LOGIN"Masuk! Jika dalam satu menit kamu nggak masuk, maka aku pastikan kamu nggak akan bisa terbang besok pagi." Arlo melepaskan tubuh Rea dan kemudian masuk ke dalam mobil.
Napas Rea memburu melihat sikap Arlo yang menyebalkan. Namun, ucapan pria itu ada benarnya. Jika Rea tetap disini, maka Bianca akan melakukan sesuatu yang nekat untuk menyingkirkan dirinya detik ini juga. Tangan Rea akhirnya meraih kunci pintu mobil. Namun, sebelum membukanya, Rea menoleh ke arah Bianca. Tatapannya tajam dan sarat dengan kebencian. “Tante pikir aku bakal diem? Enggak! Aku bakal bikin Papa sadar siapa Tante sebenarnya. Aku nggak sudi Papa dikhianati sama perempuan munafik kayak Tante!” ucap Rea yang akhirnya masuk ke mobil dan membanting pintu mobil dengan sangat keras. BLAM! Bianca berjengit. Tangannya terkepal kuat sampai urat nadinya terlihat. Rea memang selalu menjadi duri dalam hidupnya dan kini ia harus memikirkan cara untuk menyingkirkan gadis itu sebelum semuanya menjadi berantakan. Mobil sedan hitam milik Arlo melesat membelah jalanan kota Jakarta yang masih sangat gelap. Jalan raya pada dini hari terasa lenggang tanpa banyak kendaraan bermotor. Rea merasa tercekik di dalam mobil yang beraroma kayu cendana dan kulit mahal ini. Arlo mengemudi dengan satu tangan, tampak begitu santai namun auranya mendominasi seluruh ruangan. Tidak ada suara musik, hanya deru mesin yang halus dan detak jantung Rea yang berpacu liar karena amarah dan rasa jijik. Rea menatap tajam keluar jendela. “Jangan kepedean. Aku duduk disini bukan berarti aku bakal tutup mulut soal perselingkuhan kalian. Kamu dan wanita itu, tetaplah pengkhianat di mataku.” Arlo tetap tenang, tidak menoleh. “Wanita itu punya nama, Rea. Dan dia orang yang bakal hancurin hidup kamu, kalau kamu nggak duduk manis di sampingku sekarang. Jadi, diamlah.” Rea tersenyum sinis. “Nggak usah sok jadi pahlawan. Aku nggak sudi punya hutang budi sama kamu,” jawab Rea dengan ketus. “Coba jujur, udah berapa lama kalian khianatin Papa? Satu bulan? Dua bulan? Atau lebih lama dari itu, hah?!” Arlo tak menjawab pertanyaan itu dan tiba-tiba menghentikan mobilnya saat indikator lampu jalan berubah menjadi merah. Tubuh Rea terhuyung ke depan karena pengereman yang mendadak. Keningnya hampir saja membentur bagian depan jika dirinya tidak sigap menahan tubuhnya. “Apa kau tidak bisa menyetir?” sungut Rea penuh kekesalan. Arlo menoleh dan mencondongkan tubuhnya ke arah Rea hingga punggung gadis itu menempel erat ke pintu mobil. “Sebut aku menjijikkan sesukamu. Tapi faktanya, kamu nggak langsung pergi pas lihat kami tadi, kan? Jujur saja, Rea... kamu benci aku karena diam-diam pengen ada di posisi Bianca, kan?” Napas Rea memburu dengan tangan terkepal. “Jangan mimpi. Jangankan tertarik, kamu itu orang pertama yang aku tulis di daftar hitam hidupku. Kamu nggak lebih dari sampah buatku.” Arlo tersenyum tipis sembari menginjak kembali pedas gasnya. Gadis ini sepertinya sudah salah paham padanya dan menaruh kebencian yang tak semestinya. “Kamu bakal menyesal karena udah benci orang yang salah, Rea. Tapi ya... kayaknya bakal sia-sia kalau aku jelasin semuanya sekarang. Otak kamu itu isinya hanya marah-marah aja, nggak bakal nyampe, ” sindir Arlo terang-terangan. Rea mencabik kesal. Bahkan disaat ia sudah memergoki perbuatan bejat Arlo, pria ini masih berusaha membela diri. “Papa kasih kamu kepercayaan penuh, tapi kamu malah hancurin semuanya. Kenapa harus Tante Bianca? Kenapa harus wanita bersuami? Kamu bikin gelar kapten yang kamu bangga-banggain itu jadi nggak ada harganya lagi di mataku.” Kepala Arlo terus mengangguk mendengar segala cemoohan Rea terhadapnya. “Hina aja terus, Rea. Aku kasih izin buat malam ini. Tapi begitu kita lepas landas, simpan semua emosimu itu. Di atas sana, aku adalah otoritas tertinggi. Kamu hanya junior yang harus tunduk dengan semua perintahku. ” Rea tak lagi membalas ucapan Arlo. Tangannya meremas bajunya hingga buku tangannya memutih. Rea sudah bertekad dalam hati akan membongkar kebusukan Bianca dan Arlo. Papa nya harus tahu betapa busuknya orang-orang yang ia percayai selama ini. Dengan begitu, Rea bisa melindungi sang Papa dari ular berbisa seperti Arlo dan Bianca. Setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam, mobil Arlo akhirnya memasuki area bandara tepat pada waktunya. Mobil tersebut berhenti mulus di parkiran khusus kru maskapai penerbangan. Rea bergegas melepaskan sabuk pengamannya. Ia melirik sekilas ke arah Arlo yang masih tak bergerak di balik kursi kemudinya. “Jangan berharap aku bakal bilang terimakasih sama kamu. Dan ingat ya, setelah ini siap-siap aja buat angkat kaki dari maskapai Papa. Aku yang bakal pastiin itu,” ucap Rea sembari menyambar kopernya di kursi belakang dan kemudian turun dari mobil Arlo. Arlo hanya bisa menghela napas panjang. Ia tak terlalu memikirkan ucapan gadis ingusan itu. Baginya, ancaman Rea hanya angin lalu yang tak membuatnya takut sama sekali. Arlo tak ingin membuang waktu. Ia segera turun dan berjalan menyusul di belakang gadis itu. Dengan langkah yang buru-buru, Rea akhirnya tiba di depan deretan mesin presensi elektronik. Beberapa kru kabin maskapai lain juga sedang mengantre tertib di depan mesin tersebut. “Syukurlah aku masih bisa presensi,” ucap Rea, sembari mengambil kartu identitas pekerja dari dalam tasnya. Rea menempelkan ID Card-nya pada mesin sensor menuju crew room. Namun untuk kedua kalinya, mesin itu mengeluarkan suara peringatan yang tajam. Di layar kecil muncul tulisan, “ID STATUS: SUSPENDED”. Jantung Rea seolah berhenti berdetak. Ia mencobanya sekali lagi, berharap itu hanya kesalahan sistem. Hasilnya sama. Aksesnya telah dicabut. “Kenapa kartuku malah ditolak begini?” Rea menatap layar mesin itu dengan wajah sangat pucat. Seorang petugas keamanan mendatangi Rea yang nampak kebingungan. “Selamat pagi. Apa benar Anda yang bernama Rea Niskala?” Rea menatap petugas pria itu, namun belum sempat Rea membuka suara untuk menjawab , suara bariton muncul dari arah belakangnya. “Ada masalah dengan pramugari saya?” Arlo muncul di belakang Rea, tampak tenang dengan koper penerbangannya. Ia tidak menatap Rea, tapi langsung menatap petugas tersebut. “Maaf, Capt. ID atas nama Rea Niskala tidak aktif," jawab petugas. “Kenapa bisa begitu? Ini penerbangan resmi pertamaku,” tanya Rea dengan cepat. “Bagian pusat telah memasukkan laporan indispliner atas nama Anda. Tanpa ID yang aktif, Anda tidak bisa melewati pemeriksaan keamanan bandara, apalagi masuk ke dalam pesawat. “ “A-Apa? Jadi aku ditangguhkan?” Tubuh Rea terasa lemas mendengar ucapan sang petugas. Ternyata, Bianca bergerak lebih cepat dari dugaannya.Beberapa minggu telah berlalu, dan kediaman Ganendra kini terasa jauh lebih hidup. Tak ada lagi suasana dingin atau canggung, setiap sudut rumah kini dipenuhi oleh aroma parfum Rea dan tawa rendah Arlo yang kini lebih sering terdengar. Pagi itu, di balkon kamar mereka yang menghadap langsung ke taman, Arlo berdiri di belakang Rea yang sedang menikmati semilir angin. Arlo mengenakan seragam pilotnya lengkap, gagah dan berwibawa, namun sorot matanya melembut saat lengannya melingkar mesra di pinggang Rea, menarik punggung istrinya untuk bersandar di dada bidangnya. Rea, yang kini sudah terlihat sangat segar dengan gaun sutra berwarna pastel, menoleh sedikit dan mengusap rahang suaminya. "Kapten sudah siap bertugas hari ini?" Arlo mengecup bahu Rea yang terbuka, menghirup aroma vanila yang selalu membuatnya tenang. "Selalu siap. Terutama karena hari ini penumpang spesialku adalah pemilik Niskala sekaligus pemilik hatiku." Rea tertawa renyah, ia berbalik dalam pelukan Arlo da
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden ruang VVIP, menyinari sudut-sudut kamar yang kini terasa jauh lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya. Keheningan pagi itu hanya dipecah oleh suara rendah mesin monitor jantung yang berdetak dengan ritme yang stabil dan damai. Di depan pintu, Kyle dan Jane berdiri mematung. Jane yang baru saja hendak memutar kenop pintu, tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah ibunya dengan senyum tertahan, lalu memberikan isyarat agar Kyle melongok ke dalam dengan perlahan. Begitu pintu terbuka sedikit, sebuah pemandangan indah menyambut mereka. Di atas ranjang pasien yang cukup lebar itu, Arlo tidak lagi duduk di kursi samping. Ia tertidur di atas ranjang yang sama dengan Rea. Tubuh tegap Arlo tampak meringkuk melindungi istrinya, dengan satu lengan kekar yang melingkar sangat erat di pinggang Rea, seolah memastikan bahwa wanita itu tidak akan pergi ke mana-mana lagi. "Lihat itu, Mom," bisik Jane dengan suara y
Arlo perlahan melepaskan pelukan itu, meski tangannya masih terasa gemetar. Ia menangkup wajah Rea dengan kedua telapak tangannya, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata istrinya yang kini tak lagi kosong, melainkan penuh dengan luapan emosi yang nyata. "Kamu... kamu benar-benar ingat semuanya?" tanya Arlo dengan suara yang hampir berbisik, seolah takut jika ia berbicara terlalu keras, semua ini hanya akan menjadi mimpi. Rea mengangguk pelan di tengah isak tangisnya yang mulai mereda, namun air matanya tetap mengalir. Ia memegang punggung tangan Arlo yang berada di pipinya, merasakan kehangatan yang selama ini sempat terasa asing baginya. "Aku ingat semuanya, Arlo," ucap Rea dengan suara serak. "Aku ingat kita menikah karena wasiat terakhir Papa. Aku ingat betapa keras kepalanya aku saat itu, menuduhmu yang tidak-tidak, padahal kamu sedang berjuang membantuku melawan Bianca." Rea menarik napas pendek yang bergetar, mencoba menyusun kembali kepingan memori yang kini telah utuh di
Langkah kaki Arlo yang awalnya terasa ringan setelah mendengar kabar baik dari dokter, seketika berubah menjadi derap langkah penuh kepanikan. Begitu ia mendorong pintu ruang VVIP, dunianya seolah runtuh untuk yang kesekian kalinya dalam satu malam.Ranjang itu kosong. Sprei yang tadi kusut bekas tubuh Rea kini tampak dingin tak berpenghuni. Selimutnya tersampir di lantai, dan tiang infus berdiri tegak dengan selang yang menggantung, jarumnya dilepas paksa, menyisakan bercak darah kecil di atas kain putih itu."Rea?!" panggil Arlo, suaranya naik satu oktaf.Ia bergegas menuju kamar mandi dan membukanya dengan sekali sentakan. "Rea! Kamu di dalam?"Nihil. Kamar mandi itu kering dan kosong.Jantung Arlo berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya. Ia berlari keluar ruangan, mengabaikan wibawanya sebagai seorang kapten pilot yang biasanya selalu tenang. Ia menghambur ke arah nurse station yang berada di tengah koridor."Di mana istri saya?!" teriak Arlo sambil menggebrak meja
Tanpa membuang waktu, Arlo dibantu oleh Anthony langsung membawa tubuh lemas Rea kembali ke rumah sakit. Suasana yang tadinya hangat di kediaman Ganendra berubah menjadi ketegangan yang mencekam. Sirine ambulans pribadi keluarga itu membelah sunyi malam, sementara Arlo terus menggenggam tangan dingin Rea, merutuki dirinya sendiri karena terlalu cepat membuka luka lama. Setibanya di rumah sakit, Rea langsung dilarikan ke ruang intensif. Arlo berdiri mematung di depan pintu ICU, langkahnya tak bisa diam. Ia mondar-mandir dengan wajah yang sangat pucat, kemejanya sudah berantakan, dan napasnya belum juga teratur. Kyle hanya bisa duduk di kursi tunggu sambil terus merapal doa, sementara Anthony berdiri tegap di sudut lorong dengan tatapan yang sangat khawatir. Setelah menunggu beberapa jam yang terasa seperti selamanya, pintu ICU akhirnya terbuka. Dokter keluar sambil melepas maskernya. Arlo langsung menghambur maju, bahkan hampir menabrak bahu dokter tersebut. "Dokter! Bagaimana kondi
Arlo menarik napas panjang, mencoba mengendalikan gemuruh di dadanya. Dengan satu gerakan halus namun bertenaga, ia mengangkat tubuh Rea seolah tanpa beban dan perlahan merebahkannya di atas kasur yang empuk.Suasana kamar yang tadinya penuh godaan jenaka, seketika berubah menjadi sangat intens dan sarat akan ketegangan romantis. Rea, yang tadinya begitu berani menantang, mendadak merasa lidahnya kelu. Jantungnya berdegup kencang saat Arlo perlahan memosisikan tubuhnya di atasnya, menumpu berat badannya dengan kedua lengan kekar di sisi kepala Rea.Arlo menatap mata Rea dengan tatapan yang sangat dalam, mencari kejujuran di sana. "Kamu yakin, Rea? Apa kamu tidak akan menyesal jika kita melakukannya sekarang?" bisik Arlo dengan suara rendah yang menggetarkan.Rea menelan ludah, ia merasa terhipnotis oleh binar mata suaminya. Ia menarik napas panjang untuk mengumpulkan sisa keberaniannya. "Tidak... lakukan saja, Arlo," jawabnya lirih.Arlo memejamkan mata sejenak, seolah mengucapkan do
Kondisi Rea benar-benar memprihatinkan. Setelah ledakan emosi tadi, tubuhnya yang masih sangat rapuh seolah kehilangan sisa tenaganya. Ia kembali terbaring lemas dengan napas yang pendek, namun air matanya terus mengalir tanpa suara, membasahi bantal ICU yang putih bersih. Melihat istrinya menangi
Marco berdiri tegak di depan pintu besi markas bawah tanah yang lembab. Ia menyalakan sebatang rokok, membiarkan asapnya membubung di udara yang pengap. Di sampingnya, dua anak buah Arlo yang dikenal paling kejam, Leon dan Vigo baru saja masuk ke dalam ruangan itu membawa tas perlengkapan yang bera
Lampu temaram di dalam ruang ICU terasa begitu dingin dan asing. Arlo, yang kini telah mengganti kemeja berdarahnya dengan pakaian bersih namun dengan wajah yang masih pucat pasi, melangkah masuk dengan sangat perlahan. Suara beeping dari monitor jantung yang teratur menjadi satu-satunya melodi di
Suasana di depan ruang operasi yang tadinya hening mencekam, mendadak berubah menjadi kepanikan yang nyata. Seorang perawat keluar dari pintu otomatis dengan gerakan sangat terburu-buru, langkah kakinya bergema cepat di sepanjang lorong rumah sakit. Arlo hanya bisa terpaku, jantungnya seakan berhen







