Share

03. Takdir Untuk Hidup Bebas

"Apa kali ini tamu yang diundang sama seperti tahun lalu?"

Melinda menoleh mendengar pertanyaan Bella. Ia berpikir sejenak. "Mungkin," jawabnya. "Dan itu berarti pekerjaan kita akan bertambah."

Bella meringis. Ia masih ingat benar bagaimana kacaunya pesta tahun lalu. Di penghujung acara, teman-teman bisnis Tuan Hugo menumpahkan banyak tinta dilantai sebagai perayaan untuk kesuksesan perusahaan mereka. Bella tidak mengerti dari mana ide itu dicetuskan.

Jadi, Tuan Hugo menjalankan bisnis kertas dan tinta. Itu sebabnya mereka melakukannya. Tetapi walaupun begitu, mereka bisa saja melakukan hal lain pada tinta itu sebagai perayaan. Untung saja mereka tidak ikut merobek-robek kertas dan menjadikannya hiasan di atas tinta.

Bella dan budak lainnya harus menyikat lantai selama berjam-jam karena cairan hitam itu begitu lengket, kemudian mengepelnya hingga mengkilap seperti semula.

Sebagian dari tamu itu tentu saja tahu kalau Tuan Hugo memiliki beberapa orang budak, meski mereka selalu disembunyikan. Mereka tidak bisa memperlihatkan diri dengan bebas di depan para tamu asing yang datang.

Di tahun 2006 ini, orang-orang mungkin menganggap kalau perbudakan itu sudah sepenuhnya dihapuskan. Tetapi sekali lagi, itu tidak berlaku di pasar-pasar gelap.

Tuan Hugo pasti punya bisnis gelap yang membuatnya bisa memiliki budak tanpa ketahuan oleh pemerintah. Hanya saja, Bella tidak tahu bisnis apa itu. Dan ia tidak mau mendapat masalah karena rasa penasarannya.

"Bella, tolong pasang ini." Melinda menyodorkan rangkaian bunga dan daun yang telah selesai. Ia menunjuk sudut ruangan yang masih kosong. "Taruh di sana."

Bella menerimanya, kemudian menggantungnya di salah satu paku. Mereka hampir selesai menghias aula tengah seperti yang diminta oleh Nyonya Deborah. Tinggal memasang beberapa rangkaian di sudut ruangan.

Bella bergabung dengan Melinda di lantai, sejenak beristirahat. Keduanya punya kesempatan untuk bersantai setiap kali Tuan Hugo dan istrinya sedang keluar.

Diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul 05.25 sore. Sudah sejam berlalu sejak Talia dan Elena pergi. Mereka keluar untuk kedua kalinya demi mengambil beberapa perlengkapan.

Hanya mereka yang sering dibiarkan keluar oleh Nyonya Deborah. Bella bertanya-tanya kenapa ia tidak pernah disuruh satu kali pun. Melinda bahkan pernah beberapa kali keluar.

Bella melirik Melinda yang tengah menyelesaikan rangkaian bunga terakhir, kemudian ragu-ragu memanggil, "Melinda?"

"Ya?" Wanita itu mendongak dari pekerjaannya sekilas.

"Mm ... aku ingin bertanya sesuatu." Bella menggigit-gigiti bibir bawahnya, masih ragu-ragu.

"Menurutmu ... mm ... kenapa aku tidak pernah dibiarkan keluar?"

"Ah ..." Melinda terdiam, tampaknya cukup terkejut dengan pertanyaan itu. Dari dulu Bella tidak pernah mengungkit-ngungkit hal itu, namun sekarang ia begitu penasaran.

"Mungkin karena kau masih muda?" Tebaknya, tidak sepenuhnya yakin.

"Kenapa?"

"Mereka mungkin takut kau akan kabur."

"Tapi kita dipasangi pelacak," ucap Bella. Melinda mengangguk. "Dan ada pengawal yang menemani."

"Aku tahu." Melinda menarik napas. Ia menggantung rangkaian bunganya sebelum melanjutkan, "Tapi kau punya kesempatan besar untuk kabur. Aku pernah dengar kalau pelacak itu bisa dikeluarkan atau dimatikan, walaupun aku tidak tahu bagaimana caranya."

"Aku tidak berniat untuk kabur," gumam Bella.

"Aku tahu kemungkinannya sangat kecil, tapi kau punya kesempatan untuk hidup di luar sana. Kau masih muda, Sayang."

Bella mengembuskan napas berat, tidak yakin dengan hal itu. Melinda terdengar seperti ibunya yang selalu menyimpan harapan tinggi.

"Bella." Melinda menyentuh pundak si gadis dengan lembut, iris hitamnya bersirobok dengan iris hazel milik Bella, menyorot penuh keyakinan. "Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya, Sayang. Takdirmu bisa saja berubah jika kau menginginkannya dan berusaha untuk mewujudkannya."

Takdir?

Bella mengerjap, kalimat itu terngiang di kepalanya. Sudut bibir Melinda tertarik membentuk senyum hangat, lantas ia menarik diri menjauh.

"Baiklah, kita harus bereskan ini sebelum Tuan dan Nyonya datang," ucapnya.

Bella berdiri, mengikuti Melinda ke ruang penyimpanan untuk mengambil penyedot debu. Kalimat Melinda masih melayang-layang dalam kepalanya, bergabung dengan segala nasehat yang pernah ibunya beritahukan.

Apakah benar ia bisa hidup di luar sana?

Pengetahuan luar yang Bella ketahui sebagian besar berasal dari cerita ibunya, beberapa cerita dari budak lainnya, dan televisi yang sering ditonton majikannya.

Remaja seusianya pergi ke sekolah dan mendapat pendidikan. Bergaul dengan teman sebayanya, memiliki kekasih, pergi berbelanja dan berlibur ke tempat eksotis bersama keluarga. Mereka punya pakaian bagus dan makanan yang lebih dari cukup, tidak pernah takut akan kelaparan. Mereka terlihat bahagia dan hidup dalam kebebasan.

Itu adalah hidup orang-orang dengan uang yang melimpah. Sebuah kehidupan yang hanya bisa terjadi dalam mimpinya.

Budak sepertinya tidak akan pernah bisa merasakan kemewahan seperti itu. Sekalipun ia bisa kabur dan bebas, mungkin hidupnya akan merana. Ia tidak memiliki harta apa pun.

Bella membuang napas dan menggeleng pelan. Tidak seharusnya ia memikirkan hal itu. Ia mungkin memang punya kesempatan, tetapi itu tidak sebanding dengan resikonya.

Bella tidak sepenuhnya buta huruf seperti budak lainnya. Ia bisa membaca dan berhitung walaupun tidak terlalu lancar. Ibunya yang mengajarinya, dan menyuruhnya untuk menyembunyikannya di bawah topeng kebodohan.

Diam-diam, ia sering mengeja tulisan di koran yang tergeletak di meja ruang tamu saat membersihkan tanpa sepengetahuan siapa pun. Ia juga sering melihat beberapa tulisan di komputer milik Tuan Hugo yang menyala, televisi, ataupun pembungkus makanan yang ada di dapur.

Tetapi bagaimanapun juga, Bella hanya akan tinggal di sini. Melinda bilang, Tuan Hugo terbilang lebih baik dibanding majikannya sebelumnya. Melinda sering dipukuli tanpa alasan yang jelas karena pemiliknya adalah seorang pemabuk berat.

Suara gerbang yang dibuka terdengar di halaman depan, disusul dengan deru mobil milik Tuan Hugo dan istrinya. Tidak lama kemudian, keduanya muncul di pintu utama.

Nyonya Deborah melangkah ke dalam dengan wajah berseri-seri, kedua tangannya menenteng banyak tas belanjaan. Di belakangnya, Tuan Hugo juga menenteng beberapa tas kertas.

Tangan pria itu terangkat, mengusir mereka untuk pergi dari ruangan itu. Segera saja Melinda menarik tangan Bella dan mereka pergi ke gudang belakang.

Setelah menutup pintu, Melinda mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong bajunya—sebungkus kue coklat. Mata Bella seketika melebar melihatnya.

"Melinda, bagaimana bisa—"

"Ssshh, mereka belum menghitungnya." Melinda berbisik, kemudian membuka bungkus kuenya. Ia menyembunyikan pembungkus plastiknya di bawah kasur. Senyum lebar menghiasi wajahnya dan ia memberikan setengah kuenya pada Bella. "Makanlah."

Diliputi oleh rasa lapar, Bella tentu saja langsung menerimanya. Ia menggumamkan 'terima kasih' dan mengunyah kuenya dengan cepat.

"Bagaimana luka di punggungmu?" Tanya Melinda setelah kue mereka habis.

"Tidak sakit lagi."

"Coba kulihat."

Bella berbalik ke belakang dan Melinda membuka ritsleting gaunnya dengan lembut. "Lukanya sudah kering," katanya. Bella tersenyum, merasa lega. "Tapi saat mandi sebaiknya jangan biarkan terkena air dulu."

Bella mengangguk, tetapi sebelum sempat menjawab, suara gerbang yang dibuka kembali terdengar. Melinda dengan cepat menutup ritsleting gaunnya dan menatap panik.

"Itu mungkin Talia dan Elena. Kita harus segera keluar untuk membantunya sebelum Tuan Hugo memanggil. Ayo," panggil Melinda.

Ketika Bella ingin mengikutinya, rasa pusing mendadak melanda kepalanya, membuat tubuhnya limbung ke samping. Tangannya dengan spontan berpegangan pada tembok. "Melinda—tunggu—"

Pandangan Bella kabur, ruangan di sekelilingnya terasa berputar. Sisi kepalanya berdenyut hebat dan samar-samar ia melihat Melinda mendekatinya.

"Bella? Bella? Kau dengar aku?"

"Sepertinya sakit—kepalaku—" Bella tidak bisa melanjutkan kalimatnya saat tubuhnya jatuh menghantam lantai dan kesadarannya menghilang.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status