekat hingga aroma wangi sabun dan sentuhan halus kain daster Mbak Sri menerpa kulit lehernya, meninggalkan sensasi hangat yang menjalar cepat.

"Capek ya, Ka?" bisik Mbak Sri pelan. Matanya menatap Raka tepat di manik mata, dengan sudut bibir terangkat membentuk senyuman tipis yang sulit diartikan.

Raka menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa sangat kering.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.89

    Pagi itu, sinar matahari baru saja menerobos celah-celah pepohonan di area proyek pembangunan. Suasana di lapangan yang biasanya bising oleh suara mesin, pagi ini terasa agak sunyi dan dibalut canggung.Di depan proyek, Mas Bayu, Pak Doni dan Mas Rehan sedang duduk Bersama. Hingga tak lama kemudia, tak jauh dari tempat mereka duduk, di balik gerbang berhenti sebuah motor membuat ketiganya menoleh.Sesosok wanita anggun dengan pakaian rapi bertandang ke lokasi. Ia adalah Mbak Sri, yang datang tepat waktu sesuai dengan janji yang telah ia buat sebelumnya. Mbak Sri hadir untuk menemui Mas Bayu.Namun, kehadiran Mbak Sri yang tak disangka-sangka oleh Pak Doni dan Mas Rehan membuat suasana seketika menegang.Mas Rehan dan Pak Doni menghentikan pembicaraan mereka begitu melihat kedatangan Mbak Sri. Wajah mereka menunjukkan terkejut yang luar biasa.Mas Rehan terperanjat, "Mbak Sri? Anda... bagaimana bisa ada di sini pagi-pagi begini?"Pak Doni s

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.88

    Suasana di Kos Wisma Asri menjelang pukul sembilan pagi mulai berangsur sepi. Kebisingan khas pagi hari seperti suara deru motor, celoteh penghuni kos yang berebut kamar mandi, hingga denting alat masak kini telah mereda. Mayoritas penghuninya sudah berangkat menembus kemacetan kota untuk bekerja dan berkuliah. Hanya tersisa keheningan yang dibalut sepoi angin pagi dan suara jangkrik liar di sudut halaman.Di dalam kamarnya, Mbak Sri berdiri mengamati penampilannya. Ia meraih tas selempang kulit warna cokelat pastel lalu memakainya serong di bahu. Matanya menatap lekat pantulan dirinya di cermin rias berukuran sedang. Dress bunga-bunga kecil berwarna lembut yang melekat di tubuhnya tampak begitu rapi, membalut sosoknya yang biasanya hanya mengenakan daster atau kaos santai sehari-hari. Sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat, namun penuh arti mengembang di bibirnya.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Mbak Sri meraih botol parfum kaca berdesain elegan dari atas me

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.87

    Suara tumisan bumbu halus di atas wajan besar beradu dengan keheningan pagi yang masih samar. Jarum jam dinding di dapur umum menunjukkan pukul 04.15 WIB. Asap tipis beraroma bawang merah, terasi, dan daun jeruk membumbung tinggi, memenuhi ruangan berubin putih tersebut.Setelah tiga hari tutup total demi mengurus berkas perceraiannya di Pengadilan Agama, Mbak Sri akhirnya kembali ke tempat yang paling membuatnya merasa hidup: dapur katering milik pribadinya. Hari ini, ia harus menyelesaikan 50 kotak nasi tumpeng mini dan 100 porsi prasmanan untuk acara syukuran kantor.Dengan cekatan, Mbak Sri mengaduk sambal goreng ati dengan sutil kayu besar. Keringat tipis mulai menetes di pelipisnya. Tangannya yang sigap dan terlatih melangkah dari satu kompor ke kompor lain.Ting!Suara denting notifikasi ponsel terdengar dari balik saku apron kain motif kotak-kotak biru yang ia kenakan.Mbak Sri mengecilkan api kompor terlebih dahulu. Ia me

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.86

    Angin malam berembus dingin, membawa aroma tanah basah yang kian pekat. Langit di atas sana gulita, tertutup awan mendung yang menggantung rendah, seolah menyimpan beban yang siap ditumpahkan kapan saja.Mbak Sri duduk sendirian di kursi kayu teras rumahnya. Matanya menatap lurus ke arah langit malam yang hampa. Sebuah helaan napas berat terdengar beberapa kali dari bibirnya, terlepas bersama rasa sesak yang tak kunjung mereda. Malam ini seharusnya terasa begitu berharga—sebuah garis akhir dari drama panjang yang menguras emosi dan air mata. Namun, bukannya lega, hatinya justru terasa ganjil, gundah, dan tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di relung dadanya yang paling dalam."Mas Bayu..." lirih Mbak Sri sangat pelan, hampir tak terdengar, mengucap nama seseorang yang kini jauh darinya.Tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut mendarat di atas kepalanya. Sebuah elusan hangat pada pucuk kepala yang seketika menghentikan lamunannya.Mbak Sri te

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.85

    Suara dentang halus koin dan kunci di dalam saku celana mengiringi langkah Mas Bayu saat ia melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya. Suasana ruangan terasa sunyi, hanya derak halus kipas angin yang membelah udara panas sore itu.Mas Bayu melepas topi rimba kesayangannya, meletakkannya dengan layu di atas meja kayu yang dipenuhi tumpukan berkas. Matanya yang tampak lelah tertuju pada segelas air putih dingin yang berdiri anggun di sudut meja. Tanpa ragu, ia meraih gelas itu, menempelkan pinggirannya ke bibir, dan meminumnya hingga tandas tanpa henti.Glek... glek... glek."Haaah..."Terdengar suara helaan napas panjang yang sarat akan beban keluar dari mulut Mas Bayu. Ia menurunkan gelas kosong itu, lalu perlahan menjatuhkan punggungnya, menyandarkan tubuhnya yang letih ke sandaran kursi busa. Mas Bayu mendongak, menatap kosong ke arah langit-langit plafon ruangan yang putih bersih.Tatapannya benar-benar kosong. Sudah hampir satu bulan dia

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.84

    Ketukan palu hakim tiga kali menggema di ruang sidang Pengadilan Agama, menandai akhir dari perjalanan panjang rumah tangga Mbak Sri dan Teguh."Memutuskan, mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya. Menjatuhkan talak satu ba'in sughra tergugat, Teguh bin Sastro, terhadap penggugat, Sri Wahyuni binti Sukirno," ucap Ketua Majelis Hakim lantang dari balik meja hijau.Mbak Sri, yang duduk didampingi kuasa hukumnya di sisi kiri ruang sidang, menghembuskan napas panjang. Kedua tangannya yang bertaut di atas pangkuan perlahan mengendur.Hakim melanjutkan pembacaan amar putusan, masuk ke poin rekonvensi atau gugatan balik yang diajukan oleh pihak Teguh mengenai sengketa harta bersama dan tuduhan perselingkuhan."Menimbang, bahwa mengenai gugatan rekonvensi tergugat terkait tuntutan pembagian harta bersama berupa rumah kos dan tuduhan pelanggaran kesusilaan oleh penggugat..." Hakim melepaskan kacamata bacanya sejenak, lalu menatap tajam ke arah Teguh yang duduk gelisah di sisi kanan. "Ma

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status