Share

BAB 2 Kemarahan Rea Niskala

Penulis: Rabbit Cuttie
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-04 13:28:58

Tubuh Bianca mendadak kaku setelah mendengar ucapan Arlo. Bianca tak melihat siapa yang mengintipnya, namun dari cara bicara Arlo, apakah benar itu Rea?

“J-jadi itu Rea?” lirih Bianca dengan wajah yang memucat.

“Wajah kamu pucat banget, Bianca. Nggak mau nyari anak kamu sekarang? Siapa tahu dia butuh penjelasan dari ibunya,” ujar Arlo yang kemudian bangkit dari sofa.

Arlo melangkahkan kakinya meninggalkan Bianca yang masih berdiri mematung di tempatnya. Arlo tak punya waktu lagi untuk meladeni wanita ini. Tujuannya yang hanya ingin mengambil dokumen penting atas perintah Hendra, nyatanya harus berakhir dengan penuh drama seperti ini.

Namun, langkah Arlo mendadak berhenti. Mata tajamnya melihat sebuah kunci mobil tergeletak di atas lantai marmer teras. Dia membungkuk dan mengambil benda logam itu menggunakan tangan kanannya.

Arlo kembali melangkahkan kakinya ketika samar-samar telinganya mendengar suara isakan tangis dari arah luar. “Sepertinya dia masih belum pergi,” gumam Arlo.

Ketika Arlo membuka pintu utama, nampak sosok Rea yang masih terduduk di dekat mobil dengan bahu yang berguncang. Perlahan, Arlo mendekati Rea dengan langkah tanpa suara.

“Apakah ini kunci mobil milikmu?” tanya Arlo dengan nada suara yang sangat datar dan berat.

Rea perlahan mendongak dan menatap wajah pria tinggi di depannya itu. Napas Rea tertahan. Ia seka air matanya dengan cepat dan merebut kunci mobilnya dengan gerakan sangat kasar.

“Aku menemukannya di dalam, ” ucap Arlo kemudian.

Tangan Rea mengepal kuat. Dengan sisa tenaga, Rea bangkit berdiri. Matanya masih menatap Arlo dengan sangat tajam dan sengit.

PLAK

Tanpa di duga, tangan kanan Rea kemudian mengayun cepat ke arah pipi Arlo. Suara tamparan itu bergema jelas di halaman rumah yang sepi.

“Benar-benar menjijikkan. Kamu pikir kamu siapa, berani masuk kesini dan main gila sama istri Papaku?” bentak Rea dengan napas memburu.

Arlo menerima tamparan itu tanpa menggeser posisi tubuhnya sedikit pun. Pria itu membiarkan pipinya memerah akibat pukulan keras Rea. Sedetik kemudian, Arlo menangkap pergelangan tangan Rea, matanya menatap tajam.

“Berani sekali tangan kamu ini. Mau tahu apa yang bakal aku lakukan kalau ada yang nyentuh aku tanpa izin?”

“Jangan sentuh aku! Lepasin... kamu itu menjijikkan!”

Arlo mendekat ke telinga Rea, lalu berbisik, “Jijik atau malah suka? Buktinya tadi, kamu nggak berkedip melihatku di dalam.”

Rea menyentak tangan Arlo dengan kasar. “Kamu ngapain aja dengan Tante Bianca di dalam?! Tega banget ya kamu godain istri bos kamu sendiri? Punya otak nggak sih?!” teriak Rea.

Arlo tersenyum pias. “Kayaknya kamu salah paham, Nona. Aku bahkan belum nyentuh ibu tirimu sama sekali.”

“Nggak usah anggap aku bego, deh.” Rea menendang ban mobilnya sendiri untuk melampiaskan amarahnya. “Aku lihat jelas kok apa yang kamu lakuin ke Tante Bianca di sofa tadi. Mau ngeles apa lagi?”

“Ibu tirimu sendiri yang mohon-mohon padaku.” Arlo membalas ucapan Rea dengan nada bicara yang sangat mengintimidasi.

Pria itu mencengkeram kuat pergelangan tangan Rea. “Aku cuma ngerespon tawarannya sebagai laki-laki normal. Jadi, kamu nggak punya hak buat ceramahin aku disini.”

Rea berusaha melepaskan tangan pria itu namun tenaga Arlo terlalu kuat untuk dilawan oleh gadis tersebut.

“Singkirkan tanganmu dariku! Aku nggak sudi bersentuhan sama orang kayak kamu! Aku bakal laporin kamu ke Papa!" Rea menatap mata Arlo dengan perasaan campur aduk antara takut dan marah.

“Jaga ucapanmu, Nona kecil.” Arlo menatap bibir Rea sekilas sebelum kembali menatap matanya. “Jangan jadikan Papa kamu sebagai tameng, karena nggak ada yang bisa dia lakukan jika aku sudah menginginkan sesuatu dari sini... termasuk kamu.”

“Percaya diri sekali! Besok Papa pasti bakal tendang kamu dari perusahaan!” Rea membalas ancaman pria itu dengan suara bergetar.

“Silakan saja kalau mau lapor ke Papa kamu sekarang. Aku nggak keberatan sama sekali.” Arlo melepaskan cengkeramannya dengan satu sentakan pelan.

Suara roda koper bergesekan kuat dengan lantai teras menghentikan perdebatan mereka berdua. Arlo dan Rea sama-sama menoleh ke arah sumber suara.

Bianca mendadak keluar dari pintu utama rumah dengan wajah penuh amarah membara. Wanita itu menyeret koper pakaian seragam pramugari milik Rea secara kasar.

Napas Rea semakin memburu melihat kemunculan Bianca. Bayang-bayang bagaimana sikap Bianca yang liar tadi semakin membuat Rea naik pitam.

“Mulai sekarang, aku nggak perlu pura-pura lagi, Rea. Kamu udah tahu semuanya, dan itu cukup buatku berhenti akting jadi ibu tiri yang baik. Sekarang, ambil barang-barang kamu dan pergi!” bentak Bianca dengan suara sangat nyaring.

Bianca melemparkan koper hitam itu tepat di depan kaki Rea.

Mata Rea memerah melihat kopernya yang tergeletak di dekat kakinya. “Tante benar-benar sudah gila, ya?! Ternyata firasatku bener, Tante nggak pernah sayang sama Papa. Tante Cuma mau kuras harta Papa aja, kan? Dasar perempuan munafik! Aku nggak akan pernah maafin Tante!” jerit Rea sekencang mungkin ke arah Bianca.

Bianca melipat tangannya didepan dada. “Tentu saja. Lagian, mana ada sih perempuan muda dan cantik yang mau sama Papa kamu yang udah tua dan penyakitan itu? Aku masih waras, Rea. Aku nikahin dia cuma karena dia kaya raya.”

Rea mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuh. “Jahat! Tante bener-bener nggak punya hati! Papa udah kasih semuanya buat Tante, Papa sayang banget sama Tante. Tapi kenapa Tante tega bales semuanya kayak gini?!” Suara Rea bergetar hebat.

Rea hanya berharap jika Sang Papa akan mendapatkan pengganti mendiang ibunya dan bisa merawat Hendra sampai tua nanti. Tapi, lihatlah kelakuan istri yang selalu Hendra bangga-banggakan itu. Bianca tak lebihnya seperti musang berbulu domba.

“Itu harga yang harus Papa kamu bayar karena berani nikahin aku. Nggak usah sok drama, Rea. Kalau kamu sampai buka mulut ke Papa kamu, aku bakal pastikan karir yang kamu banggain itu tamat sebelum matahari terbit!” Bianca menunjuk wajah anak tirinya itu tanpa ragu sedikit pun.

“Aku pasti laporin semua kelakuan busuk Tante! Tante pikir aku takut dengan ancaman Tante?” Rea membalas tatapan itu dengan mata berkaca-kaca.

Bianca tertawa sinis. “Silahkan lapor kalau kamu berani tanggung akibatnya. Aku bisa bikin manajemen maskapai pecat kamu hari ini juga, bahkan sebelum kamu sempat terbang nanti.”

Rea terdiam kaku mendengar ancaman serius tersebut. Posisi Bianca di jajaran manajemen maskapai memang sangat kuat. Ayahnya selalu menuruti semua perkataan wanita itu dalam urusan pekerjaan kantor.

Arlo melirik sekilas ke arah Bianca dengan tatapan sangat merendahkan. Pria itu sama sekali tidak berniat meladeni amarah wanita yang sedang tantrum tersebut. Arlo berjongkok dan mengangkat koper milik Rea yang masih tergeletak di bawah.

“Jangan sentuh koperku! Aku enggak sudi barangku dipegang oleh orang sepertimu, Kapten!” Rea berteriak, mencoba merebut kopernya, tapi Arlo justru menahan pergelangan tangan Rea dengan genggaman yang kuat namun tidak menyakiti.

“Pilihan ada di tanganmu, Nona. Hancur di tangan ibu tiri atau ikut aku. Aku akan pastikan karier kamu aman. Gimana?”

“Aku lebih baik kehilangan karierku daripada pergi denganmu!” ucap Rea dengan tegas.

Arlo tak peduli dan membawa koper milik Rea menuju ke mobil miliknya.

“Hey, kembalikan koperku!” teriak Rea sembari mengekori Arlo.

Bianca pun tak tinggal diam. Bianca mencoba mendekat. “Arlo, kamu mau bawa dia ke mana? Urusan kita belum selesai...”

Arlo menoleh, tatapannya sedingin es. “Satu langkah saja dan posisi kamu sebagai istri Pak Hendra akan tamat. Aku cuma perlu bilang kalau istrinya sangat pandai menggoda laki-laki. Jadi diam disitu dan jangan campuri urusanku.”

Langkah Bianca tertahan, wajahnya pucat pasi. Ia menyadari bahwa pria yang selama ini ia kejar bukan sekadar tampan, tapi pria yang memegang rahasia hidup dan matinya.

Rea mencoba merebut kopernya dari tangan Arlo, namun pria itu dengan mudah melemparkannya ke kursi belakang mobilnya.

“Apa yang kau lakukan?! Keluarkan koperku!”

Arlo menahan tangan Rea yang hendak mengambil koper itu. “Masuk ke mobil, sekarang! Jangan coba-coba telat untuk briefing. Kalau itu terjadi, aku bakal pastikan kamu nggak akan pernah bisa terbang lagi seumur hidup.”

“Aku nggak sudi pergi sama pengkhianat kayak kamu! Mau kamu Kapten atau apapun, di mataku kamu nggak lebih dari seorang pengkhianat!”

Arlo mendekat dan menghimpit tubuh Rea di badan mobil. “Silahkan benci aku, aku nggak peduli. Tapi pikir pakai logika, Rea. Tanpa pekerjaan ini, kamu hanya akan jadi mangsa empuk buat Bianca. Masuk sekarang, atau kamu akan sangat menyesal nanti.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    BAB 5 Kabar Mengejutkan

    BAB 5 Satu kata itu sudah cukup membuat Rea refleks menarik kopernya. Gadis itu mengekor di belakang punggung lebar Arlo dalam diam. Jantungnya berdebar sangat kencang. Pria di depannya ini sama sekali tidak banyak bicara, tapi setiap tindakannya menunjukkan kekuasaan penuh. Arlo sama sekali bukan pria lunak yang bisa diinjak-injak oleh siapa pun. Mereka tiba di pintu masuk pesawat kelas VVIP. Seorang kepala teknisi pesawat sudah berdiri menunggu di ujung garbarata. Pria paruh baya itu langsung menundukkan badannya sangat dalam begitu melihat kedatangan Arlo.“Semua sistem sudah kami periksa ulang, Kapten. Kelistrikan dan tekanan udara stabil seratus persen penuh.” Kepala teknisi itu menyodorkan sebuah papan laporan dengan kedua tangan sedikit gemetar. Arlo mengambilnya dan membaca sekilas barisan data tersebut dengan tatapan tajam. Pria itu langsung menandatangani dokumen itu tanpa banyak bertanya. “Buka pintunya sekarang,” titah Arlo dengan penuh wibawa. “Siap, Kapten!” Arlo

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    BAB 4 Serangan Balik Tak Terduga

    “Bagaimana bisa, Pak? Saya bahkan tidak melakukan pelanggaran apapun. Ini penerbangan resmi pertama saya, jadi kenapa mendadak ada masalah seperti ini? Siapa yang memerintahkan ini sebenarnya?” sungut Rea tak terima. “Maaf sekali. Ada perintah dari pusat untuk menonaktifkan sementara akses Anda pagi ini. Katanya ada dokumen verifikasi yang belum lengkap.” Rea terhenyak mendengar itu. “Dokumen apa? Semua surat izin terbang saya masih berlaku!”“Kami hanya menjalankan aturan. Silakan urus ke bagian administrasi di lantai dua.” Petugas itu menyodorkan surat keputusan resmi ke tangan Rea. “Status pekerjaan Anda ditangguhkan sementara waktu. Surat ini dikeluarkan atas perintah langsung dari Nyonya Bianca selaku istri direktur utama maskapai." Rea terdiam kaku mendengar penjelasan petugas tersebut. Surat penangguhan itu membuat seluruh harapannya hancur berantakan seketika. Ibu tirinya benar-benar membuktikan ancaman jahatnya di halaman rumah tadi malam. Gadis itu meremas pinggiran ker

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    BAB 3 Sebuah Ancaman

    "Masuk! Jika dalam satu menit kamu nggak masuk, maka aku pastikan kamu nggak akan bisa terbang besok pagi." Arlo melepaskan tubuh Rea dan kemudian masuk ke dalam mobil. Napas Rea memburu melihat sikap Arlo yang menyebalkan. Namun, ucapan pria itu ada benarnya. Jika Rea tetap disini, maka Bianca akan melakukan sesuatu yang nekat untuk menyingkirkan dirinya detik ini juga.Tangan Rea akhirnya meraih kunci pintu mobil. Namun, sebelum membukanya, Rea menoleh ke arah Bianca. Tatapannya tajam dan sarat dengan kebencian. “Tante pikir aku bakal diem? Enggak! Aku bakal bikin Papa sadar siapa Tante sebenarnya. Aku nggak sudi Papa dikhianati sama perempuan munafik kayak Tante!” ucap Rea yang akhirnya masuk ke mobil dan membanting pintu mobil dengan sangat keras. BLAM!Bianca berjengit. Tangannya terkepal kuat sampai urat nadinya terlihat. Rea memang selalu menjadi duri dalam hidupnya dan kini ia harus memikirkan cara untuk menyingkirkan gadis itu sebelum semuanya menjadi berantakan.Mobil sed

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    BAB 2 Kemarahan Rea Niskala

    Tubuh Bianca mendadak kaku setelah mendengar ucapan Arlo. Bianca tak melihat siapa yang mengintipnya, namun dari cara bicara Arlo, apakah benar itu Rea?“J-jadi itu Rea?” lirih Bianca dengan wajah yang memucat. “Wajah kamu pucat banget, Bianca. Nggak mau nyari anak kamu sekarang? Siapa tahu dia butuh penjelasan dari ibunya,” ujar Arlo yang kemudian bangkit dari sofa. Arlo melangkahkan kakinya meninggalkan Bianca yang masih berdiri mematung di tempatnya. Arlo tak punya waktu lagi untuk meladeni wanita ini. Tujuannya yang hanya ingin mengambil dokumen penting atas perintah Hendra, nyatanya harus berakhir dengan penuh drama seperti ini. Namun, langkah Arlo mendadak berhenti. Mata tajamnya melihat sebuah kunci mobil tergeletak di atas lantai marmer teras. Dia membungkuk dan mengambil benda logam itu menggunakan tangan kanannya. Arlo kembali melangkahkan kakinya ketika samar-samar telinganya mendengar suara isakan tangis dari arah luar. “Sepertinya dia masih belum pergi,” gumam Arlo.

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    BAB 1 Pengkhianatan Sang Ibu Tiri

    “Buka seragammu, Arlo. Udah, enggak usah ditahan lagi. Aku tahu kamu juga mau kan?” Suara Bianca terdengar sangat jelas dan menggema di telinga Rea. Langkah kaki Rea seketika tertahan saat telinganya mendengar suara sang ibu tiri. Dari balik pilar beton besar, manik Rea sangat jelas melihat Bianca tengah bersama dengan seorang pria berseragam pilot maskapai penerbangan ayahnya. Rea membekap mulutnya dan terus menatap ke arah sofa panjang berbahan kulit mahal tersebut. Ibu tirinya sedang menindih tubuh pria itu di atas sofa ruang tengah. Kejadian mengejutkan ini bermula ketika Rea tidak sengaja meninggalkan koper penerbangannya di rumah Sang Papa karena kuncinya ketinggalan.Saat sampai di rumah, Rea terkejut, ada mobil orang lain. Padahal, Papanya masih berada di luar kota untuk berobat. Pun saat buka pintu, Rea kaget karena pintu tidak terkunci. Langkah kaki Rea mendadak terhenti secara otomatis saat dirinya melewati batas ruang keluarga. Telinganya jelas menangkap suara milik Bi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status