Mag-log in
“Duduk!” perintah lelaki di hadapanku ini. Dia adalah pemilik restoran tempatku bekerja, Pak Arkan.
Aku langsung duduk tanpa berani menatap wajahnya. Kulihat tadi saat masuk mukanya sudah merah padam. Kali ini kesalahanku masih sama seperti sebelumnya. Kupikir dia sudah hafal dan bisa memakluminya lagi, tetapi ternyata semua di luar dugaanku. Pak Arkan marah besar. “Ini yang terakhir, Rosi!” Pak Arkan menggebrak meja di depanku, wajahnya merah padam. Panci gosong itu tergeletak di antara kami, seperti benda mati yang bersaksi atas semua kesalahanku. Aku menahan napas, tenggorokanku tercekat. Semua kata tertahan di bibirku. Aku tahu, kali ini tidak ada ruang untuk alasan. Namun, tanpa pekerjaan ini, apa yang akan terjadi padaku? Brak! Pak Arkan sekali lagi menggebrak meja di depanku hingga membuatku terperanjat. Kupegang dadaku yang mulai berdebar-debar. “Astaga, Rosi! Ini adalah kelima kalinya kamu menggosongkan panci saya. Gajimu satu bulan nggak akan bisa menggantikannya. Mulai sekarang kamu saya pecat!” ucap Pak Arkan. “Aku nggak peduli lagi berapa lama kamu kerja di sini. Kali ini, kamu keluar!” Dia memijit pelipisnya dan melempar panci gosong itu tepat di depanku, beruntung aku bisa menangkapnya dan tidak melukai wajahku. “Tapi, Pak, saya butuh pekerjaan ini.” “Saya sudah lelah menegur kamu. Selama lima bulan ini kamu sudah melakukan banyak kesalahan. Dan kali ini saya tidak bisa memberikan toleransi lagi. Ini gaji kamu selama dua puluh hari dan kamu bisa angkat kaki dari sini sekarang juga.” Dengan lemah kuambil amplop coklat bertuliskan gaji 20 hari Rosita. Hari itu adalah terakhir kalinya aku datang ke ruangannya. Di hari yang sama juga aku keluar dari tempat itu membawa gaji terakhir plus bonus panci gosong. Mungkin memang aku tidak memiliki bakat memasak, masak air saja gosong. Apalagi masak mie instan, ambyar sudah. Selama ini aku tidak pernah belajar memasak. Apalagi sebagai anak terakhir, aku selalu dimanjakan kedua kakakku. Sekarang aku bingung harus mencari pekerjaan ke mana lagi. Aku tidak mau dinikahkan muda oleh orang tuaku. Aku harus mencari pekerjaan dan melanjutkan kuliah supaya tidak bernasib sama seperti kedua kakakku. Bagi orang tua kami, perempuan itu tidak perlu berpendidikan tinggi. Ujung-ujungnya bakal ngurus dapur, tetapi aku memiliki keinginan yang berbeda dengan kedua kakakku. Aku ingin sukses dulu baru menikah. Sekarang zaman modern, bukan lagi zaman Siti Nurbaya yang menikah karena dijodohkan, apalagi nikah muda. Kupandangi gedung dua lantai yang menjadi tempatku bekerja selama setengah tahun ini. Aku sudah terlanjur nyaman meski hanya sebagai pelayan. Wajah pas-pasan dan tidak memiliki pengalaman, sudah lumayan bisa diterima bekerja di restoran mewah di Bumi Mina Tani ini. Aku bisa masuk sini tentunya karena orang dalam. Restoran ini milik saudara Pak Kades. Dulu aku pernah bekerja dengannya meski hanya bantu bersih-bersih di rumah. Dengan langkah berat aku keluar menuju gerbang yang sudah dibuka lebar untukku. Beberapa teman mengantarkan kepergianku hingga ke parkiran. “Kamu masih bisa datang ke sini, Ros. Kita masih bisa bertemu lagi, kamu sebagai pelanggan dan kami sebagai pelayan,” ucap Dwik. Dia salah satu temanku di sini. “Doakan aku semoga setelah ini bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.” Kupeluk Dwik erat. Dia yang selama ini sangat dekat denganku karena kami sama-sama miskin. Kami merasa memiliki ikatan yang erat meski bukan saudara. Terkadang kami merasa seperti saudara kembar. Nasib kami tidak jauh berbeda, hanya saja dia lebih beruntung dariku. Orang tuanya mampu membiayai dia kuliah, sedangkan aku harus berjuang sendiri. Kulambaikan tangan kepada semua teman-teman kemudian pergi. Setengah tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak kenangan terukir di sini bersama teman seperjuangan. Sekarang aku bingung harus pergi ke mana. Jika pulang sekarang, Bapak dan Ibu pasti akan marah. Ini belum waktunya pulang. Mereka sering mengatakan aku harus betah kerja di restoran itu. Katanya tidak enak sama Pak Kades. Namun, bagaimana aku mengatakan kepada mereka jika aku sudah dipecat? Motorku berhenti di taman hutan kota. Entah mengapa belakangan ini aku suka sekali mampir ke sini, salah satu RTH (Ruang Terbuka Hijau) yang sering kedatangan pengunjung sepertiku. Udaranya sejuk meski tempatnya di tengah kota. Banyak pohon menjulang tinggi sehingga sinar matahari tak mampu menerobos celah-celah daun. Aku berjalan menuju ayunan yang masih kosong setelah membeli es degan. Di sini ada beberapa ayunan yang sudah penuh. Kulihat beberapa pasangan kekasih sedang asyik bersenda-gurau di sana. Segera kuhabiskan minumanku supaya mataku tidak ternoda. Lama termenung dalam kesendirian, kuputuskan untuk pulang ke rumah. Lebih baik jujur meskipun pedih. Aku akan mencari pekerjaan lain sesegera mungkin. Sebentar lagi usiaku 20 tahun. Aku tidak mau dijodohkan seperti kakak-kakakku sebelumnya. Kembali kulajukan motor menuju ke rumah. Sekarang baru jam sepuluh. Bapak dan Ibu pasti sudah pulang. Namun, ketika berhenti di sebuah perempatan, mataku berbinar melihat ada lowongan pekerjaan yang ditempelkan di pohon palem. Bagai mimpi di siang bolong, baru saja dipecat dan aku sudah menemukan jalan keluar dari semua permasalahanku. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil kertas tersebut dan datang ke alamat yang tertera di sana. “Fotokopi, Mbak?” tanya seorang laki-laki yang ada di sebuah toko fotokopi. “Bukan, Mas. Saya mau ....” Aku bingung harus mengatakan apa. Bahkan aku tidak membuat surat lamaran sebelumnya. Lelaki di depanku ini mengerutkan kening hingga membuat kedua alisnya terangkat. “Mau apa?” tanyanya lagi. Dia berjalan mendekat sambil membawa kertas fotokopi. “Saya mau bekerja di sini. Apakah masih ada lowongan?” Lelaki di depanku ini menatapku dari ujung kepala hingga kaki. Beberapa saat kemudian dia langsung memintaku masuk ke toko. “Masuk! Kamu diterima bekerja. Langsung latihan mulai hari ini.” Aku mengerjap, bingung. “Tunggu, tapi saya belum—” “Masuk!” Aku mengikuti lelaki itu masuk ke dalam toko fotokopi meski sebenarnya ada rasa waswas. Mendadak jantungku berdebar lebih kencang. “Sudah siap? Latihan sekarang atau pekerjaan ini aku kasih ke orang lain!” Kata-katanya terasa seperti ultimatum. Aku menelan ludah. Belum sempat bertanya lebih lanjut, pintu di belakangku menutup perlahan. Duh! Mau diapain aku?“Hoam!” Aku menguap berkali-kali semenjak duduk di depan computer.Rasanya aku sangat mengantuk. Semalam tidurku tak nyenyak gara-gara misteri ketukan pintu depan. Bapak dan Ibu bahkan tidak mendengarnya. Apakah ada makhluk tak kasat mata yang menggangguku? Dih! Serem!Pagi ini langit mendung. Matahari masih enggan muncul, menyisakan udara dingin yang menyusup melalui celah pintu toko. Aku sudah datang lebih awal seperti biasa, tapi Mas Herman belum terlihat batang hidungnya.Aku menyiapkan sumpah serapah untuknya. Mentang-mentang aku anak baru, dia seenaknya mempermainkan waktu. Pukul sembilan lewat, barulah dia muncul. Dengan gaya sok asik, dia membawa sebuah bingkisan di tangannya. Mau nyogok aku, pasti. Tapi aku tidak mudah dibodohi.“Pagi, Ros! Tumben sepi.” Dia masuk ke toko kemudian melepas jaketnya. “Ini ada oleh-oleh buat kamu dari Ibuk.”Jumat adalah hari pendek, sebentar lagi dia pergi jumatan. Enak sekali dia menjadi seorang laki-laki. Datang terlambat dan pulang lebih awa
Lelaki yang menabrakku memungut beberapa kertas yang jatuh tadi. Wajahnya tampak panik, terlihat jelas keringat bercucuran di pelipisnya. “Duh, malah luntur tulisannya. Bisa minta tolong diprint dan difotokopi, Mbak? Saya buru-buru ini. Sudah ditunggu sama dosen. Saya bisa mengulang tahun depan jika tidak segera membawanya ke kampus,” katanya panik.Aku melirik jam dinding. Menyebalkan sekali bukan? Lantai yang sudah kubersihkan jadi kotor lagi.“Maaf, Mas. Toko udah tutup.” Aku mencoba menjelaskan, berharap dia paham. Bagaimanapun, aku juga punya kehidupan di luar toko dan sekarang sudah waktunya pulang. “Please, Mbak. Rumah saya jauh. Dosennya juga hanya seminggu sekali ke kampus. Saya tidak bisa menunggu selama itu.”Aku mulai merasa kasihan melihatnya memohon. Sepertinya dia tidak membawa kendaraan dan berjalan dari kampus hanya demi fotokopi revisi skripsi dari dosen, tetapi aku bisa pulang terlambat jika menolongnya. “Mbak, jangan kelamaan mikir, dong! Tolong bantuin saya.”
“Mas Herman?” Aku mengernyitkan dahi. “Yups,” jawabnya. Aku belum pernah melihat perempuan ini meski sudah bekerja selama satu minggu. Apa dia pacarnya Mas Herman? Ah, ngapain juga aku pusing mikirin dia. Bukan urusanku juga mau pacarnya, selingkuhan, istri atau apa pun itu. “Mas Herman kuliah, Mbak. Bimbingan skripsi katanya.”Sebelum pergi, Mas Herman berpesan kalau dia sedang bimbingan skripsi jika ada yang mencarinya. Dia sudah sampai bab tiga dan akan segera selesai secepatnya. “Mau ambil fotokopi, Mbak?” Wanita itu menggeleng kemudian sibuk dengan ponselnya. Beberapa pelanggan sudah tak terhitung datang dan pergi dari toko ini, tetapi dia sabar menunggu meskipun Mas Herman tak kunjung pulang.“Dek, aku balik dulu, deh. Mas Herman kelamaan. Nanti bilangin suruh telepon aku, ya! Ponselnya tidak aktif.” Wanita itu akhirnya menyerah juga. Dia mengambil tasnya kemudian pergi tanpa menyebutkan nama.Hari ini toko ramai sekali. Aku bahkan tidak sempat memegang ponsel. Apalagi meno
“Kamu siapa?” tanya lelaki itu sambal mengacungkan jari telunjuknya ke arahku.Pria itu berjalan mendekat, menatap sekeliling toko sebelum mengarahkan pandangannya kembali padaku. Ia mengeluarkan sebuah map berwarna biru dari tas punggungnya, lalu meletakkannya di atas meja.“Mas Herman mana?” tanyanya pelan, tapi nadanya terdengar agak mendesak.“Mas Herman belum pulang. Tapi, kalau Mas mau menitipkan sesuatu, nanti saya sampaikan.”Pria itu tampak berpikir sejenak, lalu membuka map biru yang sepertinya berisi skripsi. Kertas-kertas di dalamnya penuh coretan tinta merah.“Saya baru saja selesai sidang, Mbak. Skripsi ini harus segera direvisi dan diprint ulang. Tapi, saya nggak punya waktu banyak. Saya benar-benar butuh bantuan Mas Herman,” ucapnya, suaranya terdengar frustasi.Aku mengangguk meski sebenarnya tidak begitu paham. Tapi aku sedikit tahu bagaimana susahnya revisi skripsi bagi mahasiswa yang baru selesai sidang. Bukan hal aneh kalau mereka panik dan ingin semuanya cepat se
“Mbak, fotokopi jadi 25 lembar. Diperkecil, perpanjang, bolak-balik, dan pakai kertas buram.” Seorang lelaki muda memakai jas almamater warna hijau memberikan sebuah makalah kepadaku. Pagi ini terasa panas meskipun aku sudah menghidupkan kipas angin. Mungkin mesin fotokopi ini grogi didampingi dan disentuh oleh gadis manis sepertiku. “Maaf, Mas. Kalau bolak-balik nggak bisa pakai kertas buram. Bisanya pakai kertas putih.” Aku menolak dengan halus. Kata Mas Herman aku harus bersikap santun terhadap pelanggan karena mereka adalah raja. Lagian zaman sekarang mana ada fotokopi pakai kertas buram? Bahannya sangat tipis dan sering membuat mesin reject. Aku tidak bisa mengoperasikannya jika mesin rusak. Apalagi aku baru belajar satu minggu di sini, masih sangat kaku dan belum mahir. “Biasanya sama Mas Herman bisa, Mbak,” ujar lelaki itu.Aku menggaruk kepala yang berbalut jilbab segi empat ini. Lelaki di hadapanku ini sepertinya sangat perhitungan. Padahal biasanya laki-laki itu tidak pe
“Duduk!” perintah lelaki di hadapanku ini. Dia adalah pemilik restoran tempatku bekerja, Pak Arkan.Aku langsung duduk tanpa berani menatap wajahnya. Kulihat tadi saat masuk mukanya sudah merah padam. Kali ini kesalahanku masih sama seperti sebelumnya. Kupikir dia sudah hafal dan bisa memakluminya lagi, tetapi ternyata semua di luar dugaanku. Pak Arkan marah besar.“Ini yang terakhir, Rosi!” Pak Arkan menggebrak meja di depanku, wajahnya merah padam.Panci gosong itu tergeletak di antara kami, seperti benda mati yang bersaksi atas semua kesalahanku. Aku menahan napas, tenggorokanku tercekat. Semua kata tertahan di bibirku. Aku tahu, kali ini tidak ada ruang untuk alasan. Namun, tanpa pekerjaan ini, apa yang akan terjadi padaku?Brak! Pak Arkan sekali lagi menggebrak meja di depanku hingga membuatku terperanjat. Kupegang dadaku yang mulai berdebar-debar.“Astaga, Rosi! Ini adalah kelima kalinya kamu menggosongkan panci saya. Gajimu satu bulan nggak akan bisa menggantikannya. Mulai s







