Compartir

BAB 5 Kabar Mengejutkan

last update Fecha de publicación: 2026-03-04 13:33:37

BAB 5

Satu kata itu sudah cukup membuat Rea refleks menarik kopernya. Gadis itu mengekor di belakang punggung lebar Arlo dalam diam. Jantungnya berdebar sangat kencang. Pria di depannya ini sama sekali tidak banyak bicara, tapi setiap tindakannya menunjukkan kekuasaan penuh. Arlo sama sekali bukan pria lunak yang bisa diinjak-injak oleh siapa pun.

Mereka tiba di pintu masuk pesawat kelas VVIP. Seorang kepala teknisi pesawat sudah berdiri menunggu di ujung garbarata. Pria paruh baya itu langsung menundukkan badannya sangat dalam begitu melihat kedatangan Arlo.

“Semua sistem sudah kami periksa ulang, Kapten. Kelistrikan dan tekanan udara stabil seratus persen penuh.”

Kepala teknisi itu menyodorkan sebuah papan laporan dengan kedua tangan sedikit gemetar. Arlo mengambilnya dan membaca sekilas barisan data tersebut dengan tatapan tajam. Pria itu langsung menandatangani dokumen itu tanpa banyak bertanya.

“Buka pintunya sekarang,” titah Arlo dengan penuh wibawa.

“Siap, Kapten!”

Arlo melangkah masuk ke ruang kemudi pesawat tanpa menoleh ke belakang lagi. Rea menarik napas panjang untuk melepaskan ketegangan di lehernya. Gadis itu segera melangkah menuju area dapur kabin yang interiornya berlapis kayu mengilap. Rea mulai mengeluarkan gelas kristal dan menatanya di rak penyimpanan.

“Ini kesempatanku membuktikan diri.” Rea bergumam pelan sambil menyusun botol minuman mahal ke dalam mesin pendingin. “Aku nggak akan bikin kesalahan sekecil apa pun di depan penumpang VVIP nanti. Semuanya harus sempurna.”

Arlo sudah duduk di kursi kokpit bersama dengan Co-pilot yang akan membantunya untuk terbang hari ini. Arlo memeriksa semuanya dengan teliti tanpa terlewat sedikitpun.

Pesawat sudah mulai bergerak menuju landasan pacu. Namun, di dalam kokpit yang dipenuhi instrumen bercahaya, suara statis radio memecah konsentrasi.

“GA-707, di sini petugas pengatur penerbangan memanggil. Kami memiliki keadaan darurat Kode Merah untuk kru Rea Niskala. Ayahnya, Hendra Niskala – direktur utama Maskapai, dalam kondisi kritis di Rumah Sakit Pusat. Kami meminta pesawat segera kembali ke gate.”

Arlo terdiam sesaat. Matanya menatap tajam ke depan. Perasaannya menjadi tak karuan ketika mendengar kabar yang sangat mengejutkan itu.

Dengan satu tarikan napas panjang, Arlo menekan tombol radio. Suaranya dingin dan stabil. “Menara Pengawas, di sini GA-707 meminta pembatalan menuju landasan pacu. Ada keadaan darurat medis pada kru. Kami akan segera kembali ke tempat parkir pesawat.”

Tanpa ragu, Arlo langsung memutar kemudi pesawat. “Kita kembali,” ucapnya tegas pada Co-pilot.

“Tapi Capt, ini penerbangan penting!” protes sang Co-pilot.

Arlo menatapnya dingin. “Salah satu kru sedang dalam kondisi tidak stabil untuk terbang. Keselamatan pesawat adalah tanggung jawabku, dan aku tidak akan terbang dengan kru yang sedang hancur.”

Co-pilot di sampingnya terbelalak. "Capt, kita membawa penumpang VVIP, apa Anda yakin?"

Arlo hanya melirik sekilas, tatapan yang cukup untuk membungkam siapa pun. “Aku yang bertanggung jawab. Aku akan mengajukan permintaan pengganti pilot melalui sistem manajemen operasional penerbangan.”

Pesawat berhenti dengan sentakan halus. Pintu kokpit terbuka, dan Arlo keluar dengan langkah lebar. Ia mengabaikan tatapan bingung penumpang VVIP dan langsung menuju ke arah Rea yang sedang berdiri di galley.

Rea dan Siska yang ada di galley belakang nampak terkejut melihat kedatangan Arlo. "Capt? Kenapa kita kembali? Ada kerusakan teknis?" tanya Siska.

Arlo melewati Siska begitu saja dan mendekati Rea. Wajah pria itu terlihat semakin dingin dan tidak tersentuh. Arlo langsung mencengkeram pergelangan tangan Rea cukup keras. Gadis itu sampai meringis tertahan akibat cengkeraman tersebut.

“Tinggalkan semuanya sekarang juga.”

“Apa maksud, Captain ?” Rea mencoba melepaskan tangannya, namun cengkeraman pria itu sangat kuat.

Arlo menarik tubuh gadis itu mendekat secara paksa. Tatapan tajam pria itu menembus tepat ke dalam bola mata Rea.

“Lepasin! Apa yang kamu lakukan?” tanya Rea mencoba menahan dirinya dari tarikan Arlo.

“Jangan banyak bertanya, Rea. Ini kondisi darurat dan kamu harus turun bersamaku, sekarang!” jawab Arlo.

Rea menyentak kasar tangan Arlo. “Darurat?” Rea tertawa hambar. “Atau ini hanya trik kamu buat nyingkirin aku setelah semua ancaman tadi? Kamu udah mempermainkan karierku. Kamu benar-benar...”

"Rea, jaga ucapanmu. Kenapa kamu sangat lancang bicara seperti itu kepada Kapten Arlo?" tegur Siska dengan tegas.

Arlo mengangkat telapak tangannya ke arah Siska. “Papamu sedang sekarat di ruang perawatan intensif, Rea,” ucap Arlo pada akhirnya.

Tubuh Rea mendadak kaku pada detik itu juga. Napasnya tertahan di tenggorokan. Dia menatap Arlo dengan pandangan kosong. “A-apa? Jangan bohong! Jangan gunakan Papaku sebagai...”

“Dia mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dan sekarang kondisinya kritis,” potong Arlo dengan suara yang naik satu oktaf. “Kita berangkat ke rumah sakit pusat sekarang juga.”

Rea terpaku di tempatnya berdiri. Kakinya terasa sangat lemas. Otaknya belum sanggup memproses rentetan kejadian mengejutkan ini.

Arlo sama sekali tidak menunggu gadis itu mengumpulkan kesadarannya. Pria dominan itu langsung menarik tangan Rea dan menyeretnya keluar dari pesawat VVIP tersebut dengan langkah sangat tergesa. Segala persiapan penerbangan yang baru saja dirangkai ditinggalkan begitu saja.

Arlo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sementara Rea menangis di sampingnya. Rea mulai menangis tersedu-sedu, tubuhnya bergetar hebat menahan rasa takut kehilangan sang ayah. Arlo tidak memberikan kata-kata manis atau pelukan hangat untuk menenangkannya. Arlo hanya fokus pada kemudinya agar mereka bisa cepat sampai di rumah sakit.

Tak butuh waktu lama, mereka kini telah sampai di depan lobi unit gawat darurat rumah sakit. Rea langsung membuka pintu dan berlari kencang menuju meja resepsionis. Arlo menyusul di belakangnya dengan langkah lebar dan raut wajah kaku.

Mereka tiba di depan ruang perawatan intensif lantai tiga. Bianca sudah berada di sana dan sedang berpura-pura menangis tersedu di depan pintu kaca. Wanita itu menoleh dan menatap Arlo dengan sorot mata penuh kebencian tersembunyi.

Arlo mengabaikan keberadaan Bianca sepenuhnya. Dia membuka pintu ruang perawatan itu dan membawa Rea masuk ke dalam.

Hendra terbaring lemah di atas ranjang dengan berbagai macam selang medis menempel di tubuhnya. Suara mesin pendeteksi detak jantung berbunyi sangat lambat dan konstan di sudut ruangan.

Pria paruh baya itu membuka matanya perlahan mendengar suara langkah kaki mereka. Hendra langsung mengulurkan tangannya yang gemetar ke arah Rea.

“Papa! Kenapa bisa begini?!” Rea meraih tangan ayahnya sambil menangis histeris. Gadis itu mencium punggung tangan Hendra berkali-kali.

Hendra menatap wajah putrinya dengan pandangan sayu. Matanya kemudian bergeser menatap sosok Arlo yang berdiri menjulang di belakang Rea. Pria tua itu menarik napas panjang dengan sangat susah payah.

“Arlo,” panggil Hendra dengan suara sangat parau dan pelan. “Mendekatlah ke sini.”

Arlo melangkah maju dan berdiri tepat di samping ranjang pasien. Dia menundukkan kepalanya sedikit untuk mendengarkan ucapan atasannya tersebut.

“Nikahi putriku hari ini juga.” Hendra memberikan perintah terakhirnya dengan sisa tenaga yang ada. “Lindungi dia dari semua orang di rumah itu. Aku menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam tanganmu sekarang.”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    Bab 91 (TAMAT)

    Beberapa minggu telah berlalu, dan kediaman Ganendra kini terasa jauh lebih hidup. Tak ada lagi suasana dingin atau canggung, setiap sudut rumah kini dipenuhi oleh aroma parfum Rea dan tawa rendah Arlo yang kini lebih sering terdengar. Pagi itu, di balkon kamar mereka yang menghadap langsung ke taman, Arlo berdiri di belakang Rea yang sedang menikmati semilir angin. Arlo mengenakan seragam pilotnya lengkap, gagah dan berwibawa, namun sorot matanya melembut saat lengannya melingkar mesra di pinggang Rea, menarik punggung istrinya untuk bersandar di dada bidangnya. Rea, yang kini sudah terlihat sangat segar dengan gaun sutra berwarna pastel, menoleh sedikit dan mengusap rahang suaminya. "Kapten sudah siap bertugas hari ini?" Arlo mengecup bahu Rea yang terbuka, menghirup aroma vanila yang selalu membuatnya tenang. "Selalu siap. Terutama karena hari ini penumpang spesialku adalah pemilik Niskala sekaligus pemilik hatiku." Rea tertawa renyah, ia berbalik dalam pelukan Arlo da

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    Bab 90 Keinginan Rea

    Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden ruang VVIP, menyinari sudut-sudut kamar yang kini terasa jauh lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya. Keheningan pagi itu hanya dipecah oleh suara rendah mesin monitor jantung yang berdetak dengan ritme yang stabil dan damai. Di depan pintu, Kyle dan Jane berdiri mematung. Jane yang baru saja hendak memutar kenop pintu, tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah ibunya dengan senyum tertahan, lalu memberikan isyarat agar Kyle melongok ke dalam dengan perlahan. Begitu pintu terbuka sedikit, sebuah pemandangan indah menyambut mereka. Di atas ranjang pasien yang cukup lebar itu, Arlo tidak lagi duduk di kursi samping. Ia tertidur di atas ranjang yang sama dengan Rea. Tubuh tegap Arlo tampak meringkuk melindungi istrinya, dengan satu lengan kekar yang melingkar sangat erat di pinggang Rea, seolah memastikan bahwa wanita itu tidak akan pergi ke mana-mana lagi. "Lihat itu, Mom," bisik Jane dengan suara y

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    Bab 89 Ingatan Yang Kembali

    Arlo perlahan melepaskan pelukan itu, meski tangannya masih terasa gemetar. Ia menangkup wajah Rea dengan kedua telapak tangannya, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata istrinya yang kini tak lagi kosong, melainkan penuh dengan luapan emosi yang nyata. "Kamu... kamu benar-benar ingat semuanya?" tanya Arlo dengan suara yang hampir berbisik, seolah takut jika ia berbicara terlalu keras, semua ini hanya akan menjadi mimpi. Rea mengangguk pelan di tengah isak tangisnya yang mulai mereda, namun air matanya tetap mengalir. Ia memegang punggung tangan Arlo yang berada di pipinya, merasakan kehangatan yang selama ini sempat terasa asing baginya. "Aku ingat semuanya, Arlo," ucap Rea dengan suara serak. "Aku ingat kita menikah karena wasiat terakhir Papa. Aku ingat betapa keras kepalanya aku saat itu, menuduhmu yang tidak-tidak, padahal kamu sedang berjuang membantuku melawan Bianca." Rea menarik napas pendek yang bergetar, mencoba menyusun kembali kepingan memori yang kini telah utuh di

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    Bab 88 Menghilang

    Langkah kaki Arlo yang awalnya terasa ringan setelah mendengar kabar baik dari dokter, seketika berubah menjadi derap langkah penuh kepanikan. Begitu ia mendorong pintu ruang VVIP, dunianya seolah runtuh untuk yang kesekian kalinya dalam satu malam.Ranjang itu kosong. Sprei yang tadi kusut bekas tubuh Rea kini tampak dingin tak berpenghuni. Selimutnya tersampir di lantai, dan tiang infus berdiri tegak dengan selang yang menggantung, jarumnya dilepas paksa, menyisakan bercak darah kecil di atas kain putih itu."Rea?!" panggil Arlo, suaranya naik satu oktaf.Ia bergegas menuju kamar mandi dan membukanya dengan sekali sentakan. "Rea! Kamu di dalam?"Nihil. Kamar mandi itu kering dan kosong.Jantung Arlo berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya. Ia berlari keluar ruangan, mengabaikan wibawanya sebagai seorang kapten pilot yang biasanya selalu tenang. Ia menghambur ke arah nurse station yang berada di tengah koridor."Di mana istri saya?!" teriak Arlo sambil menggebrak meja

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    Bab 87 Kabar Baik

    Tanpa membuang waktu, Arlo dibantu oleh Anthony langsung membawa tubuh lemas Rea kembali ke rumah sakit. Suasana yang tadinya hangat di kediaman Ganendra berubah menjadi ketegangan yang mencekam. Sirine ambulans pribadi keluarga itu membelah sunyi malam, sementara Arlo terus menggenggam tangan dingin Rea, merutuki dirinya sendiri karena terlalu cepat membuka luka lama. Setibanya di rumah sakit, Rea langsung dilarikan ke ruang intensif. Arlo berdiri mematung di depan pintu ICU, langkahnya tak bisa diam. Ia mondar-mandir dengan wajah yang sangat pucat, kemejanya sudah berantakan, dan napasnya belum juga teratur. Kyle hanya bisa duduk di kursi tunggu sambil terus merapal doa, sementara Anthony berdiri tegap di sudut lorong dengan tatapan yang sangat khawatir. Setelah menunggu beberapa jam yang terasa seperti selamanya, pintu ICU akhirnya terbuka. Dokter keluar sambil melepas maskernya. Arlo langsung menghambur maju, bahkan hampir menabrak bahu dokter tersebut. "Dokter! Bagaimana kondi

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    Bab 86 Kepingan Puzzle

    Arlo menarik napas panjang, mencoba mengendalikan gemuruh di dadanya. Dengan satu gerakan halus namun bertenaga, ia mengangkat tubuh Rea seolah tanpa beban dan perlahan merebahkannya di atas kasur yang empuk.Suasana kamar yang tadinya penuh godaan jenaka, seketika berubah menjadi sangat intens dan sarat akan ketegangan romantis. Rea, yang tadinya begitu berani menantang, mendadak merasa lidahnya kelu. Jantungnya berdegup kencang saat Arlo perlahan memosisikan tubuhnya di atasnya, menumpu berat badannya dengan kedua lengan kekar di sisi kepala Rea.Arlo menatap mata Rea dengan tatapan yang sangat dalam, mencari kejujuran di sana. "Kamu yakin, Rea? Apa kamu tidak akan menyesal jika kita melakukannya sekarang?" bisik Arlo dengan suara rendah yang menggetarkan.Rea menelan ludah, ia merasa terhipnotis oleh binar mata suaminya. Ia menarik napas panjang untuk mengumpulkan sisa keberaniannya. "Tidak... lakukan saja, Arlo," jawabnya lirih.Arlo memejamkan mata sejenak, seolah mengucapkan do

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    Bab 72 Mendapatkan Balasan

    Marco berdiri tegak di depan pintu besi markas bawah tanah yang lembab. Ia menyalakan sebatang rokok, membiarkan asapnya membubung di udara yang pengap. Di sampingnya, dua anak buah Arlo yang dikenal paling kejam, Leon dan Vigo baru saja masuk ke dalam ruangan itu membawa tas perlengkapan yang bera

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    Bab 68 Tak Akan Tinggal Diam

    Lampu temaram di dalam ruang ICU terasa begitu dingin dan asing. Arlo, yang kini telah mengganti kemeja berdarahnya dengan pakaian bersih namun dengan wajah yang masih pucat pasi, melangkah masuk dengan sangat perlahan. Suara beeping dari monitor jantung yang teratur menjadi satu-satunya melodi di

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    Bab 67 Menyalahkan Diri Sendiri

    Suasana di depan ruang operasi yang tadinya hening mencekam, mendadak berubah menjadi kepanikan yang nyata. Seorang perawat keluar dari pintu otomatis dengan gerakan sangat terburu-buru, langkah kakinya bergema cepat di sepanjang lorong rumah sakit. Arlo hanya bisa terpaku, jantungnya seakan berhen

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    BAB 4 Serangan Balik Tak Terduga

    “Bagaimana bisa, Pak? Saya bahkan tidak melakukan pelanggaran apapun. Ini penerbangan resmi pertama saya, jadi kenapa mendadak ada masalah seperti ini? Siapa yang memerintahkan ini sebenarnya?” sungut Rea tak terima. “Maaf sekali. Ada perintah dari pusat untuk menonaktifkan sementara akses Anda p

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status