Masuk
"Mbak Sri! Teguh bawa kabur motor almarhum Bapak sama cewek karaoke, tabungan Mbak di bank juga dikuras bersih!"
****
Aroma gurih adonan tempe mendoan yang meletup-letup di atas wajan berpadu dengan wangi pekat teh tubruk yang baru disaring. Dapur kos-kosan dua lantai itu seperti biasa dihidupkan oleh sesosok wanita berusia 35 tahun berdaster batik katun kusam. Rambutnya disanggul asal dengan jepitan plastik yang sedikit longgar. Dialah Sri Rahayu atau yang kerap di panggil Mbak Sri, jantung utama yang membuat rumah itu selalu terasa seperti pulang.
"Kopi hitamnya kurang manis tidak, Mas Rehan?" tanya Mbak Sri sambil menyeka keringat di pelipisnya dengan ujung daster.
Mas Rehan, pengacara LBH berwajah lelah yang kemeja putihnya tergulung kaku hingga siku, menyesap cangkir sengnya perlahan. Matanya yang sembap akibat sisa-sisa lembur membela kasus penggusuran rakyat kecil mendadak tampak lebih rileks.
"Pas, Mbak. Kopi buatan Mbak Sri selalu paling bisa menyembuhkan sakit kepala," jawab Rehan sambil tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya di kursi kayu dapur.
Tak lama, piring mendoan hangat diletakkan di tengah meja. Tepat saat itu, Nico melangkah masuk lewat pintu samping. Karyawan minimarket yang polos dan ceria itu tersenyum lebar sembari menyodorkan satu kotak susu segar dari kantong plastiknya.
"Mbak Sri! Ini ada susu murni promo khusus buy one get one. Yang satu buat Mbak Sri ya, biar nggak capek ngurusin kosan sama jualan nasi uduk terus," ujar Nico polos, memamerkan deretan giginya.
Suasana dapur pagi itu mendadak begitu hangat, cair, dan penuh kekeluargaan. Namun, kehangatan itu runtuh seketika dalam satu getaran tajam ponsel di saku dasternya.
Dua denting notifikasi masuk berturut-turut. Mbak Sri meraba saku dasternya, mengambil ponsel layarnya yang agak retak. Namun sebelum berhasil membuka pesan di ponselnya, dia kembali membalik tempe di dalam wajan.
Pintu dapur umum kost terdorong kasar hingga membentur dinding semen. Raka muncul di ambang pintu dengan wajah pucat pasi dan napas memburu, seolah baru saja berlari menempuh jarak berkilometer-kilometer. Matanya yang liar menyapu ruangan, mengabaikan Mas Rehan dan Nico yang sedang duduk santai di meja makan, lalu mengunci pandangannya pada sosok Mbak Sri.
Mbak Sri yang membelakangi pintu tampak tenang membolak-balik tempe goreng di atas wajan panas. Bau gurih bumbu ketumbar membumbung di udara, berpadu dengan uap minyak mendesis.
Tanpa membuang waktu, Raka melangkah lebar menghampiri kompor. Dengan dada yang kempas-kempis dan keringat dingin menetes di pelipisnya, ia menumpahkan apa yang baru saja dilihat dan didengarnya.
“Ada apa, Raka?” tanya Mbak Sri bingung ketika melihat wajah Raka yang tampak panik.
"Mbak Sri! Teguh bawa kabur motor almarhum Bapak sama cewek karaoke, tabungan Mbak di bank juga dikuras bersih!"
Srenggg...
Desisan minyak goreng mendadak kalah nyaring oleh hening mencekam yang membungkus dapur. Spatula aluminium di tangan Mbak Sri terlepas begitu saja, jatuh menghantam ubin lantai dengan bunyi kluntingan yang nyaring.
Mas Rehan yang tadinya hendak menyesap kopi hitam langsung tersedak hebat hingga terbatuk-batuk, sementara Nico membeku di kursi dengan sendok menggantung di depan mulut dan mata melotot tak percaya.
Mbak Sri perlahan memutar tubuhnya. Wajah wanita paruh baya yang biasanya ramah itu seketika kehilangan warna, menatap Raka lurus-lurus seolah berharap kalimat tadi hanyalah lelucon konyol di pagi hari. Namun, raut panik dan napas Raka yang masih tersengal-sengal menegaskan satu hal, Raka tidak pernah berbohong padanya.
Mabk Sri pun menyalakan ponselnya yang beru saja terdapat notifikasi dari m-banking nya. Tangannya mendadak gemetaran hebat saat membaca angka yang tertera di sana.
Saldo Anda: Rp0,-
Kerja keras lima tahun, keringat yang mengucur saban subuh membungkus nasi uduk, jemari yang kasar menggosok lantai kosan, hilang tanpa sisa. Belasan juta tabungan hidupnya menguap menjadi nol rupiah.
Belum sempat napasnya kembali tertata, sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal menyusul masuk. Isinya berupa penagihan paksa lengkap dengan foto KTP Mbak Sri. Teguh, suaminya yang malas, tidak berguna, dan parasit, tidak hanya menguras habis tabungan dan membawa kabur sepeda motor peninggalan almarhum ayahnya. Lelaki itu juga mendaftarkan nama Mbak Sri sebagai penjamin tunggal utang pinjaman online ilegal bernilai belasan juta rupiah.
Dapur yang hangat itu mendadak hening, berganti menjadi hembusan angin dingin yang mencekat dada.
Napas Mbak Sri memburu, pecah-pecah di udara dingin dapur yang remang. Kesadarannya hampir padam, disedot habis oleh rasa takut dan trauma yang teramat sangat. Ancaman terselubung dari rentenir kejam yang dikirim oleh mantan suaminya berhasil merobek seluruh daya tahan yang selama ini dia bangun sendirian.
Sebelum tubuh Mbak Sri menyentuh lantai, lengan kokoh Mas Rehan menyambar pinggangnya dari belakang, merengkuh erat dada tegapnya ke punggung Mbak Sri yang gemetaran hebat.
"Mbak Sri! Bertahan, Mbak! Demi Tuhan, siapa pun yang bikin Mbak Sri seperti ini bakal saya seret ke hukum!"
Mbak Sri yang panik segera ganti pakaian dan cepat-cepat keluar untuk membuka gerbang kos. Tapi, baru setengah jalan, Bimo yang baru bangun tidur bersama Rehan dan Raka langsung menahan Mbak Sri di teras dan meminta ia diam saja.Mbak Sri yang ketakutan setengah mati ingin ikut menjelaskan ke arah gerbang kalau dia dan Teguh sudah mau cerai, agar tidak disangkutpautkan lagi. Namun, langkahnya langsung dihentikan Bimo, anggota Reskrim Polsek lokal berbadan tegap itu melangkah keluar paling depan dan berbisik tegas."Mbak Sri di sini saja. Biar saya dan anak-anak kos yang urus."Mas Rehan beserta Raka mendekat ke pagar, lalu menghentak pintu besi itu dengan tegas dari dalam hingga menimbulkan dentuman keras."Siapa yang izinkan kalian berteriak dan mengancam menyita properti pribadi di sini?" Suara dingin Mas Rehan memotong teriakan tiga debt collector bertato suruhan pinjol yang kembali menggoncang-goncang pagar besi Wisma Asri pagi itu.Tiga penagih utang yang diutus menguras utang li
Pintu depan kos terbuka, memperlihatkan Nico yang datang terengah-engah sambil menjinjing dua kantong plastik besar. Es batu dalam kantong minuman dingin bergemerincing, bersanding dengan beberapa bungkus jajanan pasar dan roti."Nih, buat Mbak Sri," kata Nico sambil menyerahkan kantong itu ke Mbak Sri. "Tadi pas Raka nge-chat di grup bilang Mbak Sri hampir pingsan, aku langsung mampir ke toko kelontong depan."Mbak Sri hanya bisa tersenyum haru, lalu mengangguk pelan. "Makasih ya, Nico... jadi repot begini."“Tidak repot kok, Mbak,” jawab Nico dengan senyum khasnya.“Lebih baik Mbak Sri sekarang istirahat saja sudah malam,” ucap Mas Bayu.Setelah Mbak Sri dipaksa masuk ke dalam untuk istirahat dan meminum es tehnya, Mas Bayu memanggil beberapa anak kos lain dan berdiri di pelataran depan kosan. Tangannya memegang meteran gulung, matanya meneliti setiap sudut teras luar yang rencananya akan disulap menjadi warung."Udah, biarkan Mbak Sri istirahat dulu," ujar Mas Bayu, menepuk bahu Ra
Cahaya matahari pagi yang beranjak siang menyinari teras kos Wisma Asri. Suasana di rumah kos itu masih diliputi rasa haru dan sesak yang menyisa. Berita mengenai suami Mbak Sri yang kabur membawa lari seluruh isi rekeningnya meninggalkan duka mendalam bagi wanita cantik yang selama ini merawat rumah kos tersebut.Mbak Sri duduk tersandar di kursi rotan, matanya sembap dan tangannya gemetar memegang cangkir teh jahe yang sudah mendingin. Di hadapannya, Raka, Rehan, dan Dimas masih setia menemani.Dimas maju satu langkah, berlutut sejajar dengan tempat duduk Mbak Sri, lalu menatap wanita itu dengan sorot mata yang mantap dan hangat."Mbak Sri, dengarkan Dimas," ucapnya lembut namun penuh penekanan. "Wisma Asri ini rumah kita semua. Tempat ini berdiri bukan cuma karena bangunan atau atapnya, tapi karena Mbak Sri. Mbak adalah alasan kenapa kos ini selalu terasa hangat dan bikin kita semua betah untuk pulang."Dimas menoleh sebentar ke arah Raka dan Rehan yang mengangguk setuju, lalu kemb
Langkah kaki Rehan dan Raka begitu berhati-hati saat menuntun Mbak Sri menuju teras depan. Wanita itu masih tampak sangat pucat, napasnya tersendat-sendat pasca-kejadian pingsannya yang tiba-tiba di lantai dapur tadi. Dengan perlahan, mereka mendudukkan Mbak Sri di kursi rotan tua yang berada di sudut teras.“Mbak Sri duduk dulu ya,” ucap Raka.Tatapannya kosong, Mbak Sri perlahan duduk dengan tubuh yang lemas. Namun, rasa syok yang membendung seolah tak sanggup ditahan lagi. Baru saja tubuhnya menyentuh kursi, Mbak Sri justru meluruh ke bawah, bersimpuh lemas di atas tegel.Air matanya menetes makin deras, meresap dan membasahi kain daster batik lusuh yang dikenakannya. Isak tangisnya pecah, meratapi kemalangan nasib yang seakan tak henti-hentinya menghimpit.Merasa iba, Rehan bersimpuh di samping tubuh Mbak Sri, “Mbak yang tenang, ada kami di sini yang siap membantu Mbak Sri.”Dadanya terasa sangat sesak, seolah dihantam batu besar yang tak kasat mata. "Salahku apa, Gusti... Kenapa
"Mbak Sri! Teguh bawa kabur motor almarhum Bapak sama cewek karaoke, tabungan Mbak di bank juga dikuras bersih!"****Aroma gurih adonan tempe mendoan yang meletup-letup di atas wajan berpadu dengan wangi pekat teh tubruk yang baru disaring. Dapur kos-kosan dua lantai itu seperti biasa dihidupkan oleh sesosok wanita berusia 35 tahun berdaster batik katun kusam. Rambutnya disanggul asal dengan jepitan plastik yang sedikit longgar. Dialah Sri Rahayu atau yang kerap di panggil Mbak Sri, jantung utama yang membuat rumah itu selalu terasa seperti pulang."Kopi hitamnya kurang manis tidak, Mas Rehan?" tanya Mbak Sri sambil menyeka keringat di pelipisnya dengan ujung daster.Mas Rehan, pengacara LBH berwajah lelah yang kemeja putihnya tergulung kaku hingga siku, menyesap cangkir sengnya perlahan. Matanya yang sembap akibat sisa-sisa lembur membela kasus penggusuran rakyat kecil mendadak tampak lebih rileks."Pas, Mbak. Kopi buatan Mbak Sri selalu paling bisa menyembuhkan sakit kepala," jawab







