Masuk
“Buka seragammu, Arlo. Udah, enggak usah ditahan lagi. Aku tahu kamu juga mau kan?” Suara Bianca terdengar sangat jelas dan menggema di telinga Rea.
Langkah kaki Rea seketika tertahan saat telinganya mendengar suara sang ibu tiri. Dari balik pilar beton besar, manik Rea sangat jelas melihat Bianca tengah bersama dengan seorang pria berseragam pilot maskapai penerbangan ayahnya. Rea membekap mulutnya dan terus menatap ke arah sofa panjang berbahan kulit mahal tersebut. Ibu tirinya sedang menindih tubuh pria itu di atas sofa ruang tengah. Kejadian mengejutkan ini bermula ketika Rea tidak sengaja meninggalkan koper penerbangannya di rumah Sang Papa karena kuncinya ketinggalan.Saat sampai di rumah, Rea terkejut, ada mobil orang lain. Padahal, Papanya masih berada di luar kota untuk berobat. Pun saat buka pintu, Rea kaget karena pintu tidak terkunci.
Langkah kaki Rea mendadak terhenti secara otomatis saat dirinya melewati batas ruang keluarga. Telinganya jelas menangkap suara milik Bianca yang terdengar dari arah sana.
“Buka seragammu, Arlo. Udah, enggak usah ditahan lagi. Aku tahu kamu juga mau kan?” Suara Bianca terdengar sangat jelas dan menggema di telinga Rea. “Mumpung enggak ada Hendra, kita bebas melakukan apapun sekarang. Kamu enggak mau coba hal yang lebih menantang?” Tubuh Rea mendadak kaku. Kakinya terpaku di tempat ketika matanya menangkap sebuah pemandangan sangat mengejutkan di atas sofa panjang ruangan itu. Bianca - ibu tirinya berusaha melepaskan kancing kemeja pria di depannya. Oksigen di paru-paru Rea seolah menguap. Dadanya mendadak sesak melihat bagaimana liarnya Bianca mencoba menggoda pria berseragam pilot tersebut. Bianca menyapukan jemarinya di kerah kemeja Arlo, matanya sarat dengan pemujaan yang haus.Tubuhnya kini sudah berada di pangkuan pria itu. “Hendra itu sudah tua, dia nggak bakal sanggup muasin aku kayak kamu. Nggak usah sok kaku deh, aku tahu kamu juga mau.” Pria bernama Arlo itu tidak menjauh, namun tatapannya membuat Bianca merasa seperti kuman yang sedang diteliti. “Sampai kapan mau begini terus? Sadar diri, Bianca. Pak Hendra itu atasanku. Aku nggak bakal sudi nyentuh milik orang lain, apalagi perempuan yang udah nggak punya harga diri kayak kamu ,” jawab pria berusia 33 tahun itu. Bianca menyeringai dan membuka dua kancing teratas seragam Arlo. “Nggak usah sok jual mahal, Arlo. Mata kamu enggak bisa bohong. Kamu juga mau kan sama aku?” Arlo menahan kedua tangan Bianca dengan satu cengkeraman kuat. Pria tinggi itu menatap Bianca dengan sorot mata sangat tajam dan mendominasi. Wajah tampannya benar-benar datar tanpa menunjukkan ekspresi ketakutan sedikit pun. Arlo membalikkan posisi mereka dalam satu gerakan sangat cepat. Tubuh Bianca kini terhimpit di bawah kukungan tubuh dan lengan kekar pria tersebut. “Kau pikir kau bisa memberikan perintah kepadaku di sini?” Suara Arlo terdengar sangat rendah dan dingin. Intonasinya berhasil mengintimidasi seluruh penjuru ruangan. Pria itu mencengkeram rahang Bianca menggunakan tangan kanannya dengan tenaga lumayan keras. “Memangnya aku terlihat tertarik sama perempuan murahan kayak kamu? Kalau suamimu tahu kelakuan istrinya begini, aku yakin kau bakal dibuang detik ini juga.” Bianca meringis menahan sakit akibat tekanan tangan pria tersebut. Tatapan mata wanita itu justru memancarkan gairah yang semakin memuncak liar. “Galak banget sih.” Bianca menyentak cengkraman tangan Arlo. “Tapi itulah yang membuatku sangat menyukaimu, Arlo. Asal kamu tahu, aku sering bayangin gimana rasanya kalau aku benar-benar takluk di bawah kendalimu. Kamu nggak mau wujudkan mimpiku malam ini? Arlo sedikit mendorong tubuh Bianca. Seringainya yang muncul membuat tubuh Bianca meremang. “Kalau gitu, buktikan! Aku mau lihat sejauh mana kamu berani menggodaku malam ini.” Bianca langsung mengangguk patuh menuruti perintah pria dominan tersebut. Arlo membiarkan tangan Bianca merayap ke kancing seragamnya. Ia ingin melihat sampai di titik mana wanita ini akan benar-benar menghancurkan dirinya sendiri. Lampu hijau yang didapatnya dari Arlo membuat Bianca bersemangat. Bianca seolah kehilangan akalnya dan perlahan Bianca dengan berani menurunkan tali gaun tidurnya. “Aku yakin kamu bakal ketagihan, Arlo. Aku bakal bikin kamu puas malam ini, lihat saja.” Tepat saat Bianca hendak menjatuhkan gaunnya ke lantai, pandangan Arlo bergeser. Mata tajam Arlo tidak sengaja menangkap pergerakan kecil di ujung lorong remang. Tatapannya langsung mengunci posisi Rea yang sedang bersembunyi di balik pilar. Mata Arlo dan Rea saling bertatapan secara langsung dari kejauhan. Tidak ada kepanikan di wajah Arlo. Ia bahkan tidak segera mendorong Bianca menjauh, ia hanya berdiri diam, menatap Rea dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Rea merasakan seluruh tubuhnya merinding dan bergetar hebat tanpa kendali. Tatapan tajam pria misterius itu membuat lehernya terasa sangat kaku. Karena tidak kuat menahan aura intimidasi dari tatapan Arlo yang sangat menguasai keadaan, Rea pelan-pelan memundurkan langkah kakinya untuk menjauhi area ruang keluarga. Tubuh Rea mendadak menabrak meja kayu kecil di dekat tembok. Sebuah vas keramik berukuran besar tersenggol oleh siku tangannya secara keras. Benda pajangan berharga puluhan juta itu meluncur jatuh ke arah lantai. Benda itu langsung pecah berkeping menjadi serpihan berukuran kecil. Suara pecahan itu terdengar sangat nyaring memecah kesunyian malam di rumah besar tersebut. PRANG Bianca terlonjak kaget mendengar suara pecahan dari arah lorong depan. Wanita itu langsung mendorong tubuh Arlo dan merapikan gaun tidurnya dengan wajah sangat pucat. Dia menoleh ke arah sumber suara dengan perasaan panik yang luar biasa. "Siapa di situ? Keluar sekarang juga!" teriak Bianca dengan suara melengking tinggi. Rea tidak menjawab panggilan ibu tirinya sama sekali. Gadis itu langsung membalikkan badannya dan berlari sekencang mungkin menuju pintu depan. Dia benar-benar merasa ketakutan setengah mati melihat tatapan mematikan Arlo barusan. Air mata mengalir deras membasahi kedua pipi Rea. Disisi lain, jantung Bianca berpacu cepat, namun sangat kontras dengan ketenangan Arlo. Pria itu justru kembali merapikan kancing seragamnya dengan sangat tenang, seolah kehadiran Rea hanyalah gangguan kecil. Arlo kemudian bangkit dan merapikan gaun tidur milik Bianca yang berantakan. “Hebat sekali, Bianca. Sangat menarik melihat putrimu terlibat permainan kotor mu ini. Sekarang kita lihat, gimana reaksi gadis kecil itu setelah melihat kelakuan bejat ibu tirinya?”BAB 5 Satu kata itu sudah cukup membuat Rea refleks menarik kopernya. Gadis itu mengekor di belakang punggung lebar Arlo dalam diam. Jantungnya berdebar sangat kencang. Pria di depannya ini sama sekali tidak banyak bicara, tapi setiap tindakannya menunjukkan kekuasaan penuh. Arlo sama sekali bukan pria lunak yang bisa diinjak-injak oleh siapa pun. Mereka tiba di pintu masuk pesawat kelas VVIP. Seorang kepala teknisi pesawat sudah berdiri menunggu di ujung garbarata. Pria paruh baya itu langsung menundukkan badannya sangat dalam begitu melihat kedatangan Arlo.“Semua sistem sudah kami periksa ulang, Kapten. Kelistrikan dan tekanan udara stabil seratus persen penuh.” Kepala teknisi itu menyodorkan sebuah papan laporan dengan kedua tangan sedikit gemetar. Arlo mengambilnya dan membaca sekilas barisan data tersebut dengan tatapan tajam. Pria itu langsung menandatangani dokumen itu tanpa banyak bertanya. “Buka pintunya sekarang,” titah Arlo dengan penuh wibawa. “Siap, Kapten!” Arlo
“Bagaimana bisa, Pak? Saya bahkan tidak melakukan pelanggaran apapun. Ini penerbangan resmi pertama saya, jadi kenapa mendadak ada masalah seperti ini? Siapa yang memerintahkan ini sebenarnya?” sungut Rea tak terima. “Maaf sekali. Ada perintah dari pusat untuk menonaktifkan sementara akses Anda pagi ini. Katanya ada dokumen verifikasi yang belum lengkap.” Rea terhenyak mendengar itu. “Dokumen apa? Semua surat izin terbang saya masih berlaku!”“Kami hanya menjalankan aturan. Silakan urus ke bagian administrasi di lantai dua.” Petugas itu menyodorkan surat keputusan resmi ke tangan Rea. “Status pekerjaan Anda ditangguhkan sementara waktu. Surat ini dikeluarkan atas perintah langsung dari Nyonya Bianca selaku istri direktur utama maskapai." Rea terdiam kaku mendengar penjelasan petugas tersebut. Surat penangguhan itu membuat seluruh harapannya hancur berantakan seketika. Ibu tirinya benar-benar membuktikan ancaman jahatnya di halaman rumah tadi malam. Gadis itu meremas pinggiran ker
"Masuk! Jika dalam satu menit kamu nggak masuk, maka aku pastikan kamu nggak akan bisa terbang besok pagi." Arlo melepaskan tubuh Rea dan kemudian masuk ke dalam mobil. Napas Rea memburu melihat sikap Arlo yang menyebalkan. Namun, ucapan pria itu ada benarnya. Jika Rea tetap disini, maka Bianca akan melakukan sesuatu yang nekat untuk menyingkirkan dirinya detik ini juga.Tangan Rea akhirnya meraih kunci pintu mobil. Namun, sebelum membukanya, Rea menoleh ke arah Bianca. Tatapannya tajam dan sarat dengan kebencian. “Tante pikir aku bakal diem? Enggak! Aku bakal bikin Papa sadar siapa Tante sebenarnya. Aku nggak sudi Papa dikhianati sama perempuan munafik kayak Tante!” ucap Rea yang akhirnya masuk ke mobil dan membanting pintu mobil dengan sangat keras. BLAM!Bianca berjengit. Tangannya terkepal kuat sampai urat nadinya terlihat. Rea memang selalu menjadi duri dalam hidupnya dan kini ia harus memikirkan cara untuk menyingkirkan gadis itu sebelum semuanya menjadi berantakan.Mobil sed
Tubuh Bianca mendadak kaku setelah mendengar ucapan Arlo. Bianca tak melihat siapa yang mengintipnya, namun dari cara bicara Arlo, apakah benar itu Rea?“J-jadi itu Rea?” lirih Bianca dengan wajah yang memucat. “Wajah kamu pucat banget, Bianca. Nggak mau nyari anak kamu sekarang? Siapa tahu dia butuh penjelasan dari ibunya,” ujar Arlo yang kemudian bangkit dari sofa. Arlo melangkahkan kakinya meninggalkan Bianca yang masih berdiri mematung di tempatnya. Arlo tak punya waktu lagi untuk meladeni wanita ini. Tujuannya yang hanya ingin mengambil dokumen penting atas perintah Hendra, nyatanya harus berakhir dengan penuh drama seperti ini. Namun, langkah Arlo mendadak berhenti. Mata tajamnya melihat sebuah kunci mobil tergeletak di atas lantai marmer teras. Dia membungkuk dan mengambil benda logam itu menggunakan tangan kanannya. Arlo kembali melangkahkan kakinya ketika samar-samar telinganya mendengar suara isakan tangis dari arah luar. “Sepertinya dia masih belum pergi,” gumam Arlo.
“Buka seragammu, Arlo. Udah, enggak usah ditahan lagi. Aku tahu kamu juga mau kan?” Suara Bianca terdengar sangat jelas dan menggema di telinga Rea. Langkah kaki Rea seketika tertahan saat telinganya mendengar suara sang ibu tiri. Dari balik pilar beton besar, manik Rea sangat jelas melihat Bianca tengah bersama dengan seorang pria berseragam pilot maskapai penerbangan ayahnya. Rea membekap mulutnya dan terus menatap ke arah sofa panjang berbahan kulit mahal tersebut. Ibu tirinya sedang menindih tubuh pria itu di atas sofa ruang tengah. Kejadian mengejutkan ini bermula ketika Rea tidak sengaja meninggalkan koper penerbangannya di rumah Sang Papa karena kuncinya ketinggalan.Saat sampai di rumah, Rea terkejut, ada mobil orang lain. Padahal, Papanya masih berada di luar kota untuk berobat. Pun saat buka pintu, Rea kaget karena pintu tidak terkunci. Langkah kaki Rea mendadak terhenti secara otomatis saat dirinya melewati batas ruang keluarga. Telinganya jelas menangkap suara milik Bi







