Share

BAB 3 Sebuah Ancaman

last update Last Updated: 2026-03-04 13:31:12

"Masuk! Jika dalam satu menit kamu nggak masuk, maka aku pastikan kamu nggak akan bisa terbang besok pagi." Arlo melepaskan tubuh Rea dan kemudian masuk ke dalam mobil.

Napas Rea memburu melihat sikap Arlo yang menyebalkan. Namun, ucapan pria itu ada benarnya. Jika Rea tetap disini, maka Bianca akan melakukan sesuatu yang nekat untuk menyingkirkan dirinya detik ini juga.

Tangan Rea akhirnya meraih kunci pintu mobil. Namun, sebelum membukanya, Rea menoleh ke arah Bianca. Tatapannya tajam dan sarat dengan kebencian.

“Tante pikir aku bakal diem? Enggak! Aku bakal bikin Papa sadar siapa Tante sebenarnya. Aku nggak sudi Papa dikhianati sama perempuan munafik kayak Tante!” ucap Rea yang akhirnya masuk ke mobil dan membanting pintu mobil dengan sangat keras.

BLAM!

Bianca berjengit. Tangannya terkepal kuat sampai urat nadinya terlihat. Rea memang selalu menjadi duri dalam hidupnya dan kini ia harus memikirkan cara untuk menyingkirkan gadis itu sebelum semuanya menjadi berantakan.

Mobil sedan hitam milik Arlo melesat membelah jalanan kota Jakarta yang masih sangat gelap. Jalan raya pada dini hari terasa lenggang tanpa banyak kendaraan bermotor.

Rea merasa tercekik di dalam mobil yang beraroma kayu cendana dan kulit mahal ini. Arlo mengemudi dengan satu tangan, tampak begitu santai namun auranya mendominasi seluruh ruangan. Tidak ada suara musik, hanya deru mesin yang halus dan detak jantung Rea yang berpacu liar karena amarah dan rasa jijik.

Rea menatap tajam keluar jendela. “Jangan kepedean. Aku duduk disini bukan berarti aku bakal tutup mulut soal perselingkuhan kalian. Kamu dan wanita itu, tetaplah pengkhianat di mataku.”

Arlo tetap tenang, tidak menoleh. “Wanita itu punya nama, Rea. Dan dia orang yang bakal hancurin hidup kamu, kalau kamu nggak duduk manis di sampingku sekarang. Jadi, diamlah.”

Rea tersenyum sinis. “Nggak usah sok jadi pahlawan. Aku nggak sudi punya hutang budi sama kamu,” jawab Rea dengan ketus. “Coba jujur, udah berapa lama kalian khianatin Papa? Satu bulan? Dua bulan? Atau lebih lama dari itu, hah?!”

Arlo tak menjawab pertanyaan itu dan tiba-tiba menghentikan mobilnya saat indikator lampu jalan berubah menjadi merah. Tubuh Rea terhuyung ke depan karena pengereman yang mendadak. Keningnya hampir saja membentur bagian depan jika dirinya tidak sigap menahan tubuhnya.

“Apa kau tidak bisa menyetir?” sungut Rea penuh kekesalan.

Arlo menoleh dan mencondongkan tubuhnya ke arah Rea hingga punggung gadis itu menempel erat ke pintu mobil. “Sebut aku menjijikkan sesukamu. Tapi faktanya, kamu nggak langsung pergi pas lihat kami tadi, kan? Jujur saja, Rea... kamu benci aku karena diam-diam pengen ada di posisi Bianca, kan?”

Napas Rea memburu dengan tangan terkepal. “Jangan mimpi. Jangankan tertarik, kamu itu orang pertama yang aku tulis di daftar hitam hidupku. Kamu nggak lebih dari sampah buatku.”

Arlo tersenyum tipis sembari menginjak kembali pedas gasnya. Gadis ini sepertinya sudah salah paham padanya dan menaruh kebencian yang tak semestinya.

“Kamu bakal menyesal karena udah benci orang yang salah, Rea. Tapi ya... kayaknya bakal sia-sia kalau aku jelasin semuanya sekarang. Otak kamu itu isinya hanya marah-marah aja, nggak bakal nyampe, ” sindir Arlo terang-terangan.

Rea mencabik kesal. Bahkan disaat ia sudah memergoki perbuatan bejat Arlo, pria ini masih berusaha membela diri. “Papa kasih kamu kepercayaan penuh, tapi kamu malah hancurin semuanya. Kenapa harus Tante Bianca? Kenapa harus wanita bersuami? Kamu bikin gelar kapten yang kamu bangga-banggain itu jadi nggak ada harganya lagi di mataku.”

Kepala Arlo terus mengangguk mendengar segala cemoohan Rea terhadapnya. “Hina aja terus, Rea. Aku kasih izin buat malam ini. Tapi begitu kita lepas landas, simpan semua emosimu itu. Di atas sana, aku adalah otoritas tertinggi. Kamu hanya junior yang harus tunduk dengan semua perintahku. ”

Rea tak lagi membalas ucapan Arlo. Tangannya meremas bajunya hingga buku tangannya memutih. Rea sudah bertekad dalam hati akan membongkar kebusukan Bianca dan Arlo. Papa nya harus tahu betapa busuknya orang-orang yang ia percayai selama ini. Dengan begitu, Rea bisa melindungi sang Papa dari ular berbisa seperti Arlo dan Bianca.

Setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam, mobil Arlo akhirnya memasuki area bandara tepat pada waktunya. Mobil tersebut berhenti mulus di parkiran khusus kru maskapai penerbangan.

Rea bergegas melepaskan sabuk pengamannya. Ia melirik sekilas ke arah Arlo yang masih tak bergerak di balik kursi kemudinya.

“Jangan berharap aku bakal bilang terimakasih sama kamu. Dan ingat ya, setelah ini siap-siap aja buat angkat kaki dari maskapai Papa. Aku yang bakal pastiin itu,” ucap Rea sembari menyambar kopernya di kursi belakang dan kemudian turun dari mobil Arlo.

Arlo hanya bisa menghela napas panjang. Ia tak terlalu memikirkan ucapan gadis ingusan itu. Baginya, ancaman Rea hanya angin lalu yang tak membuatnya takut sama sekali. Arlo tak ingin membuang waktu. Ia segera turun dan berjalan menyusul di belakang gadis itu.

Dengan langkah yang buru-buru, Rea akhirnya tiba di depan deretan mesin presensi elektronik. Beberapa kru kabin maskapai lain juga sedang mengantre tertib di depan mesin tersebut.

“Syukurlah aku masih bisa presensi,” ucap Rea, sembari mengambil kartu identitas pekerja dari dalam tasnya.

Rea menempelkan ID Card-nya pada mesin sensor menuju crew room. Namun untuk kedua kalinya, mesin itu mengeluarkan suara peringatan yang tajam. Di layar kecil muncul tulisan, “ID STATUS: SUSPENDED”.

Jantung Rea seolah berhenti berdetak. Ia mencobanya sekali lagi, berharap itu hanya kesalahan sistem. Hasilnya sama. Aksesnya telah dicabut.

“Kenapa kartuku malah ditolak begini?” Rea menatap layar mesin itu dengan wajah sangat pucat.

Seorang petugas keamanan mendatangi Rea yang nampak kebingungan. “Selamat pagi. Apa benar Anda yang bernama Rea Niskala?”

Rea menatap petugas pria itu, namun belum sempat Rea membuka suara untuk menjawab , suara bariton muncul dari arah belakangnya.

“Ada masalah dengan pramugari saya?” Arlo muncul di belakang Rea, tampak tenang dengan koper penerbangannya. Ia tidak menatap Rea, tapi langsung menatap petugas tersebut.

“Maaf, Capt. ID atas nama Rea Niskala tidak aktif," jawab petugas.

“Kenapa bisa begitu? Ini penerbangan resmi pertamaku,” tanya Rea dengan cepat.

“Bagian pusat telah memasukkan laporan indispliner atas nama Anda. Tanpa ID yang aktif, Anda tidak bisa melewati pemeriksaan keamanan bandara, apalagi masuk ke dalam pesawat. “

“A-Apa? Jadi aku ditangguhkan?” Tubuh Rea terasa lemas mendengar ucapan sang petugas. Ternyata, Bianca bergerak lebih cepat dari dugaannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    BAB 5 Kabar Mengejutkan

    BAB 5 Satu kata itu sudah cukup membuat Rea refleks menarik kopernya. Gadis itu mengekor di belakang punggung lebar Arlo dalam diam. Jantungnya berdebar sangat kencang. Pria di depannya ini sama sekali tidak banyak bicara, tapi setiap tindakannya menunjukkan kekuasaan penuh. Arlo sama sekali bukan pria lunak yang bisa diinjak-injak oleh siapa pun. Mereka tiba di pintu masuk pesawat kelas VVIP. Seorang kepala teknisi pesawat sudah berdiri menunggu di ujung garbarata. Pria paruh baya itu langsung menundukkan badannya sangat dalam begitu melihat kedatangan Arlo.“Semua sistem sudah kami periksa ulang, Kapten. Kelistrikan dan tekanan udara stabil seratus persen penuh.” Kepala teknisi itu menyodorkan sebuah papan laporan dengan kedua tangan sedikit gemetar. Arlo mengambilnya dan membaca sekilas barisan data tersebut dengan tatapan tajam. Pria itu langsung menandatangani dokumen itu tanpa banyak bertanya. “Buka pintunya sekarang,” titah Arlo dengan penuh wibawa. “Siap, Kapten!” Arlo

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    BAB 4 Serangan Balik Tak Terduga

    “Bagaimana bisa, Pak? Saya bahkan tidak melakukan pelanggaran apapun. Ini penerbangan resmi pertama saya, jadi kenapa mendadak ada masalah seperti ini? Siapa yang memerintahkan ini sebenarnya?” sungut Rea tak terima. “Maaf sekali. Ada perintah dari pusat untuk menonaktifkan sementara akses Anda pagi ini. Katanya ada dokumen verifikasi yang belum lengkap.” Rea terhenyak mendengar itu. “Dokumen apa? Semua surat izin terbang saya masih berlaku!”“Kami hanya menjalankan aturan. Silakan urus ke bagian administrasi di lantai dua.” Petugas itu menyodorkan surat keputusan resmi ke tangan Rea. “Status pekerjaan Anda ditangguhkan sementara waktu. Surat ini dikeluarkan atas perintah langsung dari Nyonya Bianca selaku istri direktur utama maskapai." Rea terdiam kaku mendengar penjelasan petugas tersebut. Surat penangguhan itu membuat seluruh harapannya hancur berantakan seketika. Ibu tirinya benar-benar membuktikan ancaman jahatnya di halaman rumah tadi malam. Gadis itu meremas pinggiran ker

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    BAB 3 Sebuah Ancaman

    "Masuk! Jika dalam satu menit kamu nggak masuk, maka aku pastikan kamu nggak akan bisa terbang besok pagi." Arlo melepaskan tubuh Rea dan kemudian masuk ke dalam mobil. Napas Rea memburu melihat sikap Arlo yang menyebalkan. Namun, ucapan pria itu ada benarnya. Jika Rea tetap disini, maka Bianca akan melakukan sesuatu yang nekat untuk menyingkirkan dirinya detik ini juga.Tangan Rea akhirnya meraih kunci pintu mobil. Namun, sebelum membukanya, Rea menoleh ke arah Bianca. Tatapannya tajam dan sarat dengan kebencian. “Tante pikir aku bakal diem? Enggak! Aku bakal bikin Papa sadar siapa Tante sebenarnya. Aku nggak sudi Papa dikhianati sama perempuan munafik kayak Tante!” ucap Rea yang akhirnya masuk ke mobil dan membanting pintu mobil dengan sangat keras. BLAM!Bianca berjengit. Tangannya terkepal kuat sampai urat nadinya terlihat. Rea memang selalu menjadi duri dalam hidupnya dan kini ia harus memikirkan cara untuk menyingkirkan gadis itu sebelum semuanya menjadi berantakan.Mobil sed

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    BAB 2 Kemarahan Rea Niskala

    Tubuh Bianca mendadak kaku setelah mendengar ucapan Arlo. Bianca tak melihat siapa yang mengintipnya, namun dari cara bicara Arlo, apakah benar itu Rea?“J-jadi itu Rea?” lirih Bianca dengan wajah yang memucat. “Wajah kamu pucat banget, Bianca. Nggak mau nyari anak kamu sekarang? Siapa tahu dia butuh penjelasan dari ibunya,” ujar Arlo yang kemudian bangkit dari sofa. Arlo melangkahkan kakinya meninggalkan Bianca yang masih berdiri mematung di tempatnya. Arlo tak punya waktu lagi untuk meladeni wanita ini. Tujuannya yang hanya ingin mengambil dokumen penting atas perintah Hendra, nyatanya harus berakhir dengan penuh drama seperti ini. Namun, langkah Arlo mendadak berhenti. Mata tajamnya melihat sebuah kunci mobil tergeletak di atas lantai marmer teras. Dia membungkuk dan mengambil benda logam itu menggunakan tangan kanannya. Arlo kembali melangkahkan kakinya ketika samar-samar telinganya mendengar suara isakan tangis dari arah luar. “Sepertinya dia masih belum pergi,” gumam Arlo.

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    BAB 1 Pengkhianatan Sang Ibu Tiri

    “Buka seragammu, Arlo. Udah, enggak usah ditahan lagi. Aku tahu kamu juga mau kan?” Suara Bianca terdengar sangat jelas dan menggema di telinga Rea. Langkah kaki Rea seketika tertahan saat telinganya mendengar suara sang ibu tiri. Dari balik pilar beton besar, manik Rea sangat jelas melihat Bianca tengah bersama dengan seorang pria berseragam pilot maskapai penerbangan ayahnya. Rea membekap mulutnya dan terus menatap ke arah sofa panjang berbahan kulit mahal tersebut. Ibu tirinya sedang menindih tubuh pria itu di atas sofa ruang tengah. Kejadian mengejutkan ini bermula ketika Rea tidak sengaja meninggalkan koper penerbangannya di rumah Sang Papa karena kuncinya ketinggalan.Saat sampai di rumah, Rea terkejut, ada mobil orang lain. Padahal, Papanya masih berada di luar kota untuk berobat. Pun saat buka pintu, Rea kaget karena pintu tidak terkunci. Langkah kaki Rea mendadak terhenti secara otomatis saat dirinya melewati batas ruang keluarga. Telinganya jelas menangkap suara milik Bi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status