Home / Romansa Dewasa / Gadis Kesayangan Kapten Posesif / BAB 4 Serangan Balik Tak Terduga

Share

BAB 4 Serangan Balik Tak Terduga

last update Last Updated: 2026-03-04 13:32:27

“Bagaimana bisa, Pak? Saya bahkan tidak melakukan pelanggaran apapun. Ini penerbangan resmi pertama saya, jadi kenapa mendadak ada masalah seperti ini? Siapa yang memerintahkan ini sebenarnya?” sungut Rea tak terima.

“Maaf sekali. Ada perintah dari pusat untuk menonaktifkan sementara akses Anda pagi ini. Katanya ada dokumen verifikasi yang belum lengkap.”

Rea terhenyak mendengar itu. “Dokumen apa? Semua surat izin terbang saya masih berlaku!”

“Kami hanya menjalankan aturan. Silakan urus ke bagian administrasi di lantai dua.” Petugas itu menyodorkan surat keputusan resmi ke tangan Rea. “Status pekerjaan Anda ditangguhkan sementara waktu. Surat ini dikeluarkan atas perintah langsung dari Nyonya Bianca selaku istri direktur utama maskapai."

Rea terdiam kaku mendengar penjelasan petugas tersebut. Surat penangguhan itu membuat seluruh harapannya hancur berantakan seketika. Ibu tirinya benar-benar membuktikan ancaman jahatnya di halaman rumah tadi malam.

Gadis itu meremas pinggiran kertas surat itu sangat kuat. Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya.

Arlo mendekat dan mengeluarkan tablet kerjanya. “Namanya ada di manifes penerbangan VVIP pagi ini dibawah tanggung jawab saya. Masukkan kode override ini. Saya yang menjamin secara profesional bahwa dia adalah kru aktif untuk penerbangan nomor GA-707.”

Petugas itu tersentak kaget dengan perintah Arlo.” Bukannya kapten memiliki jadwal rute Singapura jam 09.00 nanti?”

Arlo menunjukkan tablet kerja resmi maskapainya dan menggeser layar ke arah petugas. “Ada perubahan mendadak dari Flight Operations. Kapten Danu berhalangan, dan saya mengambil alih penerbangan VVIP GA-707 tujuan Zurich pagi ini. Ini kode Change of Command-nya.”

“Tetap saja, kami tidak bisa mengijinkan pramugari Rea untuk ikut penerbangan kali ini,” balas petugas itu dengan tegas.

Arlo menatap petugas dengan dingin. “Penangguhan itu belum masuk ke sistem pusat secara resmi. Di tangan saya, Rea Niskala masih tercatat sebagai Flight Attendant. Kau ingin menghambat penerbangan tamu negara hanya karena masalah administrasi yang belum sinkron?”

Petugas menghela napas panjang. “Kami dapat telepon langsung dari Ibu Bianca, Capt...”

“Ibu Bianca adalah istri pemilik maskapai ini, tapi di bandara ini, saya adalah hukum tertinggi. Masukkan kodenya sekarang, atau saya akan laporkan kamu karena sabotase jadwal VVIP.”

Jari Arlo bergerak cepat di atas layar tablet, mengetikkan kode otorisasi kapten. “Sistem ini hanya butuh verifikasi Kapten untuk kru tambahan dalam kondisi darurat. Dan sekarang, saya katakan ini darurat. Masukkan nama Rea Niskala kembali ke daftar aktif di bawah tanggung jawab saya pribadi. Sekarang.”

Arlo kembali menatap petugas itu yang masih diam seribu bahasa. “Ibu Bianca tidak memegang kendali atas keselamatan penerbangan VVIP saya. Jika pesawat ini terlambat berangkat karena kau menahannya, makan kau yang akan menghadap Direksi.”

Dengan tangan gemetar, petugas itu mengetikkan kode override. Ancaman Arlo nampaknya mampu membuat petugas itu ketakutan. Akhirnya, lampu indikator di gerbang keamanan berubah dari merah menjadi hijau. BIP.

Setelah berhasil, Arlo berbalik pada Rea yang masih mematung dan tak bersuara sejak tadi.

Arlo mencengkeram lengan Rea, tidak terlalu keras tapi cukup untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali sekarang. “Waktumu sepuluh menit untuk bersiap. Ambil kopermu dan temui aku di ruang briefing. Jangan buat aku menyesal telah menjaminmu, Rea.”

“Kamu sudah gila ya?” Rea berbisik pelan ke arah pria di sebelahnya itu. “Kamu bisa ikut di pecat kalau berani lawan perintah Tante Bianca. Dia nggak akan segan-segan nendang siapapun yang nggak sejalan sama dian.”

“Cukup , Rea. Ikut aku sekarang kalau nggak mau kariermu tamat sebelum mulai. Ganti bajumu, pasang senyum profesional, dan pastikan kamu siap terbang bersamaku. Sekarang. ” Arlo menatap gadis itu dan kemudian berlalu pergi.

Rea tidak punya pilihan. Jika dia tidak ikut, dia dianggap mangkir tugas, yang mana itu adalah alasan kuat bagi Bianca untuk memecatnya secara sah.

Sepuluh menit kemudian, Rea keluar dari ruang ganti wanita. Ia sudah lengkap dengan seragamnya dan riasan tipis namun cukup memancarkan kecantikannya. Rea menarik napas panjang dengan mata yang mengedar untuk mencari keberadaan Arlo.

Beberapa pramugari senior berjalan melewati lorong tersebut secara beriringan. Rombongan itu dipimpin oleh seorang wanita berambut pendek bernama Siska. Siska menghentikan langkahnya ketika ia melewati Rea. Matanya seketika menatap nama dada yang terpasang di seragam Rea. Siska tersenyun sinis karena dia tahu ID Rea bermasalah.

Siska melirik Rea yang berdiri mematung dengan sinis. "Liat deh, siapa yang berdiri disini dengan nggak tahu malunya? Bukannya ID kamu bermasalah ya? Terus, siapa yang kasih izin kamu ikut penerbangan ini?” ejek Siska sambil melempar manifes ke meja.

Rea baru saja ingin menjawab namun Siska kembali bersuara, “Cek manifes, siapa kapten penggantinya? Dan ingat, posisi Lead itu milikku. Aku nggak mau ya karierku ternoda gara-gara harus terbang bareng pilot amatir yang nggak jelas asalnya," titah Siska kepada juniornya yang lain.

Namun, tiba-tiba saja Arlo muncul dari balik lorong. Siska belum melihat wajahnya, hanya mendengar langkah sepatu yang berat. Saat Arlo meletakkan tabletnya di meja, Siska bersiap untuk memprotes siapa pun yang berani mengganggu wilayahnya.

Siska menarik napas, siap untuk menyemprot pilot baru itu. “Dengar, Capt, aku sudah...“

Kata-katanya tercekat di tenggorokan. Matanya melebar saat melihat empat bar emas di pundak pria itu dan yang lebih penting, melihat papan nama di dada kiri kemeja putih yang sangat rapi itu, ARLO GANENDRA.

Seluruh keberanian Siska menguap. Arlo Ganendra adalah nama yang hanya dibicarakan dalam bisik-bisik penuh segan di antara kru pilot dengan rekam jejak militer dan pria yang punya koneksi langsung dengan pemilik maskapai.

“Ada masalah dengan kompetensi saya, Siska?” suara Arlo terdengar rendah, tenang, tapi sangat mengintimidasi.

Siska mendadak kehilangan suaranya. Ia menunduk, tidak berani menatap mata elang Arlo. “Ma-maaf, Capt Arlo. Saya tidak tahu Anda yang mengambil alih,” gumam Siska terbata-bata.

Arlo bahkan tidak memberinya lirikan kedua. Ia langsung menarik tablet itu kembali. “Nama Rea Niskala masuk dalam tim saya. Dia terbang di bawah otoritas saya pribadi. Kamu keberatan?”

Siska menggeleng cepat. “T-Tentu tidak, Capt. Sama sekali tidak.”

Arlo melirik Rea yang masih syok, lalu kembali menatap Siska. “Bagus. Sekarang pergi ke pesawat dan pastikan semua siap dalam sepuluh menit. Selama saya yang memegang kendali di kokpit, saya yang akan menentukan siapa yang terbang dan siapa yang harus keluar dari pesawatku. Masuk ke posisi, sekarang.”

“Baik, Capt,” jawab Siska dengan patuh.

Siska dan rombongannya akhirnya pergi setelah perintah itu diberikan. Sedangkan, Rea masih memaku di tempatnya. Dalam hati kecilnya, Rea dibuat kagum dengan sikap Arlo. Ketegasan dan wibawanya berhasil menghipnotis Rea untuk beberapa saat.

Arlo menatap Rea dengan tatapan tak terbaca. “Berhenti melamun, Rea. Waktumu hampir habis. Atau kamu memang sengaja pengen aku hapus dari daftar kru penerbangan hari ini supaya bisa pulang?”

“Ja-jangan, ” jawab Rea terbata.

“Pergi ke pesawat sekarang dan lakukan tugasmu dengan baik. Kalau kamu berani membantah, aku sendiri yang bakal pastikan kamu nggak akan pernah bisa terbang lagi, selamanya. Mengerti?!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    BAB 5 Kabar Mengejutkan

    BAB 5 Satu kata itu sudah cukup membuat Rea refleks menarik kopernya. Gadis itu mengekor di belakang punggung lebar Arlo dalam diam. Jantungnya berdebar sangat kencang. Pria di depannya ini sama sekali tidak banyak bicara, tapi setiap tindakannya menunjukkan kekuasaan penuh. Arlo sama sekali bukan pria lunak yang bisa diinjak-injak oleh siapa pun. Mereka tiba di pintu masuk pesawat kelas VVIP. Seorang kepala teknisi pesawat sudah berdiri menunggu di ujung garbarata. Pria paruh baya itu langsung menundukkan badannya sangat dalam begitu melihat kedatangan Arlo.“Semua sistem sudah kami periksa ulang, Kapten. Kelistrikan dan tekanan udara stabil seratus persen penuh.” Kepala teknisi itu menyodorkan sebuah papan laporan dengan kedua tangan sedikit gemetar. Arlo mengambilnya dan membaca sekilas barisan data tersebut dengan tatapan tajam. Pria itu langsung menandatangani dokumen itu tanpa banyak bertanya. “Buka pintunya sekarang,” titah Arlo dengan penuh wibawa. “Siap, Kapten!” Arlo

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    BAB 4 Serangan Balik Tak Terduga

    “Bagaimana bisa, Pak? Saya bahkan tidak melakukan pelanggaran apapun. Ini penerbangan resmi pertama saya, jadi kenapa mendadak ada masalah seperti ini? Siapa yang memerintahkan ini sebenarnya?” sungut Rea tak terima. “Maaf sekali. Ada perintah dari pusat untuk menonaktifkan sementara akses Anda pagi ini. Katanya ada dokumen verifikasi yang belum lengkap.” Rea terhenyak mendengar itu. “Dokumen apa? Semua surat izin terbang saya masih berlaku!”“Kami hanya menjalankan aturan. Silakan urus ke bagian administrasi di lantai dua.” Petugas itu menyodorkan surat keputusan resmi ke tangan Rea. “Status pekerjaan Anda ditangguhkan sementara waktu. Surat ini dikeluarkan atas perintah langsung dari Nyonya Bianca selaku istri direktur utama maskapai." Rea terdiam kaku mendengar penjelasan petugas tersebut. Surat penangguhan itu membuat seluruh harapannya hancur berantakan seketika. Ibu tirinya benar-benar membuktikan ancaman jahatnya di halaman rumah tadi malam. Gadis itu meremas pinggiran ker

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    BAB 3 Sebuah Ancaman

    "Masuk! Jika dalam satu menit kamu nggak masuk, maka aku pastikan kamu nggak akan bisa terbang besok pagi." Arlo melepaskan tubuh Rea dan kemudian masuk ke dalam mobil. Napas Rea memburu melihat sikap Arlo yang menyebalkan. Namun, ucapan pria itu ada benarnya. Jika Rea tetap disini, maka Bianca akan melakukan sesuatu yang nekat untuk menyingkirkan dirinya detik ini juga.Tangan Rea akhirnya meraih kunci pintu mobil. Namun, sebelum membukanya, Rea menoleh ke arah Bianca. Tatapannya tajam dan sarat dengan kebencian. “Tante pikir aku bakal diem? Enggak! Aku bakal bikin Papa sadar siapa Tante sebenarnya. Aku nggak sudi Papa dikhianati sama perempuan munafik kayak Tante!” ucap Rea yang akhirnya masuk ke mobil dan membanting pintu mobil dengan sangat keras. BLAM!Bianca berjengit. Tangannya terkepal kuat sampai urat nadinya terlihat. Rea memang selalu menjadi duri dalam hidupnya dan kini ia harus memikirkan cara untuk menyingkirkan gadis itu sebelum semuanya menjadi berantakan.Mobil sed

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    BAB 2 Kemarahan Rea Niskala

    Tubuh Bianca mendadak kaku setelah mendengar ucapan Arlo. Bianca tak melihat siapa yang mengintipnya, namun dari cara bicara Arlo, apakah benar itu Rea?“J-jadi itu Rea?” lirih Bianca dengan wajah yang memucat. “Wajah kamu pucat banget, Bianca. Nggak mau nyari anak kamu sekarang? Siapa tahu dia butuh penjelasan dari ibunya,” ujar Arlo yang kemudian bangkit dari sofa. Arlo melangkahkan kakinya meninggalkan Bianca yang masih berdiri mematung di tempatnya. Arlo tak punya waktu lagi untuk meladeni wanita ini. Tujuannya yang hanya ingin mengambil dokumen penting atas perintah Hendra, nyatanya harus berakhir dengan penuh drama seperti ini. Namun, langkah Arlo mendadak berhenti. Mata tajamnya melihat sebuah kunci mobil tergeletak di atas lantai marmer teras. Dia membungkuk dan mengambil benda logam itu menggunakan tangan kanannya. Arlo kembali melangkahkan kakinya ketika samar-samar telinganya mendengar suara isakan tangis dari arah luar. “Sepertinya dia masih belum pergi,” gumam Arlo.

  • Gadis Kesayangan Kapten Posesif    BAB 1 Pengkhianatan Sang Ibu Tiri

    “Buka seragammu, Arlo. Udah, enggak usah ditahan lagi. Aku tahu kamu juga mau kan?” Suara Bianca terdengar sangat jelas dan menggema di telinga Rea. Langkah kaki Rea seketika tertahan saat telinganya mendengar suara sang ibu tiri. Dari balik pilar beton besar, manik Rea sangat jelas melihat Bianca tengah bersama dengan seorang pria berseragam pilot maskapai penerbangan ayahnya. Rea membekap mulutnya dan terus menatap ke arah sofa panjang berbahan kulit mahal tersebut. Ibu tirinya sedang menindih tubuh pria itu di atas sofa ruang tengah. Kejadian mengejutkan ini bermula ketika Rea tidak sengaja meninggalkan koper penerbangannya di rumah Sang Papa karena kuncinya ketinggalan.Saat sampai di rumah, Rea terkejut, ada mobil orang lain. Padahal, Papanya masih berada di luar kota untuk berobat. Pun saat buka pintu, Rea kaget karena pintu tidak terkunci. Langkah kaki Rea mendadak terhenti secara otomatis saat dirinya melewati batas ruang keluarga. Telinganya jelas menangkap suara milik Bi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status